Air terjun bertingkat di ujung taman kembali jatuh tanpa henti, percikannya menempel di jenggot putih Cipta yang biasanya selalu dirapikan. Ia berdiri di depannya dengan kedua tangan terkepal di balik jubah, dan ia tidak menunggu salam.
“Pemuda itu masih hidup,” katanya. “Itu satu-satunya kabar baik yang kupunya.”
“Katakan semuanya,” kata Arjuna.
“Putri Jene membawanya ke dasar Ranu Kumbolo sejak malam kemarin dulu. Sekarang ia duduk di sisi singgasana air, berpakaian putih, tersenyum terus, dan menyebut Jene dengan nama gadis yang katanya dikenalnya.” Cipta mengelus jenggotnya. “Jaga sudah mengintip dari permukaan danau. Hidangan terakhir akan disajikan sebelum fajar. Begitu pemuda itu menelannya, ia menjadi hamba tetap. Tidak bisa dibawa pulang, tidak bisa ditebus.”
“Sebelum fajar,” ulang Zaki. Wajahnya mengeras. “Berarti kita punya waktu sampai malam ini saja.”
Cipta memandangnya, lalu memandang Indri. “Dan ada satu hal lagi yang membuatku datang sendiri, bukan lewat Jaga. Putri Jene tidak mau berunding dengan siapa pun. Tidak dengan Pangeran, tidak dengan para prajurit. Ia hanya akan membuka pintu airnya untuk titisan.”
Indri merasakan semua mata beralih kepadanya. Tenggorokannya mendadak kering.
“Titisan itu aku,” katanya.
“Itu kau, Nduk.”
“Tidak,” kata Arjuna.
Ia mengucapkannya begitu cepat sehingga Cipta sampai menaikkan alis. Sesudahnya Arjuna mengatur napas, dan nadanya melunak. “Maaf, Cipta. Maksudku, tidak malam ini. Putri Jene bukan penunggu biasa. Ia menyeret manusia sebelum fajar dan tidak pernah mengembalikan satu pun yang sudah makan dari tangannya. Kalau Indri turun ke sana, ia bisa tidak naik lagi.”
“Aku yang memutuskan itu, Mas Juna,” kata Indri.
“Kau baru sehari di sini. Kau belum tahu apa yang bisa dilakukan perempuan itu.”
“Dan Ragil sudah dua hari di sana. Dia bahkan nggak tahu dia ada di mana.” Indri mengangkat dagu. “Aku bukan nggak takut. Aku takut banget. Tapi kalau aku diam di sini dan besok pagi ada kabar Ragil nggak bangun lagi, aku nggak akan bisa maafin diriku sendiri.”
“Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi.”
“Kamu nggak bisa nentuin itu, Mas.” Ia menatap Arjuna. “Ayahmu bilang aku tamu, bukan tawanan. Kalau aku mau pergi, kamu boleh ikut atau nggak, tapi kamu nggak boleh menahanku.”
Arjuna membuka mulut, lalu mengatupkannya lagi. Ia tidak membantah. Dari balik punggung, Zaki memperhatikan ketegangan itu dengan wajah tak terbaca.
“Kalau Indri pergi, aku ikut,” kata Zaki. “Dan jangan bilang aku harus tinggal di paviliun. Itu temanku di bawah sana.”
“Itu bukan keputusanku dan bukan keputusanmu,” jawab Cipta. “Itu keputusan Baginda. Mari.”
“Sebentar.” Zaki menahan langkah. “Siapa sebenarnya perempuan ini? Dia bukan manusia, itu jelas. Tapi apa maunya? Kenapa Ragil?”
Cipta tidak menjawab dengan cepat. “Ia penunggu Ranu Kumbolo, ikan mas dalam wujud aslinya, gadis kuning dalam wujud pinjamannya. Ia kesepian, Nak. Orang yang kesepian terlalu lama bisa menjadi pemungut. Ia mengumpulkan siapa pun yang tersesat di tepi danaunya, lalu menjadikan mereka teman yang tidak bisa pulang.” Ia menatap Zaki. “Itu bukan kejahatan baginya. Itu cara satu-satunya ia tahu untuk tidak sendirian.”
Zaki terdiam. Kalimat itu terlalu manusiawi untuk didengar dari mulut seseorang yang membicarakan hantu.
***
Balairung malam hari berubah menjadi ruangan lain. Lampu-lampu minyak di sepanjang dinding memantulkan cahaya jingga ke ukiran emas, sehingga naga dan harimau di tiang-tiangnya seakan hidup sedikit demi sedikit. Brawijaya duduk di singgasana tanpa mahkota. Jenggotnya terlihat lebih putih di bawah cahaya itu, dan lingkaran di bawah matanya tak bisa disembunyikan.
Cipta menyampaikan laporan dengan kalimat pendek. Brawijaya mendengarkan sampai habis tanpa memotong. Lalu ia menutup mata sejenak, seperti orang yang menimbang batu yang terlalu berat.
“Arjuna menolak membawa titisan.”
“Aku menolak, Ayahanda.”
“Dan titisan sendiri memaksa.”
“Saya tidak memaksa, Baginda,” kata Indri. “Saya cuma bilang saya akan pergi. Baginda sendiri yang bilang saya boleh.”
Sudut bibir Brawijaya bergerak. Entah senyum, entah tarikan napas yang tertahan. “Aku mengatakan itu sebagai aturan. Aku tidak menyangka akan ada yang memakainya secepat ini.” Ia membuka mata. “Cipta, apakah benar hanya ia yang dapat melihat wujud asli Jene?”
“Benar, Baginda. Hanya titisan Amarawati yang dapat melihat melewati rupa pinjaman Jene, dan hanya ia yang dapat membaca siapa hamba yang masih dapat ditolong dan siapa yang tidak.”
Brawijaya menghela napas. Ia berbicara perlahan, tanpa memandang siapa pun. “Aku tidak suka. Aku tidak ingin mengirim siapa pun ke dasar danau, apalagi seorang gadis yang baru kemarin kukenal. Tetapi ia tamu, dan ia berhak atas pilihannya sendiri.” Ia menatap Arjuna. “Kau akan pergi bersamanya. Kau tidak meninggalkannya satu langkah pun, dan kau tidak akan menyentuhnya tanpa izinnya. Kalian kembali sebelum fajar.”
“Aku bersumpah, Ayahanda.”
“Dan pemuda itu?” Brawijaya menatap Zaki. Rangga Wesi, yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, melangkah setengah langkah ke depan dan membuka mulut. Raja mengangkat tangan tanpa menoleh. “Aku sudah memutuskan ia tidak keluar dari istana sampai nasib teman-temannya jelas. Dan sekarang nasib itu justru ada di luar istana.”
“Saya tidak minta dikeluarkan karena saya ingin,” jawab Zaki. “Saya minta karena itu teman saya. Saya siap menerima syarat apa pun.”
“Syarat pertama, kau tidak lari. Syarat kedua, sepanjang perjalanan ini kau mematuhi perintah Arjuna tanpa membantah. Ia memimpin, bukan kau.” Brawijaya menatapnya tajam. “Aku tahu tidak mudah bagi seorang ketua. Tapi di sana yang kau hadapi bukan gunung yang kau kenal.”
Rahang Zaki bergerak. Ia melirik Arjuna, yang menatap lurus tanpa ekspresi. Lalu ia menunduk dalam-dalam. Sesaat sebelum ia bicara, Indri melihat satu urat di pelipisnya menegang. Zaki tidak pernah suka dipimpin laki-laki yang baru ia kenal sehari, dan ia tahu semua orang di ruangan ini bisa membaca itu.
“Saya bersumpah mematuhi perintah Pangeran Arjuna sepanjang perjalanan ini, demi Ragil.”
“Baik.” Brawijaya berdiri. “Pergilah sebelum malam terlalu larut.”
***
Gerbang Selatan tidak seperti gerbang depan yang berlapis emas. Ia hanya dua pilar batu hitam tanpa ukiran, berdiri di tebing yang menghadap kabut. Angin dari bawah membawa bau lembap dan dingin, dan lampu minyak yang dibawa Rangga Wesi bergoyang-goyang seolah ketakutan.
Sebelum mereka berangkat, Laras menyelimutkan kain tebal bermotif kotak-kotak hitam ke bahu Indri dan mengikatkannya dengan simpul longgar di dada. Tangan dayang itu dingin, dan ketika Indri berterima kasih, Laras hanya menunduk dan berbisik, “Pulanglah dengan selamat, Den Ayu.” Itu bukan nada pelayan kepada tamu; itu nada orang yang menggantungkan harapan terlalu besar.
Arjuna berdiri di depan, Indri di tengah, Zaki di belakang dengan ransel kain kecil di bahu. Tak seorang pun berbicara. Dari balik pilar, bayangan memanjang di tanah.
Bayangan itu bukan bayangan. Ia ular hitam sebesar lengan pria dewasa, bersisik mengilap, dengan sepasang mata hijau yang menyala dalam gelap. Ia merayap ke depan, melingkar di kaki Arjuna, lalu mengangkat kepalanya setinggi lutut dan mendesis panjang.
“Shhhh ....”
Indri menghela napas lega yang tak bisa disembunyikan. “Mas Jaga.”
Ular itu menggoyangkan kepalanya seperti mengangguk. Lalu dari mulutnya keluar suara, pelan dan jelas, suara yang sudah ia kenal.
“Dengarkan baik-baik. Kabut ini bukan jalan biasa. Jangan lepaskan pandangan darinya, dan jangan berhenti walau kalian merasa jalannya tidak masuk akal. Berpeganglah pada kabut.”
“Maksudnya?” tanya Zaki.
Tidak ada jawaban. Kabut dari tebing naik dengan cepat, memeluk pilar, menelan lampu Rangga Wesi, menelan Jaga yang sudah menjadi ular, menelan bau dan cahaya. Indri sempat melihat Arjuna menoleh kepadanya dengan satu pertanyaan di mata, dan ia mengangguk. Lalu putih sepenuhnya menelan mereka bertiga, dan ketika Indri melangkah satu kali, tanah di bawah kakinya bukan lagi tanah yang tadi.