“Lari!”
Arjuna tidak perlu mengulangnya. Mereka menerobos pintu balairung dengan Zaki di depan memanggul Ragil, dan di belakang mereka terdengar bunyi seperti ribuan sandal basah menampar lantai. Lorong yang tadi berlapis mutiara kini penuh bayangan putih. Hamba-hamba Jene muncul dari tiang, dari tikungan, dari dinding kerang, tangan mereka terulur dan jari-jari mereka melengkung seperti cakar yang tak tahu sedang mencakar.
“Jangan sentuh mereka!” seru Arjuna. “Jangan lihat mata mereka!”
“Gimana nggak lihat?” balas Zaki, terengah. “Mereka semua ada di depan mukaku!”
“Lihat anak tangga, bukan wajah!”
Indri berlari sambil menyingsingkan kain batiknya dengan tangan yang masih nyeri, jari telunjuknya berdenyut setiap kali ia mengayun. Napasnya membakar. Dari pintu istana air, air biru zamrud menyambut mereka seperti dinding, dan di atasnya tangga teratai menanjak ke permukaan. Tetapi daun-daun itu sudah mulai tenggelam satu per satu dari bawah, melipat ke dalam kegelapan seolah dimakan.
“Cepat! Naik sebelum ditutup!”
Zaki melompat ke daun pertama dengan Ragil di bahu dan oleng. Arjuna menangkap bahunya dari belakang. Indri menyusul, kakinya licin, dan sebuah tangan dingin menyambar pergelangan kakinya.
Ia menjerit.
Seorang hamba laki-laki, tua, berjanggut putih basah, memegang pergelangan kaki Indri dengan kedua tangan. Matanya tidak marah. Matanya penuh air, dan dari mulutnya yang sedikit terbuka keluar bisikan lirih yang hampir seperti permohonan: “Jangan pergi. Jangan pergi. Kami kedinginan ....”
“Maaf,” bisik Indri. Hatinya remuk. “Maaf, Pak, maaf ....”
Gadis kecil berkepang dua muncul dari balik hamba tua itu, menarik lengannya pelan, dan untuk sesaat cengkeraman itu mengendur. Indri menendang dengan seluruh tenaga, bebas, dan merangkak naik ke daun berikutnya.
Wuss!
Sesuatu melesat dari bawah, panjang dan putih. Sebuah tombak dari tulang ikan raksasa. Arjuna yang berada paling belakang menepisnya dengan lengan kiri, dan ujung tulang yang runcing itu menggores dari siku sampai pergelangan. Ia tidak bersuara. Hanya giginya beradu rapat.
“Mas Juna!”
“Naik! Jangan berhenti!”
Daun terakhir sudah di atas kepala mereka. Zaki menjejakkan kaki dan melompat menembus selaput air, dan Indri menyusul, dan tangan Arjuna mendorong punggungnya dari bawah. Dunia berubah menjadi dingin yang menusuk. Lalu udara. Sungguh udara, bau lumut dan embun, dan Indri terbatuk-batuk di atas rumput yang basah.
***
Langit di atas Ranu Kumbolo berwarna kelabu pucat. Fajar belum menjejak, tetapi di ufuk timur garis tipis keperakan sudah memanjat punggung bukit, dan kabut tebal mengambang di permukaan danau seperti napas besar yang belum dihembuskan.
Zaki tersungkur dengan lutut menyentuh tanah, Ragil di punggungnya, dan untuk beberapa detik ia hanya terengah. Arjuna jatuh bersandar pada batang cemara, menggenggam lengan kirinya dengan tangan satunya. Darahnya tidak merah. Warnanya kuning pucat, menetes pelan di sela jari.
“Kau terluka,” kata Indri.
“Goresan.”
“Itu bukan goresan, Mas.”
“Nanti.” Arjuna menegakkan badan. “Kita belum selesai.”
Ia melihat ke arah yang sama dengan Zaki. Di tepi jalan setapak, di bawah pohon cemara terbesar, sebuah lentera tua tergantung di tongkat. Nyalanya tidak bergoyang walau angin pagi berembus. Di sebelahnya berdiri lelaki sepuh bertubuh kurus dengan punggung sedikit bungkuk dan wajah seperti kulit kayu.
“Mbah Resa,” gumam Zaki.
“Jaga memanggil saya sebelum bintang terakhir,” kata Mbah Resa. Suaranya serak, tetapi pelan dan teratur seperti orang yang sudah terlalu lama bicara hanya pada sunyi. “Katanya akan ada anak muda keluar dari danau membawa kawan. Saya tidak percaya sampai saya melihat sendiri.” Matanya bergerak ke tubuh Ragil di bahu Zaki dan berhenti sebentar di leher yang bertanda kuning. “Putri Jene melepasnya.”
“Dengan harga,” kata Arjuna pendek.
“Harga lain, Nak. Bukan yang akan saya tanyakan.” Mbah Resa menoleh ke Zaki. “Kau tahu apa yang harus dibayar anak muda yang melanggar batas, bukan? Kau sudah mendengarnya di balairung.”
Zaki mengangguk pelan, dagunya menempel ke dada.
“Saya tahu.”
“Maka ucapkan di sini. Di hadapan pangeran dan titisan sebagai saksi. Setelah itu kau boleh turun sebagai manusia biasa. Tidak sebelum itu.”
“Kak,” kata Indri. Ia menahan lengan Zaki. “Kakak nggak harus sekarang. Mungkin ada jalan lain—”
“Ndri.” Zaki menatapnya, dan matanya merah, lelah, dan sangat tenang. “Ragil butuh dokter. Dia butuh bantuan yang nggak bisa kuberikan di sini. Apa pun harganya, ini terlalu murah dibanding harga yang lain.”
Ia menurunkan Ragil pelan-pelan ke rerumputan, melepaskan jaket dan menyelimuti tubuh temannya, lalu berdiri tegak, bahunya lurus seperti saat ia memimpin apel pagi di sekret. Mbah Resa mengangkat lenteranya. Cahaya kuning tipis jatuh di wajah mereka berempat.
“Ulangi setelah saya.”
“Ya.”
“Saya, Zaki Raditya, bersumpah di hadapan juru kunci pintu Ranu Tompe.”
Zaki mengulangnya, kata demi kata, pelan.
“Bahwa saya tidak akan menyebut isi negeri ini kepada siapa pun.”
Zaki mengulangnya lagi. Suaranya rata.
“Dan tidak akan kembali ke negeri ini, selama napas saya masih ada.”
Kali ini ia terdiam setengah napas. Matanya menyentuh Indri, hanya sekejap, kemudian ia mengangkat dagu dan bicara dengan suara yang tidak gemetar. Ia menambahkan sendiri tiga kata di ujungnya. “Demi nyawa Ragil.”
Nyala lentera bergetar. Api yang sejak tadi tegak itu condong ke samping, seolah ada sesuatu yang lewat dan mencatat. Lalu ia tegak lagi.
“Sudah,” kata Mbah Resa.
Hening. Burung pertama berkicau di kejauhan, ragu-ragu.
***
Zaki membungkuk dan mengangkat Ragil ke punggungnya lagi. Ia memandang ke arah lampu posko di seberang danau yang kini tampak jelas, dan bahunya yang tadi lurus sedikit turun.
“Tanto mungkin udah naik bareng tim SAR,” katanya, setengah kepada diri sendiri. “Aku bakal bilang aku nemuin Ragil pingsan di tepi danau. Itu bukan bohong. Aku nggak akan bilang lebih dari itu.”
“Kak.” Indri menelan sesuatu di tenggorokan. “Terima kasih.”
“Jangan terima kasih. Aku yang mestinya ...” Zaki menggeleng, tidak menyelesaikan. Ia baru berjalan beberapa langkah ketika berhenti dan menoleh. Cahaya fajar pertama jatuh di sisi wajahnya, dan Indri melihat ia tersenyum, sangat tipis, senyum seorang ketua yang baru menyerahkan sesuatu dan tidak mau mengakuinya.
“Aku akan cari jalan yang nggak melanggar sumpahku, Ndri. Tunggu aku.”
“Sumpahmu tidak punya pintu belakang, Nak,” kata Mbah Resa dari belakang mereka. Nadanya bukan menegur. Hanya menyebutkan kenyataan.
Zaki mengangguk, lalu pergi. Ia menyusuri tepi Ranu Kumbolo dengan Ragil di bahu, makin kecil, makin kecil, sampai kabut menelan sosoknya di tikungan jalan.
Indri berdiri lama dan baru sadar bahwa ia sedang menggenggam tangannya sendiri erat-erat. Di sampingnya Arjuna belum bergerak. Pangeran itu menatap lengan kirinya yang terluka, dan pada kulit di sekeliling goresan, di bawah darah kuning yang mulai mengering, ia melihat sesuatu yang berkilau dan makin banyak. Sisik tipis. Satu demi satu, seperti embun yang membeku.