“Sini lengannya.”
“Aku bisa sendiri.”
“Kalau bisa sendiri, nggak bakal nunggu aku dari tadi di teras.” Indri duduk bersila di tikar, membawa kain bersih di satu tangan dan batok kelapa berisi ramuan hijau di tangan lain, kiriman seorang dayang yang berbisik-bisik di luar paviliun tanpa berani masuk. “Boleh aku pegang?”
Arjuna menatapnya lama. Lalu ia mengulurkan lengan kirinya dengan lengan baju yang digulung, dan berkata pelan, “Boleh.”
Pagi di Paviliun Kemuning cerah dengan cara yang tidak adil. Sinar matahari menembus jendela dan menimpa lantai kayu, sementara di bawah istana awan putih bergulung seperti ombak yang tidak pernah sampai ke pantai. Sulit dipercaya bahwa baru beberapa jam lalu mereka berlari di antara hamba-hamba yang menangis. Begitu Zaki memanggul Ragil menjauh ke posko, Jaga muncul dari kabut di tepi Ranu Kumbolo, dan dalam beberapa langkah saja mereka sudah berdiri lagi di gerbang selatan. Waktu di negeri ini tidak berjalan seperti waktu di dunia luar: fajar yang baru menjejak di tepi danau belum naik di istana, jadi syarat Brawijaya terpenuhi, dan Indri tertidur dua jam di kasurnya dengan kebaya yang belum dilepas.
Luka di lengan Arjuna panjang, dari siku sampai pergelangan, dan kulit di sekitarnya tampak aneh. Sisik tipis, kuning keperakan, berkilau seperti lapisan tipis ikan mas di bawah sinar matahari. Indri menahan napas. Ia mengoleskan ramuan dengan ujung jari, dan sisik di bawah jarinya bergeser pelan, seperti riak.
“Sakit?”
“Tidak.”
“Bohong.”
Sudut bibir Arjuna terangkat. “Sedikit.”
“Ini kutukan?”
“Tombak hamba Jene membawa sedikit air danaunya. Biasanya ia surut sendiri dalam sehari.” Arjuna memperhatikan jari-jari Indri bekerja. “Aku belum pernah terluka oleh mereka, jadi aku juga baru tahu.”
Indri membalut lengan itu dengan kain, melingkar rapi, lalu mengikat simpul di dekat pergelangan. Begitu selesai, ia menyadari sesuatu yang membuat telinganya panas. Selama membalut, ia berada sangat dekat. Kepalanya hampir menyentuh bahu Arjuna. Ia mundur setengah jengkal dan pura-pura sibuk membereskan batok.
“Kau tidak tidur nyenyak,” kata Arjuna.
“Dua jam. Itu udah rekor, Mas, buat hari ini.” Indri mengusap pelipis. “Aku mimpiin Mbak Retno bawa nampan. Dia nyuruh aku ngapain gitu, aku nggak ingat. Bangun-bangun kebayaku kusut semua.”
“Ia menyuruhmu mengeluarkan Ragil lebih dulu. Kau menurutinya.” Arjuna merendahkan suara. “Itu yang paling ia inginkan.”
“Aku janji bakal balik buat dia.”
“Maka aku ikut berjanji.” Ia mengatakannya tanpa menekankan. “Bukan sekarang. Tapi aku ikut.”
Indri tidak menjawab. Ada hal yang hanya bisa dijawab dengan diam, dan ia sudah belajar itu sejak malam kemarin.
***
“Aku belum pernah ditentang,” kata Arjuna.
“Hm?”
“Tiga kali dalam satu hari. Pertama kau, di taman, waktu Cipta datang. Kedua, di balairung, ketika Ayahanda bertanya apakah kau memaksa. Ketiga, di bawah danau, ketika kau memilih sendiri.” Ia menggeleng pelan, setengah tertawa. “Aku hidup tiga puluh tahun dan tak ada yang pernah berkata ‘tidak’ kepadaku tiga kali berturut-turut. Para pelayan menunduk. Para prajurit menunduk. Bahkan Cipta pun menunduk, walau sambil menggerutu.”
“Maaf kalau aku bikin kamu nggak nyaman.”
“Aku tidak bilang tidak nyaman.” Arjuna menatap Indri, dan matanya yang cokelat terang lebih lembut daripada yang pernah Indri lihat. “Kau satu-satunya yang membuatku merasa tidak sedang berbicara pada bayanganku sendiri.”
Indri menunduk dan mengaduk-aduk ramuan yang tersisa tanpa alasan.
“Ceritakan,” kata Arjuna. “Tempatmu. Lampung.”
“Kenapa?”
“Karena aku jarang punya waktu mendengar cerita tentang tempat lain, dan Jaga hanya bercerita tentang gunung.”
“Ya ampun.” Indri tertawa kecil, tawa yang terasa seperti barang langka. “Lampung itu ... pantai. Banyak laut. Ada Teluk, ada pulau kecil-kecil yang bisa kamu seberangi pakai perahu sambil bawa ikan hasil tangkapan. Di sana ada gajah, Mas. Gajah beneran, di Way Kambas, bisa dinaikin. Aku pernah naik waktu SMP, tapi gajahnya malah bersin dan aku jatuh.”
“Kau sering jatuh.”
“Dari mana kamu tahu?”
“Jaga.” Arjuna berusaha tetap serius, gagal. “Katanya ibumu sering berkata begitu.”
“Bunda,” gumam Indri. Tawanya meredup, tetapi tidak hilang. “Bunda selalu masukin plester ke tas aku. Dari SD sampai sekarang dia nggak pernah bilang aku ceroboh. Cuma masukin plester.” Ia menarik napas. “Mereka pasti udah tahu, Mas. Mereka pasti udah lihat beritanya.”
Arjuna tidak menjawab dengan kata. Ia hanya mengulurkan tangan kanannya yang tidak terluka, telapak terbuka di atas tikar, di tengah antara mereka berdua, menunggu. Indri menatap tangan itu, lalu menatap wajahnya, lalu menggeleng pelan. Bukan karena marah. Hanya belum.
Arjuna menarik tangannya kembali, mengangguk, dan menurunkannya ke lutut. Tak ada yang canggung. Justru itu yang membuat Indri akhirnya tersenyum.
“Tapi makasih,” katanya. “Udah nanya.”
***
“Pangeran. Den Ayu. Baginda memanggil.”
Rangga Wesi berdiri di ambang pintu, tegak seperti tombak, dan wajahnya sama sekali tidak menunjukkan apakah ia membawa kabar baik atau buruk. Mereka mengikutinya melewati selasar panjang yang diterangi matahari, menuju serambi timur balairung, tempat Brawijaya duduk membelakangi pagi.
Rangga Wesi tidak langsung pergi. Dari ambang serambi ia melapor singkat, “Pemuda dari gunung itu sudah sampai di pos, Baginda. Jaga melihatnya menyerahkan temannya kepada orang-orang berseragam.”
“Bagus,” sahut Brawijaya. “Ia menepati janjinya, sejauh ini.”
Raja itu tidak berbalik. Ia memandangi lembah di bawah serambi, tempat awan menutup segalanya, dan baru bicara ketika langkah mereka berhenti.
“Aku mengizinkanmu menjemput temanmu, Arjuna.” Suaranya tenang. “Aku tidak mengizinkanmu menyerahkan darah titisan ke tangan seorang penunggu danau.”
“Aku tidak menyerahkan, Ayahanda. Indri sendiri yang—”
“Aku tahu. Cipta sudah melapor, dan Jaga sudah melapor. Aku tidak butuh laporan ketiga.” Brawijaya akhirnya menoleh. Garis di sekitar matanya tampak lebih dalam daripada kemarin. “Kau seharusnya melindungi pilihannya dari harga yang terlalu mahal.”
“Itu pilihan saya, Baginda,” kata Indri. Suaranya lebih tegar daripada yang ia rasa. “Dan satu tetes bukan harga yang terlalu mahal untuk satu nyawa. Saya sudah memikirkannya.”
Brawijaya memandangnya lama. Bukan tatapan yang kemarin, yang penuh duka dan rasa bersalah. Kali ini ada sesuatu yang lain, hampir seperti hormat yang tidak mau diakui.
“Satu tetes,” katanya pelan. “Kau tahu apa yang kau serahkan, Nak?”
“Setetes darah. Putri Jene bilang darah itu mengingat.”
“Darah itu adalah kunci.”
“Kunci apa, Baginda?”
Brawijaya membuka mulut. Menutupnya. Pandangannya bergeser ke lembah, dan ia menarik napas panjang, tangannya meremas sandaran singgasana.
“Belum pagi ini,” katanya.
Hening panjang jatuh. Dari ujung serambi terdengar langkah kaki kecil dan cepat. Laras muncul dari balik tiang dengan nampan di kedua tangan, berisi mangkuk-mangkuk dan teko tembaga, sarapan yang diperintahkan Brawijaya untuk dua tamunya. Ia menunduk dalam-dalam, tidak berani memandang siapa pun.
Lalu tangannya gemetar.
Ia mencoba menguatkan pegangan, tetapi terlambat. Nampan miring, teko meluncur, dan semuanya jatuh ke lantai batu dengan bunyi nyaring.
Prang!
Pecahan tanah liat berhamburan. Air sarapan mengalir ke kaki Indri. Laras berlutut, memungut serpihan dengan jari yang kaku, berbisik “ampun, ampun, ampun” berkali-kali. Rangga Wesi sudah bergerak maju, tetapi Brawijaya mengangkat tangannya, menghentikan.
Raja itu menatap Laras. Lama. Lebih lama daripada yang pantas untuk seorang dayang yang menjatuhkan nampan.