Langit-langit berukir. Lampu minyak yang belum dinyalakan. Cahaya jingga yang miring masuk dari jendela, jatuh di selimut kain kotak-kotak hitam yang ia kenal sebagai milik Laras.
Indri membuka mata dan hal pertama yang ia rasakan adalah pipinya basah.
“Dia bangun.”
Suara Arjuna. Rendah, serak, seperti sudah lama tidak dipakai. Indri menoleh pelan dan menemukannya duduk di bangku kecil dekat pintu, bukan di sisi dipan, bukan di dekat tangan, jarak yang disengaja dan dijaga. Rambutnya kusut. Di pangkuannya, kedua tangannya saling menggenggam begitu erat sampai buku-bukunya pucat.
“Jam berapa?” tanya Indri. Suaranya seperti kertas.
“Menjelang senja. Kau pingsan sejak pagi.” Arjuna tidak bergerak dari bangku. “Jaga menggulung kabut menjadi tandu dan membawamu ke sini. Aku tidak menyentuhmu. Kau pernah bilang jangan.”
Sesuatu di dada Indri mengendur, hal kecil yang tak ia kira akan merasa lega. “Makasih.”
Di dekat jendela, seseorang berdiri membelakangi cahaya. Brawijaya. Jubah putihnya masih jubah yang sama, tetapi wajahnya yang menoleh begitu Indri bergerak tampak pucat seperti lilin yang meleleh pelan dari dalam.
“Nak. Minumlah.” Ia melangkah, mengambil cangkir tanah liat dari meja, dan menyodorkannya tanpa ragu. Tangannya tidak mantap. “Air biasa. Aku menuangnya sendiri.”
Indri menerima, meneguk, dan baru sadar betapa keringnya tenggorokannya. Airnya dingin dan tawar. Ia menyerahkan cangkirnya kembali dan, sebelum sempat berpikir, berkata, “Dia menangis.”
Brawijaya membeku.
“Orang yang di telaga. Sabdo Palon.” Indri menatap langit-langit, merasa kata-katanya keluar sendiri seperti sisa mimpi yang belum selesai. “Saya lihat dia, Baginda. Bukan yang tertawa kemarin. Dia lebih muda. Dia sujud di lantai balairung, minta ikut, dan yang diminta cuma satu: jangan ditinggal. Waktu Baginda berlutut dan bilang maaf ke dia, dia menangis sampai mukanya basah semua.”
“Itu hanya penglihatan, Nak.”
“Iya.” Indri mengangguk pelan. “Tapi rasanya nyata banget. Saya nggak bilang dia nggak jahat. Saya cuma bilang dia nangis. Orang yang jahat doang nggak nangis kayak gitu.”
Arjuna menatap ayahnya. Brawijaya tidak membalas tatapan itu. Ia memandang lantai.
“Kau melihat sampai ke mana?” tanyanya akhirnya, pelan sekali.
Pertanyaan itu terdengar biasa. Indri sendiri hampir menjawab tanpa berpikir. Tetapi ada sesuatu pada cara Brawijaya mengatakannya, pada tangan di sisi tubuhnya yang mengepal dan membuka, pada napas yang ditahan setengah tarikan, yang membuat jawaban itu menjadi sesuatu yang perlu ditimbang.
Ia mengingat tambatan. Jangkar. Kalimat Amarawati di mulut lembah, selendang jingga, kening yang menempel pada telapak tangan.
Dan entah kenapa, ia tidak mengatakannya.
“Sampai pintunya menutup,” katanya. “Pintu batu di lembah itu. Dia lari, tapi telat. Dia di luar, sendirian. Terus dia teriak.”
Brawijaya mengembuskan napas. Bahunya turun sedikit, sangat sedikit. Dan ia menunduk dengan terlalu cepat, seolah takut ada yang melihat wajahnya selama satu detik itu.
“Aku mengerti,” katanya.
Indri tidak mengerti, tetapi ia menyimpan raut itu rapat-rapat.
“Istirahatlah,” kata Brawijaya, lebih lembut. “Aku tidak akan bertanya apa-apa lagi hari ini. Arjuna.” Ia berhenti di ambang pintu tanpa menoleh. “Jaga dia.”
“Aku akan menjaga, Ayahanda. Dengan caranya sendiri.”
Brawijaya menatap putranya sesaat, mengangguk, dan pergi. Pintu tertutup tanpa suara.
***
Hening.
Indri duduk, bersandar di tumpukan bantal, dan baru sadar tangannya masih bergetar dari pergelangan sampai ujung jari. Ia menyembunyikannya di bawah selimut. Percuma. Arjuna sudah melihat.
“Kau masih dingin,” katanya.
“Aku nggak dingin. Cuma ... capek.” Indri menarik napas. “Aku masih ngerasa ada tubuh orang lain di tubuhku, Mas. Rasanya kayak masih pinjam. Aku nyaksiin kenangan orang lain, Mas, termasuk cintanya ke ayahmu. Itu bukan punyaku. Dan itu aneh banget, soalnya dia, Baginda, tadi pagi masih kelihatan kayak orang asing.”
“Itu bukan hal aneh bagi mereka yang tidak pernah mengatakannya keras-keras,” kata Arjuna.
“Mas, di lembah itu ada dua patung. Satu laki-laki berlutut, pakai baju perang sama tutup kepala dari kulit. Satu perempuan, berdiri, berkain batik. Aku pernah lihat patung persis kayak gitu di Arcopodo, sebelum aku ketemu kamu.”
“Arcopodo.” Arjuna mengerutkan kening. “Ayahanda dulu menempatkan Cipta di sana tanpa pernah mengatakan alasannya. Aku tidak pernah tahu apa yang dijaga di sana.”
“Berarti ada satu lagi yang nggak dia ceritain.”
“Satu dari sekian banyak,” kata Arjuna, dan nadanya bukan marah, hanya letih. “Aku mulai menghitungnya.”
Pintu diketuk dua kali, sangat sopan. Seorang dayang masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur beras dan sepiring pisang rebus. Bukan Laras. Dayang muda yang tadi pagi itu, yang menaruh nampan di meja dengan gerakan secepat tikus dan menghilang tanpa suara.
“Dia takut padaku,” gumam Indri.
“Dia takut pada apa yang kau tinggalkan di mandala,” kata Arjuna. “Seluruh istana sudah tahu segel mengenalimu. Bagi mereka, kau bukan lagi hanya tamu.”
“Aku benci itu.”
“Aku tahu.”
Arjuna tidak menjawab dulu. Ia berdiri, melangkah dua langkah mendekat, lalu berhenti di tempat yang jaraknya masih cukup bagi Indri untuk bilang tidak.
“Aku boleh memelukmu?” tanyanya. “Hanya kalau kau mau. Kau tidak perlu menjelaskan apa pun.”
Indri memandangnya. Mata cokelat terang itu tidak menuntut, tidak berharap berlebihan, hanya menunggu, seperti pintu yang dibiarkan terbuka sedikit. Ia bisa saja menggeleng. Seperti tikar kemarin, seperti genggaman semalam, ia punya hak untuk menggeleng.
Tetapi tubuhnya masih bergetar, dan ia lelah memegang semuanya sendiri.
“Boleh,” katanya. “Sebentar aja.”
Arjuna duduk di tepi dipan dengan hati-hati, seolah dipan itu bisa pecah. Lalu ia melingkarkan kedua lengannya di bahu Indri, lembut, tidak erat, memberi ruang untuk ditarik kapan saja. Indri meletakkan dahinya di bahu lelaki itu. Kain bajunya berbau kayu cendana dan sedikit asap.
Getar di tangannya pelan-pelan surut. Bukan hilang, melainkan menemukan irama baru yang bukan irama ketakutan, melainkan irama dua jantung yang berdetak dalam jarak sangat dekat.
“Sudah?” bisik Arjuna.
“Belum.”
“Baik.”
Ia menunggu. Sampai Indri sendiri yang menarik diri, sedikit saja, dan berkata, “Sudah. Makasih, Mas.”
Arjuna melepaskan tanpa tersendat. Ia berdiri, mengambil lampu minyak dan menyalakannya satu per satu dengan percikan jari, lalu duduk lagi di bangku dekat pintu, di jarak yang sama seperti ketika Indri bangun. “Aku di sini sampai kau tidur.”
“Kamu nggak harus—”
“Aku ingin.”
Indri memiringkan badan, memeluk bantal. Dari balik kelopak yang mulai berat, ia melihat siluet Arjuna dalam cahaya lampu, tegak, sabar, tak bergerak.
Ia bertanya dalam hati, sesuatu yang ia takut ucapkan keras-keras. Apakah ini jatuh cinta? Atau hanya takut, dan kebetulan ia orang pertama yang berdiri di dekatku ketika aku takut?
Tidak ada yang menjawab. Hanya nyala lampu yang bergoyang, dan napas lelaki di sudut ruangan yang sangat berhati-hati untuk tidak terdengar.