Satu langkah. Dua langkah. Pada langkah ketiga, putih yang membungkus mereka terkoyak seperti kain basah yang ditarik dari jemuran, dan Indri hampir terjungkal karena kakinya mencari pijakan yang tadi ada di tebing.
Tebing itu lenyap. Pilar batu hitam, lampu minyak Rangga Wesi, bau lembap dari jurang, semuanya tertinggal entah di mana. Mereka bertiga berdiri di tepi hutan cemara yang rapat, dengan tanah lembap dan jarum-jarum daun yang menusuk telapak kaki lewat sol sepatu. Di atas kepala, langit penuh bintang, sesuatu yang belum pernah Indri lihat sejak ia masuk ke istana yang diselimuti awan. Bintang-bintang itu kecil dan dingin dan sangat biasa, dan entah kenapa matanya langsung panas melihatnya.
Itu bintang yang sama dengan yang ia lihat dari tenda di Kalimati. Bintang yang sama yang dilihat Retno malam itu, sebelum perempuan itu berdiri dan berkata mau cari tempat buang air.
“Tadi itu ...,” katanya pelan. “Kita jalan tiga langkah. Tiga, Mas Juna. Aku hitung.”
“Kabut melipat jalan,” jawab Arjuna. “Jarak di negeriku tidak seperti jarak di tempatmu.”
“Jadi ini kayak pintu ke mana saja? Yang di kartun itu?”
“Aku tidak tahu kartun apa yang kau maksud.”
“Nggak penting.” Indri menoleh ke belakang, berharap pilar itu masih ada. Yang ada hanya cemara dan gelap.
Bunyi orang muntah kering membuat keduanya berbalik. Zaki berjongkok di akar pohon, satu tangan menyangga lutut, satu tangan lagi menutup mulut. Bahunya naik turun. Ia sempat terbatuk dua kali sebelum bisa bicara.
“Perutku ... kayak diputar di mesin cuci.”
“Tarik napas lewat hidung,” kata Arjuna. “Jangan melawan. Kabut tidak suka dilawan.”
“Aku bukan ... melawan ... aku cuma mau muntah.”
Indri berlutut di sebelahnya dan menepuk-nepuk punggungnya, ragu-ragu, sampai terdengar suara dari ketinggian yang tidak ia tahu asalnya. Pelan dan berdesis, bercampur angin.
“Kalian sudah di tanahnya Putri Jene. Aku hanya bisa mengantar sampai sini. Kabutku tidak boleh menyentuh air danau. Ia akan membaca bau Pangeran kalau aku masuk lebih jauh.”
“Mas Jaga?” bisik Indri. Ia mendongak, tetapi yang ia lihat hanya dahan.
“Dengarkan ini. Kabut tadi tidak membawa kalian ke danau. Ia membawa kalian ke jalan setapak yang paling dekat dengannya, sebab sisanya harus kalian lalui dengan kaki sendiri. Jangan percaya kebaikan yang datang terlalu cepat. Itu saja.”
Desisnya menjauh dan hilang. Hutan kembali sunyi, kecuali bunyi jangkrik yang entah kenapa terdengar seperti jari yang mengetuk-ngetuk kayu.
Zaki berdiri pelan, mengusap mulut dengan punggung tangan. Wajahnya pucat di bawah cahaya bintang, tetapi matanya sudah jernih lagi. Ia memandangi siluet bukit di kejauhan, bentuk punggung hijau tua yang menjulang di antara dua lembah, lalu mengerutkan kening.
“Itu Tanjakan Cinta,” katanya.
“Yang katanya jangan noleh ke belakang pas manjat itu?” Indri hampir tersenyum, lalu ingat Ragil ada di mana sekarang, dan senyumnya padam.
“Berarti Rakum ada di baliknya. Kita ... kita beneran balik ke Semeru.” Suara Zaki bergetar. “Dalam tiga langkah.”
Arjuna tidak mengusik keduanya. Ia menunggu Indri mengusap mata dengan ujung kain batik, lalu menunggu Zaki selesai menarik napas, dan baru sesudahnya ia berkata, tanpa nada memerintah, “Kita jalan. Sambil jalan, kuajari kalian.”
***
“Aturan Jene,” kata Arjuna.
Mereka berjalan menuruni jalan setapak berbatu, Arjuna di depan, dan ia berbicara tanpa menoleh, dengan nada hafalan. “Tiga hal. Pertama, jangan makan atau minum apa pun dari tangannya, sekecil apa pun, walau hanya seteguk air. Kedua, jangan sebut nama lengkap siapa pun di hadapannya. Nama lengkap adalah tali, dan ia mahir mengikatnya. Ketiga, bila ada yang memanggil dari belakang, jangan menoleh. Berapa kali pun, siapa pun yang memanggil.”
“Siapa pun?” tanya Indri.
“Justru yang paling sering memakai suara orang yang kau kenal.”
“Nama lengkap?” Indri menelan ludah. “Indri Arkadewi itu nama lengkapku, Mas. Jadi kalau dia nanya, aku bilang apa? Indri doang?”
“Indri sudah cukup. Itu nama yang kau pakai untuk teman-temanmu, bukan untuk orang yang ingin memilikimu.”
Zaki mendengus pendek. “Kau tahu banyak soal dia.”
“Cipta dan Jaga menghafalkan semua penunggu danau di sekitar pintu negeri kepadaku sejak aku belum setinggi pinggang Ayahanda.” Arjuna akhirnya menoleh. “Kau keberatan?”
“Nggak.” Zaki mengangkat bahu. “Tapi kalau aku dipanggil Indri, atau Retno, atau—”
Ia berhenti. Kata terakhir itu seperti tulang yang tersangkut di tenggorokannya. Indri menunduk dan memandangi ujung sepatunya sendiri, yang tertutup lumpur kering dan jarum cemara.
“Kalau aku dipanggil Retno,” lanjut Zaki dengan suara yang diratakan, “aku tetap nggak boleh noleh?”
“Tetap tidak,” jawab Arjuna, dan nadanya kali ini tidak keras, hanya capek. “Aku tahu itu paling berat.”
Tak ada yang bicara lagi sampai mereka menemukan jalan batu yang menurun lebih landai, dan di ujungnya, melalui celah dua pohon cemara, danau terbentang seperti piring hitam yang diletakkan di atas lembah.
Ranu Kumbolo.
Indri mengenalinya pada napas pertama. Bau lumut, bau tanah basah, bau belerang tipis dari tebing. Beberapa hari lalu ia duduk di tepi air ini sambil mendengarkan Retno membual tentang pocong yang tidak punya KTP, dan Tika tertawa sampai batuk. Sekarang tenda-tenda di pinggir danau berdiri kosong dan gelap, seperti sekelompok binatang yang tertidur sambil berdiri.
Di kejauhan, di seberang air, sebuah lampu kecil menyala. Posko.
Zaki langsung maju. Satu langkah, dua langkah, cepat, tangannya terangkat seolah ia akan berlari. Arjuna menangkap lengannya.
“Lepas.”
“Tidak.”
“Itu posko, Ar—Pangeran. Ada telepon radio di sana. Ada orang. Kita bisa minta bantuan dan semuanya selesai.”
“Kau pikir mereka akan mendengarmu?” Arjuna melepaskannya, tetapi tetap berdiri di antara Zaki dan lampu itu. “Kau bilang ada perempuan yang menyeret temanmu ke dasar danau, dan petugas akan menjawab apa? Sebelum fajar, Ragil sudah menelan hidangan terakhir. Malam ini yang dia punya cuma kita.”
Zaki memejamkan mata, mengembuskan napas lewat gigi. Ia mundur selangkah. Indri melihat tangannya mengepal, melepas, mengepal lagi, dan ia tahu betapa mahal harga selangkah itu bagi seorang ketua tim.
“Oke,” kata Zaki. “Aku ikut perintahmu. Tapi kalau sampai fajar Ragil belum keluar, aku nggak peduli sumpah apa pun.”
“Sumpahmu pada Ayahanda masih berlaku sampai itu.”
“Aku tahu.”
***
Air Ranu Kumbolo bergerak.
Angin sudah lama mati, tetapi permukaan danau bergetar halus dari tengah, melebar menjadi lingkaran-lingkaran yang menjalar sampai ke kaki mereka. Lalu warnanya berubah. Hitam yang pekat itu luruh, berganti kuning pucat, makin lama makin terang, hingga bayangan bintang di atasnya seperti taburan emas yang larut.
Indri menarik napas dan tidak bisa mengembuskannya.
Di tengah danau, di atas air, berdiri seorang perempuan. Rambutnya sebahu dan basah, kebayanya kuning seperti kelopak bunga, dan kainnya mengambang di permukaan tanpa membasahi ujungnya. Ia tidak bergerak. Ia hanya berdiri dan menatap ke arah tepian, ke arah mereka.
Zaki bergumam, nyaris tak bersuara, “Sinta?”
“Bukan,” kata Arjuna.
Perempuan di tengah danau mengangkat satu tangan, pelan, seperti orang melambai kepada sahabat lama. Dan dari seberang air, dengan suara yang Indri kenal sebagai suara Sinta, ia memanggil namanya.
“Indri!”