Paviliun Teratai berdiri di tepi kolam kecil yang permukaannya penuh bunga teratai merah muda. Daun-daunnya selebar piring makan, dan di antara tangkainya ikan-ikan emas berkelebat seperti kilatan api yang tenggelam. Rangga Wesi mengantar Zaki sampai ke ambang pintu, memeriksa setiap sudut ruangan dengan mata tajam, lalu mundur dengan wajah masam.
“Pintu tetap terbuka. Nyai Laras menunggu di luar,” katanya. “Itu perintah Baginda, bukan permintaanku.”
“Saya tidak keberatan,” jawab Zaki.
“Begitu juga saya,” tambah Indri. Pintu tetap setengah terbuka. Di serambi luar Laras duduk bersimpuh dengan kepala tertunduk, terlalu jauh untuk mendengar kata-kata, cukup dekat untuk melihat kalau ada yang tidak beres.
Begitu langkah Rangga Wesi menjauh, bahu Zaki turun seperti seseorang yang baru melepas ransel seberat tiga puluh kilo. Ia duduk di tikar dengan kaki bersila, memandang tangan sendiri, lalu menatap Indri yang duduk di seberangnya.
“Ndri. Aku harus bilang sesuatu yang sudah kutahan sejak dua malam lalu. Aku sudah merangkai kalimatnya sepanjang jalan, dari danau sampai gerbang, dan setiap kali gagal.”
“Soal Mbak Retno.”
Zaki menegang. “Kamu ...”
“Aku dengar Anto bilang begitu di ceruk. Kemarin Mas Jaga membenarkan.” Suara Indri sangat tenang, dan ia sendiri heran karena tenang itu hanya tipis seperti kulit susu. “Jadi kamu nggak perlu cari kalimatnya, Kak.”
Zaki menunduk. Rambut gondrongnya jatuh menutupi sebagian wajah. Sesaat ia seperti hendak mengatakan sesuatu yang tegas, tetapi yang keluar justru napas yang patah.
“Aku turun ke ceruk sendiri,” katanya. “Aku periksa nadinya. Aku periksa napasnya. Tubuhnya sudah dingin dan kaku, Dri. Aku rapikan tangannya karena aku tidak tahu harus berbuat apa lagi. Habis itu aku naik, dan di atas kamu sudah tidak ada.” Ia mengusap wajah dengan telapak tangan. “Aku mau bilang ke kamu. Aku mau. Tapi setiap kali aku mencoba membayangkan mengucapkan namanya dan kata ‘meninggal’ dalam satu kalimat, tenggorokanku kayak ditutup.”
“Aku ngerti.”
“Aku ketua tim. Aku yang bawa kalian ke sana. Aku yang bilang menginap satu malam lagi.”
“Kita semua setuju menginap satu malam lagi, Kak,” potong Indri. “Kalau mau salah-salahan, aku ikut antre. Aku yang lari duluan, lupa?”
Zaki tersenyum. Senyum yang lebih mirip retakan. Dan sebelum ia sempat membalas, air matanya jatuh. Indri tidak menahan miliknya sendiri. Mereka duduk berhadapan di tikar dan menangis tanpa suara, dengan kolam yang berkilau di belakang punggung mereka dan ikan-ikan emas yang tidak peduli.
Beberapa lama kemudian, Zaki mengusap mata dengan lengan jaket. “Yang lain gimana? Aku ditanya raja tadi tentang Ragil, Tika, Gilang, tapi dia belum menjawab apa pun padaku.”
Indri menceritakan semua yang dikatakan Jaga: Anto selamat dan sudah ditemukan, Tanto dan Sinta sehat, Tika dan Gilang belum jelas, Ragil dibawa Putri Jene dari Ranu Kumbolo. Setiap kali ia menyebut satu nama, bahu Zaki terlihat sedikit turun, lalu naik lagi karena nama berikutnya membawa kabar lebih buruk.
“Putri Jene,” ulang Zaki. “Yang dari cerita Tanto di Ranu Kumbolo itu? Aku kira itu cuma dongeng pengantar tidur.”
“Aku juga kira begitu. Sampai kemarin.”
“Anto ...” Zaki memejamkan mata. “Aku ninggalin dia sendirian di tenda, kakinya bengkak, badannya menggigil, cuma kukasih minyak oles dan sebungkus biskuit. Aku bilang ‘tunggu di sini’ seperti ngomong sama anak kecil.” Ia mengepalkan tangan di atas lutut. “Kalau Jaga bilang dia sudah ditemukan, berarti aku yang bodoh karena tidak langsung membawanya turun.”
“Kamu nggak mungkin gendong Anto sambil nyari aku, Kak. Dia berat.”
“Dia nggak seberat itu.”
“Dia gempal. Itu fakta ilmiah.”
Zaki mendengus, tertawa dan menangis dalam satu napas. Itu humor yang ia kenal betul, dan karena itulah Indri sengaja memilihnya.
***
Waktu bergeser tanpa ada yang menghitungnya. Matahari melewati titik tertinggi, dan bayangan daun teratai memanjang pelan di dinding. Seorang pelayan meletakkan nampan berisi nasi hangat dan sayur, lalu pergi tanpa suara. Zaki hanya mencicipi sedikit.
“Ndri, sarung tangan yang kupinjamkan di Ranu Kumbolo,” katanya tiba-tiba. “Masih kamu bawa?”
Indri tak langsung menjawab. Ia merogoh lipatan di pinggang kebayanya dan mengeluarkan benda tebal itu, lusuh dan dekil, jelas sudah tidak sehangat saat pertama dipakai. “Tadinya ada di saku celana lapanganku. Aku pindahkan tiap kali ganti baju. Soalnya ... aku takut ilang.”
Zaki memandangi sarung tangan itu seakan ia melihat sesuatu yang berasal dari dunia lain. Lalu ia mendorongnya kembali ke tangan Indri.
“Simpan saja. Aku nggak minta dikembalikan. Aku cuma mau tahu itu masih ada.” Ia menarik napas panjang. “Karena kalau itu masih ada, berarti kamu juga masih ada.”
Indri menggenggam sarung tangan itu erat. Ia tidak tahu apa yang harus dijawab, jadi ia menyimpannya kembali.
Ia menatap kolam di luar sejenak, lalu kembali menatap Indri. Matanya masih merah, tetapi sorotnya sudah menjadi sorot seorang ketua yang kembali memegang peta.
“Ndri, ayo pulang.” Suara Zaki tiba-tiba mengeras, jenis keras yang ia pakai ketika harus memimpin di tebing. “Hari ini. Aku dengar sendiri, kamu tamu, bukan tahanan. Kamu boleh pergi lewat pohon kembar itu atau apa pun namanya. Pergilah. Aku nanti nyusul kalau mereka sudah mengizinkan.”
“Aku nggak mau.”
“Dri—”
“Aku nggak mau pulang sementara kamu masih ditahan, Ragil di tangan perempuan yang katanya ikan mas, dan Tika sama Gilang belum ketemu.” Indri menegakkan badan. “Aku sudah bilang ke Baginda aku akan tinggal sampai nasib mereka jelas. Aku nggak mau jadi orang yang pulang duluan dan bilang ke semua orang di Jakarta bahwa ‘semuanya baik-baik saja’ padahal nggak.”
“Itu bukan tanggung jawabmu.”
“Kamu ketua tim, kan? Tanggung jawab bareng-bareng, itu kata kamu.” Ia memandang lurus. “Aku anggota. Biar aku yang urus bagianku.”
Zaki menatapnya lama. Di wajahnya bertarung kebanggaan dan kecemasan. Pada akhirnya, ia mengembuskan napas sambil menggeleng.
“Kamu keras kepala.”
“Itu kata Mbak Retno juga.”
Sebelum Zaki sempat membalas, matanya bergeser ke arah pintu. Di serambi, di balik tubuh Laras yang bersimpuh, berdiri seorang pria tinggi berjubah hitam dengan udeng merah tua. Arjuna tidak masuk. Ia hanya berdiri di sana, tak bergerak, mengamati mereka dari jarak yang cukup jauh.
Rahang Zaki mengencang. “Dia yang tadi di bawah singgasana.”
“Namanya Arjuna.”
“Dia yang menculikmu?”
“Bukan. Dia menyelamatkanku di tebing. Kalau bukan dia, aku sudah jatuh ke jurang.”
“Dan setelah itu dia membawamu ke sini, ke tempat yang tidak ada di peta, memakaikanmu baju begini.” Zaki berbicara pelan, dan itu justru lebih menakutkan daripada kalau ia membentak. “Dia lihat kamu seperti orang yang melihat barang miliknya, Ndri. Aku lihat dari tadi di balairung.”
“Kak Zaki, kamu belum tahu seluruh ceritanya.”
“Kamu juga belum.”
Itu benar, dan Indri membenci kenyataan bahwa itu benar.
Ketukan sopan terdengar di kusen pintu. Tiga kali, pelan.
Zaki yang menoleh lebih dulu. Ia mengenali ketukan itu, dan entah kenapa tubuhnya sudah bersiap menerima kabar yang paling ia takuti.
“Maaf mengganggu,” kata Arjuna dari luar, tanpa melangkah masuk satu inci pun. “Jaga membawa kabar. Menurutku kalian berdua berhak mendengarnya sebelum malam.”