Pesan Laras semalam belum juga mau diam.
Kalimat itu sudah berputar di kepala Indri sepanjang malam, sampai kemudian pagi datang dan kalimat itu masih di sana, seperti kerikil di sepatu. Ia memakai kebaya hijau tua yang disiapkan Laras, mengepang rambutnya sendiri karena tidak ingin ditolong siapa pun, dan duduk di tepi dipan sambil memandang cangkir wedang semalam yang belum ia sentuh.
Laras tidak datang membantu pagi itu. Seorang dayang muda yang tak dikenal berdiri di luar pintu, menunduk, bilang Nyai Laras sedang “mengurus dapur”. Indri hanya mengangguk. Perutnya sudah terlalu penuh oleh hal lain.
Arjuna menunggu di selasar. Wajahnya segar, tetapi di bawah matanya ada lingkaran tipis yang menandakan ia juga tidak tidur.
“Siap?”
“Kayaknya nggak. Tapi aku tetap jalan.”
“Itu cukup.”
Mereka melewati halaman balairung yang masih basah embun. Dua prajurit menunduk saat Indri lewat, dan Indri membalasnya dengan anggukan canggung yang membuat salah satunya hampir tersenyum. Di sisi kiri, lembah tertutup awan seperti hamparan kapas yang belum disentuh siapa pun. Pagi di negeri ini selalu terlalu indah untuk dipercaya, pikir Indri, dan ia memutuskan untuk tidak mempercayai satu pun.
Candi Segel berdiri di halaman belakang balairung, kecil dan gelap seperti kuil yang dilupakan, batu hitam dengan ukiran sulur yang sudah aus oleh waktu. Pintunya hanya sebesar pintu rumah biasa. Cipta dan Jaga sudah menunggu di depannya, dan di antara mereka berdiri Brawijaya, mengenakan jubah putih polos, tanpa mahkota.
“Tujuh puluh tujuh anak tangga,” kata Brawijaya, dan tak seorang pun bertanya mengapa ia menghitungnya. “Pegang dinding bila licin.”
Indri menghitung dalam hati. Udara makin dingin setiap turun, bau tanah basah bercampur dupa tua, dan suara langkah mereka memantul di batu dengan kembaran yang tertinggal setengah detik. Ia merasakan Arjuna di belakangnya, menjaga jarak yang tepat. Di anak tangga keenam puluh, dinding mulai bersinar samar. Di anak tangga ketujuh puluh tujuh, tangga berhenti, dan ia lupa menghitung napasnya sendiri.
Ruang itu bundar. Luasnya mungkin seluas lapangan voli, langit-langitnya melengkung rendah seperti perut kura-kura raksasa. Dinding dan lantainya batu hitam yang digosok sampai berkilat, dan di lantai itu, memenuhi seluruh bundaran, terukir sebuah mandala. Lingkaran demi lingkaran, bersusun, dihubungkan garis-garis halus dan huruf-huruf kuno yang tidak bisa Indri baca. Dari ukiran itu mengalir cahaya biru keemasan, berdenyut pelan seperti nadi di pergelangan tangan.
Cantik. Sungguh cantik.
Indri langsung waspada. Besok jangan percaya pada apa pun yang tampak indah.
“Lihat lebih dekat,” kata Jaga, lembut. “Jangan tertipu cahayanya. Lihat yang di bawahnya.”
Indri berjongkok. Dari jarak sejengkal, garis-garis cahaya itu tidak mulus. Halus, nyaris tak terlihat bila berdiri, tetapi begitu didekati, ratusan retakan sehalus rambut merayap di seluruh permukaan batu. Retak di antara lingkaran, retak memotong huruf-huruf, retak yang menjalar keluar dari pusat seperti sarang laba-laba di kaca jendela. Di pusatnya, ada cekungan dangkal sebesar telapak tangan, kosong, mengilap oleh cahaya.
“Ini retak,” katanya.
“Ini segel,” kata Brawijaya.
Ia berdiri di tepi mandala, tidak melangkah masuk, dan suaranya terdengar lebih tua daripada semalam. “Segel ini menyelubungi seluruh negeri. Bukit-bukit, istana, pasar, lembah, semuanya berada di dalam selubungnya. Karena itulah dunia luar tidak melihat kami, bahkan bila berdiri di tepi kabut. Karena itu juga jalan masuk hanya terbuka bagi yang diundang, atau yang tersesat dengan nasib sangat buruk.”
“Dan retak ini?” tanya Indri.
“Retak ini melebar.”
“Kalau retaknya terus melebar, apa yang terjadi?”
“Kabut di tepi negeri menipis. Pasar kadang terlihat oleh manusia yang tersesat, hanya sekejap, tetapi dari tahun ke tahun semakin lama.” Brawijaya menyentuh pangkal hidungnya dengan dua jari. “Dan ada yang menunggu di luar kabut itu sejak sebelum kau lahir. Ia sabar sekali.”
“Sejak kapan retaknya mulai?”
Brawijaya terdiam. Di belakangnya, Cipta dan Jaga saling memandang cepat, sesuatu yang terlalu cepat untuk disebut kebetulan.
“Sejak Ratu mangkat,” katanya akhirnya.
Arjuna menarik napas, pelan, tajam. Indri menoleh dan melihat rahangnya mengeras, bukan karena marah, melainkan seperti orang yang mendengar langkah di lantai atas rumah yang ia kira kosong.
“Sembilan tahun,” kata Arjuna. “Selama sembilan tahun Ayahanda membiarkannya melebar.”
“Selama sembilan tahun aku berusaha menahannya.” Suara Brawijaya tidak naik, tetapi seluruh ruangan mendadak terasa sempit. “Setiap purnama aku turun dan menambalnya dengan tanganku, dan setiap purnama retaknya kembali lebih lebar daripada yang kutambal. Itu yang kuhadapi, Anakku. Bukan musuh di luar. Rumah yang pelan-pelan terbuka dari dalam.”
“Apa penyebabnya?” desak Arjuna. “Mengapa ia melebar karena Ibu mangkat?”
Brawijaya mengatupkan mulut. Ia tidak menjawab. Matanya hanya bergerak ke arah mandala, menatap sesuatu di antara retakannya yang tidak terlihat oleh siapa pun selain dirinya.
Indri berdiri, menepuk lututnya. “Kalau ini segel, dan ini darah titisan yang jadi kunci, apa yang kurang?”
“Kau bisa merasakannya sendiri,” kata Jaga.
“Merasakan?”
“Letakkan telapakmu di dinding. Bukan di lantai. Di dinding, tempat cahayanya paling tipis.” Jaga menunjuk dengan seruling, ke arah lengkung batu yang cahayanya lebih redup. “Segel tidak berbicara dengan kata. Ia berbicara dengan denyut.”
“Berbahaya?”
“Kalau berbahaya, aku tidak akan menyuruhmu.”
“Itu jawaban yang sama persis dengan yang dipakai orang yang menyuruh aku makan di tempat aneh,” gumam Indri.
“Aku di sini,” kata Arjuna pelan. “Kalau kau ingin berhenti, katakan apa pun. Aku tidak akan menyentuhmu kecuali kau yang meminta.”
Indri menatapnya sebentar, lalu menatap Brawijaya yang tidak menghalangi. Raja itu hanya memandangnya dengan mata orang yang tahu bahwa apa pun yang ia lakukan sekarang akan terlambat.
“Kamu jangan jauh-jauh,” kata Indri. “Tapi jangan pegang.”
“Baik.”
Ia melangkah ke dinding yang ditunjuk Jaga. Batunya dingin, lebih dingin daripada tangga, dan permukaannya halus seperti tulang. Ia menarik napas, mengangkat tangan kanan, dan meletakkan telapaknya rata di batu.
Untuk sekejap tidak terjadi apa-apa.
Lalu cahaya di bawah jarinya berdenyut sekali, dan sesuatu di dalam dadanya menjawab.
Dug.
Dug. Dug.
Dadanya berdetak mengikuti cahaya, bukan sebaliknya. Setiap denyut dinding menjalar ke tangan, naik ke lengan, turun ke jantung dan menariknya selaras. Lingkaran-lingkaran di lantai menyala bergantian, dari tepi menuju pusat, seolah sesuatu yang lama tertidur sedang mengenali wajah seseorang yang pernah ia kenal.
“Dia mengenalimu,” bisik Jaga. Seruling di tangannya turun. “Segel mengenali darahnya. Ia benar-benar mengenalinya.”
“Pak ... Pak Cipta, ini ... ini normal?” Suara Indri terdengar jauh dari telinganya sendiri.
“Tidak,” kata Cipta, dan suaranya terdengar benar-benar takut. “Tarik tanganmu, Nduk!”
Ia berusaha. Tangannya tidak mau bergerak.
“Indri!” Arjuna melangkah maju, tetapi Brawijaya menahan bahunya dengan satu tangan, dan mulutnya bergerak membentuk dua kata yang tidak terdengar.
Cahaya mandala memenuhi pandangan Indri sampai ia tak bisa melihat tepi ruangan. Biru menjadi emas, emas menjadi putih, dan dari ujung putih itu perlahan muncul warna lain yang bukan warna ruangan itu: hijau daun, cokelat tanah, bau bunga kantil dan asap kemenyan yang jauh lebih tua dari dirinya.
Suara Arjuna menjauh. Suara Cipta menjauh. Lantai di bawah kakinya menghilang.
Dan pandangan Indri menggelap.