Yang pertama kembali adalah bau. Bunga kantil, basah, manis, dan dekat sekali, seakan setangkai ditaruh persis di depan hidung. Lalu cahaya, hangat dan kekuningan, menembus daun-daun lebar. Lalu tangan.
Tangan di dalam genggamannya.
Indri menunduk. Jari-jari yang menggenggam jari-jarinya itu hangat, panjang, bercincin batu merah di kelingking, milik seorang lelaki yang bahunya lebar dan rambutnya hitam sempurna, belum berubah putih sama sekali. Lelaki itu muda. Janggutnya tipis, dan matanya, mata yang sudah Indri kenal dari wajah yang lebih tua di serambi semalam, sedang menatap ke dalam wajahnya dengan keheningan seseorang yang tidak butuh apa-apa selain ini.
“Kau melamun, Amarawati,” katanya.
Indri tersentak. Bibirnya menjawab tanpa ia perintah. “Hamba memikirkan taman ini, Kangmas.”
Suara itu bukan suaranya. Lebih rendah, lebih lembut, dengan cengkok kuno yang memanjang di ujung kata. Tubuh yang ia tempati juga bukan tubuhnya: lebih tinggi, berkain panjang dengan selendang jingga, rambut disanggul rendah, kuku jari lentik dengan bekas pacar. Ia bisa merasakan jantung yang bukan miliknya berdetak tenang, dan perasaan yang mengalir lewat dadanya begitu jelas, begitu utuh, begitu bukan miliknya, sampai ia hampir menangis.
Cinta. Cinta yang sudah lama tinggal dan tidak lagi ribut.
Ia tidak sedang melihat Amarawati. Ia sedang menjadi Amarawati.
“Taman ini akan dibakar bila kota ini jatuh,” kata lelaki itu, pelan. “Aku sering memikirkannya, malam-malam.”
“Maka biarlah hamba mengingatnya sekarang selagi masih berbunga.”
“Kau bicara seakan sudah menulis perpisahan.”
“Hamba hanya belajar dari ibu hamba, Kangmas. Perempuan yang sibuk menunggu perpisahan akan kehilangan hari ini.”
“Dan hari ini?”
“Hari ini Kangmas memegang tangan hamba dan taman ini masih wangi.” Bibir itu tersenyum, Indri bisa merasakannya, tipis dan tulus. “Itu cukup untuk dikenang.”
Prabu Brawijaya tersenyum, senyum muda yang hanya samar mirip dengan senyum tua di serambi tadi malam. Ia menggenggam tangan perempuan itu sebentar, pelan sekali, seakan takut mengganggu tidur seekor burung. Dari kejauhan, entah dari sisi mana tembok kota, terdengar derap sangat banyak kaki. Bunyi itu bukan bunyi pesta.
Taman di sekeliling mereka meredup.
***
Malam.
Balairung terbuka lebar, pilar-pilar kayunya diterangi api dari obor yang ditaruh terlalu rapat, dan di luar gerbang, bukan bintang yang bersinar, melainkan merah. Api. Banyak sekali. Asapnya masuk lewat pintu dan membuat mata Indri perih.
Prabu Brawijaya duduk di singgasana dengan punggung tegak. Di hadapannya, sebaris lelaki dan perempuan dengan wajah penuh jelaga berdiri diam, menunggu satu kalimat. Amarawati berdiri di sisi singgasana, selendangnya ditarik hingga menutup bahu, dan Indri mendengar sendiri betapa pelan detak jantung yang menempatinya.
“Aku sudah memutuskan,” kata Brawijaya, dan suaranya sampai ke setiap sudut ruangan tanpa naik sedikit pun. “Aku tidak akan membuat tanah ini membasah oleh darah demi sebuah mahkota. Yang ingin ikut denganku, ikutlah. Yang ingin tinggal, aku restui. Tidak seorang pun kuhukum karena memilih.”
Gumam menjalar di antara barisan. Seseorang menangis. Seseorang berdoa.
Lalu seorang lelaki pendek dan gemuk melangkah maju dari barisan depan dan bersujud, dahinya menghantam lantai, jubah kuning keemasannya menyapu debu.
“Gusti.”
Indri mengenali bahu itu sebelum ia melihat wajahnya. Cepol rambut yang masih hitam bercampur uban, mata yang belum dingin, tangan yang gemetar saat menyentuh lantai. Sabdo Palon. Bukan lelaki bersenyum sinis di atas batu, melainkan orang yang sepertinya baru saja berlari dari pertempuran dan datang dengan seluruh dirinya yang masih utuh.
“Gusti,” katanya lagi, dan suaranya pecah. “Jangan tinggalkan kami yang setia. Izinkan hamba menahan gerbang. Hamba masih punya dua ribu orang. Hamba akan membuat mereka menyesal pernah melangkah ke tanah ini.”
“Kakang.”
Brawijaya turun dari singgasana. Ia berlutut di hadapan lelaki gemuk itu, menyentuh bahunya, dan seluruh balairung menahan napas melihat seorang raja berlutut di depan penasihatnya.
“Tak seorang pun menyesal bila semuanya mati, Kakang,” katanya. “Dan aku sudah lelah mendengarkan tangis anak-anak di jalan.”
“Kalau begitu bawa hamba. Hamba tidak peduli ke mana.”
Hening yang panjang.
Amarawati, tubuh dan hati yang Indri tempati, merasakan sesuatu di dadanya menekan, rasa yang aneh dan tajam. Ia tahu kata apa yang akan keluar. Ia tahu, tetapi tidak mengerti kenapa ia tahu, dan itu menakutkan.
“Maafkan aku, Kakang,” kata Brawijaya.
Hanya itu.
Sabdo Palon mengangkat wajah. Air matanya turun deras membasahi kerut di sekitar mata. Mulutnya membuka, menutup, membuka lagi, tetapi tidak ada kata yang keluar.
***
Lembah itu sunyi. Di balik bukit, api kota meninggalkan semburat jingga di langit, seperti subuh yang datang terlalu cepat dan dengan niat salah. Rakyat berbaris panjang di jalan setapak, perempuan menggendong anak, lelaki memanggul peti, orang tua dipapah. Seorang bocah laki-laki menarik ujung selendang Amarawati saat ia lewat.
“Gusti Ratu, kita mau ke mana?”
“Ke tempat yang tenang, Nak,” jawab Amarawati, dan mengusap kepalanya. “Jalan terus, jangan menoleh.”
Amarawati berhenti di mulut lembah. Prabu Brawijaya berdiri di sisinya, memandang lengkung batu raksasa yang mulai bersinar di ujung jalan.
“Kau tidak ikut berbaris dengan mereka?” tanya Brawijaya.
“Nanti, Kangmas. Ada yang harus hamba bicarakan dahulu.” Amarawati menatap lengkung batu itu. “Pintu itu tidak akan menutup rapat dengan sendirinya. Seseorang harus menahannya agar tidak terbuka dari luar. Seseorang harus menjadi tambatannya.”
“Tidak.”
“Biarkan hamba.”
“Tidak, Amarawati. Aku akan mencari cara lain.”
“Kita tidak punya waktu untuk cara lain, dan Kangmas tahu itu.”
“Hamba bukan meminta izin.” Suaranya tenang, dan Indri merasakan tenang itu seperti air dalam yang menutupi sesuatu yang mengerikan. “Hamba mengatakan apa yang akan hamba lakukan. Segel ini butuh sesuatu yang hidup untuk diikatkan, dan hamba yang paling dekat. Biarkan hamba menjadi jangkarnya.”
Brawijaya tidak menjawab dengan kata. Ia berlutut di hadapan istrinya, di tanah berbatu, mengangkat kedua tangan dan menempelkan dahinya pada telapak tangan perempuan itu. Bahunya berguncang.
“Aku bersumpah,” katanya, parau. “Demi tanah yang kutinggalkan dan segala yang suci. Aku akan melindungimu. Selama aku masih hidup, selama aku masih bernapas, tidak ada yang akan menyentuhmu. Tidak ada yang akan melukaimu.”
Tanah di sekeliling mereka bergetar. Dari kedua sisi lembah, batu-batu naik pelan dari dalam bumi, mengambil bentuk dengan lambat dan tak dapat dihentikan. Satu sosok berlutut dengan kepala tertunduk, berpakaian perang dan penutup kepala dari kulit hewan. Satu lagi berdiri tegak di hadapannya dengan kain batik panjang dan tubuh bagian atas terbuka, wajahnya penuh welas asih.
Dua arca. Bagian bawahnya masih tenggelam dalam tanah.
Indri berhenti bernapas. Ia mengenali kain itu. Ia mengenali penutup kepala itu. Ia pernah berdiri di depan keduanya pada dini hari yang dingin, di sebuah tempat yang disebut Arcopodo, dan Zaki menarik tangannya karena merasa ada yang salah.
Pintu moksa membuka dengan cahaya putih yang menelan seluruh mata. Rakyat melangkah masuk satu demi satu, tanpa menoleh. Brawijaya bangkit, menggenggam tangan Amarawati terakhir kali. Amarawati melepasnya sendiri, jari demi jari, lalu mundur ke mulut lembah dan menempelkan telapak tangannya pada lengkung batu. Lengkung itu menyala di bawah sentuhannya. Brawijaya menatapnya sampai ia tak sanggup lagi, lalu masuk ke dalam terang.
Dari jauh, di belakang mereka, terdengar derap kaki. Seorang lelaki gemuk berlari di jalan setapak yang kosong, jubah kuningnya robek, tangan terulur.
“Gusti!”
Cahaya itu mulai menyempit.
“Gusti, tunggu! Hamba di sini! Hamba datang! Gusti Prabu!”
Sabdo Palon berlari seperti belum pernah berlari seumur hidupnya, dan ia hanya tiga langkah dari pintu ketika cahaya itu menutup, tanpa suara, seperti kelopak mata raksasa yang terpejam. Gema pun tak ada, tanda pun tak ada. Hanya batu lengkung di tepi lembah, lalu angin, lalu lelaki gemuk yang jatuh berlutut di depan dinding kosong.
Ia memukul batu itu dengan kedua tangannya. Sekali, dua kali, sampai kulitnya robek.
Lalu ia menjerit. Jeritan seseorang yang kehilangan segala yang pernah ia punya dalam satu helaan napas, jeritan yang menggetarkan lembah dan memanjat bukit dan terus bergema bahkan setelah Indri tidak lagi bisa melihat apa pun selain putih.