“Tolong! Penjaga! Ada orang di jendela!”
Baru sekarang suaranya keluar, dan ia mundur sampai punggungnya menempel di dinding. Pintu paviliun terbuka lebar sebelum ia selesai bernapas. Dua penjaga bertombak menyerbu masuk, disusul Arjuna yang hanya berhenti setengah detik untuk memastikan ia tidak terluka.
“Di mana?”
“Jendela kecil itu! Mukanya jelek, matanya kuning, bawa tombak! Dia senyum, Mas Juna! Dia senyum sama aku!”
Arjuna tidak bertanya lebih jauh. Ia melompati dipan, menyingkap tirai, dan meluncur keluar lewat jendela kecil itu seperti kucing. Dari kegelapan taman, terdengar bunyi daun terinjak dan umpatan pelan. Rangga Wesi muncul di pintu dengan keris setengah terhunus.
“Ke arah mana, Den Ayu?”
“Taman belakang! Tapi dia sudah hilang!”
“Dia tidak hilang. Dia lari,” kata Rangga Wesi. “Orang kerdil tak pernah hilang. Mereka hanya lebih cepat daripada yang mau mengejar.” Ia menunjuk dua penjaga. “Satu di jendela, satu di pintu. Jangan biarkan siapa pun mendekat sehelai bulu pun.” Lalu ia menyusul Arjuna sambil berlari.
Di taman, bayangan kecil melesat di antara semak laurel. Arjuna mengikuti tanpa mengeluarkan suara. Makhluk itu berbelok ke kanan, menyeberangi kolam dangkal yang menepikan bayangan bulan, lalu menyelinap ke arah bangunan rendah di ujung taman, dengan cerobong yang mengepulkan asap tipis. Dapur istana.
Mereka menendang pintu dapur hampir bersamaan. Panci-panci tembaga bergantung di dinding, bara masih merah di tungku, dan dari sebuah kuali besar mengepul uap kaldu yang membuat siapa pun lupa sedang mengejar apa. Di tengah ruangan, seorang perempuan berdiri kaku sambil memegang nampan berisi cangkir-cangkir kecil. Cangkir itu berdenting pelan satu sama lain karena tangan yang memegangnya gemetar.
“Laras?” Arjuna menahan langkah.
“Pangeran.” Laras menunduk. “Hamba hendak membawa wedang jahe untuk Den Ayu.”
“Kau melihat makhluk kecil lewat sini?”
“Hamba ... hamba hanya mendengar bunyi pintu, Pangeran. Hamba kira Pangeran sendiri.”
Rangga Wesi menyapu pandang seluruh dapur. Di dekat tungku, sebuah kuali kecil terguling dan jejak tanah basah menuju lubang saluran air di lantai. Lubang itu tak lebih lebar dari leher bejana. Ia berjongkok, mengendus, lalu berdiri dengan wajah keras.
“Mereka sudah lewat sini. Dari sini sampai ke selokan, lalu ke luar tembok.” Ia menoleh. “Nyai Laras, kapan kau terakhir di dapur?”
“Sejak senja, Gusti Rangga.”
“Dan tidak ada yang lewat?”
“Tidak ada.” Laras tetap menunduk. “Hanya bunyi pintu.”
Arjuna memperhatikan wajah dayang itu sesaat lebih lama dari yang perlu, lalu mengangguk. “Antarkan wedangnya. Rangga, tempatkan dua orang lagi di paviliun, dan satu di tiap sudut taman belakang. Mulai malam ini.”
Beberapa menit kemudian, Laras mengetuk pintu paviliun sambil membawa nampan. Indri, yang masih duduk di sudut ranjang dengan bantal di pelukan, menerima cangkir jahe itu dengan kedua tangan. Jari-jari si dayang dingin sekali, sedingin batu sungai.
“Mbak Laras nggak apa-apa? Mukanya pucat.”
“Hamba kaget mendengar jeritan Den Ayu.” Laras tidak mengangkat mata. “Silakan diminum selagi hangat.”
Indri meneguk sedikit. Rasanya pedas, manis, dan menenangkan. Kalau dayang ini ingin menyakitinya, pikirnya, ia tidak akan pernah memberikan jahe seenak ini.
***
“9 Mei 2016, 23.30 WIB”
Aroma kaldu bercampur kemenyan. Itu hal pertama yang sampai ke hidung Ragil ketika kesadarannya merangkak naik dari lumpur gelap yang panjang sekali. Perutnya langsung bunyi.
Ia mengerjap. Di atasnya, langit-langit berkilau seperti permukaan danau yang dilihat dari bawah. Gelembung-gelembung perak naik pelan dari lantai. Sebuah mangkuk hangat tahu-tahu sudah ada di tangannya.
“Sinta?” gumamnya. Ia ingat samar-samar gadis berkebaya kuning, senyum, tangan dingin yang menuntunnya masuk ke hutan. Setelah itu semuanya seperti film yang diputar dengan gula. “Ta, kok lo ... gue di mana?”
Tak ada jawaban. Di kiri dan kanannya berdiri deretan orang berpakaian putih, kepala tertunduk, mata kosong, bibir tersenyum seragam seperti boneka toko. Mereka bergerak pelan, membawa baki, kendi, kipas daun lontar. Pesta yang tidak pernah berhenti.
Dan di antara mereka, satu orang tidak tersenyum.
Seorang gadis pucat dengan rambut dikuncir asal-asalan berdiri di dekat tiang, memegang baki kosong. Matanya ketus, alisnya sedikit mengerut, bibirnya mengatup rapat. Ragil kenal betul wajah itu. Wajah yang pernah menjitaknya di stasiun karena ia salah menaruh tiket, yang pernah menyindirnya sampai satu bus tertawa.
“No?” bisik Ragil. “Lo ngapain di sini?”
Ragil mencoba berdiri, tetapi kakinya seperti terbuat dari agar-agar. Gadis itu menoleh sekilas ke arah singgasana yang jauh di belakang, lalu kembali menatapnya. Dengan gerakan hampir tak terlihat, ia mendekat satu langkah, seolah baki di tangannya perlu dibetulkan.
“Jangan telan apa pun dari tangan dia, Gil,” bisiknya, nyaris tanpa gerak bibir. “Apa pun. Kuahnya sekalipun. Denger gue, ya? Sekali ini aja jangan lo bantah.”
“Hah? Dia siapa? No, ini gue—”
Suara seperti genta kecil memotong dari belakang. “Kak Ragil, kenapa diam saja? Sayang, kan, kalau dingin.” Seorang perempuan berkebaya kuning muncul di sisinya, senyumnya manis, wajahnya wajah Sinta yang ia kenal. Tangannya yang dingin menyentuh pergelangan Ragil. “Minum dulu, ya.”
Mangkuk di tangan Ragil menghangat. Matanya mulai berat. Kabut manis kembali menutup di kepalanya seperti selimut. Di antara sela terakhir kesadaran, ia melihat gadis pucat itu menunduk dan mundur ke deretan putih, tanpa menoleh lagi.
Mangkuk itu masih utuh di tangannya. Belum setetes pun ia teguk.
***
Indri tak bisa tidur. Ia keluar ke serambi paviliun dengan selimut tipis di bahu dan duduk memeluk lutut di bangku kayu. Dari sana, awan di bawah istana tampak seperti samudra yang disinari bulan separuh. Di ujung serambi, Arjuna bersandar di tiang. Jaraknya sepuluh langkah, cukup jauh supaya tak mengganggu, cukup dekat supaya bisa berlari bila perlu.
“Kamu nggak tidur?” tanya Indri akhirnya. Suaranya terdengar seperti orang yang sudah menangis habis-habisan, dan ia sadar itu memang benar.
“Aku sudah berjanji pada Ayahanda untuk menjagamu.”
“Maksudku, kamu kan juga capek.”
“Aku tidak kelihatan lelah, ya?” Ada sedikit senyum dalam suaranya. “Itu salah satu keuntungan tidak menua.”
Indri menyandarkan dagu di lututnya. Pertanyaan itu sudah ia simpan sejak siang, dan kini keluar sendiri. “Mas Juna. Ibumu ... ada di istana ini juga?”
Hening beberapa detik. Dari jauh terdengar suara hewan malam yang tak ia kenal.
“Ibuku sudah lama tiada,” kata Arjuna.
Mata Indri otomatis menuju ke arah gelap di balik pagar serambi, tempat sepasang mata kuning tadi menghilang. “Mereka bakal balik lagi, ya?”
“Mungkin. Tapi bukan malam ini. Penjaga sudah berlipat, dan Jaga sendiri berjaga di atas atap.” Arjuna melirik ke atas, dan Indri ikut mendongak. Di bubungan, seekor ular hitam sebesar lengan melingkar tenang, lidahnya menjulur sekali, lalu masuk kembali.
“Itu Mas Jaga?”
“Ia lebih suka dikira ular daripada dikira peronda.”
Indri ingin minta maaf, tetapi tidak jadi. Nada suara Arjuna tidak minta dikasihani. Ia hanya mengatakannya, datar, lalu diam.
“Kita bicara soal itu lain waktu,” lanjut pangeran itu pelan. “Tidurlah, Ndri. Besok pagi kau akan berdiri di balairung dan melihat wajah yang kau kenal. Siapkan hatimu.”