Indri menatap pria bersuling itu lama-lama. Rasanya ada sesuatu di wajahnya yang sudah pernah ia lihat, tetapi tidak di mana pun yang masuk akal.
“Kamu siapa?” tanyanya. “Maksudku, Anda. Eh, Mas.”
“Aku Jaga.” Pria itu memutar seruling di jarinya. “Kalau kau mau, aku bisa mengulang dengan cara yang lebih akrab.” Ia mengatupkan bibir dan menghembuskan napas panjang melalui sela giginya. “Shhhh ....”
Indri melompat mundur setengah langkah. Punggungnya menabrak Laras, yang langsung menunduk sambil meminta maaf berkali-kali.
“Itu kamu! Yang di Watu Rejeng! Yang di Kalimati! Yang tiap aku jalan sendirian bunyi di belakang telingaku!” Suara Indri naik tinggi. “Aku kira itu ular! Aku kira itu setan! Aku tiga hari nggak bisa tidur nyenyak gara-gara Shhhh itu!”
“Aku memang kadang berwujud ular, jadi tebakanmu setengah benar.” Jaga tertawa kecil, tetapi tawanya cepat surut. “Maaf, Indri. Aku tak punya cara lain untuk menjagamu. Kalau aku muncul dalam wujud orang, kau akan lari lebih cepat dari kerdil mana pun. Dengan desis, setidaknya yang mendekat tahu mereka sedang diawasi.”
Indri membuka mulut, menutupnya, lalu membukanya lagi. Setiap kali ia marah, selalu ada alasan yang membuat marahnya tidak jadi.
“Terima kasih, Mas Jaga,” katanya akhirnya. Ia sendiri heran mengapa suaranya serak. “Tapi kenapa aku harus diawasi? Dan Mas ini sebenarnya apa? Orang? Hantu? Bukan, hantu nggak bawa seruling.”
“Aku menjaga Semeru bersama seorang kawan lama bernama Cipta. Kami bukan hantu dan bukan manusia, jadi kau boleh memilih sebutan yang paling nyaman.” Jaga mengangkat bahu. “Orang di sini memanggilku Gusti. Aku tidak suka. Terlalu berat untuk disandang orang yang suka tidur di batang pohon.”
Untuk sesaat Indri hampir tertawa. Hampir.
“Nyai Laras, cukup. Aku sendiri yang mengantar tamu ini ke paviliunnya,” kata Jaga. Laras menunduk lalu menyingkir, berjalan ke depan sejauh sepuluh langkah. Dari caranya menjaga jarak, Indri tahu dayang itu sengaja tidak mau mendengar.
Mereka berjalan berdampingan menyusuri selasar yang mulai berpendar oleh lampu-lampu minyak. Dayang-dayang lain menyingkir begitu melihat Jaga, dan Indri menangkap pandangan mereka yang terbelah antara takut dan segan. Jaga tidak bicara lagi. Hanya seruling di tangannya yang sesekali diketuk-ketukkan ke telapak tangan, pelan, seperti hitungan mundur.
***
Senja turun lebih awal di tempat setinggi itu. Dari jendela Paviliun Kemuning, lautan awan berubah dari putih menjadi jingga, lalu ungu pucat. Nampan makan sore sudah dingin di atas meja. Nasi, sayur bening, dan sepotong ikan bakar yang baunya sedap, tetapi Indri hanya memandanginya. Setiap kali sendok itu terangkat, perutnya menolak.
Jaga duduk bersila di lantai, bersandar di tiang. Ia sudah di sana sejak Indri dibawa ke paviliun, dan sampai sekarang tidak ada yang berani menyuruhnya keluar.
“Makanlah barang sesuap,” katanya.
“Nggak bisa.” Indri menaruh sendoknya. “Mas Jaga, boleh aku tanya sesuatu? Semua yang kutanya tadi, orang-orang cuma menunduk. Mas kan bukan dayang.”
“Aku bukan dayang.”
“Teman-temanku. Siapa saja yang masih hidup?”
Jaga diam sejenak, lalu mengangkat satu per satu jarinya. “Anto selamat. Dia ditemukan pendaki lain di tenda, kakinya terkilir tetapi dia bernapas dan bicara. Tanto dan gadis berambut sebahu itu, Sinta, sudah sampai di pos. Mereka sehat. Tika dan Gilang belum jelas. Tadi pagi mereka dikejar macan tutul, dan sesudah itu aku kehilangan jejak mereka di kabut. Aku tidak mau mengarang.”
“Ragil?”
“Ragil dibawa Putri Jene dari Ranu Kumbolo. Dia hidup. Itu sebabnya Cipta gelisah.”
“Dan Kak Zaki ada di bawah sini, ditahan.”
“Di sebuah ruang batu di sisi barat. Bukan penjara yang buruk. Dia sudah makan dua kali.”
Indri mengangguk pelan. Empat jari sudah dihitung. Ada satu nama yang belum disebut, dan selama sehari penuh ia menunggu seseorang menyebutnya. Tidak ada yang berani menyebutnya.
“Mas Jaga.” Suaranya sangat kecil. “Mbak Retno ... benar-benar sudah tidak ada?”
Seruling di tangan Jaga berhenti berputar.
“Aku mendengar Anto bilang begitu waktu itu,” lanjut Indri cepat, seakan ingin menjelaskan dulu sebelum jawabannya datang. “Tapi Anto kan panik. Anto itu orangnya gampang takut. Aku nggak lihat sendiri. Mbak Retno itu galak, Mas. Orang galak biasanya nggak gampang mati. Waktu di Ranu Kumbolo dia pernah pura-pura menjerit supaya kami semua loncat dari tenda, terus ketawa sampai nangis. Dia ... dia bukan orang yang bisa hilang begitu saja.”
Jaga menunduk. Bunga putih di rambutnya bergoyang. Ia menyimpan seruling itu di pangkuan, dengan kedua tangan, seperti orang yang hendak berdoa.
“Maafkan aku, Indri,” katanya. “Aku melihatnya sendiri. Retno sudah tidak bernapas. Anto tidak keliru.”
Rasanya tidak ada suara apa pun di ruangan itu. Bahkan angin pun berhenti. Indri menatap Jaga, menatap nampan, menatap tangannya sendiri yang tiba-tiba tak terasa seperti miliknya. Ia sudah tahu. Sejak Anto berkata begitu, sejak ia lari dikejar kerdil sambil berpura-pura tidak mendengar, ia sudah tahu. Tetapi mendengar seseorang yang tidak punya alasan berbohong membenarkannya terasa seperti lantai yang ditarik dari bawah kaki.
Ia teringat tangan Retno yang selalu menepuk bahunya terlalu keras, dan suara ketus yang berkata, “Dri, kamu jalan kayak nenek-nenek, cepetan dikit, nanti ketinggalan rombongan.” Padahal waktu itu Retno sendiri yang menunggunya di tanjakan, pura-pura mengatur tali sepatu supaya Indri tak merasa jadi beban. Ia tak pernah sempat berterima kasih.
Ia tidak menjerit. Ia hanya meluncur turun dari dipan hingga duduk di lantai, memeluk lutut, dan wajahnya basah sebelum ia sadar sudah menangis. Bahunya bergetar tanpa bunyi. Jaga tidak mendekat dan tidak berkata apa-apa lagi. Ia hanya meniup serulingnya sekali, lirih, satu nada panjang yang bergetar di antara tiang-tiang, dan nada itu menemani tangis Indri sampai langit di luar gelap.
Entah berapa lama kemudian, bayangan seseorang jatuh di lantai. Arjuna berdiri di ambang pintu. Ia tidak masuk. Udeng merahnya sudah dilepas, rambut ikalnya jatuh ke dahi, dan matanya langsung tertuju pada Indri yang masih meringkuk di lantai. Jaga menoleh sekilas, mengangguk kecil kepadanya, lalu berdiri dan keluar tanpa suara.
“Indri.” Arjuna tidak melangkah satu inci pun. “Boleh aku duduk di dekatmu?”
Indri mengusap pipinya dengan punggung tangan. Mengangguk.
Arjuna masuk dan duduk di lantai, berjarak satu lengan darinya. Pangeran yang pagi tadi menyibak kabut dengan satu jari itu sekarang duduk kaku seperti murid yang dihukum di depan kelas. Ia lama menatap lantai. Lalu, dengan suara yang hampir tak terdengar, “Boleh kupegang tanganmu?”
“Tidak.”
Arjuna menarik tangannya yang sudah setengah terulur. Ia tidak membantah, tidak menjelaskan, tidak bertanya kenapa. Kedua tangannya kembali ke pangkuan dan ia duduk diam, menatap lurus ke depan. Dari jendela, cahaya terakhir senja memerah di wajahnya.
Hening kembali jatuh. Dari kejauhan terdengar bunyi gong kecil dipukul tiga kali, dan satu per satu lampu minyak di selasar dinyalakan oleh tangan yang tidak terlihat. Arjuna tidak bergerak. Ia memilih diam.
Indri memandangnya lama. Ada sesuatu yang aneh. Ia ingin laki-laki itu pergi, dan ia ingin laki-laki itu tetap di sini, dua-duanya sekaligus.
“Jangan bilang apa-apa,” katanya.