Laras sudah menunggu di paviliun ketika Indri tiba.
Ia tidak duduk. Ia berdiri di tengah ruangan seperti orang yang menunggu vonis, dengan sebuah bungkusan kain hitam di dada, dan begitu pintu terbuka ia langsung menutupnya dari dalam, lalu memeriksa jendela satu per satu. Indri memperhatikan semua itu dengan kening berkerut.
“Mbak Laras, ada apa? Dari tadi siang Mbak kayak orang mau pamit.”
“Hamba mohon Den Ayu duduk.”
Indri duduk di tepi dipan. Laras tetap berdiri, dan sore yang miring di jendela membuat bayangannya jatuh panjang ke lantai.
“Ratu Widyadari menitipkan ini kepada hamba dua bulan sebelum beliau mangkat,” katanya. Suaranya rendah dan tertata, seperti kalimat yang sudah dilatih berkali-kali di kepala. “Untuk titisan berikutnya. Pesan beliau, ‘Bila Baginda tidak menyerahkan, berikan sendiri.’ Sembilan tahun hamba menunggu Baginda menyerahkan. Baginda tidak pernah menanyakannya.”
“Kenapa Mbak baru kasih sekarang? Aku sudah lima hari di sini.”
Laras menutup mata. Dahinya berkerut seperti menahan nyeri yang tak kelihatan. “Karena hamba pengecut, Den Ayu.”
Lalu ia berlutut. Bukan sujud seperti yang dulu Indri larang, tetapi berlutut dengan kedua lutut menekan lantai kayu dan bungkusan itu ia sodorkan dengan dua tangan yang gemetar. Air matanya jatuh tanpa isak.
“Maafkan hamba atas hal yang belum hamba lakukan.”
Indri justru terpaku, bungkusan itu menggantung di antara mereka. “Hal apa yang belum Mbak lakukan?”
“Hamba belum bisa menjelaskan.”
“Mbak minta maaf untuk sesuatu yang belum terjadi?”
“Hamba minta Den Ayu memaafkan lebih dulu, bila waktunya tiba.” Laras mengangkat wajah. Matanya merah, dan untuk sesaat Indri melihat sesuatu yang ia kenal dari wajah Tanto, Zaki, dan Sinta saat mereka menyembunyikan terlalu banyak. “Hamba tidak akan memaksa Den Ayu menjawab sekarang.”
“Aku nggak bisa maafin sesuatu yang aku nggak tahu.”
“Itu adil, Den Ayu.” Laras tersenyum tipis dan getir. “Hamba hanya ingin Den Ayu tahu bahwa suratnya benar, apa pun yang nanti Den Ayu dengar tentang hamba.”
“Ratu Widyadari itu orangnya gimana, Mbak?”
Pertanyaan itu keluar begitu saja, dan Laras terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Beliau suka menertawakan diri sendiri, Den Ayu. Pernah menjatuhkan baki di depan seluruh dayang, lalu tertawa lebih keras dari kami semua.” Kerut di sudut matanya melunak. “Beliau tidak pernah memerintah. Selalu meminta. Hamba melayani beliau dua puluh tahun lebih, dan sekali pun beliau tidak pernah membuat hamba merasa lebih kecil.”
“Mbak sayang sama beliau.”
“Lebih dari yang pantas bagi dayang, Den Ayu.”
Indri mengambil bungkusan itu dengan hati-hati. Kain hitamnya kasar, berbau cendana dan debu lama.
“Baca malam ini saja, Den Ayu,” bisik Laras sambil bangkit, menepis lututnya. “Dan jangan biarkan siapa pun melihat, bahkan Pangeran. Setidaknya sampai Den Ayu selesai membacanya.”
***
“14 Mei 2016, 17.10 WIB”
Mobil bak terbuka itu masuk halaman posko Ranu Pani dengan debu mengepul. Oni melompat turun sebelum rodanya berhenti, memanggul ransel dengan satu bahu, dan di tangan kirinya, dibungkus daun pisang yang masih basah, ada seikat bunga melati dan kenanga.
Zaki sedang duduk di bangku kayu di depan tenda terpal biru, mengupas jeruk yang tidak ia makan. Ia berdiri begitu melihat siapa yang datang.
“Ni.”
“Gue baru nginep semalem di rumah keluarganya.” Oni mengusap wajah dengan lengan baju. Matanya cekung, janggut tipisnya belum dicukur dua hari. “Tahlilan pertama udah dibuat, ibunya Retno nitipin ini buat dikasih ke tempat terakhir dia. Katanya biar ada yang nemenin. Gue nggak ngerti maksudnya, tapi gue turutin.”
Zaki menerima bunga itu dengan kedua tangan. Daun pisangnya dingin dan harum.
“Gimana ayahnya?”
“Bisu. Nggak nangis, nggak ngomong. Kakaknya yang urus semua.” Oni menarik napas panjang, lalu duduk di bangku dan menatap tenda-tenda di kejauhan. “Terus, Ki, kabar di sini?”
“Ragil udah bisa makan. Gilang bisa jalan pakai tongkat. Anto ... masih diem.” Zaki menaruh bunga di meja dengan hati-hati. “Dan Indri sehat.”
Oni mengangkat kepala. “Lo ketemu dia?”
“Gue nggak bilang itu.” Zaki menatap bunga, bukan Oni. “Gue bilang dia sehat. Itu yang bisa gue bilang.”
“Sehat di mana?”
Zaki diam.
Hening yang menyusul begitu panjang sampai burung gunung di pohon cemara sempat berkicau dua kali. Oni memandangi sahabat seangkatannya itu dari ujung rambut gondrong sampai sepatu, melihat bahu yang turun sedikit, tangan yang menggenggam jeruk sampai kulitnya penyok, dan lingkaran hitam di bawah mata yang tidak mungkin berasal dari kurang tidur biasa.
“Ki,” katanya pelan. “Lo bukan tipe orang yang bohong. Jadi gue nggak tanya lagi.”
“Makasih.”
“Tapi satu hal.” Oni berdiri, menepuk bahu Zaki sekali. “Kalau lo butuh orang buat ngebawa beban, bilang. Gue nggak harus tahu isinya.”
Zaki menunduk. Jeruk di tangannya jatuh ke tanah dan menggelinding ke kaki Oni, yang memungutnya, membersihkannya di baju, lalu mengupasnya diam-diam dan menaruh satu juring di telapak tangan Zaki.
Dari balik terpal, Bunda muncul. Ia memakai jaket tebal pinjaman petugas posko, dan rambutnya yang dulu selalu rapi kini diikat sekenanya. Tika menyusul di belakang, matanya langsung menyapu wajah Oni, bunga di meja, wajah Zaki.
“Nak Oni.” Suara Bunda serak. “Terima kasih sudah mengantar Retno.”
“Sudah kewajiban saya, Tante.”
“Tadi Nak Zaki bilang Indri sehat.” Bunda menatap Zaki lurus-lurus. Tidak menuntut, hanya bertanya seperti seorang ibu yang sudah kehabisan tenaga untuk marah. “Tante pegang kata-kata itu, Nak. Tiap malam Tante ulang. Kalau suatu saat kata itu ternyata salah, Tante nggak akan marah. Tante cuma minta Nak Zaki jangan pernah bilang sehat kalau ragu.”
Zaki menelan ludah. “Saya yakin, Tante. Saya cuma belum bisa bilang lebih.”
“Itu cukup.” Bunda menepuk lengannya dua kali, lalu masuk lagi ke tenda. Tika tidak mengikuti. Ia menatap Zaki sebentar, seperti ingin bertanya sesuatu, lalu memilih mengambil kenanga dari daun pisang dan menciumnya dalam diam.
***
Menjelang petang, Indri menutup jendela, memeriksa selot pintu, dan memastikan Jaga yang berjaga di atap tidak sedang mengintip. Ia hanya menemukan bayangan ular hitam melingkar di bubungan, kepalanya terkulai tidur.
Bungkusan kain hitam itu ia taruh di pangkuan. Ia belum berani membukanya. Benda sekecil itu tidak semestinya ia simpan sendirian.
Pelan-pelan, Indri menyelipkan bungkusan itu ke balik lipatan kebayanya, di antara kain dan kulit, tempat ia merasakan permukaannya yang kasar menekan rusuk. Lalu ia duduk di jendela, memandang lautan awan yang berubah dari putih menjadi jingga.
Tok, tok.
Indri tersentak. Bungkusan di balik kebayanya terasa mendadak sangat berat.
“Indri?” Suara Arjuna di luar, tertahan oleh daun pintu. “Aku di serambi, bukan di dalam. Hanya ingin bilang bahwa makan malammu sudah diantar. Dan terima kasih untuk tadi siang.”
“Terima kasih untuk apa?”
“Sudah menemaniku di tempat yang tidak pernah kudatangi dengan siapa pun.” Jeda. “Aku tidak akan masuk. Selamat malam.”
Langkahnya menjauh, pelan, tanpa menuntut apa pun. Indri menatap pintu itu sampai bunyi sandalnya hilang di selasar, lalu menyalakan lampu minyak dengan tangan yang tidak sepenuhnya mantap.