“13 Mei 2016, 16.20 WIB”
Danau itu lebih kecil daripada yang Tika bayangkan. Ranu Tompe terbaring di balik barisan pinus dan semak berduri seperti piring tanah liat yang diletakkan seseorang tanpa niat dilihat orang lain, airnya gelap, tenang, dan tidak memantulkan langit sama sekali. Burung tak berkicau, serangga tak berderik. Bahkan angin seperti berhenti di tepi hutan, menunggu izin.
“Kita sudah sampai,” kata Tanto pelan. Ia mengangkat tangan, dan rombongan kecil di belakangnya berhenti serempak. “Dari sini, jalan sendiri-sendiri, jangan ada yang mendahului saya.”
Empat orang berdiri di sisi jalan setapak: Tanto di depan dengan tongkat bambu, Zaki di sampingnya, Tika dan Sinta di belakang. Gilang tinggal di posko dengan paha berjahit untuk menjaga Ragil yang sejak semalam tidur berkeringat dingin, dan Anto menemani sambil mengomeli kruknya. Tika meninggalkan mereka dengan pesan satu kalimat: Kalau Ragil bangun dan jalan ke hutan, ikat kakinya ke dipan.
“Cuma danau,” bisik Sinta.
“Danau yang namanya Lus,” kata Tanto. “Halus.”
“Jangan nakut-nakutin, Mas.”
“Saya ndak nakut-nakutin. Saya ngasih tahu.”
Zaki tidak ikut berbincang. Ia memandang air itu seperti memandang jendela rumah yang pintunya digembok. Sudah dua hari ia menghitung langkah dalam kepalanya, menimbang bunyi sumpah yang ia ucapkan di fajar Ranu Kumbolo: tidak menyebut isi negeri kepada siapa pun, dan tidak kembali. Ia sudah memutuskan. Ia tidak akan membuka mulut. Tetapi ia perlu tahu apakah kaki yang berdiri di tepi danau ini dianggap kembali, atau hanya berdiri.
“Mas,” katanya. “Gue maju sedikit.”
“Sedikit saja, Ki.”
Zaki melangkah. Tiga langkah, empat langkah, melewati batas semak terakhir. Tanah menurun, berumput basah, dan dari balik kabut tipis yang tidak ada tadi terlihat pinggiran air yang rata seperti dilukis. Langkah kelima.
Kakinya berhenti. Bukan karena ia ingin berhenti.
“Ki?” panggil Tanto.
Zaki mencoba melangkah lagi. Betis kirinya tidak menurut. Rasanya seperti ada tali tak terlihat yang menjerat dari pergelangan sampai paha, menariknya ke bawah. Ia menggertakkan gigi, memaksa. Rasa nyeri merayap seperti api kecil naik dari telapak kaki, ke lutut, ke pinggul, ke punggung, dan tiba-tiba kedua kakinya tak lagi bertenaga. Ia jatuh berlutut di rumput.
“Kak Zaki!” Tika langsung berlari maju.
“Jangan!” Zaki mengangkat tangan dengan susah payah. Napasnya putus-putus. “Jangan lewat garis ini ... jangan dekat ...”
“Garis apa? Kak, kenapa?”
Zaki menggeleng. Rahangnya mengeras, bukan karena sakit, melainkan karena sebuah kalimat yang berontak di tenggorokannya dan harus ia telan. Ia tidak bisa menjelaskan. Setiap penjelasan adalah pelanggaran.
Tika berhenti di tepi garis yang tak terlihat itu, menatapnya dengan mata membesar.
Di belakangnya, Tanto dan Sinta bertukar pandang.
***
Tanto mengangkat Zaki dari bawah ketiak dan menyeretnya mundur beberapa langkah. Begitu melewati semak terakhir, rasa sakit yang tampak itu surut, napas Zaki kembali, dan ia terduduk dengan keringat dingin di dahi.
“Gue baik-baik aja,” katanya serak. “Nanti juga hilang.”
“Itu bukan baik-baik saja.” Tika berjongkok di hadapannya, bibirnya gemetar. “Kakak lumpuh! Lima langkah dari danau! Ini apa, sih? Kak, bilang!”
“Gue nggak bisa.”
“Kenapa?!”
“Tika.” Suara Sinta, sangat pelan. Ia berdiri beberapa langkah di belakang, sebelah tangannya meremas ujung jaket. Wajahnya pucat tetapi mata yang menatap Zaki sangat jernih. “Mas Tanto. Ini mirip yang diceritakan pendaki Jakarta di Ranu Kumbolo.”
Tanto menoleh. “Cerita apa, Ta?”
“Waktu aku nunggu pagi di Ranu Kumbolo, Mas lagi sibuk sama petugas. Ada anak mapala dari Jakarta cerita soal Negeri Sukma Hilang.” Sinta menelan ludah, lalu bicara cepat, seperti takut keberaniannya menguap. “Katanya pintunya di Ranu Tompe. Katanya yang melanggar ditangkap, kecuali mau jadi juru kunci. Dan katanya cuma ada satu orang yang pernah keluar: seorang kakek, yang jadi penjaga pintunya. Dan negeri itu tidak kasat mata karena ... karena tidak boleh ada api setelah malam.”
Tika menoleh perlahan. “Negeri apa?”
“Aku nggak tahu itu benar atau nggak,” kata Sinta. “Aku cuma ... Kak Zaki lumpuh persis di garis. Dan dia nggak bisa ngomong kenapa. Dan Indri ... Indri hidup, tapi nggak ada di sini.” Suaranya mengecil. “Aku nggak mau menyimpulkan apa-apa. Tapi semuanya cocok.”
Zaki memejamkan mata. Ia tidak mengangguk dan tidak menggeleng. Ia hanya memejamkan mata, dan dalam diam itu Tanto mengerti lebih banyak daripada yang pernah bisa ia jelaskan lewat kata.
“Demi keselamatan kita bersama,” gumam Tanto, lirih, bukan sebagai pepatah, melainkan seperti menyebut sebuah doa yang harus diulang. “Ki, kamu ndak usah bilang apa-apa. Kamu ndak usah.”
“Saya sudah mendengar semuanya,” kata sebuah suara.
Keempatnya menoleh serentak.
Di pinggir semak, tak jauh dari tempat Zaki ambruk tadi, berdiri seorang kakek kurus bertubuh bungkuk, memakai kain lusuh dan ikat kepala dari kain pudar. Di tangannya tergenggam lentera tembaga yang menyala, padahal sore belum gelap. Dan nyala itu tidak bergoyang meski angin mulai bertiup, tegak seperti ujung jarum.
“Mbah Resa,” kata Zaki dengan napas tersengal.
“Sudah saya bilang di fajar itu, Nak.” Kakek itu memandangnya tanpa marah. “Sumpahmu ndak punya pintu belakang. Tepi pun sudah pintu.”
Tanto langsung melepas topi. “Mbah. Kami cuma mau tanya, apa ada—”
“Tak seorang pun boleh lewat.” Suara Mbah Resa pelan, tetapi sama sekali tak bisa ditawar. “Bukan karena saya jahat. Karena saya sudah berjanji menjaga.” Pandangannya bergeser ke Sinta, lama, dan sedikit melunak. “Kamu yang tahu ceritanya, Nduk. Ceritanya benar sebagian. Sebagian lagi ndak perlu kamu pikirkan.”
“Mbah, teman kami ada di dalam?” tanya Tika, nyaris menjerit. “Indri ada di dalam?”
Mbah Resa menatapnya.
“Yang bisa mengundang hanya satu,” katanya. “Titisan. Dan dia, bila memang akan keluar, keluar atas kehendaknya sendiri. Tidak ada yang bisa memanggilnya dari luar. Tidak ada yang bisa menariknya. Dan jangan,” ia mengangkat lenteranya sedikit, “jangan sekali-kali menyalakan api di sekitar sini, apa pun alasannya. Asapnya bukan hanya terlihat oleh yang kalian cari.”
***
Hari mulai teduh. Tanto membantu Zaki bangkit, dan mereka mundur lagi ke jalan setapak tempat mereka datang. Semak di sisi kanan berdesir.
Sinta yang pertama menyadari. Ia berhenti, matanya menyipit.
“Mas Tanto.”
“Ada apa?”
“Semaknya ... bergerak.”
Mereka berhenti serempak. Dedaunan di sisi jalan setapak berguncang pelan. Di antara dahan-dahan, dua titik kuning kecil menyala, lalu empat, lalu enam. Sebuah moncong tombak pendek menyelip keluar dari balik ranting, dan sosok-sosok seukuran bocah, berkulit gelap, berpakaian dedaunan, mengintip dari kegelapan dengan wajah-wajah yang tak mungkin dikenali sebagai manusia.
“Ayek-ayek,” desis Tanto. Telapak tangannya yang memegang tongkat basah oleh keringat.
“Itu apa?” bisik Tika.
“Mundur pelan-pelan. Jangan lari.”
“Mas, aku—”
“Jangan lari.”
Dan tiba-tiba, di tengah jalan setapak antara mereka dan semak, berdiri seorang perempuan.
Rambutnya tergerai kusut. Wajahnya pucat. Kaki kirinya miring. Di bawah cahaya sore yang suram, jaket pendaki yang ia kenakan tampak lebih pudar daripada kenyataan. Ia tidak menoleh pada empat orang di belakangnya. Ia hanya merentangkan satu tangan ke samping, seperti pagar, menghadap semak.
“Mundur,” katanya. Suaranya seperti desir kain, tapi tegas. “Sekarang. Mereka belum menyerang, tapi akan.”
Sinta menutup mulut. Tika membeku. Tanto menahan napas.
Dan Dania, yang berdiri membelakangi mereka, tidak menunggu siapa pun bertanya sebelum ia berkata sekali lagi, lebih pelan: “Mundur. Biar aku yang menahan mereka.”