Gadis itu berbalik membawa nampan, dan nampan itu hampir jatuh.
“Hah?” Matanya melebar. Piring-piring kerang berdenting. “Dri?”
Retno yang paling sering memanggil Indri dengan cara itu, memotong namanya jadi satu suku kata seperti memotong kuku. Rambut dikuncir asal, alis yang naik sebelah bila ia tidak percaya pada sesuatu. Jaket pendakinya berganti kain putih panjang sampai mata kaki, tetapi wajahnya tetap wajah yang pernah mengomeli Indri karena membawa terlalu banyak cokelat.
“Mbak Retno.”
Suara Indri keluar sebagai bisikan. Lututnya yang tadi menahan seluruh perjalanan dari Gerbang Selatan akhirnya tidak mau menopang apa-apa lagi, dan ia terduduk di ambang pintu dapur, tepat di tempat yang basah dan hangat oleh uap. Retno meletakkan nampan di lantai dengan hati-hati, lalu berjongkok, dan untuk sesaat tidak ada yang bicara.
“Kamu lihat aku,” kata Retno akhirnya. “Beneran lihat. Bukan cuma ngerasa.”
“Iya.”
“Berarti kamu masih hidup dan aku yang ... ya.” Retno menunjuk dirinya sendiri dengan dagu. Bibirnya melengkung ke bawah, lalu ia menariknya paksa jadi senyum. “Gimana aku kelihatan? Kusut banget, ya? Di sini nggak ada kaca. Nggak ada pelembap juga. Aku udah mau mati ... eh, udah.” Ia tertawa sendiri, pendek dan kering. “Ya ampun. Lucu juga kalau dipikir.”
Indri tidak tertawa. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia mengulurkan tangan, ragu, takut jarinya menembus, dan ujung jarinya menyentuh sesuatu yang dingin dan nyata, lengan baju yang basah.
“Aku mau minta maaf,” katanya terbata. “Aku lari. Waktu Anto bilang Mbak ...”
“Heh. Heh.” Retno mengangkat telunjuk. “Jangan mulai. Kamu dikejar kerdil sebanyak itu, kan? Kalau kamu nggak lari, kamu yang ada di dapur ini sekarang, dan aku nggak mau ada dua orang nyuci kerang. Cukup aku.”
***
Mereka duduk berdampingan di lantai dapur yang licin, di antara gentong-gentong tanah liat dan tungku yang apinya biru, tanpa asap. Seorang hamba lewat, memandang lurus ke depan, mengambil dua piring, lalu pergi. Retno mengikuti punggungnya dengan mata.
“Mereka nggak ngapa-ngapain kalau kita ngobrol, selama kerjaan jalan,” katanya. “Aku udah nyoba. Pertama, aku ngamuk. Kedua, aku nangis. Ketiga, aku sadar capek kalau terus-terusan begitu.”
“Dan Kak Ragil?” tanya Indri pelan. “Dia kelihatan ... bahagia banget.”
“Bahagia.” Retno mendengus. “Dia manggil Jene ‘Sinta’ dari kemarin. Dua kali dia nyoba nyium tangan perempuan itu, dua kali aku harus pura-pura numpahin kuah ke bajunya biar dia berhenti. Sumpah, Dri, mati pun aku masih harus ngurusin dia.” Ia menyeka sudut mata dengan lengan baju. “Dia cuma sadar sekali, sebentar, dan sempat kubisikin jangan nelen apa-apa. Habis itu dia lihat aku kayak lihat kain gorden.”
Indri tersenyum, dan itu menyakitkan.
“Mbak,” katanya lagi. “Apa yang terjadi? Waktu itu? Anto bilang ada yang ...”
Retno diam lama. Tangannya memilin ujung kain putihnya, dan Indri melihat gadis ketus itu kesulitan mencari kata, hal yang jarang sekali terjadi.
“Kami di pinggir ceruk,” katanya. “Aku sama Anto. Gelap banget, hujan gerimis. Anto lagi berdiri jaga, aku jongkok. Tiba-tiba ada yang megang pergelangan kakiku dari belakang. Kecil. Dingin. Aku pikir daun atau akar, tapi bukan. Banyak, Dri. Tangan-tangan kecil. Tiga, empat, aku nggak sempat ngitung. Terus ada yang ngedorong. Keras.” Ia mengepalkan tangan di pangkuan. “Aku jatuh. Kepalaku kena batu. Anto jatuh juga, tapi dia nggak sekeras aku. Aku masih sempat dengar dia manggil namaku, dan setelah itu gelap.”
“Itu kerdil,” bisik Indri. “Anto bilang ada bayangan pendek bertombak ...”
“Pendek, gempal, bau tanah. Itu mereka.” Retno menoleh. “Dan aku nggak dendam sama mereka. Mereka cuma disuruh.”
“Disuruh siapa?”
“Nah, itu.” Retno mengangkat alis. “Setelah gelap itu, aku sadar aku berdiri di samping tubuhku sendiri. Zaki turun, gemetaran, megang leherku. Aku mau bilang ‘gue di sini’, tapi nggak ada suaranya. Terus ada yang nyentuh bahuku dari belakang. Cewek berkebaya kuning. Dia senyum dan bilang, ‘Jangan takut sendirian. Aku punya banyak teman.’ Dan sebelum aku sadar, aku udah di sini.” Retno menggeleng. “Nggak ada pilihan. Dia nggak jahat. Dia cuma ... lapar banget akan orang.”
“Mbak ...”
“Dan satu lagi.” Suara Retno merendah. “Kemarin sore ada tamu. Aku disuruh bawa kendi ke aula bawah tangga. Orangnya pendek, gemuk, jubah kuning, rambut putih diikat di atas kepala. Senyumnya bikin aku pingin nutup pintu. Jene manggil dia Tuan. Mereka ngomongin titisan. Jene nanya apa titisan itu benar-benar bisa melihat, dan orang itu bilang kalau titisan datang, darahnya jangan sampai terlewat.” Ia menatap Indri. “Kamu titisan itu, kan, Dri? Aku dengar dari para hamba. Cewek dari gunung, dengan wangi aneh.”
Indri menelan ludah. “Iya.”
“Hati-hati sama orang itu. Lebih hati-hati daripada sama Jene.”
***
“Aku bakal ngeluarin Mbak,” kata Indri. “Aku janji. Setelah Kak Ragil, aku balik buat Mbak.”
“Nggak.”
Jawaban itu begitu cepat sampai Indri tersentak.
“Nggak, Dri. Dengerin.” Retno meraih bahunya, dan sentuhannya dingin sekali. “Keluarin Ragil dulu. Itu urusan paling penting. Dia masih hidup, masih bisa pulang, masih bisa jadi playboy kampungan yang nyebelin. Aku udah selesai. Jangan tukar siapa pun buat aku. Jangan kasih apa pun buat aku, apalagi sesuatu yang bisa bikin kamu nyesel.”
“Tapi—”
“Aku bukan lagi orang yang butuh ditolong lebih dulu. Ngerti?” Mata Retno berair, tetapi nadanya tetap ketus seperti dulu. “Kamu masih punya senior yang cerewet, dan aku ngomong ke kamu sebagai senior. Gitu.”
Indri mengangguk. Itu satu-satunya yang bisa ia lakukan. Mulutnya terlalu penuh dengan kata yang tak tahu bentuknya.
Langkah kaki terdengar cepat di lorong. Bukan langkah hamba yang pelan dan seragam, melainkan langkah orang yang berlari dengan sepatu basah. Pintu didorong, dan Zaki muncul dengan napas tersengal.
“Ndri, kamu lama banget, Arjuna bilang—”
Kalimatnya putus.
Zaki berdiri di ambang pintu dengan satu tangan masih menempel di kusen. Matanya bergerak dari Indri ke gadis di sebelahnya, lalu bergerak lagi, seperti orang yang mengulang hitungan sederhana karena yakin salah hitung. Wajahnya kehilangan semua warna.
Retno berdiri. Ia merapikan kain putihnya, mengangkat dagu, dan menatap Zaki dengan satu alis terangkat.
“Ya elah, Ki,” katanya. “Muka lo kayak abis lihat hantu.”
Tak ada yang tertawa. Retno menarik napas lewat hidung, dan suaranya bergetar. “Julidin gue kayak biasa dong, Ki. Kalau lo diem begitu, gue yang jadi takut.”
Zaki berlutut. Lututnya jatuh di lantai basah dengan bunyi pelan, dan wajahnya terbenam ke tangan sendiri. Bahunya naik turun tanpa suara, lalu dengan suara. Retno melangkah mendekat, ragu-ragu, kemudian memeluk kepala laki-laki itu ke bahunya sambil menepuk-nepuk punggungnya seperti menenangkan adik.
“Udah. Udah, Ki. Lo ketua. Lo nggak boleh begini.”
“Maaf,” isak Zaki. “Maaf, No. Gue nggak bisa—gue nggak—”
“Iya. Iya. Gue tahu.”
Indri membekap mulutnya. Dari lorong di belakang Zaki, tanpa suara langkah sama sekali, bayangan seorang perempuan muncul di bawah cahaya mutiara dan berhenti tepat di ambang pintu. Rambutnya basah. Kebayanya kuning.
“Rupanya,” kata Putri Jene dengan suara yang jernih seperti lonceng, “hambaku sudah menemukan keluarganya.”