“Jangan terlalu dekat dengan tepinya,” kata Cipta. “Telaga ini tidak berbahaya, tetapi ia punya selera menarik orang yang terlalu rindu.”
Ia berdiri di dekat sebuah batu pipih, jubah putihnya tertimpa cahaya sore yang miring dari barat, mahkota stupa tiga tingkat di kepalanya berkilat jingga. Di hadapannya terhampar telaga seukuran halaman rumah, bulat sempurna, airnya diam seperti kaca yang belum pernah disentuh. Bukit-bukit kecil di sekelilingnya memantul terbalik di permukaan. Kalau Indri tidak tahu, ia akan mengira seseorang telah menaruh langit di tanah.
“Bagus banget,” bisiknya. Ia benar-benar tidak punya kata lain.
“Itu baru kulitnya.” Cipta mengelus jenggot putihnya. “Telaga ini hanya memperlihatkan apa yang sedang terjadi, sejauh apa pun tempatnya. Ia tidak membawa suara, tidak membawa bau, tidak membawa sentuhan. Dan ia hanya mau melihat dari mata yang sungguh merindu, sementara tangan yang lain menahan pemilik mata itu di sini, di tepi, supaya tidak ikut tertarik masuk.”
“Tangan yang lain?” tanya Indri.
“Aku.” Arjuna melangkah setengah di belakangnya, dan nadanya terdengar hati-hati sekali. “Cipta bilang gambarnya lebih jernih bila ada yang memegang tanganmu. Bukan harus aku. Bisa Cipta, kalau kau lebih nyaman.”
“Dia kakek-kakek berjenggot, Mas.”
“Aku sudah berabad-abad menjaga gunung, jadi tentu aku lebih berpengalaman,” kata Cipta datar. “Tetapi kakek-kakek berjenggot ini akan sangat berterima kasih bila Pangeran yang menahan. Tanganku selalu berkeringat bila memegang manusia.”
Indri hampir tersenyum. Arjuna sudah mengulurkan tangannya setengah jalan dan berhenti di sana, menunggu Indri yang memutuskan.
“Boleh,” katanya. “Cuma buat telaga ini.”
“Cuma buat telaga ini,” ulang Arjuna. Ia tidak menekankan apa pun. Jemarinya menutup di sekitar jemari Indri dengan lembut, hangat dan sedikit kasar, dan Indri menahan napas sebentar karena ternyata genggaman itu tidak terasa seperti ancaman. Hanya seperti tali yang dipasang sebelum seseorang turun ke sumur.
“Pikirkan mereka,” kata Cipta. “Jangan satu. Pikirkan semuanya, dan biarkan telaga yang memilih.”
Indri memejamkan mata. Wajah Bunda muncul lebih dulu, lalu Tika, lalu rambut gondrong Zaki yang terikat sekenanya.
Ketika ia membuka mata, air telaga sudah bergetar seperti permukaan teh yang dikipas.
***
Gambar itu muncul bertahap. Tenda terpal biru lebih dulu, lalu halaman tanah, deretan jip, dan pinus-pinus yang tak berhenti bergoyang. Di bawah tenda, di kursi plastik, duduk seorang perempuan kecil yang memangku carrier merah di dadanya seperti memangku anak.
“Bunda,” kata Indri. Suaranya patah.
Bunda tidak bergerak. Rambutnya beruban di pelipis, dan Indri tidak ingat apakah warna putih itu sudah ada sebelum kemarin lusa. Di sampingnya, Tika duduk dengan selimut di bahu, menggenggam tangan Bunda dengan kedua tangannya, mulutnya bergerak. Tidak ada suara. Telaga tidak membawa suara. Tapi Indri bisa membaca bibir sahabatnya dengan jelas: Dia hidup, Tante. Kak Zaki bilang begitu. Aku percaya.
Percaya aja, Tik, pikir Indri, dan air matanya turun, panas dan tanpa suara. Itu benar. Itu satu-satunya hal yang benar hari ini.
Ayah muncul dari sisi kanan membawa dua gelas teh. Ia menaruh satu di tangan Bunda dan berdiri di belakang kursi, satu tangan di bahu istrinya, sama seperti yang selalu ia lakukan di setiap acara keluarga, menahan semuanya di bahu orang lain supaya tidak jatuh. Lalu Ayah menoleh ke arah pagar posko.
Zaki berdiri di sana. Membelakangi tenda, bahu merosot, kedua tangan di saku jaket. Ia memandang jauh ke arah barat, ke arah Lawu, ke arah yang bahkan dari jauh pun bisa Indri kenali dari cara lehernya menegang.
“Kak Zaki,” bisik Indri. “Kenapa dia berdiri begitu?”
“Karena ia tahu ke arah mana harus memandang,” kata Arjuna pelan.
Indri mengeratkan pegangannya. Arjuna membiarkan.
“Mereka nggak tahu aku bisa lihat,” katanya. “Bunda nggak tahu aku baik-baik aja. Aku bisa kirim apa gitu, Pak Cipta? Surat? Apa pun?”
“Tidak, Nduk.” Cipta menggeleng pelan, dan wajah tuanya menyimpan sesuatu seperti penyesalan yang sudah lama berkarat. “Telaga hanya memperlihatkan. Ia tidak bisa membawa pulang apa pun, bahkan sebait doa.”
“Aku bisa pulang.”
“Kau bisa, bila itu yang kau pilih. Pintunya tidak dikunci untukmu.” Cipta menatap air. “Tetapi bukan lewat telaga, Nduk. Telaga hanya jendela.”
Gambar posko bergetar, memudar, dan digantikan sesuatu yang lain.
***
Sebuah bukit kecil di bawah langit sore yang kuning keabu-abuan. Pohon-pohon kelapa berderet di tepinya. Tanah merah baru digali, dan di dekatnya sekelompok orang berdiri berpeci dan berkerudung, sebagian membawa payung hitam meski tidak hujan.
Indri tidak perlu bertanya.
Ia melihat Oni berdiri di belakang rombongan, wajahnya kusut, dengan saputangan yang diremas di tinju. Ia melihat seorang lelaki tua beruban yang dipapah dua pemuda, yang pasti ayah Retno. Ia melihat sang kakak menurunkan sesuatu yang terbungkus kain putih dengan bantuan beberapa lelaki, pelan-pelan, sangat hati-hati, sampai ke dasar liang. Seorang ustaz membaca sesuatu. Taburan kembang jatuh seperti hujan warna.
Telaga tidak membawa suara, tetapi bibir-bibir yang bergerak di sekeliling liang itu sama dengan yang Indri hafal dari doa-doa yang mereka bacakan di Kalimati, di malam sebelum semuanya runtuh.
Mbak Retno. Indri menelan ludah yang terasa pahit. Mbak Retno yang julid, yang menyebut jaket kupluk merahnya seperti buah rambutan, yang tiap pagi di Ranu Kumbolo memaksa semua orang cuci muka lebih dulu sebelum sarapan.
“Maaf,” bisiknya kepada air. “Maaf, Mbak. Aku belum bisa jemput. Aku belum bisa. Tapi aku janji, aku janji.”
Mbak Retno tak ada di dalam liang itu, pikirnya. Mbak Retno sedang mengelap meja di dapur sebuah danau, mengenakan baju putih, kelihatan capek tapi masih menyuruh Ragil pulang. Hanya ia di sini yang tahu.
Genggaman Arjuna mengeras sedikit, lalu mengendur lagi, seperti orang yang takut menyakiti.
“Mau berhenti?” tanyanya, sangat pelan.
“Belum.” Indri menyeka pipi dengan punggung tangannya yang bebas. “Kalau aku berhenti sekarang, rasanya kayak ninggalin dia sendirian lagi. Kamu boleh lepas kalau tanganmu pegal.”
“Tanganku tidak pegal.”
“Mas, tanganmu dari tadi gemeteran dikit.”
“Itu bukan pegal,” kata Arjuna. “Itu telaga.” Jawaban yang terlalu serius untuk lelucon, dan justru itu yang membuat sudut bibir Indri bergerak di tengah air mata.
“Maafkan aku, Nduk,” kata Cipta di belakang mereka. Suaranya rendah, nyaris retak. “Aku dan Jaga menjaga gunung itu. Yang malam itu dibawa pergi, tidak sempat kami raih. Aku datang terlambat setengah tarikan napas.”
“Itu bukan salah Pak Cipta.”
“Tetapi aku tetap menanggungnya.”
Indri tidak menjawab. Ia hanya memandang bukit sore itu sampai taburan kembang yang terakhir jatuh, dan sampai Oni mengusap wajah dengan saputangan, dan sampai ayah Retno berlutut di tanah dengan kedua tangan terkulai.
Lalu air telaga berombak.
Tidak seperti tadi. Riak itu tidak berasal dari gambar, melainkan dari bawahnya. Kabut tipis naik dari tengah telaga, menelan bukit, menelan kembang, menelan Oni, dan di dalam kabut itu, di tempat yang seharusnya hanya ada putih, dua titik terang membuka perlahan.
Mata. Sepasang mata, besar dan tenang, sama sekali bukan milik siapa pun yang pernah berdiri di bukit itu.
Dan mata itu menatap balik ke arah Indri.