“12 Mei 2016, 05.40 WIB”
Jahitan di paha Gilang berdenyut seperti ada yang mengetuk dari dalam. Ia terbangun dengan gigi terkatup, menatap atap terpal biru yang masih gelap, dan butuh beberapa detik untuk sadar bahwa dipan lipat di sebelahnya kosong. Anto mendengkur pelan di sudut. Sinta tertidur duduk, kepalanya bersandar pada tiang tenda.
Dan di kaki dipannya, duduk seorang perempuan.
Gilang tidak berteriak. Dua hari terakhir sudah menghabiskan jatah teriaknya. Ia hanya mengerjap, memperhatikan rambut tergerai kusut itu, jaket pendaki yang kedodoran, kaki kiri yang miring tidak wajar, dan wajah pucat yang kemarin tersenyum kepadanya di tengah kabut.
“Mbak yang kemarin,” bisiknya.
“Kamu bangun karena kakimu.” Suaranya tipis, seperti angin lewat celah seng. “Sakit?”
“Sakit banget. Tapi masih lebih enak daripada dikejar macan.” Gilang mencoba tertawa, dan tawanya menyangkut di tenggorokan. “Dokter di sini cuma ngangguk-ngangguk waktu saya cerita ada cewek nolongin di tengah kabut. Tapi saya nggak ngarang, Mbak.”
“Aku tahu.”
“Mbak, kemarin saya lupa nanya. Nama Mbak siapa?”
Perempuan itu diam lama sekali. Bahunya yang kurus turun sedikit.
“Dania.”
“Mbak Dania,” ulang Gilang pelan.
Mata perempuan itu terpejam. Tidak ada air mata, hanya wajahnya yang berubah, seperti orang yang baru saja diberi kembali sesuatu yang lama dipinjam. “Sudah lama tidak ada yang menyebut namaku sambil melihat wajahku,” katanya. “Terima kasih.”
“Saya yang makasih, Mbak. Macan, gua, semuanya.”
“Kamu yang berlari.” Ia membuka mata. Pandangannya melewati Gilang, ke arah ruang kecil di belakang tenda, tempat sebuah tandu masih menunggu. “Aku minta satu hal. Pemandu yang menuntunku ke plat itu ... tolong bilang kepadanya, aku tidak ada di tempat mereka mencari. Aku di dekat Arcopodo. Dan ibuku di Malang masih menunggu kabar.”
“Kenapa nggak Mbak bilang sendiri ke Mas Tanto?”
“Orang yang bisa mendengarku sedikit, dan sebentar.” Langit di celah terpal mulai keabu-abuan, dan sosoknya memudar di tepi, seperti gambar yang terkena air. “Matahari datang. Tolong, Nak.”
Dipan itu kosong lagi. Gilang menatap kain lipat tempat perempuan itu duduk dan tidak menemukan lekukan sedikit pun.
“Mas Tanto,” desisnya. Lalu lebih keras, tak peduli jahitannya menjerit. “Mas Tanto!”
***
Tanto sedang berjongkok di depan tungku kecil di serambi posko, mengaduk kopi dengan sendok seng, ketika Gilang dipapah Sinta keluar dengan satu kaki melompat-lompat. Ia mendengarkan semuanya tanpa menyela. Ketika Gilang sampai pada kata “Arcopodo”, sendok itu berhenti.
“Dania,” ulangnya. Topi lusuhnya dilepas dan diremas di tangan. “Dania Agus. Saya baca di plat itu di Kalimati. Saya sudah curiga sejak hari itu, Lang, dan kamu baru saja menjawab kecurigaan saya.”
“Dia bilang ibunya di Malang nunggu kabar.”
“Arcopodo ... Wilayah Kelik.” Tanto menghela napas panjang. “Banyak pendaki yang ndak pernah ditemukan di sana. Keluarganya mencari di tempat lain karena kabar pertama bilang dia jatuh di jalur Kalimati.” Ia mengusap wajah dengan lengan baju. “Saya akan cari alamat ibunya lewat buku catatan pendaki di pos. Tolong jangan cerita ke siapa-siapa dulu. Ibu itu ndak boleh dengar dari mulut orang yang tidak siap.”
“Siap, Mas.”
Sinta, yang sejak tadi hanya menahan lengan Gilang, memandang Tanto lekat-lekat. Ia tidak bertanya. Ia mengambil topi dari tangan Tanto yang diremas sampai lecek, merapikan pinggirannya dengan jari, lalu mengembalikannya tanpa kata. Tanto menerimanya, dan telinganya memerah.
“Terima kasih, Ta,” gumamnya.
Dari ambang serambi, sebuah suara menyela. “Mas Tanto.”
Zaki berdiri di sana dengan jaket yang sama seperti kemarin, mata merah, rambut gondrongnya diikat sekenanya. Tanto menoleh, dan Gilang menunduk pura-pura mengurus bebat kakinya.
“Besok antar saya ke Ranu Tompe.”
Tanto tidak langsung menjawab. Ia meniup uap kopi di cangkirnya, menimbang. Di sebelahnya, tungku berderak. “Ke tepinya?”
“Hanya ke tepinya. Berdiri di sana.” Zaki menjaga setiap kata. “Ada jalan yang mungkin tidak melanggar apa yang sudah saya janjikan, Mas. Saya cuma belum tahu apakah ada.”
“Saya antar sampai tepi. Ndak masuk.” Tanto menaruh cangkir. “Hari ini saya harus urus berita acara dan menjemput keluarga Retno. Besok sore. Demi keselamatan kita bersama, kamu istirahat dulu.”
“Terima kasih.”
“Jangan terima kasih.” Tanto memakai topinya lagi. “Saya cuma menunggu kamu boleh bicara.”
***
“12 Mei 2016, 11.20 WIB”
Mobil bak terbuka berwarna putih milik puskesmas, dengan tirai kain di bagian belakang, diparkir miring di halaman posko. Dua lelaki dari keluarga Retno, seorang paman berpeci dan seorang kakak laki-laki bermata cekung, bergantian bersalaman dengan petugas. Tak ada yang banyak bicara. Mereka mengangkat tandu bersama-sama, dengan hati-hati seolah yang diangkat itu bisa terbangun.
Sang kakak berhenti di depan Zaki sebelum naik ke bak. Usianya mungkin tiga puluhan, dan matanya sudah terlalu kering untuk menangis lagi.
“Mas yang ketuanya?”
“Iya, Mas. Saya Zaki.”
“Adik saya sering cerita soal Mas. Katanya ketuanya galak, tepat waktu, tapi kalau ada yang sakit, dia yang pertama bangun jam dua malam.” Ia mencoba tersenyum. “Dia cerewet, ya, Mas, di jalan?”
“Sangat,” kata Zaki. Suaranya pecah di tengah. “Dia nggak pernah berhenti ngomong, Mas. Sampai ... sampai terakhir.”
Sang kakak menepuk lengannya sekali, lalu naik. Pamannya mengikuti. Tirai kain ditarik.
Oni berdiri di sisi mobil dengan ransel yang sudah tersampir di bahu. Kemejanya masih kemeja yang kemarin.
“Lo harusnya ikut, Ki.”
“Gue nggak bisa, On.”
“Lo ketuanya.”
“Makanya.” Zaki memasukkan kedua tangan ke saku jaket. “Bunda sama Ayahnya Indri di sini. Ragil belum stabil. Dan ada hal yang harus gue jaga.”
Oni menatapnya lama. “Gue jaga posko kemarin, gue jaga administrasi, dan gue jaga muka lo di depan dosen. Sekarang gue jaga Retno sampai tanah.” Ia menunjuk ke arah dada Zaki dengan satu jari. “Tapi lo nyimpen sesuatu, Ki. Gue bukan orang bodoh.”
“Gue tahu lo bukan.”
“Lo mau cerita?”
“Belum.” Zaki menahan napas. “Gue nggak bisa, On. Bukan karena gue nggak percaya sama lo. Sampai gue boleh bicara, percayalah.”
Sesuatu di wajah Oni mengendur. Bukan menyerah, hanya jenis kelelahan yang menerima. “Oke.” Ia menepuk bahu Zaki dua kali, kasar seperti biasa. “Posko gue titip. Anto, Sinta, Gilang, Tika, Ragil, semuanya. Gue balik lusa, habis pemakaman sama tahlilan malam pertama.”
“Titip salam gue buat Ayahnya Retno.”
“Itu lo yang bilang sendiri nanti, bukan gue.” Oni naik ke kursi depan, menutup pintu, dan menurunkan kaca. “Dan Ki. Lo tuh jelek banget kalau diem begini. Mending marah.”
Mesin mobil menderu. Roda-roda menggilas kerikil, dan tirai belakang berkibar sebentar sebelum menghilang di tikungan jalan menuju Tumpang. Zaki berdiri di halaman posko sampai debunya turun, sampai bunyi mesin habis, sampai yang tersisa hanya angin di sela pinus dan satu pikiran yang ia genggam seperti batu: Retno di dalam kendaraan itu hanya tubuhnya. Sisanya masih mencuci piring di dapur sebuah danau.
Langkah ringan terdengar di belakangnya.
“Kak.”
Tika berdiri dengan selimut di bahu dan bibir yang tidak lagi ungu. Ia tidak menanyakan apa pun.
“Aku dengar tadi pagi,” katanya. “Soal Ranu Tompe. Kakak nggak usah jawab. Aku cuma mau bilang, kalau besok Kakak berangkat, aku ikut.”