Semak itu bergerak lagi, kali ini lebih dekat.
“Mbak Dania,” bisik Tanto. Ia mengenali jaket pendaki dan kaki kiri yang miring itu, perempuan yang dulu ia bimbing sampai plat di jalur turun. “Kami mundur, tapi ndak mungkin meninggalkan Mbak sendirian.”
“Mas sudah menolongku sekali. Sekarang giliranku.” Dania tidak menoleh. “Jangan lari. Lari membuat mereka berani.”
“Jangan lari,” ulang Tanto ke belakang, nyaris tanpa suara. Tongkat bambunya sudah diangkat setinggi dada, dan di sebelahnya Tika memungut ranting sebesar lengan dari tanah dengan tangan gemetar. Zaki, yang kakinya baru separuh pulih, bersandar pada bahu Sinta sambil berusaha berdiri tegak.
Enam pasang mata kuning menatap dari kegelapan dahan. Salah satu kerdil keluar sedikit dari persembunyian, mulutnya yang lebar menyeringai, tombak pendek di tangannya terarah ke dada Tanto. Napasnya berbau tanah basah dan daun busuk.
Perempuan berjaket pendaki itu tidak bergerak dari tempatnya. Ia hanya melangkah satu langkah maju, dan hawa di sekitarnya turun. Kabut tipis naik dari tanah di bawah kakinya, merambat ke semak, dan tombak-tombak di tangan para kerdil mulai merunduk, seakan bobotnya mendadak bertambah.
Kerdil yang paling depan mendesis. “Penunggu Kalimati ...”
“Pulanglah,” kata Dania. Suaranya tipis, tetapi sampai ke telinga semua orang. “Titisan belum di sini. Tidak ada yang bisa kalian ambil.”
“Tuanku akan marah.”
“Aku tahu.”
Mereka tidak menyerang. Satu per satu mata kuning itu mundur ke dalam bayang-bayang dahan, tetapi tidak pergi. Mereka hanya berpindah ke tempat yang lebih jauh dan lebih tinggi, mengintai.
“Jalan,” bisik Dania, tanpa menoleh. “Pelan, jangan membelakangi mereka. Aku antar sampai persimpangan.”
Tanto menuntun mereka mundur selangkah demi selangkah. Tika menggenggam lengan Sinta sampai buku-buku jarinya putih. Zaki berusaha menyembunyikan pincangnya. Sepanjang jalan setapak menurun, Dania melayang setengah langkah di depan mereka, rambutnya bergerak seakan ada angin yang hanya menyentuh dirinya, dan dari semak di kiri dan kanan terdengar bunyi daun yang mengikuti, bergeser, berhenti, bergeser lagi.
Di persimpangan tempat jalan setapak bertemu jalur utama ke Ranu Pani, bunyi itu berhenti.
Dania berbalik. Wajahnya pucat dan tenang, dan untuk sesaat Tanto tidak sanggup menatapnya.
“Mbak Dania,” katanya, suaranya serak. “Saya sudah dengar dari Gilang. Ibumu di Malang, ya. Saya akan cari. Saya janji.”
Perempuan itu menatapnya lama. Lalu ia mengangguk sekali. “Terima kasih, Mas. Pulanglah sebelum gelap.”
Ia memudar sebelum Tanto sempat menjawab.
***
“13 Mei 2016, 21.40 WIB”
Ranu Kumbolo malam itu tenang. Terlalu tenang. Air menampung bulan separuh dan tidak sedikit pun beriak, sedangkan di tepi barat, di antara alang-alang tinggi, sesosok perempuan berkebaya kuning berdiri dengan kaki setengah terbenam di lumpur, memeluk cangkang mutiara di dada.
Putri Jene tidak sendirian. Di belakangnya, di atas batu pipih, bersila seorang lelaki pendek gemuk berjubah kuning keemasan. Ia tidak menoleh ketika Jene menyodorkan cangkang itu.
“Buka,” kata Sabdo Palon.
Jene membuka tutupnya. Setetes darah di dasar cangkang berdenyut pelan, dan cahaya keemasan naik tipis dari sana, merambat ke arah timur seperti benang yang ditarik dari kejauhan. Sabdo Palon menengadah, menyipitkan mata, dan senyum tipis muncul di wajahnya.
“Lawu,” katanya. “Ia tidak berhenti. Ia terus mencari rumahnya. Segel yang ia kenali itu sedang menanti.” Ia mengangkat satu jari, dan cahaya di cangkang melengkung, membentuk lingkaran di udara seperti permukaan telaga kecil. “Lihat.”
Di dalam lingkaran itu muncul gambar: tenda terpal biru, dipan lipat, selimut. Di bawah selimut, seorang pemuda tidur gelisah dengan kening mengilap oleh keringat. Di lehernya, garis kuning tipis melingkar seperti kalung.
Jene menarik napas. “Ragil.”
“Ia sudah mulai memudar,” kata Sabdo Palon dingin. “Lihat sendiri. Dalam tiga malam lagi tanda itu akan hilang, dan kau tak akan punya cara memanggilnya.”
“Tuan sendiri yang bilang bersabar.”
“Bersabar bukan berarti membiarkan kau kehilangan segalanya.” Ia menurunkan jarinya, dan gambar itu lenyap. “Rawat tandanya, Putri Kuning. Panggil ia dalam tidurnya, tiap malam, pelan-pelan. Jangan terlalu keras supaya orang-orang di sekitarnya tidak curiga. Pada saat yang tepat, kita akan membutuhkannya.”
“Untuk apa?”
“Untuk membakar.” Sabdo Palon tersenyum. “Sedikit saja.”
Jene tidak bertanya lagi. Ia menutup cangkang, memeluknya, dan mundur ke air tanpa suara.
***
Dapur istana malam hari adalah tempat paling sunyi di seluruh negeri. Tungku sudah dipadamkan, periuk digantung terbalik, dan satu-satunya cahaya datang dari celah jendela kecil di dekat langit-langit, tempat bulan memotong sehelai garis putih di lantai batu.
Laras berdiri di tengah ruangan itu sendirian, dengan punggung menempel pada tiang kayu.
Ia sudah hafal bunyi ini: tiga ketukan pelan di dasar saluran air di sudut dapur, jeda, dua ketukan lagi. Ia berjongkok, membuka penutup kayu, dan dari dalam lubang gelap yang berbau lumut muncul sesosok kerdil, basah kuyup, kapak terselip di pinggang, mata kuningnya mengilap.
“Nyai.”
“Katakan,” bisik Laras. Suaranya datar. Terlalu datar.
“Tuanku mengirim ini.” Kerdil itu menyodorkan sebuah tempurung kelapa kecil, berisi air jernih. “Lihatlah.”
Laras menerimanya dengan kedua tangan. Di permukaan air itu, setelah beberapa saat, wajah muncul perlahan.
Seorang lelaki. Kurus, berambut panjang yang diikat kain, berdiri di antara alang-alang yang setinggi dadanya, kedua tangan terikat batang gelagah, kain sederhana basah menempel di tubuhnya. Ia tidak berbicara. Tidak ada suara dalam air itu, tidak ada gerakan bibir. Ia hanya menatap lurus ke arah Laras, dan di jari manis tangan kirinya yang terikat tampak melingkar sebuah cincin kayu, sama persis dengan yang ada di tangan Laras sendiri.
Napas Laras tersangkut. Tempurung di tangannya bergoyang, dan gambar di dalam air ikut bergoyang, seolah lelaki itu terombang-ambing bersamanya.
“Dia sehat,” kata kerdil itu. “Tuanku menjaganya dengan baik. Di tepi Ranu Kumbolo, di tempat yang tidak ada matahari. Tuanku bilang, selama Nyai patuh, ia tidak akan merasakan apa pun.”
Laras tidak menjawab. Tubuhnya merosot perlahan sampai berlutut di lantai batu, tempurung tetap digenggam, dan air matanya jatuh satu per satu ke dalam air itu, menimbulkan riak kecil yang membuat wajah lelaki itu pecah dan menyatu lagi.
“Berabad-abad,” bisiknya, bukan kepada siapa pun. “Berabad-abad aku mengira dia hilang selamanya.”
“Tuanku tahu.” Kerdil itu tidak berubah nada. “Tuanku yang menemukan dia di luar kabut, arwah yang tak sempat ikut pintu. Tuanku yang menyimpannya. Tuanku bisa melepasnya, bisa juga tidak.”
Laras mengangkat wajah. Di wajahnya yang basah ada sesuatu yang telah lama hancur dan tidak pernah diperbaiki.
“Apa yang Tuanmu mau?”
“Pada malam Purnama Biru,” kata kerdil itu, dan kali ini suaranya turun menjadi bisikan, “saat bulan penuh sempurna di atas gunung, Pintu Selatan harus terbuka dari dalam. Nyai yang mengangkat palangnya. Tidak boleh lebih awal. Tidak boleh lebih lambat.”
“Pintu Selatan dijaga Rangga Wesi.”
“Nyai dayang kepala, pembuka segala pintu dapur dan gudang. Tuanku percaya Nyai tahu caranya.”
Laras terdiam lama. Cahaya bulan di lantai berpindah sejengkal. Akhirnya ia mengangguk, sangat pelan, seakan setiap anggukan mengambil sesuatu dari dalam dadanya.
“Aku akan membukanya.”
“Bagus. Tuanku akan senang.” Kerdil itu mengambil kembali tempurung kelapa, dan wajah lelaki di dalam air itu lenyap seperti disapu tangan. “Dan Nyai, jangan menangis di depan gadis itu. Ia terlalu pintar.”
Ia menghilang ke dalam lubang. Penutup kayu menutup sendiri tanpa bunyi.
Laras bangkit pelan-pelan. Ia berjalan ke meja, menarik bangku, dan duduk di sana sendirian dalam gelap, di antara bayang-bayang periuk dan sendok kayu. Tangan kanannya menggenggam jari manis kirinya, menekan cincin kayu itu sampai ujung jarinya memutih. Bulan menyorot dari celah, dan di bawah cahaya itu, bibirnya bergerak hampir tanpa suara.
“Tujuh malam lagi.”