“Ki!”
Sore itu, Oni turun dari bak belakang jip dengan ransel di satu bahu dan map plastik di tangan, kemejanya kusut seperti habis dipakai tidur di bus semalaman, yang memang benar. Ia berlari melintasi halaman posko dan menabrak Zaki dengan pelukan yang membuat keduanya hampir jatuh.
“Gue lihat beritanya siang itu,” katanya cepat-cepat, napasnya masih pendek. “Gue ninggalin latte gue, Ki. Udah gue bayar, tapi gue lari dari kafe begitu aja. Pelayannya ngejar sampai pintu bawa pesanan gue yang ketinggalan, gue nggak dengar.” Ia tertawa dan hampir menangis dalam satu helaan. “Aneh ya hal-hal yang diingat otak.”
“Lo sampai juga.”
“Gue naik kereta malam, lanjut travel, lanjut ojek. Pantat gue sudah bukan pantat lagi.” Oni melepaskan pelukannya, memandang wajah Zaki dengan cermat, dan senyum yang ia pasang pelan-pelan retak. “Lo kelihatan jelek banget.”
“Makasih.”
“Mana Retno?”
Zaki menunjuk dengan dagu ke ruang kecil di belakang tenda terpal. Oni mengikuti arah itu, dan seluruh wajahnya berubah. Ia menutup mulut dengan punggung tangan, berdiri kaku, kemudian menarik napas panjang dan menurunkan tangannya. Ketika ia bicara, suaranya sudah menjadi suara wakil ketua.
“Oke. Gue pegang urusan administrasi. Lo istirahat.”
“Gue—”
“Itu perintah, Ki. Lo yang bilang sendiri dulu: kalau ketua tumbang, wakil yang berdiri.” Oni membuka map plastiknya, menunjukkan lembar-lembar surat yang sudah ia siapkan di jalan. “Dosen pembimbing sudah gue kabarin. Rektorat sudah. Keluarga Retno juga, tadi gue telepon dari Tumpang. Ayahnya hampir pingsan di telepon.”
Petugas taman nasional yang menyusul di belakang Oni menjelaskan sisanya. Jenazah Retno masih menunggu berita acara dan tanda tangan dokter puskesmas. Paling cepat besok menjelang tengah hari ia bisa dibawa pulang. Kampung halaman Retno kira-kira empat sampai lima jam dari Ranu Pani, dan keluarganya sudah menunggu di sana dengan tenda duka yang mulai dipasang.
Zaki mendengarkan semuanya dengan kepala mengangguk lambat. Sesudah petugas pergi, Oni memegang lengannya sekali lagi.
“Lo nyimpen sesuatu,” katanya pelan. “Gue lihat dari cara lo berdiri. Nanti.”
***
Jip kedua datang menjelang pukul empat sore.
Seorang perempuan paruh baya turun lebih dulu, tubuhnya kecil dalam jaket tebal, rambut berantakan karena tidak sempat bercermin. Seorang laki-laki jangkung berkacamata menyusul dengan tas kain besar. Ia berdiri sesaat memandang tenda terpal, deretan petugas, gunung hijau di baliknya, dan sesuatu di wajahnya menua dalam sekejap.
Tika yang pertama menyadari. Ia bangkit dari kursi plastik dengan selimut terseret di bahunya.
“Tante?” bisiknya. “Tante ... ibunya Indri?”
Perempuan itu menoleh. Matanya menyapu wajah-wajah di bawah tenda, satu per satu, mencari satu yang tidak ada. Lalu pandangannya turun ke tangan Tika yang masih bergetar memegang cangkir, dan tanpa berkata apa pun ia berjalan cepat, menggenggam kedua tangan gadis itu dengan kedua tangannya.
“Kamu Tika, kan?” Suaranya parau. “Tika, sahabat Indri. Tangan kamu dingin sekali, Nak.”
“Tante ...” Tika menunduk. “Tante sudah tahu ...”
“Bunda lihat di berita. Bunda sama Ayah terbang dari Lampung tadi malam.” Perempuan itu menarik tas kecil dari bahu, merogoh sesuatu, dan menyodorkan sekotak plester. “Ini. Kakimu lecet, kan? Dari tadi Bunda lihat kamu jalan pincang.”
Tika menatap sekotak plester itu dan tangisnya pecah seketika. Sinta ikut menutup mulutnya. Gilang memalingkan wajah ke arah gunung.
“Tante, Indri hidup,” kata Tika di sela isak. “Dia hidup. Aku nggak bohong. Kak Zaki bilang begitu.”
“Tika—”
“Aku sumpah, Tante. Aku sumpah demi apa pun.”
Sinta maju dengan langkah ragu, membawa tas carrier merah yang ranselnya robek di satu sisi. Petugas SAR menurunkannya dari Kalimati pagi itu, dari tenda tempat Indri tidur terakhir kali. Ia menyerahkannya tanpa suara.
Bunda Indri menerima tas itu dan memeluknya. Hanya memeluk. Dahinya menempel pada kain kasar yang masih berbau asap kayu dan tanah, dan bahunya yang kecil naik turun tanpa suara. Lama. Tidak ada yang berani bicara. Di luar tenda, angin bergerak pelan di antara pohon pinus, ssshh, ssshh.
Ayah Indri melangkah mendekat. Ia tidak memeluk siapa pun. Ia hanya meletakkan satu tangan di bahu istrinya dan menatap Zaki yang berdiri beberapa langkah dari sana. Pandangannya tenang, tetapi urat di pelipisnya berdenyut sekali.
“Kamu ketua rombongannya,” katanya.
“Iya, Pak.”
“Benar anak saya hidup?”
Zaki membuka mulut. Ia menelan ludah. Tenggorokannya seperti memikul batu.
“Benar, Pak. Saya sendiri yang melihatnya.” Ia berhenti. Bunda Indri sedang memandangnya dengan mata yang memohon agar ia bicara lebih banyak. “Hanya itu yang bisa saya pastikan sekarang. Saya minta maaf.”
Ayah Indri menatapnya lama. Lalu ia mengangguk, sekali.
“Cukup untuk hari ini.”
***
Ruang kecil di belakang tenda berbau kapur barus dan tanah. Sebuah tandu lipat diletakkan di atas dua balok kayu, dan di atasnya sesosok tubuh dibungkus kain putih sampai ke dagu. Wajah itu telah dirapikan. Rambutnya disisir ke belakang, dan seseorang telah menutupkan kedua matanya.
Zaki berdiri di ambang pintu sebentar, mengumpulkan sesuatu yang tak mau terkumpul. Lalu ia masuk, menutup tirai di belakangnya, dan berlutut di sisi tandu.
“Hai, No.”
Retno tetap diam. Tentu saja.
“Gue datang minta maaf.” Suara Zaki hampir tak terdengar. “Gue ketuanya. Semua yang terjadi di gunung ini jatuh ke gue, dan gue nggak bisa ngelindungin lo. Gue nggak bisa bawa lo pulang waktu itu.” Ia menunduk. “Gue lihat lo semalam. Lo masih julid. Lo masih nyuruh gue ngomong kayak biasa.”
Hening. Kain putih naik turun sedikit tertiup angin dari celah tirai.
“Gue nggak boleh cerita ke siapa pun. Gue udah janji. Tapi gue mau lo tahu, gue nggak lupa.” Bahunya berguncang. “Gue bakal ngeluarin lo dari sana, No. Gue cari jalannya. Gue nggak akan berhenti.”
Ia mengusap wajah dengan kedua tangan, menarik napas panjang, dan berdiri.
Dari ruang sebelah terdengar teriakan.
“Jangan telan aku! Jangan! Aku nggak mau! Jangan telan aku!”
***
Zaki berlari. Dipan tempat Ragil dibaringkan berderak karena pemuda itu menggeliat-geliat dengan mata terbuka lebar, tangan menepis udara, dan dua petugas mencoba menahan bahunya dengan wajah panik. Tanto sudah ada di sana, menggenggam pergelangan Ragil dengan kedua tangan.
“Gil! Gil, ini saya! Ini Mas Tanto! Kamu sudah di darat!”
Ragil berhenti meronta. Dadanya naik turun, rambutnya lengket oleh keringat, dan matanya mencari-cari seperti orang yang baru dilempar dari mimpi buruk. Ketika kain selimut tersibak, Tanto melihat garis tipis di lehernya. Kuning, melingkar rapi seperti kalung.
Wajah Tanto berubah.
“Ini ...” Ia menyentuhnya dengan ujung telunjuk, sangat pelan. “Ini ndak benar. Ini ndak mungkin.” Ia menoleh ke Zaki, dan Zaki hanya membalas tatapan itu dengan wajah tertutup. “Dulu waktu saya kecil, simbah saya pernah cerita. Putri Jene Kumbolo, perempuan kuning penunggu Ranu Kumbolo. Dia menaruh tanda di leher orang yang pernah dia ambil, Gil. Bukan untuk menyakiti. Tapi supaya dia ingat, dan supaya dia bisa memanggilnya kembali.”
Ragil menelan ludah. Pandangannya jatuh pada Zaki.
“Ki.” Suaranya serak, nyaris pecah. “Retno ada di sana.”