“Indri! Kak Zaki! Kalian datang! Aku kangen banget!”
Suara itu persis suara Sinta. Nada manjanya, cara ia menaikkan ujung kalimat seperti orang bertanya, bahkan helaan napas kecil yang selalu mendahului kata “Kak”. Perut Indri langsung mengerut. Selama ini Sinta adalah orang yang paling jarang bicara keras di antara mereka, dan mendengar suaranya dipakai orang lain rasanya seperti melihat bajunya dikenakan orang asing.
“Jangan jawab,” bisik Arjuna.
“Aku nggak mau jawab.” Indri menggigit bibir.
Perempuan di atas air itu tersenyum. Ia berjalan tanpa tergesa, setiap langkahnya meninggalkan riak kuning yang melebar lalu padam. Begitu jaraknya tinggal sepuluh meter dari tepian, wajahnya yang tadi sama persis dengan Sinta mulai luntur, seperti cat air yang disiram. Rambut sebahu itu memanjang sampai ke pinggang. Pipi lembut menirus. Ketika ia berhenti, yang berdiri di hadapan mereka adalah gadis yang jauh lebih cantik daripada siapa pun yang pernah Indri lihat, dengan kulit sepucat susu dan sepasang mata yang terlalu besar.
“Maafkan aku,” katanya. Kali ini suaranya sendiri, jernih dan berayun seperti lonceng kecil di ujung angin. “Aku hanya ingin kalian merasa disambut. Orang-orang yang datang kepadaku biasanya lebih mudah tersenyum bila mendengar suara yang mereka rindukan.”
“Putri Jene,” kata Arjuna. Ia tidak membungkuk, tetapi menautkan kedua tangan di depan dada, hormat seorang tamu pada pemilik rumah. “Aku Arjuna, putra Baginda. Kami datang bukan untuk merampas apa pun.”
“Aku tahu siapa kau, Pangeran.” Jene melirik Indri. “Dan aku tahu siapa dia. Bau darahnya tercium sampai ke dasar sini sejak ia lewat Cemoro Kembar.”
“Kau yang menahan temanku,” kata Zaki. Suaranya serak, tetapi tidak naik. “Ragil. Aku datang untuk bicara.”
“Berbicaralah di rumahku. Danau ini dingin, dan tamu tidak seharusnya berdiri di tepi.” Jene mengangkat tangan.
Di permukaan air, daun-daun teratai raksasa bermunculan satu per satu, hijau tua dan lebar, tersusun ke bawah menuju kedalaman seperti anak tangga. Setiap daun memancarkan sinar kuning samar. Indri menatapnya dan teringat tangga kayu tua yang selalu berderit pada anak tangga ketiga.
“Silakan,” ucap Jene.
Baru saja Indri mengangkat kaki, dari belakang terdengar suara yang membuat jantungnya berhenti.
“Ndri! Indri, tunggu aku!”
Tika.
Suara Tika yang cempreng dan ngos-ngosan, persis seperti ketika dulu ia mengejar Indri keluar dari kelas karena ketinggalan buku. Kaki Indri membeku di atas daun pertama. Seluruh tubuhnya ingin berbalik, meraih, memeluk.
“Dri, aku di sini! Kenapa kamu ninggalin aku?”
Telapak tangan Indri berkeringat dingin. Ia menggigit bibir bawahnya sampai terasa asin, menatap lurus ke punggung Arjuna, dan melangkah. Satu daun. Dua daun. Suara Tika berubah menjadi isak, lalu tawa, lalu memanggil lagi dengan nada yang makin tinggi, dan ia tidak menoleh sekali pun.
“Anak pintar,” bisik Jene tanpa menoleh.
***
Mereka menuruni tangga teratai hingga air menutup di atas kepala. Anehnya Indri tetap bisa bernapas, dan pakaiannya tidak basah. Danau yang tadi gelap berubah menjadi ruang luas berwarna zamrud, dengan gelembung-gelembung emas naik perlahan dari lantai, dan di tengahnya berdiri sebuah istana dari kerang, karang, dan sisik raksasa yang berkilauan seperti ribuan cermin kecil.
Hamba-hamba Jene berlalu-lalang di serambi. Laki-laki dan perempuan, tua dan muda, semuanya berpakaian putih, semuanya berjalan pelan dengan mata yang tidak lagi memandang apa pun. Dua di antaranya gadis kecil berambut dikepang dua. Indri mengenali keduanya seketika. Mereka yang menarik tangannya kemarin siang, di jalan menuju istana, sebelum Arjuna menampik tangan mereka dan keduanya hilang seperti asap.
Kedua gadis itu menoleh. Salah seorang mengangkat tangan kecilnya dan melambai, ragu-ragu, seperti anak yang ingin menyapa tetapi takut dimarahi. Indri melambai balik dengan jari kaku.
“Kau mengenal mereka?” tanya Jene.
“Mereka pernah ... menyapa saya.”
“Mereka menyukaimu.” Jene tersenyum samar. “Mereka jarang menyukai siapa pun.”
Balairung istana air berbentuk kubah kerang. Di ujungnya ada singgasana yang terbuat dari karang merah, dan di sisinya, bersila di atas bantal sutra, duduk seorang pemuda berpakaian putih. Rambutnya yang biasa berantakan kini disisir rapi. Wajahnya bersih, bibirnya melengkung bahagia, dan matanya kosong seperti kaca yang baru dilap.
“Gil!” Zaki melangkah maju.
Ragil mengangkat kepala. Ia memandangi Zaki, mengerutkan kening, lalu tersenyum lebar.
“Ki! Lo ngapain di sini? Sini, sini, ada Sinta nih. Sinta, ini Kak Zaki, ketua gue. Yang gue ceritain.”
Jene, yang sudah duduk di singgasana, hanya menunduk dan tersenyum. Dalam sekejap wajahnya kembali berubah menjadi wajah Sinta. Ragil menepuk-nepuk bantal di sebelahnya dengan semangat.
“Sinta, kamu cantik banget malam ini. Gue bilang apa, kan, gue pasti nemuin lo lagi.”
Zaki mundur satu langkah. Indri melihat rahangnya mengeras sampai urat di lehernya muncul. Ia ingin menarik Ragil dan membawanya lari saat itu juga. Arjuna menahan bahunya dari samping, tanpa suara.
***
Indri melihat Jene yang sebenarnya hanya karena ia diam dan menunggu.
Wajah Sinta itu mengerjap. Pada kedipan keempat, tepi pelipisnya berkilat. Sisik-sisik tipis keemasan menjalar dari pelipis ke pipi, juga di punggung tangan yang bertumpu di sandaran singgasana, sisik ikan mas yang rapat dan berkilau. Matanya yang tadi indah tampak berbeda. Besar, basah, dan sangat kesepian, seperti anak yang menunggu di depan sekolah dan semua temannya sudah pulang.
Dada Indri nyeri begitu saja. Ia tidak menyangka akan merasa kasihan.
“Kau melihat aku,” kata Jene, kini dengan suaranya sendiri. “Sungguh, bukan hanya rupa pinjamanku.”
“Iya,” jawab Indri jujur.
“Tidak semua orang tahan.” Jene menjentikkan jari. Di meja kerang yang muncul dari lantai, hidangan tertata begitu saja: nasi kuning, ikan bakar bersambal, buah-buahan yang tak pernah Indri lihat, teko berisi air bening yang menguap hangat. Aromanya begitu sedap sampai perut Indri berbunyi keras. “Duduklah, Titisan. Makan bersamaku. Kita bicara sebagai kawan.”
“Terima kasih, Putri. Tapi perut saya belum mau menerima apa-apa sejak kemarin.”
“Hanya sesendok.”
“Maaf.” Indri menggeleng pelan, sesopan yang ia bisa. “Saya mau bicara dulu. Soal teman saya.”
Sesaat sudut mata Jene mengerut, kecewa yang tak disembunyikan. Lalu ia tertawa kecil. “Kau keras kepala. Aku suka. Silakan bicara, tetapi aku tak mau terburu-buru. Pangeran, duduklah. Kalian semua duduklah.”
Arjuna duduk. Zaki duduk dengan rahang mengeras. Indri menyusul, dan setelah beberapa menit pembicaraan basa-basi yang membuat Zaki hampir meledak, ia menepuk perutnya dan berbisik pada Jene, “Maaf, Putri, boleh saya ke belakang sebentar?”
“Tentu. Lewat lorong di sisi kanan. Para hambaku akan menunjukkan.”
Indri bangkit sambil melirik Arjuna. Mata pangeran itu berkata hati-hati, dan ia membalas dengan anggukan sekecil mungkin. Ia berjalan menyusuri lorong berlapis mutiara, melewati dua hamba yang tidak memandangnya, sampai di ujung ada pintu kayu sempit yang setengah terbuka. Dari sana keluar bau rempah, bunyi piring beradu, dan seseorang bersenandung sangat pelan dengan nada yang keliru.
Indri mengintip lewat celah pintu itu.
Seorang gadis pucat berdiri membelakanginya, memunggungi sebuah nampan berisi gelas-gelas kerang. Rambutnya dikuncir asal-asalan. Dan kaus kaki di kaki kirinya, yang kini berwarna putih seperti semua pakaian di sini, masih memiliki jahitan bekas yang dulu ia tambal sendiri di Kalimati.
Indri tahu sebelum gadis itu berbalik.