“Lutut kiri dulu, Den Ayu. Lalu yang kanan. Punggung tetap tegak.”
Laras berlutut di lantai kayu Paviliun Kemuning, memeragakan sembah yang pelan dan tertib: kedua telapak terkatup di depan dada, pandangan jatuh ke ujung jari kakinya sendiri. Pagi masuk lewat jendela. Di bawah istana, awan putih masih bergulung seperti kemarin, dan Indri, yang duduk di tepi dipan dengan secangkir wedang jahe, merasa seperti murid yang disuruh menghafal pelajaran yang tidak pernah ia daftarkan.
“Ini buat apa, Mbak?”
“Untuk menghadap Baginda, Den Ayu. Dan bila Pangeran lewat, atau para sesepuh.”
“Kemarin aku nggak berlutut di balairung.”
“Kemarin Den Ayu belum diajari.” Laras tetap menunduk. “Hari ini sudah.”
Indri meletakkan cangkir. Ia mengerti isi kalimat itu, dan karena mengerti, perutnya mengencang. “Mbak Laras. Kalau aku nggak mau, gimana?”
Jemari Laras berhenti di atas kain, lalu bergerak lagi, sedikit lebih cepat.
“Den Ayu tamu agung. Tidak ada yang memaksa.”
“Nah, berarti—”
“Tetapi yang bertanggung jawab atas tata Den Ayu adalah hamba.” Suaranya datar, jawaban pendek yang disusun rapi seperti anak tangga. “Bila Den Ayu berdiri tegak di depan para sesepuh, mereka akan bertanya kepada hamba, mengapa Den Ayu belum diajari.”
“Mereka nggak nanya ke aku?”
“Tidak, Den Ayu. Kepada hamba.”
Indri bangkit. Ia berlutut di depan Laras, di lantai, sampai kepala mereka sejajar, dan Laras terlonjak mundur setengah jengkal.
“Den Ayu, jangan—”
“Nah, ini maksudku.” Indri menunjuk dirinya sendiri. “Aku bisa berlutut, Mbak. Buat ngambil sandal juga bisa. Tapi aku nggak mau sujud ke orang cuma gara-gara kata ‘titisan’. Aku bukan siapa-siapa di sini. Tiga hari lalu aku masih manjat Semeru sambil ngeluh betis.” Ia menarik napas. “Ajari aku menunduk, menyapa, apa pun yang sopan. Sujud nggak. Dan kalau ada yang protes, suruh protes langsung ke aku. Bilang aja Indri yang keras kepala.”
Laras menatapnya. Hanya sekejap, satu tatapan langsung sejak pagi. Di balik mata itu ada ketakutan yang bukan takut dihukum, sesuatu yang lebih tua dan lebih gelap, lalu ia menunduk lagi dan semuanya tertutup.
“Hamba akan menyampaikan,” bisiknya. “Walau hamba tidak yakin akan didengar.”
Ketukan terdengar dari ambang pintu. Arjuna berdiri di sana, rambut ikalnya masih basah, lengan kirinya sudah tak berbalut. Sisik kuning keperakan di kulitnya tinggal bayangan tipis.
“Aku boleh masuk?”
“Masuk aja, Mas.”
Laras langsung bersujud rendah. Arjuna melirik Indri yang masih berlutut di lantai, dan alisnya naik. “Kau mengajarinya berlutut? Atau ia mengajarimu?”
“Aku menolak sujud,” kata Indri. “Jangan salahin Mbak Laras.”
“Aku memang tidak berniat menyalahkan siapa pun.” Sudut bibirnya terangkat. “Telaga Cermin baru bisa dilihat sore hari, saat cahayanya miring. Pagi ini kutunjukkan yang lebih biasa. Pasar.”
“Pasar kedengarannya enak.”
“Pasar memang enak.”
***
Mereka berkuda pelan, dengan dua prajurit mengikuti sepuluh langkah di belakang. Rangga Wesi tidak mau ada celah, dan Arjuna tidak membantah.
Pasar yang tadinya ramai dan riuh di ingatan Indri kini berubah begitu mereka masuk. Pedagang berhenti menawarkan dagangan. Sebuah keranjang jeruk diturunkan pelan-pelan ke tanah. Orang-orang menunduk, membuka jalan, dan bisikan itu menyebar dari lapak ke lapak seperti api kecil di rumput kering: titisan, titisan, titisan.
“Kenapa semuanya jadi diam?” bisik Indri. “Waktu pertama lewat sini, mereka teriak-teriak nawarin kain.”
“Waktu itu kau gadis asing berkebaya pinjaman.” Arjuna turun dari kuda dan mengulurkan tangan untuk membantunya, menunggu sampai Indri mengangguk. “Sekarang kau tamu raja.”
“Aku lebih suka yang pinjaman.”
“Aku tahu.”
Dari arah kedai di ujung lorong terdengar suara melengking, satu-satunya suara yang tidak mengecil. “Nduk! Nduk! Wet kofi!”
Seorang ibu bertubuh bulat berlari kecil di antara lapak, kain jaritnya tersingsut, tangannya membawa gelas bambu yang mengepul. Orang-orang melongo. Dua prajurit saling pandang. Ibu itu berhenti tepat di depan Indri tanpa menunduk sedikit pun.
“Ibu bikin dari kemarin lusa, Nduk. Kopi ireng, gula aren, santan. Ibu pikir-pikir, kamu bilang wet kofi itu putih, ya Ibu putihkan.” Ia menyodorkan gelas itu dengan kedua tangan. “Cobanen. Kalau ndak enak, Ibu bikin lagi.”
Indri menerimanya, menyeruput, dan matanya membulat. Rasanya manis, gurih, pahit, dan sama sekali bukan white coffee. “Bu ... ini enak banget. Serius. Ini bukan kopi putih, tapi aku mau minum lagi.”
“Tuh, to.” Ibu itu mencubit lengan Indri dengan puas, lalu menoleh ke Arjuna. “Raden, kurus kamu. Makan.”
Arjuna menunduk hormat pada ibu kedai itu. Kedua prajurit di belakang mendadak sibuk memandangi langit. Indri tertawa sampai nyaris menyemburkan kopinya, dan untuk sesaat bisik “titisan” di sekeliling mereka terdengar sedikit kurang menakutkan.
***
Mereka berjalan lebih jauh sambil membawa gelas bambu masing-masing. Indri sudah hampir lupa untuk gugup ketika ia melihat dua orang sepuh berdiri di tepi lorong, di bawah kain pelindung gerai tembikar.
Si lelaki bungkuk, rambutnya putih sempurna. Si perempuan lebih kecil lagi, dan tangannya menggenggam tangan lelaki itu erat-erat, seperti orang yang takut dipisah arus. Mereka tidak menunduk seperti yang lain. Mereka hanya menatap Indri dengan mata orang yang sudah menunggu sangat lama di depan sebuah pintu.
Prajurit di belakang bergerak maju. Arjuna mengangkat tangan, dan mereka berhenti.
Perempuan itu melangkah, satu-satu. “Den Ayu ...”
“Iya, Nek?” Indri menurunkan gelasnya.
“Hamba tidak minta apa-apa.” Suaranya serak dan sangat pelan. “Hamba hanya ingin menyentuh ujung kebaya Den Ayu. Boleh?”
Indri menoleh pada Arjuna. Ia tidak tahu kenapa, mungkin hanya ingin memastikan tidak ada aturan yang ia langgar. Arjuna menggeleng kecil: bukan larangan, melainkan tanda bahwa jawabannya sepenuhnya milik Indri.
“Boleh, Nek. Tentu boleh.”
Perempuan itu menyentuh ujung kain Indri dengan dua jari yang keriput, begitu lembut seolah kain itu kulit bayi. Matanya terpejam. Bibirnya bergerak tanpa suara.
“Lima ratus tahun lebih, Den Ayu,” kata si lelaki dari belakangnya. Suaranya parau tapi tegak. “Kami berdua. Rumah kami tidak pernah ramai suara anak. Sekali saja perempuan ini ingin menggendong. Anak siapa pun. Hanya itu.”
Tenggorokan Indri tercekat. Ia ingin mengatakan sesuatu yang benar, tapi semua kata yang ia punya terasa terlalu kecil. “Nek ... saya nggak ... saya bukan gusti siapa-siapa.”
“Hamba tahu, Den Ayu.” Perempuan itu membuka mata, tersenyum, dan itu senyum yang paling tidak menuntut yang pernah Indri lihat. “Terima kasih sudah mau disentuh.”
Mereka berbalik. Tangan dalam tangan, perlahan, melewati lorong yang bisu.
“Mas,” kata Indri setelah napasnya kembali. “Kenapa mereka nggak punya anak? Bukannya ... maksudku, mereka masih sehat, dan sudah menikah.”
Arjuna memandang kepergian dua orang itu sebelum menjawab. “Rakyat negeri ini tidak menua, dan tubuh yang tak menua tidak menumbuhkan hidup baru. Satu-satunya jalan lewat seorang manusia biasa, dan jalan itu dilarang oleh aturan yang lebih tua daripada negeri ini.” Suaranya datar, nyaris tanpa nada. “Ayahanda menyiapkan pernikahan ini karena harapan itu, di antara banyak hal lain. Bukan karena aku ingin memintamu dengan alasan itu. Aku tidak akan pernah memakainya.”
“Aku nggak mau jadi jawaban atas doa orang, Mas.”
“Aku tidak memintamu menjadi jawaban.”
“Tapi mereka melihatku begitu.”
“Sebagian,” kata Arjuna. “Sebagian lagi hanya ingin menyentuh sesuatu yang berbau dunia luar. Sudah lama sekali tidak ada yang datang.”
Indri tidak menjawab. Gelas bambu di tangannya sudah mulai dingin. Ia memandangi dua punggung bungkuk itu menjauh di antara lapak dan keranjang, bergandengan erat, tanpa menoleh sekali pun.