Zaki tidak menjawab. Ia berdiri kaku di depan dipan Ragil, dan kata-kata yang baru diucapkan pemuda itu menggantung di udara posko seperti asap yang menolak keluar lewat celah seng. Dua petugas saling pandang, lalu undur ke luar dengan alasan mengambil obat. Tanto menutup pintu di belakang mereka.
Sisa anak Mapala berkumpul tanpa dipanggil. Anto menyeret kruknya, Sinta membawa semangkuk bubur hangat, Gilang menggeser dipan lipatnya, dan Tika duduk di kursi plastik dengan selimut terseret. Oni bersandar di dinding dengan tangan terlipat. Cahaya sore yang masuk lewat jendela kecil jatuh miring di wajah-wajah mereka.
“Ceritakan pelan-pelan, Gil,” kata Zaki akhirnya. Suaranya hampir tidak keluar. “Apa yang lo ingat.”
Ragil bersandar di tumpukan tas yang dijadikan bantal, selimut sampai dada, dan mangkuk bubur yang disodorkan Sinta masih utuh di pangkuannya. Tatapannya belum sepenuhnya kembali, tetapi ia mengangguk.
“Gue makan di tempat yang bagus banget.” Ragil menggaruk lehernya, lalu berhenti begitu jarinya menyentuh garis kuning tipis itu. “Ada perempuan berkebaya kuning. Gue kira dia Sinta.”
Sinta mengangkat wajahnya. “Aku?”
“Sori, Sin. Gue tahu sekarang.” Ragil menunduk. “Tapi di dekat meja ada cewek berkuncir asal-asalan, bawa kendi. Dia bisikin gue buat nolak.” Suaranya pecah di ujung. “Cuma satu orang yang manggil gue ‘Gil’ sambil ngomel begitu. Retno.”
Gilang menahan tawa gugup yang tidak jadi keluar. Tak seorang pun bernapas.
“Dia pakai baju putih, capek banget kelihatannya, tapi masih nyuruh gue pulang.” Ragil menyeka hidungnya dengan lengan baju. “Gue cuma ingat ada seseorang yang manggul gue keluar.”
Mata semua orang berpindah kepada Zaki.
Tika yang mula-mula bicara. Ia berdiri dari kursi plastik dengan selimut terseret, menatap Zaki seperti hakim yang menimbang berkas. “Kak. Kakak tahu semua ini, kan? Kakak yang manggul Ragil. Kakak ada di sana.”
“Aku sudah bersumpah.”
“Sumpah ke siapa? Sumpah apa?” Suara Tika naik. “Indri hidup, Mbak Retno ada di sana, Ragil ditandai kayak ternak, dan Kakak cuma bilang sudah bersumpah?”
“Tika.” Tanto berdiri di dekat pintu dengan topi lusuh di tangan. Nadanya rendah dan tidak bisa dibantah. “Jangan didesak. Demi keselamatan kita bersama, biarkan dulu.”
“Tapi, Mas—”
“Kalau seseorang sudah mengucap sumpah, dan sumpahnya berat, menyuruh dia membuka mulut itu sama saja menyuruh dia mati pelan-pelan.” Tanto memandang Tika, lalu Zaki. “Kita tunggu sampai dia boleh bicara.”
Tika membuka mulut, menutupnya. Ia menatap Zaki lama, yang berdiri dengan bahu merosot dan tangan terkepal di sisi tubuh.
Oni akhirnya bergeser dari dinding. “Ki, orang tua Retno nunggu kabar dari gue malam ini,” katanya, datar tetapi matanya tidak lepas dari wajah Zaki. “Gue mau bilang apa? Bahwa Ragil sudah pulang, dan lo nggak boleh cerita dia pulang dari mana?”
“Bilang Ragil selamat,” jawab Zaki serak. “Itu benar. Cuma itu yang bisa gue bilang.”
“Itu separuhnya.”
“Gue tahu.” Zaki menunduk, menatap sepatunya. “Gue tahu, On.”
***
Sementara itu di negeri yang tidak ada di peta, makan malam disajikan di serambi.
Lampu-lampu minyak berderet di sepanjang pagar kayu, dan malam di atas awan terasa lebih dekat daripada malam mana pun yang pernah Indri alami. Bintang tampak seperti pasir yang tumpah di atas kain biru tua. Di meja rendah, Laras menata mangkuk-mangkuk tanah liat berisi nasi hangat, ikan kuah kuning, sayur bening, dan sambal yang aromanya langsung membuat perut Indri keroncongan.
Sudah dua hari ia hampir tidak menyentuh makanan. Sekarang, di depan hidangan yang tidak berasal dari tangan siapa pun yang menginginkan darahnya, ia makan dengan kelaparan yang membuatnya malu.
“Pelan-pelan, Den Ayu,” kata Laras. Ada senyum tipis di suaranya.
“Maaf, Mbak. Aku keterlaluan.” Indri menelan, mengusap bibir. “Enak banget, serius. Masaknya siapa?”
“Dapur istana, Den Ayu. Hamba hanya menyajikan.”
Indri meletakkan sendok. Sepanjang makan ia mencari cara bertanya yang tidak terdengar seperti menyelidik, dan akhirnya menyerah. “Mbak Laras, boleh aku tanya soal Ratu Widyadari?”
Laras yang sedang menuang air ke gelas berhenti sejenak. Hanya sepersekian detik, tetapi cukup bagi Indri untuk melihatnya. Lalu gerakannya berlanjut, air mengalir ke gelas, sedikit terlalu hati-hati.
“Ratu sudah mangkat, Den Ayu. Lama.”
“Aku tahu. Mas Juna bilang. Tapi dia nggak pernah cerita apa-apa selain itu. Beliau orangnya seperti apa?”
“Hamba tidak pantas bercerita.” Laras menaruh teko. “Hamba hanya dayang.”
“Mbak nggak harus—”
“Nasinya mau ditambah?”
Pertanyaan itu terdengar bukan seperti tawaran. Lebih seperti pintu yang ditutup dengan sopan. Indri memandang wajah dayang itu, yang selalu menunduk, dan merasakan ada sesuatu di sana yang tidak bisa ia sentuh. Ia menggeleng. Laras membungkuk dan mundur ke bayangan pilar, dan Indri kembali menatap mangkuknya dengan perasaan seperti baru ditolak oleh orang yang tidak ingin menolaknya.
***
“Kau mau lihat sesuatu?”
Arjuna berdiri di ujung serambi dengan sebelah lengan terbalut, rambut ikalnya sedikit berantakan terkena angin malam. Ia tidak mendekat. Ia hanya menunggu di jarak yang cukup bagi Indri untuk berkata tidak.
“Apa?”
“Taman Kemuning. Ada yang hanya muncul malam hari.”
Indri menatap piringnya yang kosong, lalu menatap Arjuna, lalu bangkit. “Boleh jalan di sebelahmu?”
“Aku yang seharusnya bertanya itu.”
“Ya udah, boleh.”
Taman Kemuning ternyata hamparan semak berbunga putih yang wanginya manis, nyaris seperti melati, dan di antara daun-daunnya berkelip ratusan titik cahaya hijau kekuningan. Kunang-kunang. Indri berhenti di tepi jalan setapak dengan mulut sedikit terbuka. Di Jakarta, di kampus, ia tidak pernah melihat kunang-kunang sebanyak ini. Sebagian terbang rendah dan hinggap di ujung kebayanya, berkedip sebentar, lalu pergi.
“Ada yang masuk ke rambutku?” bisiknya.
“Satu.” Arjuna menahan senyum. “Di sebelah kiri. Jangan bergerak.”
Indri membeku. Arjuna mengulurkan tangan untuk mengambilnya, tangannya berhenti seruas jari dari rambut, menunggu. Indri mengangguk sedikit. Ia menangkap kunang-kunang itu dengan dua jari, dan yang terjadi sama sekali di luar perkiraan: serangga itu menyemburkan cahaya terang tepat di wajahnya.
“Aduh!”
Indri tertawa sampai membungkuk. Arjuna yang tadi menahan wibawanya akhirnya melepas, tertawa keras-keras sampai bahunya berguncang, tawa yang tidak pernah Indri bayangkan keluar dari seorang pangeran. Kunang-kunang terbang berhamburan seperti percikan api, dan dua orang itu tertawa seperti anak kecil yang belum tahu dunia punya duka.
Tawa Indri akhirnya reda dan berubah jadi napas lega. “Mas, udah lama banget aku nggak ketawa kayak gini.”
“Aku juga.” Arjuna mengangkat tangannya, menunjuk jauh ke ujung taman, ke arah bukit yang berkilau seperti pecahan kaca. “Di sana ada Telaga Cermin. Esok sore aku akan memperlihatkannya kepadamu, bila kau mau. Telaga itu menunjukkan hal-hal yang jauh.”
“Hal-hal yang jauh?”
“Orang-orang yang kau rindukan.”
Napas Indri tertahan. Tawa tadi surut dari wajahnya, berganti sesuatu yang lembut dan nyeri. “Mau,” katanya.
Indri hendak menjawab ketika ia menyadari sesuatu. Di ujung taman sebelah selatan, kunang-kunang tidak berkelip sama sekali. Semak di sana gelap, seolah ada yang baru lewat dan menyapu bersih cahayanya.
“Mas,” katanya pelan. “Yang di sana kenapa mati semua?”
Arjuna menoleh. Senyumnya hilang. Ia melangkah setengah ke depan sampai tubuhnya menutupi Indri, tanpa menyentuhnya. Dari menara selatan, gong kecil dipukul dua kali.
Lalu Indri melihatnya: tiga bayangan pendek berlari membungkuk di atas tembok luar, menjauh dan lenyap ke gelap.
“Kerdil,” kata Arjuna. “Tiga. Mereka tidak sedang masuk.” Cahaya kunang-kunang di sekitar mereka mendadak terasa terlalu terang. “Mereka sedang pulang membawa sesuatu.”