Pagi datang tanpa ayam berkokok. Hanya cahaya pucat yang merayap lewat tirai paviliun dan bunyi kain digosok di rambut Indri. Laras berdiri di belakangnya, menyisir rambut gelombang itu dengan gerakan hati-hati, lalu menggulungnya menjadi kepang rapi dengan jepit baru.
“Mbak Laras, aku boleh pakai kebaya yang kemarin aja?” tanya Indri.
“Baginda menitahkan Den Ayu mengenakan yang ini.” Laras mengulurkan kebaya berwarna hijau tua, kainnya bersulam benang perak halus. “Hamba rasa warnanya cocok untuk sidang.”
“Kalau aku jatuh pas jalan masuk, kebaya semahal ini bakal sobek.”
Laras tidak menjawab, tetapi sudut bibirnya bergerak sebentar. Indri baru tahu dayang itu ternyata bisa hampir tersenyum.
Sepanjang sisa malam, ia menyusun kalimat di kepala. Ada yang pendek, ada yang panjang, ada yang berupa permohonan dan ada yang berupa omelan. Tak satu pun cocok. Ia masih hapal betul cara Zaki membagi tugas di sekret dengan tiga kalimat singkat, dan cara Zaki berdiri paling belakang saat rombongan menyeberang sungai, memastikan semua lewat lebih dulu. Orang seperti itu pasti sudah bertanya soal anak buahnya sejak pertama kali dibawa ke sini. Indri hanya berharap ia belum telanjur mengatakan sesuatu yang membuatnya makin sulit.
Ia melangkah keluar dan menemukan Arjuna menunggu di serambi, sudah mengenakan jubah hitam dengan udeng merah tua yang dirapikan. Matanya cokelat terang, sedikit lebih redup dari biasanya. Ia mengangguk singkat.
“Kau tidak tidur.”
“Kamu juga.” Indri menelan ludah. “Dia benar-benar Kak Zaki, kan?”
“Kau akan tahu sendiri sebentar lagi.” Arjuna menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan. “Apa pun yang terjadi di dalam, jangan menyela sebelum Ayahanda memberi tanda. Ruang itu punya hukumnya sendiri.”
“Kalau hukumnya jahat?”
“Maka kau akan melihat sendiri apakah Ayahandaku orang yang mau mendengar.” Ia berbalik. “Ayo.”
***
Balairung pagi hari lebih dingin daripada kemarin. Sinar matahari masuk dari celah-celah kubah, jatuh di lantai dalam batang-batang emas pucat. Para pembesar sudah berbaris di sisi ruangan. Indri berdiri di salah satu sisi, bersama seorang dayang di sebelah kiri, sementara Arjuna duduk satu undak di bawah singgasana. Brawijaya sudah berada di tempatnya. Pakaiannya lebih sederhana daripada kemarin, seperti seseorang yang tidak ingin pakaiannya mengganggu perkara.
Rangga Wesi maju dan memberi hormat. Suaranya bergema di seluruh ruangan.
“Daulat, Baginda. Hamba menghadapkan seorang pelanggar batas yang tertangkap dua malam lalu menjelang fajar di tepi Ranu Tompe. Ia melewati papan peringatan dan tidak menjawab pertanyaan penjaga mengenai siapa yang menyuruhnya.”
“Bawa masuk.”
Pintu jati merah di ujung ruangan terbuka. Dua prajurit masuk, dan di antara mereka berjalan seorang pemuda dengan tangan terikat tali ijuk di depan perut. Jaket gunungnya kotor penuh bercak lumpur, rambut gondrongnya kusut, dan janggut tipis sudah tumbuh di rahangnya. Tetapi alisnya tebal dan matanya, mata elang yang biasa membuat anggota Mapala menunduk saat dimarahi, tetap tajam.
Dada Indri seperti diremas dari dalam. Hidup. Kak Zaki hidup. Ia sampai harus menggigit lidah supaya tidak berlari.
Jadi tadi di jalan itu bukan halusinasi, pikir Zaki. Ia sempat melihat gadis berkebaya berjalan di sisi seorang pria tinggi dari dalam kereta tawanan, dan ia sudah berhasil meyakinkan diri bahwa itu cuma pantulan akibat dua malam tanpa tidur. Ternyata matanya benar. Rasa lega dan rasa takut menghantam sekaligus, dan ia tidak tahu mana yang lebih besar.
Zaki memperhatikan ruangan dengan sorot waspada. Ia melihat para pembesar, singgasana, Arjuna di undaknya. Lalu pandangannya jatuh ke sisi kiri, pada seorang gadis berkebaya hijau tua dengan rambut dikepang dan jepit di kepala. Langkahnya berhenti begitu saja. Prajurit di belakangnya hampir menabrak punggungnya.
“Ndri?”
Suaranya parau, setengah tidak percaya. Seluruh balairung hening.
“Diam!” bentak Rangga Wesi. “Kau berbicara bila Baginda bertanya!”
Zaki tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada Indri, mulai dari kepangnya, kebayanya, sampai tangannya yang saling meremas di depan perut. Di undak bawah singgasana, Arjuna menegakkan punggung. Pandangannya berpindah dari Zaki ke Indri, lalu kembali lagi, dan ada sesuatu yang mengencang di rahangnya. Ia tidak berkata apa-apa. Wajah Zaki memperlihatkan lima macam perasaan sekaligus dan semuanya berebut keluar. Indri menggeleng kecil. Jangan sekarang, kata matanya, dan Zaki menurut. Ia menunduk sedikit, lalu menghadap singgasana.
“Siapa namamu?” tanya Brawijaya.
“Zaki Raditya, Baginda. Ketua tim pendakian dari Jakarta.” Nadanya berubah resmi dan terkendali. Indri mengenal nada itu. Itu nada yang dipakai Zaki saat berhadapan dengan petugas taman nasional.
“Mengapa kau melanggar batas negeriku?”
“Saya mencari teman-teman saya. Satu dari kami hilang di hutan dekat danau itu, dan sudah dua malam saya tidak melihatnya.” Zaki menarik napas. “Saya melihat papan peringatan. Saya tetap masuk. Itu salah saya dan saya tidak akan membantahnya.”
“Papan itu jelas melarang.”
“Jelas, Baginda.”
“Dan kau tetap melangkah.”
“Saya tidak punya alasan yang lebih baik daripada ini: saya ketua tim, dan orang-orang yang saya bawa tidak ada yang pulang.” Ia menatap lurus ke mata raja. “Hukum saya sesuai aturan kalian. Tetapi saya minta satu hal sebelum itu. Beri tahu saya apakah mereka masih hidup.”
Beberapa pembesar bergerak resah. Seorang bapak berjubah abu-abu berbisik kepada kawannya di sebelah dengan nada kaget, dan dari bibirnya terbaca satu kata: berani. Tak ada yang pernah meminta hal semacam itu di ruangan ini. Rangga Wesi mengerutkan kening, hendak menegur, tetapi Brawijaya mengangkat tangan kecil.
“Aku tidak akan menjawab pertanyaan itu sebelum perkaramu selesai.” Raja itu berdiri perlahan. “Dengarkan hukum negeri ini. Siapa pun yang melanggar batas, tidak boleh kembali. Itu sudah ada sejak aku menyegel negeri ini. Ada satu jalan keluar dari hukum itu, dan hanya satu.”
“Apa itu?”
“Menjadi juru kunci pintu. Seorang kakek tua pernah masuk ke negeri ini untuk mencari tanaman obat bagi anaknya yang sakit. Ia melanggar batas sepertimu. Aku membebaskannya dengan satu syarat: ia menjaga pintu itu sampai ia mati. Kau boleh mengikuti jalannya.”
Indri menahan napas. Menjaga pintu sampai mati. Zaki tidak mungkin menerimanya.
Zaki menggeleng pelan. “Maaf, Baginda. Saya tidak akan menjadi apa pun.”
“Kau menolak?”
“Sebelum teman-teman saya selamat, saya tidak akan menjadi apa pun. Penjaga pintu atau tahanan atau tawanan.” Ia mengangkat tangan terikatnya sedikit. “Kalau Baginda mau menahan saya, silakan. Tapi jangan suruh saya memilih sementara mereka masih entah di mana.”
Rangga Wesi menyela dengan nada dingin. “Orang ini angkuh, Baginda. Dalam sejarah negeri ini, tak seorang pun pelanggar berani menyebut syarat. Biarlah ia ditahan di ruang batu sampai ia mau mengaku siapa yang menyuruhnya.”
“Tidak ada yang menyuruh saya,” balas Zaki tanpa menoleh. “Kalau Anda punya anak buah yang hilang di hutan, Anda juga akan melakukan hal yang sama.”
Rangga Wesi menegang, sebelah tangannya menyentuh gagang keris. Kali ini bukan karena marah, melainkan karena kalimat itu mengenai sesuatu yang tak mau ia akui.
Brawijaya memandang Zaki lama. Sepertinya ia hendak mengatakan sesuatu, tetapi suara lain lebih dulu menggaung di ruangan.
“Dia temanku.”
Semua kepala berputar. Indri sudah melangkah keluar dari barisan dayang, kedua tangannya mengepal di sisi kebaya hijaunya, dan ia tidak ingat kapan memutuskan untuk berdiri.