Batu besar di tepi Sabana Pangonan Cilik itu dingin dan basah oleh embun, dan di atasnya, bersila dengan kedua tangan di lutut, seorang lelaki pendek gemuk berjubah kuning keemasan sedang menatap ke arah bulan. Cepolnya yang putih keabu-abuan bergoyang pelan setiap kali angin lewat. Ia tidak menoleh ketika langkah-langkah kecil dan berat mendekat dari semak.
“Daulat, Tuanku.”
Makhluk kerdil itu bersujud rendah, dahi menyentuh tanah. Napasnya memburu, kapaknya terselip di pinggang, dan di bahunya ada sobekan baru dari ranting. Di belakangnya dua kerdil lain berdiri gelisah, menatap ujung kaki masing-masing.
“Katakan,” ujar Sabdo Palon.
“Istana dijaga rapat, Tuanku. Hamba dan dua kawan nyaris tertangkap di batas selatan. Ada penjaga di menara yang mengikuti kami dengan tombak sampai ke tembok luar.” Kerdil itu menelan ludah. “Tetapi pelayan itu patuh, Tuanku.”
“Bagus.” Sabdo Palon tersenyum tipis, senyum seseorang yang tidak berharap apa-apa dari kebaikan. “Orang yang menurut karena takut jauh lebih bisa dipercaya daripada orang yang tertawa sambil berjanji.”
“Dan gadis itu, Tuanku?”
“Gadis itu?” Ia akhirnya menurunkan pandangan dari bulan. Kantung matanya yang tebal setengah menutupi mata yang dingin. “Ia keras kepala. Ia memberikan darahnya hanya karena seorang temannya terjerat di dasar danau. Sungguh kebodohan yang mulia.” Ia mendengus. “Kebodohan semacam itu pula yang membuat ratu-ratu mereka begitu mudah dihabiskan.”
Ketiga kerdil itu tidak berani mengangkat kepala. Angin membawa bau belerang dari kaldera di kejauhan.
“Kenapa tidak malam ini saja, Tuanku?” Kerdil termuda memberanikan diri, suaranya tipis. “Tembok itu sudah retak. Hamba melihat sendiri dari menara, ada celah selebar telapak tangan.”
“Retak bukan berarti terbuka, Anak Tanah.” Sabdo Palon tidak marah. Ia menunjuk dengan dagu ke arah barat, ke arah Lawu yang gelap. “Segel itu masih berdetak, pelan, seperti jantung orang sekarat. Bila kuterjang sekarang, ia akan menutup dengan seluruh sisa nyawanya dan menelan kita bersama. Aku menunggu seseorang membukakan pintu dari dalam, pada saat yang tepat, ketika jantung itu sedang menahan napas paling dalam.”
“Pada Purnama Biru, Tuanku?”
“Pada Purnama Biru.” Senyumnya melebar. “Dan aku sudah menunggu lebih lama daripada itu. Beberapa malam lagi takkan membuatku mati.”
“Pergilah awasi tembok selatan. Jangan terlalu dekat. Jangan sampai dua penjaga gunung itu mencium bau kalian.” Ia mengibaskan tangan. “Sebentar lagi tamuku datang.”
***
Tamu itu muncul menjelang tengah malam, dari arah yang berlawanan dengan danau.
Putri Jene Kumbolo berjalan di atas rerumputan basah tanpa meninggalkan jejak, rambutnya yang panjang menjuntai di punggung dan kebayanya memancarkan kuning pucat dalam gelap. Di kedua tangannya, seperti membawa bayi yang tertidur, ia menggenggam sebuah cangkang mutiara yang tertutup. Ia berhenti sepuluh langkah dari batu, tidak lebih dekat.
“Tuan.”
“Putri Kuning.” Sabdo Palon turun dari batu dengan gerakan lambat yang aneh bagi tubuh segemuk itu. “Kau membawa apa yang kuminta?”
“Aku membawa lebih dari yang Tuan minta.” Jene membuka tutup cangkang. “Dan aku membawa satu keluhan. Gadis yang Tuan perintahkan didorong ke ceruk itu bekerja sangat baik di dapurku, Tuan. Ia tidak pernah mengeluh. Kadang aku merasa bersalah memandangnya.”
“Bersalah adalah barang mahal, Putri Kuning.” Sabdo Palon bahkan tidak menoleh. “Aku tidak pernah membelinya.”
Cahaya keemasan menyembur ke atas lewat celah cangkang yang terbuka.
Cahaya itu tipis seperti jaring benang halus, dan ia menerangi wajah Sabdo Palon dari bawah. Ia berdiri diam beberapa saat. Tak ada yang bergerak, bahkan angin tampaknya menahan diri.
Di dasar cangkang, setetes darah. Hanya setetes. Tetapi tetesan itu berdenyut, pelan, seperti jantung kecil, dan cahayanya tidak berhenti pada pinggiran cangkang. Ia terus naik, menembus udara, meluncur ke arah barat seperti anak panah yang tahu tujuannya. Lawu.
“Sudah lama,” bisik Sabdo Palon. “Lima abad lebih, dan darah ini masih mengenal rumahnya.”
“Tuan tidak mau memegangnya?”
“Aku tidak akan pernah menyentuhnya.” Ia mengangkat tangan, telapak terbuka, dan mengamati cahaya itu dari jarak sejengkal tanpa menyentuh kulitnya. “Ini bukan sekadar darah. Ini kunci. Kunci pada segel yang dipasang Brawijaya atas negerinya. Ia tidak akan terbuka bagi siapa pun yang mencurinya. Ia hanya akan membuka pada Purnama Biru, atau pada pemiliknya sendiri.”
Jene mengerjap. “Pemilik?”
“Gadis itu.” Sabdo Palon menutup tangan. “Dan malam itu aku tak perlu mencuri apa pun. Aku hanya perlu memastikan ia berada di tempat yang tepat.”
Cahaya meredup, pelan-pelan, kembali ke dalam cangkang. Jene menutup tutupnya dan memeluk benda itu lagi. Suaranya sedikit goyah ketika ia bicara berikutnya.
“Tuan, aku sudah memenuhi bagianku. Sekarang giliran Tuan.”
“Sebut.”
“Pemuda itu. Yang bernama Ragil.” Mata Jene berkilat. “Ia milikku. Ia sudah hampir menelan hidanganku. Pangeran dan gadis itu mengambilnya dengan harga yang kurang dari yang kuinginkan, dan aku membiarkan karena Tuan memintaku sabar. Aku mau dia kembali. Aku mau hamba tambahan. Aku mau para pendaki yang tersesat di tepi danauku, sepuluh, dua puluh, sebanyak yang kuinginkan. Aku sudah terlalu lama sendiri.”
Sabdo Palon menatapnya lama. Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak diduga, ia tertawa pelan, tawa seseorang yang menghadapi anak kecil yang menuntut mainan.
“Kau masih sangat muda, Putri Kuning.”
“Aku lebih tua daripada gunung tempat Tuan berdiri.”
“Dan masih sangat muda.” Ia melangkah mendekat, berhenti satu langkah di depannya, menunduk sedikit. Suaranya turun menjadi bisikan yang lembut dan nyaris penuh kasih. “Dengar. Aku tidak akan melarangmu menjerat anak itu lagi. Tanda di lehernya akan tetap ada, dan aku sendiri yang akan merawatnya agar tidak memudar. Tetapi bersabarlah sedikit. Setelah Purnama Biru, semua hutangmu akan lunas. Semua. Kau tak perlu lagi mengumpulkan hamba yang kosong matanya. Aku akan memberimu sesuatu yang kau cari sejak kau tenggelam di danau itu.”
“Apa?”
“Teman yang tidak bisa pergi.” Sabdo Palon menyentuh dagu Jene dengan satu jari, sangat ringan, seperti seorang kakek yang menenangkan. “Teman abadi. Yang bukan hamba, yang tidak lupa namamu.”
Jene tidak menjawab. Ia menunduk, menatap cangkang yang ia peluk. Sesuatu di wajah gadis yang telah menunggu entah berapa ratus tahun itu goyah, seperti permukaan air di mana sebutir kerikil jatuh. Ia mengangguk sekali.
“Aku akan menunggu.”
“Anak pintar.”
Jene berbalik. Rambutnya melayang, kebaya kuningnya menyatu dengan kabut, dan dalam beberapa langkah sosoknya sudah menghilang di antara pohon. Hanya riak embun di rerumputan yang masih bergetar beberapa saat.
Sabdo Palon berdiri sendirian. Ia menatap Lawu, atau tepatnya menatap sesuatu di balik Lawu, sesuatu yang bertahun-tahun ia hitung dengan kesabaran seseorang yang tidak pernah berhenti menunggu. Bulan pucat menggantung di atas bahunya.
Ia mengangkat jari satu per satu seperti orang menghitung hari.
“Sembilan malam lagi,” katanya kepada bulan, kepada sunyi, kepada siapa pun yang mau mendengar. “Anak yang bertanda itu adalah apiku.”