Jene tidak marah. Itu yang paling mengerikan.
Ia berdiri di ambang pintu dapur dengan kedua tangan terlipat di depan perut, memandangi Zaki yang masih berlutut dan Retno yang memeluk kepala laki-laki itu, seperti orang yang melihat sepasang burung kecil membuat sarang di jendelanya. Di belakangnya Arjuna muncul dengan napas tertahan, hasil berlari menyusuri lorong. Mata pangeran itu menyapu seluruh ruangan, mencari Indri, lalu lega yang cepat disembunyikan.
“Dia cuma salah satu hambaku yang paling rajin,” kata Jene lembut. “Tapi ternyata dia punya orang yang merindukannya. Menarik.”
“Dia punya nama,” ucap Zaki, bangkit dengan mata merah. Suaranya lebih keras daripada yang ia maksud. “Namanya Retno. Dan kau tidak punya hak menjadikannya pelayan.”
“Aku tidak menjadikannya apa-apa. Ia datang dalam keadaan tak punya tempat, dan aku memberinya tempat.” Jene memiringkan kepala. “Kau lebih suka ia berkeliaran di jurang itu selamanya, tanpa tahu mau ke mana?”
Zaki membuka mulut, tidak menemukan jawaban. Retno yang menjawab, pelan.
“Dia benar, Ki.”
“No—”
“Dia benar soal itu. Aku nggak mau ribut sama dia.” Retno melirik Indri dan sekilas mengangkat alis, seperti berkata ingat apa yang kubilang tadi. “Tapi dia juga nggak berhak minta lebih.”
Jene tersenyum kepada gadis itu, senyum yang hangat dan tulus dan sama sekali tidak menenangkan.
***
“Kembali ke balairung,” katanya. “Kita bicarakan harganya.”
Singgasana karang merah itu kini kosong. Ragil masih bersila di bantalnya, menyenandungkan lagu dangdut yang entah dari mana ia dapat, dan ia sama sekali tidak menoleh ketika empat orang masuk beriringan.
“Harga seorang hamba,” kata Jene sambil duduk, “adalah satu hamba lain. Itu aturan di sini sejak sebelum aku sendiri ingat. Satu masuk, satu keluar.”
“Aku.”
Zaki sudah maju satu langkah sebelum Jene selesai bicara. “Tukar dengan aku. Aku ketuanya, aku yang bertanggung jawab. Aku akan—”
“Tidak,” kata Arjuna.
“Kau bukan—” Zaki berhenti. Ia menarik napas sampai dadanya naik, lalu bicara lagi dengan suara yang diratakan. “Aku sudah bersumpah mematuhi perintahmu sepanjang perjalanan ini, Pangeran. Kalau itu perintah, aku diam.”
Arjuna memandangnya lama. Indri menahan napas, menunggu pangeran itu memakai kesempatan.
“Itu bukan perintahku,” kata Arjuna akhirnya. “Itu pilihan yang kau buat sendiri. Dan aku mengatakan tidak sebagai orang yang mau kau tetap hidup, bukan sebagai pemimpin.”
“Aku juga tidak mau,” sela Jene. Ia mengibaskan tangan seolah mengusir lalat. “Maaf, Nak. Kau tampan, dan aku yakin kau setia. Tapi orang yang menawarkan diri karena rasa bersalah itu seperti buah yang matang terlalu cepat. Manis sebentar, sesudah itu busuk di dalam hatiku.” Matanya yang besar bergerak, perlahan, berhenti pada Indri. “Aku hanya mau satu hal. Sesuatu yang tidak bisa dibeli, tidak bisa dicuri, dan hanya mengalir di tubuh satu orang di ruangan ini.”
Ruangan hening. Gelembung-gelembung emas naik dari lantai, pecah di langit-langit kubah tanpa suara.
“Berapa banyak?” tanya Indri.
“Jangan, Ndri,” sahut Zaki cepat. “Pangeran juga pasti nggak setuju. Ndri—”
“Aku nanya ke Putri Jene, Kak.”
“Satu tetes.” Jene merentangkan dua jari yang bersisik. “Cukup satu tetes dari ujung jarimu. Darah itu mengingat, Titisan. Dengan satu tetes saja aku tak lagi lupa rasanya ditemani, dan hambaku itu boleh pergi.”
Indri menoleh pada Arjuna. Wajah pangeran itu tegang seperti tali yang terlalu ditarik. Bibirnya terbuka dan menutup, dua kali, dan Indri tahu apa yang tertahan di sana. Jangan. Tetapi Arjuna menunduk, menarik napas panjang, dan yang keluar justru kalimat lain.
“Itu darahmu, Indri. Dan itu pilihanmu.” Ia melirik Jene. “Aku akan berdiri di sebelahnya sepanjang waktu, dan bila ada yang terjadi di luar kesepakatan, aku sendiri yang memutus janji ini.”
“Kesepakatan yang adil,” kata Jene.
Di belakang deretan hamba yang berdiri di kedua sisi balairung, Indri melihat Retno menggeleng cepat-cepat, mulutnya membentuk kata tanpa suara. Jangan, Dri. Jangan. Indri menatapnya, sekejap saja, dan tersenyum kecil yang paling jujur yang bisa ia berikan. Maaf, Mbak. Aku sudah memutuskan.
***
Jene menjentikkan jari. Seorang hamba datang membawa nampan, di atasnya sebuah duri ikan sepanjang jari kelingking dan kerang mutiara yang terbuka seperti telapak tangan.
Indri mengambil duri itu. Ujungnya licin dan dingin. Jantungnya memukul keras, dan ia berpikir sebentar bahwa ia sering sekali jatuh dan tak pernah takut pada luka kecil. Tetapi ini bukan luka kecil. Ini sesuatu yang ia berikan dengan sadar.
Ia menusukkan ujung duri ke jari telunjuk kirinya.
Sakitnya seperti digigit semut. Setetes merah muncul, bulat dan mengilap, lalu jatuh ke dalam cangkang mutiara. Begitu menyentuh dasar kerang, cahaya berpendar dari dalamnya, keemasan, merambat ke pinggiran cangkang dan ke wajah Jene yang terpaku. Seluruh hamba di ruangan itu mengangkat kepala serempak. Pandangan mereka kosong sesaat, lalu berkedip.
“Hangat,” bisik Jene. Ia menutup cangkang dengan kedua tangan. Matanya basah. “Sudah lama sekali tidak ada yang hangat di sini.”
“Sekarang Kak Ragil,” kata Indri. Suaranya sedikit goyah, tetapi tidak terputus.
“Tentu. Janji tetap janji.”
Jene mengangkat tangan. Ragil, yang sejak tadi bersenandung, berhenti di tengah nada. Pandangannya yang kosong bergerak ke kanan dan kiri, mencari-cari sesuatu, dan akhirnya jatuh pada Zaki yang berlari menghampiri.
“Ki?” Suaranya serak sekali. “Kok ... lo di sini? Gue lagi ... Sinta mana? Sinta ...” Matanya bertemu mata Indri, melebar. “Dri? Kok lo pakai kebaya? Gue mimpi, ya? Apa lo yang lagi—”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Kedua bola matanya berputar ke atas, dan ia terkulai ke pelukan Zaki.
“Gil! Gil!” Zaki menepuk-nepuk pipinya. “Bernapas dia. Bernapas.”
Jene berjalan mendekat. Sebelum siapa pun sempat mencegah, jarinya yang bersisik menyentuh leher Ragil, dan sebuah garis tipis berwarna kuning muncul di kulitnya, melingkar seperti kalung yang terlalu rapat.
“Apa itu?” Zaki menepis tangannya.
“Tanda.” Jene tidak tersinggung. “Supaya ikan mas ingat siapa yang berhutang. Dia akan baik-baik saja, selama aku tidak memanggilnya.”
“Kau bilang—”
“Aku bilang ia boleh pergi. Aku tidak bilang pergi tanpa kenangan.”
Arjuna melangkah ke depan Indri, seolah tubuhnya bisa jadi tembok. Jene mengangkat kedua tangan, damai. “Kesepakatan tetap kesepakatan, Pangeran. Aku tidak menarik janji. Aku hanya menandai.”
***
Deretan hamba bergeser memberi jalan. Zaki memanggul Ragil ke bahu. Arjuna memapah dari sisi satunya karena tubuh Zaki terlalu lelah untuk menanggung sendiri. Di ujung barisan, Retno berdiri dengan tangan tergenggam di depan perut, rambut kuncirnya acak, dan menatap Indri.
Indri berhenti.
Tidak ada yang bisa ia katakan di depan Jene. Ia hanya menggerakkan bibir tanpa suara, dua kata saja, dan Retno menangkapnya. Mata gadis pucat itu menyipit, mengangguk sekali, lalu ia membalikkan badan dan berjalan masuk ke dalam barisan putih, menjadi satu di antara banyak, hilang seperti ia tidak pernah punya wajah.
“Pergilah,” kata Jene dari singgasananya. Suaranya menjadi sangat pelan. “Fajar tinggal sebentar lagi, dan tangga tidak suka dilewati setelah ia lelah. Hamba-hambaku akan menutupnya.”
“Menutup?” ulang Zaki.
Tidak ada jawaban. Dari semua sisi, hamba-hamba berpakaian putih bergerak serempak menuju pintu keluar balairung, tangan mereka terulur, dan dari langit-langit kubah, gelembung emas yang tadi naik perlahan mulai bergerak lebih cepat menuju satu arah. Ke atas. Seolah seluruh danau menarik napas dalam-dalam sebelum menyelam.