“Titisan.”
Suara itu tidak keras. Ia keluar dari tengah telaga, di antara dua titik terang yang menatap dari dalam kabut, dan terdengar sangat dekat, seolah pemiliknya duduk di sebelah Indri dan berbisik di dekat telinga. Ramah. Terlalu ramah, seperti suara seorang kakek yang memanggil cucunya agar mendekat sebelum menunjukkan sesuatu yang tidak boleh dilihat.
“Jangan berpaling, Nak. Aku hanya akan bertanya satu hal, karena tak seorang pun di istana itu mau menjawabnya.”
Genggaman Arjuna di tangan Indri menegang seketika. Dari belakang, Cipta berucap pendek, “Jangan jawab.”
“Kau tahu,” lanjut suara itu, “apa yang dikubur ayah kekasihmu di bawah candinya?”
Indri membuka mulut. Yang keluar bukan rasa takut. Yang keluar adalah jengkel, yang lebih tua dan lebih dekat dari takutnya. “Dia bukan kekasihku.”
Tawa pelan menggetarkan permukaan telaga. “Belum. Mereka semua mengatakan belum, sampai suatu hari tak ada lagi yang bisa mereka katakan.” Dua titik terang itu berkedip, lambat. “Darahmu hangat sekali, Nak. Terima kasih sudah memberikannya dengan cuma-cuma.”
“Itu tukaran buat nyawa teman aku, bukan hadiah buat Bapak.”
“Bapak,” ulang suara itu, geli. “Sudah lama tak ada yang bersopan-sopan kepadaku. Kau akan lebih sopan lagi nanti.”
“Tanyakan kepada ayahmu. Tetapi jangan dengarkan apa yang ia katakan. Perhatikan wajahnya ketika ia menjawab. Wajah selalu lebih jujur daripada lidah.”
Arjuna bergerak.
Tanpa peringatan, tangan kirinya yang bebas menyabet ke bawah, tinggi lalu keras, dan telapaknya menghantam permukaan telaga. Air itu tidak memercik. Ia pecah, bergemeretak seperti kaca tebal, retakan putih menjalar dari titik hantaman ke seluruh bundaran. Dua titik terang itu menjerit tanpa suara, melebar, lalu hilang tertelan kabut.
“Cipta!”
“Aku di sini, Pangeran!”
Cipta sudah melangkah ke tepi, kedua tangannya terangkat, dan dari mulutnya mengalir rapalan dalam bahasa yang terdengar lebih tua daripada gunung. Dari balik batu pipih, seseorang melompat dengan langkah ringan yang tak mengeluarkan bunyi. Jaga. Seruling ada di tangan kirinya, rambut sebahunya berantakan, dan ia menempelkan ujung seruling itu pada salah satu retakan yang paling lebar.
Sebuah nada keluar, panjang, tipis, seperti benang perak yang dijahitkan pada kulit yang robek.
Retakan merapat satu per satu. Putih kembali menjadi jernih, jernih menjadi diam, dan dalam beberapa tarikan napas telaga itu kembali seperti sebelumnya: bundar, tenang, memantulkan langit yang mulai berwarna tembaga. Kabut lenyap, mata lenyap. Hanya dua pria tua yang terengah dan seorang pangeran yang masih menggenggam tangan Indri dengan buku-buku jari memutih.
“Mas.” Suara Indri nyaris tak keluar. “Mas Juna, tangan aku.”
Arjuna menunduk. Ia melepaskannya seperti orang tersentak dari tidur. “Maaf. Maaf, Ndri.” Dan karena tidak tahu harus menaruh tangan itu di mana, ia menyembunyikannya di balik punggung.
Lutut Indri baru terasa bergetar setelah ia sadar semuanya sudah berhenti. Ia duduk di batu pipih tanpa menunggu dipersilakan.
“Itu tadi siapa?”
Hening. Cipta mengatur napas sambil memegang dada. Jaga memutar seruling di jarinya, wajahnya yang biasanya jenaka tampak sempit.
“Siapa orang itu?” ulang Indri, dan kali ini ia menatap Jaga.
“Sahabat lama ayah Arjuna,” kata Jaga. “Dahulu.”
“Dahulu itu kapan?”
“Sebelum negeri ini punya pintu,” kata Jaga. Ia menggigit bibir, seakan sudah mengucapkan lebih banyak daripada yang diizinkan. “Selebihnya bukan ceritaku, Indri.”
“Telaga tidak bisa dibuka dari luar,” Cipta menyela, seolah ingin menjawab pertanyaan lain, pertanyaan yang tidak dilontarkan. “Kecuali oleh darah titisan. Ada darahmu di tempat lain, Nduk. Seseorang memakainya sebagai jendela.”
“Darah di cangkang Putri Jene,” kata Indri pelan. Hawa dingin merayap di tengkuknya. “Berarti ... dia tahu aku ada di sini. Dia lihat aku nangis.”
Tak seorang pun menyangkal.
***
Matahari tinggal separuh ketika mereka menyusuri jalan setapak kembali ke taman. Jaga dan Cipta berjalan jauh di depan, bicara rendah dengan kepala saling mendekat. Arjuna berjalan di sisi Indri, tetapi menjaga jarak setengah langkah lebih jauh dari biasa, seakan takut telapak tangannya menyisakan bekas.
“Maaf soal tadi,” katanya akhirnya. “Aku tidak seharusnya memegang sekeras itu.”
“Aku nggak apa-apa.” Indri menggosok pergelangan tangannya, memang agak merah. “Yang bikin aku nggak apa-apa itu pertanyaannya, Mas. Yang kubutuhin jawabannya, bukan permintaan maafmu.”
Arjuna tidak langsung menjawab. Cahaya senja memantul di rambut ikalnya, mewarnai separuh wajahnya jadi jingga dan separuhnya lagi jadi bayang.
“Kau mau tahu apakah aku mengerti maksudnya.”
“Iya.”
“Aku tidak akan menjawab pertanyaan yang jawabannya baru kudengar dari mulut orang itu.”
“Itu bukan jawaban, Mas.”
“Itu satu-satunya yang kupunya.”
Indri berhenti melangkah. Ia memandang Arjuna lama, mencari wajah yang menyembunyikan sesuatu, wajah yang licik atau menghindar, dan tidak menemukannya. Yang ia temukan adalah rahang yang mengeras di tempat yang salah, mata yang bergerak ke samping tiga kali dalam satu tarikan napas, dan tangan yang belum keluar dari balik punggung. Wajah itu milik seseorang yang baru diberi tahu bahwa rumahnya mungkin punya kamar yang tak pernah ia masuki.
“Kamu nggak tahu,” katanya.
Arjuna mengangkat pandangan.
“Kamu sendiri nggak tahu apa yang dikubur di bawah candi itu.”
Sesaat Arjuna tampak ingin membantah. Lalu bahunya turun, sedikit saja. “Candi Segel hanya pernah kumasuki sampai pelatarannya,” katanya, lebih lirih. “Ruang di bawahnya hanya boleh diinjak ayahku. Aku tidak pernah bertanya, karena aku mengira jawabannya sudah kuketahui: segel, rapalan, batu tua. Selama tiga puluh tahun aku mengira begitu.”
“Dan sekarang kamu nggak yakin.”
“Dan sekarang ada seseorang yang tersenyum padaku dari dalam air, dan aku tidak bisa membuktikan bahwa ia berbohong.” Ia tertawa kecil, kering. “Itu rasanya tidak enak, Indri.”
Dari semua yang Indri dengar hari ini, kalimat itulah yang paling jujur. Ia menarik napas, menegakkan bahu, dan menatap ke arah istana yang mulai menyala satu per satu lampu minyaknya di atas lautan awan.
“Kalau gitu kita tanya langsung,” katanya. “Malam ini juga.”
“Kita?”
“Aku yang disebut ‘titisan’. Kalau ada sesuatu yang dikubur atas namaku, aku punya hak tahu, dan nggak mau denger dari orang yang senyumnya kayak tadi.” Ia menoleh, dan ada keras kepala yang tak bisa ditawar di matanya. “Kamu mau ikut, atau mau aku sendiri yang ngetuk pintu balairung?”
Arjuna menatapnya sebentar. Lalu ia mengeluarkan tangannya dari balik punggung dan membiarkannya tergantung di sisi tubuh, terbuka, tanpa meminta apa pun.
“Aku ikut,” katanya.
***
Rangga Wesi menunggu di gerbang taman dengan obor di tangan. Ia membungkuk begitu melihat mereka, lalu tidak segera menegakkan punggung.
“Pangeran. Den Ayu.” Wajahnya yang keras tampak lebih keras dari biasa. “Baginda sudah tahu.”
“Dari mana beliau tahu?” tanya Arjuna.
“Telaga pecah, Pangeran. Seluruh dinding istana ikut bergetar. Cawan di dapur sampai berjatuhan.” Rangga Wesi menatap Arjuna, lalu Indri. “Baginda menunggu di serambi balairung, sesudah lampu keempat dinyalakan. Beliau berpesan agar Pangeran dan Den Ayu datang tanpa Cipta dan Jaga.”
“Hanya kami berdua?”
“Dan satu pesan lagi.” Rangga Wesi mengangkat obornya sedikit, dan cahaya merah itu menyorot wajahnya dari bawah. “Jangan membawa pertanyaan yang belum siap menerima jawabannya.”