“11 Mei 2016, 06.20 WIB”
Petugas jaga posko Ranu Kumbolo sedang menyeduh kopi ketika pintu seng didorong dari luar. Ia menoleh dan hampir menumpahkan cangkir ke celananya.
Seorang pemuda gondrong berdiri di ambang, kemejanya kusut, wajahnya abu-abu oleh kurang tidur, dan di punggungnya tergantung tubuh pemuda lain yang lemas seperti karung basah. Di belakangnya, matahari baru menyentuh bibir bukit.
“Tolong,” kata pemuda itu. “Teman saya pingsan. Tolong bawa dia ke dalam.”
Dua petugas lain berlari dari ruang belakang. Ragil dibaringkan di dipan, selimut ditumpuk, seorang petugas memeriksa denyut nadi di pergelangan dan satu lagi memeriksa pupil dengan senter. Zaki berdiri di sudut, tangannya kosong sekarang, dan ia tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan tangan itu.
“Siapa namamu, Mas?” tanya petugas yang tertua.
“Zaki Raditya. Ketua rombongan UPKI. Delapan orang, dari Jakarta.”
“Astaga.” Petugas itu menurunkan senter. “Mas yang dicari-cari dua hari ini! Seluruh tim SAR sudah mengira ...” Ia tidak melanjutkan. “Teman Mas ini ditemukan di mana?”
“Pingsan di tepi danau.” Zaki menelan ludah. Itu benar. Hanya itu yang akan keluar dari mulutnya. “Saya sendiri baru bisa menemukannya menjelang subuh.”
“Dan Mas sendiri dari mana? Tidak ada yang melihat Mas sejak ...”
“Mencari teman-teman saya.”
Itu juga benar, dan Zaki mulai merasakan betapa sempit jalan yang harus ia lalui: setiap kalimat harus ditimbang dulu di lidah, seperti pejalan yang menguji tiap batu sebelum menginjaknya. Radio di meja berderak, dan seseorang di ujung lain berseru bahwa ketua rombongan UPKI ditemukan hidup. Dari balik statik terdengar sorak kecil, lalu suara seorang perempuan menangis lega dan buru-buru dimatikan.
Petugas tua itu memperhatikannya, lalu mengangguk, lalu bangkit dan berbicara dengan nada yang lebih lembut. “Duduk dulu, Mas. Minum.”
Zaki mengambil gelas yang disodorkan dan menyadari tangannya gemetar sampai air dalam gelas bergelombang. Ia menunduk, menatap permukaan air itu, dan sebuah permukaan lain melintas di kepalanya: air kuning, tangga teratai, dan sepasang mata yang berkata jangan takut sendirian. Ia meletakkan gelas pelan-pelan.
Suara sepatu bot bergema di luar. Tiga petugas SAR berjaket oranye masuk, napas mereka mengepul, dan yang paling depan adalah pria kecokelatan bertubuh tegap yang Zaki kenal sampai ke cara berjalannya.
“Ki?”
“Mas Tanto.”
Tanto berdiri sebentar. Pandangannya bergerak dari wajah Zaki ke pakaiannya, yang kering. Kering sama sekali, padahal embun pagi membasahi apa pun yang berada di luar semalaman. Lalu ia melirik Ragil di dipan. Rahangnya mengeras sedikit, tetapi ia tidak bertanya apa-apa.
“Syukurlah,” katanya saja.
***
“11 Mei 2016, 10.40 WIB”
Jalan turun ke Ranu Pani menjadi lebih ringan bila ada yang bisa diajak bicara, dan lebih berat bila yang diajak bicara memutuskan tidak bertanya. Tandu berisi Ragil dipanggul empat petugas di depan. Zaki dan Tanto berjalan di belakang, bergandengan dengan jarak, seperti dua orang yang sama-sama menyimpan sesuatu.
Ladang kentang mulai tampak di lereng, hijau muda di bawah matahari yang meninggi. Tanto menghentikan langkah di sebuah tikungan, di dekat pohon pinus yang rimbun.
“Ki.”
“Ya, Mas.”
“Saya tidak bertanya.” Tanto menatap lurus ke depan, tidak ke Zaki. “Saya jadi pemandu bertahun-tahun. Saya sudah dengar macam-macam cerita yang tidak masuk akal, dan saya sudah lihat sebagian. Kalau ada yang ndak boleh kamu ceritakan, saya paham.”
Zaki menelan sesuatu yang rasanya seperti kerikil. “Mas ...”
“Satu hal saja.” Tanto kini menoleh. “Indri?”
Zaki menggeleng pelan. Bukan jawaban, bukan penolakan. Jawabannya terlalu besar untuk keluar.
“Kemarin Gilang cerita soal perempuan pucat berjaket pendaki yang menunjuk jalan ke gua,” lanjut Tanto, lebih pelan. “Tika juga. Mereka sama-sama bilang perempuan itu tersenyum dan menghilang di kabut. Saya ndak berani menebak, Ki. Tapi kalau sempat, tolong lihat plat di dekat Kalimati itu. Hati saya ndak tenang.”
Tanto mengangguk berkali-kali, pelan, dengan wajah orang yang menahan sesuatu naik ke matanya. Lalu ia menepuk bahu Zaki, dua kali, dan berjalan lagi.
“Terima kasih,” kata Zaki ke punggungnya.
“Demi keselamatan kita bersama.” Tanto mengatakannya tanpa menoleh, dan untuk sesaat Zaki tidak yakin apakah itu lelucon atau doa.
***
“11 Mei 2016, 13.10 WIB”
Posko Ranu Pani lebih ramai daripada yang Zaki bayangkan. Mobil jip parkir sembarangan di halaman, petugas taman nasional berlalu-lalang dengan map, dan di bawah tenda terpal biru yang dipasang darurat, empat anak muda berkumpul berhimpitan seperti anak ayam yang takut pada langit.
Anto menyambutnya paling dulu. Kakinya dibalut tebal, kruk kayu di sampingnya, pipi tembamnya jauh lebih tirus daripada seminggu lalu. Matanya merah dan bengkak.
“Kak.” Suaranya pecah. “Kak Zaki.”
“Nto.” Zaki berlutut di depannya. “Gimana kaki lo?”
“Nggak apa-apa. Cuma ... Kak, aku nggak sempat megang tangan Mbak Retno. Waktu tanahnya runtuh, aku udah ngulur tangan, tapi—” Ia menggigit bibir. “Cuma satu detik. Kalau aku lebih cepat satu detik—”
“Lo nggak salah.”
“Tapi—”
“Lo nggak salah, Nto.” Zaki menarik juniornya itu dan memeluk kepalanya. Dari balik bahu Anto, ia menangkap tatapan Sinta yang berdiri di dekat tiang, mata sembap, tangan menggenggam ujung jaketnya sendiri erat-erat. Gadis itu hanya mengangguk sekali, dalam, dan memalingkan wajah.
Gilang terbaring di dipan lipat dengan paha dibebat dan senyum lemas. “Kak! Kakak hidup juga ternyata. Gue pikir Kakak sudah jadi legenda gunung.”
“Gue nggak sebesar itu.” Zaki mengusap rambutnya. “Dijahit?”
“Dua belas. Dokternya bilang gue cakep pakai bekas luka.”
“Mbak Retno di ruang sebelah,” kata Sinta pelan, ketika Zaki menoleh mencari. “Ditutup kain. Petugas bilang belum boleh dibawa, harus ada berita acara dulu. Kami ... nggak ada yang berani masuk, Kak.”
“Nanti gue yang masuk.”
Tika duduk di kursi plastik dengan tiga lapis selimut dan secangkir teh yang uapnya naik ke wajah. Bibirnya masih agak ungu. Ia menatap Zaki sejak laki-laki itu masuk, tanpa berkedip, dan ketika Zaki akhirnya berdiri di depannya, ia hanya mengajukan satu pertanyaan, pelan, nyaris tak bersuara.
“Indri mana?”
Pertanyaan itu menghentikan semua gerakan di bawah tenda. Anto berhenti menyeka mata. Gilang meletakkan botol minum. Sinta mengangkat wajah.
Zaki memandang ke satu per satu mereka. Setiap wajah di bawah tenda itu pernah ia bawa naik ke gunung yang sama. Ia tidak bisa berbohong kepada mereka, dan ia tidak boleh mengatakan semuanya.
“Dia hidup.” Suaranya serak, tetapi tidak goyah. “Aku tidak bisa bilang lebih dari itu.”
Tika menatapnya. Bibirnya bergerak, ingin menuntut, ingin memaki, ingin menangis. Sinta, di belakang, sudah menangis diam-diam. Gilang menggenggam ujung selimutnya. Tetapi tidak ada yang bicara. Mereka semua menunggu Tika.
Tika menurunkan cangkir ke pangkuan. “Hidup.”
“Ya.”
“Kalau Kakak bilang hidup, aku percaya.” Ia mengangkat dagu. “Tapi kalau besok pagi dia belum muncul juga, aku yang masuk ke hutan itu sendiri, dan Kakak jangan coba-coba melarang.”