Ketukan di pintu paviliun terdengar sebelum matahari benar-benar naik.
Indri sudah bangun. Semalam ia hanya tidur-tidur ayam, dan sekarang ia duduk di tepi dipan sambil memeluk lutut, mengunyah satu hitungan di kepalanya: enam malam lagi sampai ia harus menjawab.
“Den Ayu, hamba boleh masuk?”
Suara Laras. Datar, dan lebih serak daripada biasanya.
Indri membuka pintu. Laras berdiri menunduk memegang nampan berisi teh jahe, dan matanya sembab, seperti mata orang yang menghabiskan malam menatap langit-langit. Tangan kirinya ia sembunyikan di balik nampan. Sekilas, Indri melihat sesuatu melingkar di jari manisnya, cincin dari kayu yang digosok halus.
“Mbak Laras sakit?”
“Hamba baik-baik saja, Den Ayu.” Jawaban pendek, secepat orang menutup laci. “Ada yang ingin menghadap.”
Di belakang Laras berdiri seorang lelaki tua berkumis putih, menenteng gulungan tali ukur dari benang berwarna merah, ditemani dua gadis pelayan yang memeluk setumpuk kain. Kain paling atas putih gading, bersulam benang emas di tepinya, dan di bawahnya terlipat selendang biru tua yang berkilat seperti air di malam hari.
“Penjahit istana, Den Ayu,” kata Laras. “Beliau mohon izin mengukur.”
“Mengukur apa?”
“Busana, Den Ayu.” Lelaki tua itu membungkuk dalam-dalam. “Busana upacara. Kainnya sudah siap sejak Den Ayu tiba, tinggal ukurannya.”
Indri terdiam. Teh jahe di nampan masih mengepul, dan ia mendengar dirinya bertanya, “Upacara apa?”
“Malam dua puluh,” jawab si penjahit polos. “Purnama Biru.”
Krosak! Salah satu pelayan menjatuhkan lipatan kain karena Indri tiba-tiba berdiri. Gadis itu buru-buru memungutnya, wajahnya pucat.
Sebelum ada yang bicara lagi, Indri sudah menyadari bahwa lelaki tua itu tidak bersalah. Ia hanya menjalankan perintah, sama seperti pelayan, sama seperti Laras, dan sama seperti seluruh istana yang bergerak pelan-pelan menuju satu malam yang jawabannya belum pernah ia berikan.
“Bapak ukur saja dulu,” katanya akhirnya. Suaranya terdengar jauh lebih tenang daripada isi dadanya. “Tapi tolong kasih tahu saya, siapa yang menyuruh?”
“Baginda, Den Ayu. Lima hari yang lalu.”
Lima hari. Berarti sejak hari ia datang dan berkata akan tinggal sebagai tamu.
Selendang biru itu terselip di antara kain-kain di tangan pelayan. Indri menyentuh ujungnya dengan dua jari. Halus, tetapi lipatannya sudah menguning samar, tidak seperti kain baru.
“Yang ini bukan jahitan baru, Pak?”
“Selendang itu dulu milik Ratu, Den Ayu. Hamba hanya membersihkan dan menyulam ulang tepinya.” Si penjahit sibuk menggulung tali, tidak melihat bahwa nampan di tangan Laras mendadak berdenting pelan. “Ratu Widyadari memakainya pada hari pertama beliau duduk di balairung.”
Laras segera memperbaiki pegangannya. “Maaf, Den Ayu. Hamba kurang tidur.”
Tali merah itu dilingkarkan ke bahunya, pinggangnya, lengannya. Indri berdiri kaku seperti patung, dan setiap kali si penjahit menggumamkan angka, ia merasa tubuhnya sedang dicatat sebagai milik seseorang. Ketika tali itu akhirnya digulung kembali, ia sudah mengambil keputusan.
“Mbak Laras, Mas Juna di mana?”
“Di lapangan panah belakang istana, Den Ayu. Pagi-pagi beliau selalu di sana.”
“Makasih.” Indri menyambar kain tipis yang tersampir di sandaran kursi, melilitkannya di bahu, dan melangkah keluar. Di ambang pintu ia berbalik sebentar dan menunduk kepada si penjahit. “Maaf ya, Pak. Bukan Bapak yang salah.”
Laras menatap punggungnya sampai hilang di ujung selasar. Tangan kirinya, yang sejak tadi tersembunyi di balik nampan, mengepal.
***
Tak!
Anak panah menancap tepat di tengah sasaran jerami. Arjuna menurunkan busurnya, mengusap keringat di pelipis, dan baru menoleh ketika langkah ringan berhenti di belakangnya.
“Indri?” Ia tersenyum, senyum yang baru muncul. “Pagi-pagi sekali. Kau sudah makan?”
“Aku belum bilang ya.”
Senyum itu padam. “Apa?”
“Penjahit. Kain putih gading. Ukuran badan.” Indri menyebut satu per satu dengan nada rata. “Dia bilang busana upacara malam dua puluh, dan Baginda yang menyuruh, lima hari lalu. Lima hari lalu, Mas Juna. Waktu aku masih bilang aku cuma tamu.”
Arjuna meletakkan busurnya di rak tanpa suara. “Aku tidak tahu soal penjahit.”
“Tapi kamu tahu ada rencananya.”
Ia tidak langsung menjawab. Matanya yang cokelat terang menatap sasaran jerami, lalu kembali pada Indri. “Aku tahu Ayahanda menyiapkan banyak hal. Untuk jaga-jaga, katanya. Kalau pada malam itu kau menjawab ya, semuanya sudah siap.”
“Jaga-jaga.” Indri tertawa pendek, tanpa lucu sedikit pun. “Jaga-jaga kalau aku gampang diatur?”
“Bukan begitu maksudnya—”
“Aku bukan hadiah, Mas Juna.” Suaranya tidak naik, tetapi tiap katanya jatuh jelas, seperti butir kerikil di atas lantai batu. “Aku bukan juga milik siapa pun. Bukan milik Baginda, bukan milik negeri ini, bukan milik kamu. Kalau aku bilang ya, itu karena aku yang mau. Kalau aku bilang tidak, kain itu boleh dibakar, dan aku tetap tamu sampai pintu keluar.”
Angin pagi menggoyang ujung panah-panah di rak. Arjuna menarik napas dalam, lalu melakukan sesuatu yang tidak Indri duga: ia melangkah mundur satu langkah, memberi jarak lebih lebar.
“Kau benar,” katanya pelan. “Dan aku minta maaf. Bukan untuk penjahitnya saja.”
“Terus untuk apa lagi?”
“Dulu, sebelum aku bertemu kau, aku pernah bilang kepada Cipta dan Jaga, ‘Dia milikku, sudah digariskan begitu.’” Rahangnya mengencang, seakan mengucapkan kalimat itu lagi terasa seperti menelan pecahan kaca. “Aku mengatakannya tentang gadis yang belum pernah kulihat, seperti menyebut kuda yang sudah dibeli. Itu salah. Aku sudah lama ingin bilang, tetapi tidak tahu bagaimana caranya tanpa terdengar seperti membela diri.”
Indri menatapnya lama. Sebagian dari dirinya ingin marah lebih lama, tetapi sebagian lain, yang lebih kecil dan lebih jujur, menyadari bahwa orang yang berdiri di depannya sedang tidak membela diri sama sekali.
“Dan sekarang?” tanyanya.
“Sekarang aku tahu kau bahkan bukan sesuatu yang bisa dimiliki.” Arjuna menunduk sedikit. “Aku masih belajar membedakannya dari rasa yang lain.”
“Ayahmu tahu aku mau nolak?”
“Beliau belum menanyakannya. Menurutku beliau takut mendengar jawabanmu.” Arjuna mengusap telapak tangannya yang berdebu ke ujung celana. “Laras bagaimana tadi? Ia yang membawa penjahit itu, bukan?”
“Kelihatannya semalaman nggak tidur.”
“Laras memang jarang tidur nyenyak sejak Ibu mangkat. Ia yang merawat Ibu sampai akhir.” Pandangan Arjuna melayang ke sasaran jerami, ke arah yang tidak ada apa-apanya. “Dari semua orang di istana, selain Ayahanda, hanya dia yang pernah melihat Ibu di hari-hari terakhir. Aku sendiri tidak diizinkan masuk kamar.”
Pikiran itu menancap di benak Indri, tajam seperti duri ikan. Tidak diizinkan masuk kamar. Oleh siapa, dan kenapa?
Seekor burung jalak melompat di pagar lapangan, memiringkan kepala, lalu terbang lagi. Indri menunggu sampai bunyi sayapnya hilang.
“Antar aku ke makam ibumu,” katanya.
Arjuna menoleh sangat cepat. “Apa?”
“Aku mau lihat. Semua orang di sini bilang ratu sebelum aku sudah tiada, tapi nggak ada yang cerita bagaimana. Kamu bilang cuma ‘sudah lama tiada’. Aku mau tahu, sebelum aku menjawab apa pun.”
“Tidak ada yang pernah memintaku mengantar ke sana,” gumam Arjuna. “Orang-orang hanya menaruh bunga, lalu pergi.” Ia terdiam sejenak, jemarinya menyentuh busur yang tadi ia letakkan. “Sudah sembilan tahun aku tidak naik ke sana kecuali sendirian.”
Lalu ia mengambil selendang tipisnya dari paku dan menyampirkannya di bahu.
“Kita berangkat sebelum aku berubah pikiran.”