“Tika dan Gilang hidup.”
Arjuna mengucapkannya dari ambang pintu, tanpa pembukaan, seolah ia tahu satu kalimat itu lebih penting daripada seribu kata pengantar. Indri langsung berdiri. Zaki ikut bangkit, tetapi lebih lambat, seperti orang yang takut berharap terlalu cepat.
“Hidup? Dua-duanya?” tanya Indri.
“Dua-duanya. Jaga melihat sendiri dari atas gunung. Tika ditemukan penolong menjelang pagi tadi, dan Gilang menjelang sore. Gilang terluka di paha, tetapi ia sadar dan bicara. Tika kedinginan, tetapi selamat.” Arjuna menarik napas. “Aku tidak akan mengarang satu pun dari itu.”
Indri menutup mulut dengan kedua tangan. Lututnya melemas, dan ia hampir jatuh ke tikar sebelum menemukan tiang untuk berpegangan. Zaki mengembuskan napas sepanjang yang ia tahan sejak tadi pagi, dan untuk sesaat ia menunduk, menutup mata, bibirnya bergerak tanpa suara. Indri tahu itu doa.
“Alhamdulillah,” bisik Zaki. “Alhamdulillah.”
“Siapa yang menemukan mereka?” tanya Indri sambil mengusap pipi. “Tim penolong? Mereka dibawa ke mana? Tika nggak apa-apa, kan, kedinginan itu parah nggak? Gilang jahitannya—”
“Pelan-pelan, Ndri.” Arjuna tanpa sadar mengangkat tangan setengah, lalu menurunkannya lagi sebelum menyentuh apa pun. “Mereka sudah dibawa turun ke pos. Itu saja yang kutahu pasti. Sisanya, Jaga akan mengabarkan kalau ada.”
Zaki memejamkan mata lagi, kali ini lebih lama. Bagi Indri, wajah senior itu tampak sepuluh tahun lebih tua daripada saat mereka berangkat dari sekret.
Setelah beberapa lama, Zaki menegakkan badan. Ia menoleh perlahan ke arah Arjuna, dan sorot matanya berubah. Bukan marah, melainkan dingin, seperti air telaga pada dini hari.
“Terima kasih untuk kabarnya,” katanya. “Boleh saya tanya satu hal?”
“Silakan.”
“Kau siapa bagi Indri?”
Ruangan itu menyempit. Di luar pintu, Laras menunduk lebih dalam. Arjuna tidak langsung menjawab. Ia menatap Zaki lurus, dengan wajah yang tak bisa dibaca.
“Aku orang yang menemukannya malam itu,” katanya pelan. “Aku orang yang membawanya ke sini. Dan bila Indri bersedia, ia adalah calon ratu negeri ini.”
Zaki seperti baru ditampar dari samping. “Calon apa?”
“Ratu. Dan aku—”
“Aku bukan hadiah.”
Dua pasang mata menoleh bersamaan. Indri berdiri tegak dengan kedua tangan terkepal di sisi tubuh, pipinya basah tetapi suaranya mantap.
“Aku bukan hadiah, Mas Juna. Bukan calon apa-apa yang bisa dikasih-kasih. Aku bahkan belum bilang ya.” Ia berpaling pada Zaki. “Dan Kak Zaki, aku juga bukan sesuatu yang bisa diperebutkan di depan mukaku, apalagi di depan pintu. Kalian berdua boleh nggak suka satu sama lain, tapi jangan jadiin aku bahan rebutan.”
Hening yang kikuk jatuh di antara mereka. Arjuna yang pertama menunduk.
“Maaf,” katanya. “Aku salah memilih kata. Kau benar.”
Zaki tidak membalas. Namun, dari caranya mengepalkan tangan lalu melepasnya pelan, Indri tahu laki-laki itu setuju, dan sedikit malu.
***
“10 Mei 2016, 06.10 WIB”
Fajar belum benar-benar naik, tetapi kabut di antara pohon cemara sudah berubah dari hitam menjadi kelabu. Di dahan besar setinggi dua kali tubuh orang dewasa, Tika meringkuk dengan kedua tangan memeluk batang pohon. Bibirnya ungu, giginya beradu, rambut bob-nya basah oleh embun yang jatuh dari daun. Sejak tengah malam ia berusaha tidak tidur, karena Gilang pernah bilang orang yang tidur di tempat dingin kadang tidak bangun lagi. Ia menghitung bintang yang kelihatan di sela dahan, lalu menghitung jerawat di wajah Gilang yang pernah ia ejek, lalu menghitung lagi dari awal.
Di bawahnya, dua macan tutul mengitari pangkal pohon. Bulu mereka basah, mata mereka kuning menyala, dan salah satunya sudah beberapa kali mencoba mencakar batang sambil mengaum rendah.
“Pergi ... pergilah ...,” isak Tika. “Aku nggak enak, aku nggak enak, serius ....”
Lalu sesuatu bergerak di antara kabut. Seorang gadis berdiri beberapa langkah dari pohon, rambutnya tergerai kusut, wajahnya pucat, kakinya sedikit miring seolah terkilir. Ia mengangkat tangan dan melambai pelan ke arah macan-macan itu, tanpa suara.
Kedua macan berhenti. Telinga mereka menegak, kepala mereka berputar serempak. Lalu mereka melangkah pergi mengikuti gadis itu, menyusup ke dalam kabut dengan patuh seperti anjing mengikuti pemiliknya.
“Hei! Mbak!” teriak Tika serak. “Hati-hati! Mereka bakal—”
Gadis itu menoleh sekejap. Tersenyum sangat tipis. Lalu lenyap bersama kabut, meninggalkan Tika yang menatap tempat kosong itu dengan mulut terbuka, tidak yakin apakah ia baru saja diselamatkan manusia atau sesuatu yang lain.
Tak lama kemudian terdengar langkah banyak orang, bunyi walkie-talkie, dan suara berat yang berseru, “Di sini! Ada yang di pohon!” Tim SAR dengan seragam oranye datang berlarian.
***
“10 Mei 2016, 14.50 WIB”
Tanto berjalan paling depan, napasnya memburu, dengan tiga petugas SAR mengikuti. Dua kali mereka sudah menyisir lereng yang sama sejak pagi, dan dua kali pula mereka pulang dengan tangan kosong. Kali ini Tanto menghentikan langkah di tengah semak pakis.
“Tunggu.”
“Ada apa, Mas?” tanya seorang petugas.
“Saya ... entahlah. Saya merasa ditarik ke arah situ.” Tanto menunjuk lereng curam di sebelah kiri yang tampak tidak pantas dilewati siapa pun. “Biasanya saya tidak percaya perasaan seperti ini. Tapi saya sudah bertahun-tahun jadi pemandu, dan demi keselamatan kita bersama, kali ini saya ikuti.”
Mereka mengikuti, menuruni lereng licin dengan tali. Di ujung lereng, di bawah akar-akar pohon yang menjuntai, sebuah celah gua kecil terbuka. Dan di depan celah itu, hanya Tanto yang merasakan, berdiri seorang gadis yang tak terlihat, menunjuk ke dalam dengan wajah letih. Tanto tidak melihatnya. Tetapi kulit lengannya meremang, dan ia tahu.
“Gilang!” teriaknya.
Dari dalam gua terdengar erangan. “Mas ... Mas Tanto ...?”
Mereka menemukannya bersandar di dinding batu, celana robek di paha kanan, kain bebatan seadanya sudah hitam oleh darah kering. Wajah Gilang abu-abu, bibirnya pecah-pecah, tetapi matanya terbuka.
“Tika,” bisiknya sebelum apa pun. “Tika ... dia selamat?”
“Tika sudah dibawa turun pagi tadi, Lang. Dia selamat. Dia nanyain kamu terus.”
Gilang tertawa lemah, lalu tangisnya pecah. “Dasar ... bawel ...”
“Jangan banyak gerak,” tegur seorang petugas sambil membuka tandu lipat. “Dari mana kamu tahu tempat ini aman, Dek? Kok bisa masuk ke gua yang tidak ada di peta?”
“Saya ... lari ... macannya ... lalu ada yang nunjukin jalan,” kata Gilang terbata-bata. “Perempuan. Pucat. Pakai jaket pendaki. Saya kira dia pendaki lain.”
Petugas dan Tanto saling pandang. Tidak ada yang bertanya lebih jauh.
***
Sore merayap di taman istana. Mereka bertiga berjalan melewati lorong berbunga: Arjuna di depan, Indri di tengah, dan Zaki di belakang, dengan Rangga Wesi mengikuti sepuluh langkah di belakangnya. Tak seorang pun bicara. Pagar laurel pucuk merah tampak menyala di bawah cahaya senja, dan bunyi air terjun dari kejauhan terdengar seperti napas panjang yang berulang-ulang.
Zaki berjalan sejajar dengan Indri sebentar. “Jangan salah paham tadi,” katanya pelan. “Aku nggak marah sama kamu.”
“Aku tahu.”
“Aku cuma ... takut kehilangan satu lagi.”
Indri menatap Zaki dari samping. Ia ingin menjawab, tetapi langkah Arjuna yang tiba-tiba berhenti di depan membuatnya urung.
Di ujung taman, di dekat air terjun bertingkat, seorang lelaki tua gemuk berdiri membelakangi mereka. Jenggot putihnya panjang sampai dada, pakaiannya putih bersih, dan di kepalanya bertengger mahkota berbentuk stupa tiga tingkat. Cipta. Ia menoleh perlahan.
Wajahnya yang biasa ramah kini kelabu dan tegang. Tidak ada senyum untuk Arjuna, dan itu saja sudah cukup membuat pangeran itu menghentikan langkah. Sebelum Cipta membuka mulut, Arjuna sudah tahu kabar itu menyangkut Ragil, karena hanya satu nama yang bisa membuat dewa penjaga gunung menahan senyumnya.
Di sebelah Indri, Zaki juga berhenti. Air terjun di belakang Cipta berhenti berbunyi untuk sesaat, seolah ikut menunggu.