Brawijaya mengangkat satu tangan sebelum Rangga Wesi sempat membuka mulut. Balairung yang tadi riuh kembali sunyi.
“Biarkan ia bicara.” Raja itu menatap Indri dari undak tertingginya. “Kukatakan kau tamu, bukan tawanan. Tamu boleh bersuara di rumah ini. Maju, Nak.”
Indri melangkah ke tengah ruangan dan berhenti beberapa langkah dari Zaki. Dari dekat, ia bisa melihat tali ijuk yang melukai pergelangan tangan senior itu, dan lingkaran gelap di bawah matanya. Zaki tidak berkata apa-apa. Hanya rahangnya yang bergerak, seperti orang yang menelan kalimat panjang.
“Dia teman saya, Baginda,” ulang Indri, kali ini lebih pelan. “Namanya Zaki Raditya, ketua kami. Dia bukan orang yang suka melanggar aturan. Aturan Mapala kami bahkan ada tiga: jangan tinggalkan apa pun kecuali jejak kaki, jangan bawa apa pun kecuali foto, jangan menulis di mana pun kecuali di kertas. Dia yang membuat kami hapal itu di luar kepala.” Ia menarik napas. “Kalau dia sampai masuk ke Ranu Tompe, itu bukan karena dia ingin mengacau. Itu karena dia tidak sanggup meninggalkan kami.”
“Kau ingin aku mengabaikan hukum karena seorang pemuda punya alasan baik?” tanya Brawijaya, tidak keras.
“Tidak, Baginda. Saya minta Baginda menahan hukum itu sebentar. Kalau dia melakukan sesuatu yang membahayakan negeri ini selama dalam tahanan, saya yang bertanggung jawab. Saya jamin dengan kata-kata saya sendiri.”
Bisik-bisik para pembesar naik seperti dengung lebah. Arjuna berdiri dari undaknya.
“Ayahanda.” Suaranya tertahan. “Aku menghormati keberanian tamu kita, tetapi aku tidak dapat diam. Hukum perbatasan adalah yang menjaga kita semua. Bila hari ini dilonggarkan satu kali, besok akan ada seratus orang yang mencoba masuk dengan alasan yang sama.” Ia melirik Indri sekilas, dan mata cokelat terangnya mengandung campuran yang tidak mudah ditafsirkan: marah, cemas, dan sesuatu yang lain. “Namun aku juga meminta Ayahanda mendengar saksi sebelum memutuskan. Ada satu orang di negeri ini yang paham betul hukum itu dari kedua sisinya.”
“Aku sudah memanggilnya,” jawab Brawijaya. “Masuklah, Resa.”
Pintu samping berderit. Seorang lelaki tua melangkah masuk dengan punggung melengkung dan tongkat kayu di tangan kanan. Rambut dan jenggotnya putih seperti kapas, kulitnya cokelat keriput. Di tangan kirinya tergantung sebuah lentera tembaga kecil, padahal matahari sudah masuk dari kubah. Lentera itu menyala, dan apinya tidak bergoyang meski ia berjalan.
“Mbah Resa, juru kunci pintu Ranu Tompe,” bisik seseorang di barisan dayang.
Lelaki tua itu memberi hormat tanpa banyak gerak, lalu berhenti di depan Zaki. Ia memandangnya sebentar dan tersenyum sangat tipis.
“Nak.”
“Bapak.” Zaki menunduk hormat meski tangannya terikat. “Bapak yang menjaga pintu itu?”
“Sudah dua puluh tahun lebih. Dulu saya datang seperti kamu. Anak saya sakit panas tak sembuh-sembuh, dan kata orang di kampung, ada tanaman obat yang hanya tumbuh di tepi Ranu Lus.” Suaranya serak, tenang. “Saya masuk. Anak saya sembuh. Saya tidak bisa pulang selamanya.”
Zaki menelan ludah. “Maaf, Pak.”
“Jangan minta maaf. Saya tidak menyesal.” Mbah Resa menoleh ke singgasana. “Baginda memanggil saya untuk menerangkan apa yang saya tahu.”
“Katakan kepada anak muda ini semua jalan yang terbuka baginya.”
“Ada dua, Nak.” Mbah Resa mengangkat dua jari. “Pertama, menjadi juru kunci seperti saya. Itu jalan yang paling berat karena kau tidak boleh pergi sampai ajal datang. Kedua, bersumpah.”
“Bersumpah apa?”
“Kau bersumpah bahwa kau tidak akan menyebut isi negeri ini kepada siapa pun di dunia luar, dan kau tidak akan kembali ke sini. Dua hal itu. Bila sumpah itu kau ucapkan dengan tulus, kau boleh pulang.” Ia menatap Zaki dalam-dalam. “Yang dihukum bukan mulutmu, Nak. Yang dihukum adalah langkahmu kembali.”
“Dan kalau aku belum sanggup memilih salah satu?” tanya Zaki.
“Maka kau belum boleh pergi,” kata Mbah Resa. “Itu juga hukum, dan bukan hukuman.” Ia menatap lentera di tangannya. “Saya tidak akan membujukmu. Kalau dulu ada yang membujuk saya, saya akan mengira dia menipu saya.”
Zaki mengangguk pelan, hampir seperti memberi hormat kepada seorang guru. “Saya mengerti, Pak. Saya akan bersumpah pada waktunya. Tapi tidak sebelum teman-teman saya pulang.”
Hening kembali. Indri menghitung dalam hati. Dua jalan, dan dua-duanya berarti Zaki akan berpisah dari semua ini. Atau dari dirinya.
Rangga Wesi mengerutkan kening. “Baginda tidak menyebut jalan kedua tadi.”
“Aku ingin tahu apa yang akan dikatakan orang ini lebih dulu,” jawab Brawijaya. “Dan aku sudah mendengarnya.” Ia menegakkan badan. “Dengarkan putusanku. Pemuda ini tidak akan menempati ruang tahanan. Ia ditempatkan di Paviliun Teratai, di bawah pengawasan tamu kita dan Senapati Rangga Wesi. Ia tidak boleh meninggalkan istana. Sumpahnya belum diterima, sampai nasib teman-temannya yang hilang diselidiki, yaitu Ragil, Tika, dan Gilang.”
Zaki mengangkat kepala dengan tajam. “Tika dan Gilang hilang juga? Dan Ragil—”
“Segala sesuatu pada waktunya,” potong raja itu, tetapi tidak dengan kasar. “Kau akan diberi tahu apa yang aku tahu setelah ini. Jangan kau kira aku orang yang menyimpan kabar demi menghukum.”
Indri menunduk dalam-dalam sampai ujung kepangnya hampir menyentuh bahu. “Terima kasih, Baginda.”
***
Di lorong samping balairung, cahaya matahari yang masuk lewat kisi-kisi kayu membentuk garis-garis di lantai. Laras sudah menunggu di ujung dengan kepala menunduk, lalu mendekat dan berbisik bahwa Paviliun Teratai sudah dirapikan sejak subuh, seolah ia tahu keputusan raja sebelum diucapkan. Indri hanya sempat mengangguk. Arjuna menunggu dengan kedua tangan di punggung. Indri menghampirinya dengan langkah yang masih agak limbung. Kebaya hijau itu berat, atau mungkin hanya kakinya yang berat.
“Kamu marah?” tanya Indri.
“Aku takut.” Arjuna mengakuinya begitu saja. “Kau baru sehari di sini dan sudah mempertaruhkan kata-katamu untuk seorang pemuda yang baru kau temui lagi hari ini. Kalau dia berbuat salah, kau yang menanggung.”
“Dia nggak akan berbuat salah.”
“Aku tidak meragukanmu. Aku meragukan semua yang tidak kau ketahui tentang tempat ini.” Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. “Tapi kau benar. Ayahanda akan menghormati orang yang berani bicara. Dan aku ... aku juga.”
Pintu balairung terbuka. Dua prajurit keluar membawa Zaki, dengan Rangga Wesi berjalan di belakang. Ikatan di tangannya sudah dilepas, dan kedua pergelangannya merah. Ia melangkah pelan dan berhenti tepat ketika sampai di hadapan Indri. Mata elangnya menelusuri wajah gadis itu, lalu bergeser ke Arjuna, tinggal lebih lama di sana.
“Kak Zaki,” bisik Indri.
“Kamu nggak apa-apa?” tanya Zaki, dengan suara yang pecah di tengah.
“Aku nggak apa-apa. Kamu?”
“Aku ... nanti.” Rangga Wesi mendorong bahunya pelan agar berjalan, dan Zaki menurut selangkah. Lalu ia menoleh lagi, sorot matanya sungguh-sungguh. “Ndri. Aku harus bicara denganmu, berdua saja.”