Diam itu bertahan lama. Sampai gong kecil di kejauhan berbunyi lagi, dan satu lampu minyak di selasar meletup kecil, Indri akhirnya bicara.
“Kamu sudah tahu.”
Arjuna tidak menoleh. “Sejak semalam.”
“Mas Jaga tahu. Kamu tahu. Ayahmu yang raja itu pasti juga tahu.” Suara Indri bergetar, tetapi kali ini bukan karena sedih. “Kalian semua tahu, dan tidak ada yang bilang. Aku tanya Mbak Laras dua kali, dia cuma nunduk. Aku jalan sama kamu seharian, ketawa gara-gara kuda, makan buah beri, pilih kebaya di pasar, dan kamu tahu teman seniorku sudah meninggal.”
Arjuna menunduk. “Ya. Aku tahu, dan aku memilih diam.”
“Kenapa?”
“Karena kau baru saja kehilangan tempat berpijak. Aku pikir satu kabar lagi akan menjatuhkanmu sebelum kau berdiri.” Ia menarik napas. “Itu bukan pilihan yang bisa kuhargai sekarang. Kau berhak tahu, dan aku mencuri hak itu darimu.”
Indri mengepalkan tangan di atas lutut. Ia ingin terus marah, tetapi laki-laki di sebelahnya tidak membela diri sedikit pun. Marahnya kehilangan pegangan.
“Besok,” kata Arjuna pelan. “Setelah sidang, aku akan membawamu menemui Zaki. Aku juga akan mencari tahu soal Ragil, dan soal Tika dan Gilang kalau Jaga menemukan jejak mereka. Aku tidak akan menyembunyikan apa pun lagi yang menyangkut teman-temanmu. Itu janjiku.”
“Janji lagi.”
“Janji yang kali ini kutepati.”
“Kamu tahu dari mana?” Indri masih belum rela membiarkannya pergi tanpa jawaban. “Soal Mbak Retno. Siapa yang bilang?”
“Jaga. Ia melihat sendiri dari batas ceruk waktu hujan. Aku sendiri tidak melihat jenazahnya, Ndri. Hanya mendengar.” Arjuna mengangkat wajah. “Yang kulihat adalah dirimu, berlari menembus hujan sambil menutup telinga. Aku mengerti kenapa kau berlari. Sejak itu aku berharap kau tidak perlu mendengarnya dua kali.”
Indri tak bisa menjawab. Ia memalingkan wajah ke jendela, dan kalimat itu menusuk lebih dalam daripada semua yang ingin ia katakan. Ia memang berlari. Ia memang menutup telinga.
Arjuna berdiri, menunggu sebentar kalau-kalau Indri hendak mencegah, lalu keluar. Pintu paviliun menutup tanpa suara.
***
“9 Mei 2016, 09.40 WIB”
Lima pendaki dari mapala lain menemukan tenda itu pagi berkabut di Kalimati. Resletingnya setengah terbuka, dan dari dalam terdengar suara orang yang menggigil sambil menyebut nama berulang-ulang.
“Mbak Retno. Mbak Retno. Tolong.”
Anto meringkuk di sudut dengan kaki terbungkus kain yang dibebat seadanya. Pipi tembamnya pucat. Hidung dan ujung jarinya merah karena dingin, dan di sampingnya ada bungkus mi instan yang tak sempat dimasak. Seorang pendaki berjaket oranye berlutut di sisinya. “Tenang, Dek. Kami dari tim lain. Ada yang terluka? Siapa saja yang bersamamu?”
“Kami ... kami cuma mau buang air, Mas.” Anto terengah. Ia mencengkeram lengan jaket si pendaki seakan takut ditinggal. “Jauhnya gak seberapa dari tenda. Mbak Retno masih ngomel gara-gara aku lama banget milih tempat.”
Ia menelan ludah. “Mbak Retno sama aku. Terus ... ada bayangan pendek, banyak, bawa tombak. Kecil-kecil. Mereka dorong kami. Tanah di bawah kami runtuh. Aku jatuh, Mbak Retno jatuh, terus ...” Ia menggeleng keras. “Kak Zaki turun ngecek. Mbak Retno udah gak ada.”
Si jaket oranye memberi isyarat. Dua orang menuruni ceruk dengan tali, lalu naik lagi dengan wajah membeku. Retno ditemukan dalam posisi tangan bersedekap di dada, rapi, seolah seseorang sudah merawatnya sebelum pergi. Tak seorang pun berkata-kata sambil mengangkatnya. Kabut menggantung rendah di mulut ceruk, dan salah satu pendaki yang paling muda diam-diam menyeka matanya dengan lengan jaket sebelum yang lain melihat. Dari dalam tenda, Anto memanggil lagi, kali ini sangat pelan, seperti anak kecil yang tahu tak akan ada yang menjawab.
***
“9 Mei 2016, 12.10 WIB”
Sinta tiba di pos Ranu Pani nyaris merangkak. Sudah sejak Ranu Kumbolo ia dan Tanto turun menembus embun, dan sekarang bahunya bergetar tiap kali berusaha bicara.
“Kami butuh tim penolong sekarang juga, Pak,” kata Tanto kepada petugas yang bergegas keluar. “Rombongan kami tercerai-berai di Kalimati. Ada yang meninggal. Ada yang hilang. Demi keselamatan kita bersama, tolong jangan menunggu lagi.”
Sinta menutup mulut dengan dua tangan, mencoba menahan isak yang terus lolos. Ia tidak berhenti mengulang satu kalimat, “Mbak Retno masih di bawah sana”, sampai seorang petugas perempuan menyelimutinya dan memaksanya minum teh manis. Tanto berdiri di sisinya, tegap, tetapi rahangnya mengeras dan kedua tangannya berlumpur sampai siku.
“Siapa yang meninggal, Mas?” tanya petugas itu hati-hati.
“Senior kami. Namanya Retno. Dia ...” Tanto menelan ludah. “Kami meninggalkannya di ceruk karena harus mencari bantuan. Tolong kirim orang ke Kalimati sekarang.”
Petugas mencatat di buku besar. Nama Sinta ia tulis paling atas, dengan keterangan selamat. Di bawahnya tujuh baris kosong. Ia belum tahu bahwa seorang bocah gempal bernama Anto sedang dipapah para pendaki menuju jalur turun dan belum sampai ke pos. Begitu pula tak seorang pun tahu bahwa di antara tujuh baris itu, ada satu yang berada di tempat yang tak ada di peta.
Di Jakarta, di sebuah kafe yang bel pintunya berdenting, televisi sudah menyiarkan berita siang. Seorang pemuda bernama Oni berlari keluar dari sana tanpa menunggu pesanannya.
***
Malam sudah turun penuh ketika Indri kembali memperhatikan kamar. Lampu minyak sudah dinyalakan Laras sebelum pamit, dan dua dari tiga jendela ditutup tirai. Jendela ketiga, yang kecil, menghadap ke taman belakang, dibiarkan terbuka sedikit untuk angin.
Indri duduk di tepi dipan sambil memeluk bantal. Ia tidak makan. Ia tidak tidur. Ia hanya memikirkan Anto, yang harus menyaksikan semuanya, dan Zaki, yang harus menyentuh tubuh yang sudah dingin itu. Ia bertanya-tanya apakah di dunia mana pun, pada jam seperti ini, mereka sedang membicarakan namanya juga. Ia teringat sarung tangan Zaki yang masih terselip di ikat pinggangnya, kasar dan hangat oleh tubuhnya sendiri. Ia menyentuhnya sekali, lalu menarik tangannya kembali, takut benda itu ikut hilang bila terlalu lama dipegang.
Krosak.
Ia mengangkat kepala. Bunyi dedaunan dari balik jendela kecil. Terlalu kecil untuk angin, terlalu pelan untuk binatang besar. Krosak lagi. Tirai bergerak sedikit.
Indri menoleh pelan-pelan. Di celah jendela, sepasang mata kecil berwarna kuning menatap balik padanya. Wajah itu pendek, gempal, buruk rupa, dengan kulit seperti kulit pohon tua, dan di bawah dagunya ada ujung tombak yang berkilat oleh cahaya lampu.
Indri mengenalinya. Makhluk seperti ini yang menggiringnya ke tepi jurang malam itu, yang dulu ia kira bayangan anak-anak berlari di antara tenda di Kalimati. Bau tanah basah dan daun busuk menyeruak masuk lewat celah jendela, mengalahkan wangi pandan dari kendi.
Mata mereka bertemu. Bibir makhluk itu terbuka, memperlihatkan deretan gigi kecil runcing, seolah tersenyum.
“AAAAAAAH!”
Bantal terlepas dari pelukannya. Sosok di jendela melesat mundur, dan dalam sekejap hanya tirai kosong yang berayun pelan di depan malam. Lampu minyak bergoyang. Indri berdiri membeku dengan dada naik turun, dan baru sesudah dua kali menarik napas ia sadar bahwa di luar, entah di mana, sudah ada langkah-langkah yang berlari ke arah paviliun.