Lampu keempat sudah dinyalakan ketika Indri dan Arjuna melangkah ke serambi balairung. Angin malam membawa bau minyak kelapa dan embun, dan di bawah pagar kayu, awan putih bergerak pelan, menggeser bintang satu per satu.
Brawijaya duduk sendirian di bangku jati yang menghadap lembah. Tidak ada pengawal, tidak ada dayang, tidak ada baki minuman. Jubahnya sederhana, mahkotanya tertinggal entah di mana, dan tanpa semua itu ia tampak seperti lelaki biasa yang terlalu lama memikul sesuatu di punggung.
“Duduklah,” katanya, tanpa menoleh.
Indri tidak duduk. “Baginda sudah tahu telaga pecah.”
“Seluruh istana tahu.” Ia menoleh perlahan, dan garis di sekitar matanya tampak lebih dalam daripada tadi pagi. “Siapa yang berbicara kepadamu di sana, Nak?”
“Seseorang yang tertawa kayak kakek-kakek tapi nggak bikin saya tenang.” Indri mengepalkan tangan di sisi kebayanya. “Dia nanya apa yang Baginda kubur di bawah candi. Saya nggak tahu jawabannya. Mas Juna juga nggak tahu.”
Brawijaya menutup mata. Lampu minyak di tiang terdekat berkedip, nyalanya merunduk sesaat seperti ada yang meniup dari jauh.
“Sabdo Palon,” katanya.
Nama itu diucapkan dengan nada yang biasa dipakai orang untuk menyebut seseorang yang sudah mati, padahal pemiliknya baru saja tertawa dari dalam air.
“Siapa dia sebenarnya buat Baginda?” tanya Indri.
“Penasihat. Sahabat.” Brawijaya terdiam sejenak. “Saudara yang kupilih sendiri, dahulu. Sebelum aku memilih hal lain.”
“Dia bicara lewat telaga, pakai darah saya.” Indri tidak mengalihkan tatapan. “Baginda, saya bukan siapa-siapa di sini. Saya tamu. Saya orang luar yang disuruh memutuskan sesuatu pada tanggal dua puluh, dan saya nggak mau memutuskan apa pun sebelum tahu apa yang dibayar. Itu bukan kelancangan. Itu cuma hitungan.”
“Ayahanda.” Arjuna melangkah setengah ke depan. “Aku juga ingin tahu. Selama tiga puluh tahun aku mengira Candi Segel hanya batu dan rapalan. Apa yang ada di bawahnya?”
Brawijaya tidak menjawab. Ia memandang lembah, lalu tangannya sendiri, yang keriput tipis di punggungnya, dan bicara pelan tanpa menatap siapa pun.
“Ada hal yang disembunyikan seorang ayah bukan karena ia ingin berbohong, Arjuna. Melainkan karena ia tak sanggup melihat wajah anaknya ketika mendengar.” Suaranya serak. “Kau lahir di negeri yang tenang. Aku ingin kau tumbuh tanpa tahu seberapa mahal ketenangan itu.”
“Ayahanda tidak bisa terus menyimpan itu.”
“Aku tahu.”
“Kalau begitu—”
“Aku tahu, Anakku.” Brawijaya mengangkat tangan, bukan untuk membungkam, hanya untuk meminta jeda. “Biar aku bicara dengan caraku, atau aku tak akan bisa bicara sama sekali.”
Hening lama. Di kejauhan, dari arah taman, terdengar jangkrik pertama malam itu.
“Ada ruang di bawah Candi Segel,” kata Brawijaya akhirnya. “Itu benar. Aku turun ke sana sekali setiap purnama, sendirian, sejak sebelum kau lahir. Di sana bukan kuburan. Tidak ada harta, tidak ada mayat. Tetapi memang ada sesuatu yang kubenamkan dengan tanganku sendiri, dan kalian akan melihatnya.”
“Apa itu?” desak Arjuna.
“Aku tak akan menjelaskannya dengan kata. Kalian akan melihatnya sendiri, besok pagi. Cipta dan Jaga akan menemani. Segel yang selama ini melindungi negeri ini akan kuperlihatkan kepada kalian berdua, dengan retak dan semuanya.” Ia menatap Indri. “Kau berhak, Nak. Kau benar. Sebelum menjawab, kau berhak melihat harga yang diminta kepadamu, setidaknya sebagian.”
“Sebagian?”
“Ada satu pertanyaan yang tidak akan kujawab malam ini.”
Arjuna menegang. Indri merasakannya tanpa menoleh, seperti merasakan udara yang berubah sebelum petir.
“Ayahanda.” Suara Arjuna rendah dan hati-hati. “Apakah ini ... apakah ini sebabnya Ibu—”
“Arjuna.”
Satu kata. Tidak keras, tidak marah. Tetapi di dalamnya ada sesuatu yang membuat Arjuna menutup mulut, menelan sisa kalimatnya, dan menunduk dalam-dalam. Brawijaya memandang anaknya lama dengan mata yang basah, tidak menangis, hanya terlalu penuh. Lampu di tiang merunduk lagi.
“Jangan selesaikan kalimat itu,” katanya lembut. “Bukan malam ini. Besok pagi, aku janji, sesuatu akan terjawab. Sisanya ... sisanya akan datang dengan waktunya.”
Indri menahan napas. Ia sadar telah mendapatkan lebih banyak daripada yang ia minta, dan lebih sedikit daripada yang ia butuhkan, dan tak satu pun dari dua hal itu membuatnya merasa lebih aman.
“Besok pagi,” ulangnya. “Saya pegang janji itu, Baginda.”
“Pegang.” Brawijaya tersenyum tipis, senyum yang tidak sampai ke mata. “Kau sama persis dengannya.”
“Dengan siapa?”
“Dengan orang yang dulu kupanggil dengan nama yang sama di setiap doaku.” Ia berdiri, perlahan, dan menepuk bahu Arjuna sekali. “Istirahatlah. Keduanya.”
***
Selasar menuju Paviliun Kemuning panjang dan sunyi. Lampu-lampu minyak di dinding memberi bayang ganda pada langkah mereka, dan selama sepuluh langkah pertama, tidak seorang pun bicara.
“Kalimatku tadi,” kata Arjuna akhirnya, tanpa menoleh. “Aku tidak tahu kenapa aku mengucapkannya. Ia keluar sebelum aku memikirkannya.”
“Mungkin karena sebagian dari kamu udah tahu.”
“Mungkin.” Ia berhenti di bawah salah satu lampu. Cahaya kuning menyorot bekas luka tipis di lengan kirinya, tinggal garis pucat yang hampir menghilang. “Ayahanda tidak pernah menyebut Ibu tanpa mengakhiri kalimat dengan senyum. Malam ini aku melihat ia tidak mampu tersenyum.”
“Kamu nggak harus cerita sekarang, Mas.”
“Aku tahu. Tetapi kalau kau benar-benar akan memilih, aku ingin kau memilih dengan semua yang aku tahu.” Ia tertawa getir. “Sayangnya, yang aku tahu ternyata tidak banyak.”
Indri ingin mengatakan sesuatu yang menghibur, tetapi tidak menemukan kalimat yang cukup jujur. Maka ia mengatakan satu-satunya yang jujur. “Besok kita lihat sama-sama.”
“Sama-sama,” ulang Arjuna. Ia mengantarnya sampai ke ambang paviliun dan tidak melangkah lebih jauh, bahkan ketika pintunya terbuka.
***
Indri tidak bisa tidur.
Ia berbaring di kasur kayu Paviliun Kemuning dengan mata terbuka, menatap langit-langit berukir yang cahayanya bergoyang mengikuti lampu minyak. Setiap kali ia memejamkan mata, dua titik terang itu muncul lagi. Setiap kali ia membuka mata, kata-kata Brawijaya yang tak selesai terus bergema: Apakah ini sebabnya Ibu.
Pintu paviliun berderit. Laras masuk membawa nampan kecil dengan cangkir tembaga di atasnya. Uapnya naik tipis, beraroma jahe dan serai.
“Hamba membawa wedang, Den Ayu. Supaya Den Ayu bisa tidur.”
“Makasih, Mbak. Aku nggak ngira Mbak masih bangun.”
“Hamba selalu menunggu sampai Den Ayu terlelap.”
Laras menunduk dan meletakkan cangkir itu di meja samping dipan. Tangannya gemetar sampai dasar cangkir berdenting kecil di atas kayu. Tinn. Tinn. Ia buru-buru menahan cangkir dengan tangan satunya, dan Indri melihat sebentuk cincin kayu polos melingkar di jari manisnya.
“Mbak Laras,” kata Indri pelan. “Mbak kenapa?”
“Tidak apa-apa, Den Ayu. Hamba hanya kelelahan.”
Ia mengambil cangkir kosong bekas wedang pagi tadi dari meja, menaruhnya di nampan, dan berbalik. Langkahnya sampai ke ambang pintu sebelum ia berhenti. Ia tidak menoleh. Suaranya nyaris hilang di bawah bunyi jangkrik.
“Den Ayu.”
“Iya?”
“Besok jangan percaya pada apa pun yang tampak indah di bawah candi.”
Pintu tertutup pelan. Hanya aroma jahe dan serai yang tertinggal, dan satu cangkir wedang yang uapnya mulai menipis.