Jalan setapak ke punggung bukit itu dilapisi batu pipih yang sudah aus di tengah, tanda bahwa dulu banyak kaki yang menaikinya, dan kini hanya sedikit.
Indri melangkah di belakang Arjuna. Jarak mereka sejengkal lebih lebar daripada biasanya, jarak yang tidak dibicarakan tetapi dijaga oleh keduanya.
“Kakimu kuat juga,” kata Arjuna tanpa menoleh. “Orang istana biasanya minta berhenti di undakan kelima.”
“Aku anak Mapala, Mas. Naik Semeru enam jam bawa carrier.” Indri menyeka keringat di pelipis. “Lagian kalau berhenti, nanti keburu mikir. Aku lagi nggak mau mikir dulu.”
“Mikir apa?”
“Kenapa semua orang nyiapin baju buat aku, tapi nggak ada yang nyiapin jawaban buat pertanyaanku.”
Arjuna tidak menanggapi. Tetapi langkahnya jadi lebih lambat, menyesuaikan, dan Indri tahu ia sedang mendengarkan dengan seluruh tubuhnya.
Di kiri jalan, pohon kamboja tua menjatuhkan bunga putih ke rumput, dan kabut tipis menggantung rendah di antara batang-batangnya seperti kain basah yang lupa dijemur.
“Den Ayu, Pangeran, tunggu.”
Mereka menoleh. Laras berlari kecil menaiki undakan dengan sebakul bunga kantil di lengan, napasnya terengah, kain panjangnya diangkat sebetis. Kerudung tipis di kepalanya melorot setengah.
“Hamba lihat Pangeran dan Den Ayu menuju bukit,” katanya setelah dekat. “Hamba mohon ikut. Sembilan tahun hamba yang menaruh bunga di sana.”
Arjuna menatapnya sebentar, lalu mengangguk. “Ikutlah, Laras.”
Mereka berjalan bertiga. Tidak ada yang bicara sampai gerbang kecil dari batu hitam muncul di ujung undakan, dengan dua arca singa kecil yang hidungnya sudah rompal dimakan lumut.
***
Pesarean itu hanya selapang halaman rumah. Rumputnya dipangkas rapi oleh seseorang yang rajin, dan di tengahnya terbaring sebuah makam beralas batu putih dengan nisan setinggi lutut. Tidak ada patung, tidak ada payung kebesaran. Hanya sebatang pohon kemuning yang menaungi dengan dahan rendah, dan di bawahnya, di antara akar, bunga-bunga kantil dari kemarin sudah layu menjadi cokelat.
Indri berhenti beberapa langkah dari nisan itu.
“Itu tulisannya?” tanyanya, menunjuk ukiran di batu.
“Aksara lama,” kata Arjuna. Ia berdiri di sisi kiri, tangan terkatup di depan perut. “Aku bisa membacanya, tetapi tidak pernah sanggup membacanya keras-keras.”
Laras maju, menaruh bunga baru, lalu menyapu helai-helai layu dari batu putih dengan telapak tangan. Gerakannya hafal, seperti orang yang sudah ribuan kali menyentuh tempat ini. Ia berdeham pelan.
“Di sini beristirahat Ratu Widyadari, permaisuri Prabu Brawijaya, ibu Pangeran Arjuna Birawa.” Suaranya datar, seperti membaca daftar belanja, tetapi di ujung tiap kalimat ada sesuatu yang bergeser. “Wafat sembilan tahun silam, dalam usia empat puluh delapan.”
Sunyi. Kemuning menjatuhkan satu bunga ke batu dengan bunyi nyaris tak terdengar.
“Empat puluh delapan,” ulang Indri.
“Benar, Den Ayu.”
Indri memandang Arjuna, lalu nisan, lalu Arjuna lagi. Ia menyusun hitungan pelan-pelan, seperti anak kecil yang baru belajar tambah. Penduduk negeri ini tinggal di sini sejak Majapahit, lima ratus tahun lebih. Pasangan sepuh di pasar berkata begitu. Tidak menua, tidak sakit, tidak mati.
“Tunggu,” katanya. “Bukannya rakyat di sini nggak menua?”
“Rakyat,” kata Arjuna. “Ibuku bukan rakyat. Ia manusia biasa yang dipinang ayahku, dan ia menua seperti kau.”
Kalimat terakhir itu diucapkan tanpa tekanan, tetapi justru karena itu terasa menghantam. Seperti kau.
Arjuna berjalan pelan mengitari makam dan berhenti di sisi nisan. Ia tidak menyentuhnya. “Dulu aku mengira ibu menua karena memang begitulah ibu-ibu. Aku tidak punya pembanding. Semua orang di sekitarku tetap muda, tetap sama, wajah mereka tidak berubah sejak aku kecil. Ibu satu-satunya yang berubah.”
“Berubah gimana?”
“Pelan-pelan, lalu cepat.” Ia menarik napas. “Dulu tiap malam Ibu menyanyikan tembang untukku di serambi, sambil menyisir rambutku dengan jari. Suaranya merdu. Lalu suatu hari suaranya hilang di tengah bait, dan ia hanya duduk memandangi bulan sampai aku tertidur. Aku mengira ia kehabisan lagu.” Ia mengusap wajah dengan satu tangan. “Sampai tahun terakhir, ia masih tertawa lepas kalau aku jatuh dari kuda. Tetapi sesudahnya ia selalu lelah. Duduk di serambi sebentar saja, matanya sudah terpejam. Dalam satu tahun rambutnya yang hitam memutih semua, seperti ada tangan yang mencelupkan kepalanya ke dalam abu.” Ia berhenti. “Aku bertanya kepada Ayahanda apakah Ibu sakit. Jawabnya, ‘Usia, Anakku. Usia manusia.’ Aku percaya.”
“Dan kamu nggak boleh masuk kamarnya di hari-hari terakhir?”
Rahang Arjuna menegang. “Hanya Laras dan Ayahanda yang diizinkan. Ayahanda yang melarang, dan alasannya tak pernah ia beri.”
Indri menoleh pada Laras.
Perempuan itu berdiri menunduk dengan kedua tangan terlipat di depan perut. Bibirnya terkatup rapat, dan di pipinya ada satu garis basah yang jatuh tanpa suara. Ia tidak menyekanya. Ia seakan tidak sadar sedang menangis.
Indri tidak bertanya apa-apa kepadanya.
Ia berlutut di rumput, menyentuh tepi batu putih yang dingin, dan membiarkan angin yang membawa wangi kantil lewat. Dalam kepalanya, kata-kata lain terus berbunyi, kata-kata yang ia dengar dalam penglihatan kemarin dari mulut seorang perempuan yang berdiri di depan pintu moksa. Tambatan. Jangkar. Ia mencoba menahan sambungan itu, tetapi sambungannya sendiri yang mendesak masuk, dan bulu kuduknya berdiri di bawah matahari siang yang hangat.
Jangan buru-buru, ia memperingatkan dirinya sendiri dalam hati. Kamu belum punya bukti, Ndri. Baru punya firasat.
Tetapi firasat itu menolak pergi. Kalau segel membutuhkan jangkar, dan jangkar adalah seorang perempuan yang menjadi ratu, dan ratu terakhir wafat dalam usia yang seharusnya masih panjang, maka tiga potongan itu terlalu rapi untuk kebetulan.
Satu perempuan, pikir Indri, menua sendirian di antara ribuan orang yang tak berubah. Ratu Widyadari dikelilingi mereka sepanjang hari, setiap hari, dan tidak ada satu pun dari mereka yang bisa ikut menua bersamanya.
“Mas Juna,” katanya lirih.
“Ya?”
“Waktu ibumu memakai selendang biru itu, hari pertamanya di balairung, dia kelihatan bagaimana?”
Arjuna terdiam. Lalu ia tersenyum, tipis dan basah. “Aku belum lahir. Tetapi ada lukisannya di ruang Ayahanda. Matanya tampak tahu betul apa yang ia pilih.”
“Dia nggak kelihatan terpaksa?”
“Tidak. Ia tampak senang.”
Indri menunduk, memandangi ujung jarinya sendiri di atas batu. Senang. Tahu apa yang ia pilih. Dan dua puluh sembilan tahun kemudian...
Ia berdiri. Dengkulnya agak lemas, dan Arjuna segera mengulurkan tangan lalu menariknya lagi, menunggu. Indri menggeleng pelan sambil tersenyum tipis, menyampaikan bahwa ia tidak apa-apa. Arjuna menurunkan tangannya.
“Aku mau di sini sebentar,” kata Arjuna. “Kalian turun dulu, kalau mau.”
Mereka meninggalkan lelaki itu duduk bersila di depan nisan ibunya, punggungnya melengkung, kedua tangannya bertumpu di lutut. Di gerbang batu hitam, Laras berhenti sejenak untuk membetulkan kerudungnya, lalu berbicara tanpa menoleh.
“Den Ayu.”
“Iya, Mbak?”
“Nanti sore, di paviliun. Ada yang harus hamba berikan. Sudah lama hamba simpan, dan hamba tidak boleh menyimpannya lebih lama lagi.”