Arjuna berhenti di ambang pintu paviliun dengan napas yang sedikit memburu. Rambut ikalnya berantakan, dan udeng merahnya miring, seolah ia berlari sepanjang selasar.
“Tahanan itu temanku, kan?” tanya Indri tanpa basa-basi. Ia sudah berdiri sejak tadi, tangan terlipat di depan dada.
Arjuna melirik Laras. Si dayang langsung menunduk dan mundur dua langkah ke sudut ruangan, menjadi bagian dari dinding. Lalu pangeran itu menatap Indri lagi.
“Seorang pemuda dari rombonganmu, ya,” katanya pelan. “Aku tidak akan berbohong soal itu.”
“Kak Zaki.”
“Aku tidak tahu namanya.”
“Ciri-cirinya sudah kusebut pada Mbak Laras tadi.”
“Kalau begitu, ya.” Arjuna tidak mengalihkan pandang. “Dia ditangkap di Ranu Tompe saat mencoba memasuki wilayah kami. Dia sehat, Ndri. Tidak ada yang melukainya.”
“Aku mau lihat dia sekarang.”
“Kau akan melihatnya, tetapi bukan hari ini.”
“Kenapa?”
“Karena Ayahanda ingin bertemu denganmu lebih dulu. Dan karena kalau kau melihat Zaki sekarang, kau tidak akan mau mendengarkan satu kata pun lagi dari siapa pun di istana ini.” Ia menarik napas. “Aku tahu rasanya. Aku sudah memperhatikan wajahmu sepanjang jalan.”
Indri ingin membantah, tetapi kalimat itu benar, dan itu membuatnya lebih kesal lagi. Sejak tadi, sesudah mendengar nama Ranu Tompe, ia memang membayangkan Zaki di dalam kereta tawanan yang sempat ia lihat sekelebat di setapak. Kereta itu kosong dalam ingatannya, atau ia sengaja tidak mau melihat isinya. Sekarang semua gambar itu menumpuk di dadanya sekaligus. Ia menghela napas keras-keras, lalu mengibaskan ujung kainnya. “Baik. Tapi kamu janji ya, aku boleh ketemu dia.”
“Aku janji.”
“Ayo. Ayahanda tidak suka menunggu, dan aku tidak suka melihat Ayahanda menunggu.” Arjuna mundur setengah langkah dan memberi jalan, tangannya tetap di sisi tubuh. Indri memperhatikan itu. Biasanya laki-laki itu langsung menarik lengannya, dan kali ini ia hanya berdiri di sana sampai Indri melangkah lebih dulu.
***
Balairung itu jauh lebih besar dari yang ia bayangkan. Atapnya berkubah, dan di bawah kubah itu ukiran emas berpadu dengan batu biru yang menyala redup seperti air di dasar sumur. Pintunya dari kayu jati merah setebal telapak tangan, dan lantainya mengilap sampai Indri bisa melihat bayangan dirinya sendiri, kikuk, dengan kebaya yang terlalu bagus untuk gadis yang semalam tidur di gua. Di kiri dan kanan ruangan berdiri para pembesar dengan jubah gelap dan keris panjang, jumlahnya belasan, semuanya diam seperti patung yang kebetulan bernapas. Tak seorang pun menoleh ke arah Indri, tetapi ia tahu semua mata sedang mengukurnya dari ujung kaki sampai jepit rambut. Di undak tertinggi berdiri singgasana dari kayu jati. Seorang pria duduk di atasnya.
Prabu Brawijaya tidak seperti raja dalam bayangan Indri. Janggutnya panjang dan sebagian sudah memutih, tetapi wajahnya tampan dan bersahaja, dan pakaiannya hanya kain putih gading tanpa perhiasan besar. Satu-satunya yang menandakan kedudukannya adalah mahkota emas kecil di atas rambutnya, dan tatapan yang membuat semua orang di ruangan itu berhenti bernapas.
“Hormat, Den Ayu,” bisik Laras dari belakang. “Sebut ‘Baginda’.”
Indri membungkuk terlalu dalam. Ujung kainnya menyangkut tumit, dan ia nyaris terjerembap ke depan sebelum Arjuna bergerak sedikit, lalu berhenti, tangannya terhenti di udara. Ia tidak menyentuh. Indri menegakkan badan sendiri dengan wajah panas.
“Hamba ... maksudnya saya ... menghadap Baginda.”
Brawijaya tidak menjawab. Ia memandangnya lama sekali, begitu lama sampai gema langkah Indri sendiri seolah sudah habis menggaung dari dinding. Sorot matanya tidak seperti lelaki yang melihat perempuan muda. Itu sorot orang yang menatap makam lama yang tiba-tiba mekar bunganya. Bibirnya bergerak.
“Amarawati,” gumamnya. Suaranya nyaris tak terdengar. Indri tidak yakin ia mendengarnya, tetapi Arjuna menunduk, dan para dayang di belakang mereka mendadak sibuk menatap lantai.
Lalu raja itu mengerjapkan mata, dan sosok yang sempat luruh itu menegak kembali. “Maafkan aku, Nak. Mataku sudah tua. Mendekatlah.”
Indri maju tiga langkah dan berhenti.
“Namamu Indri.”
“Ya, Baginda.”
“Dengarkan aku baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali dengan terang. Kau di sini sebagai tamu, bukan tawanan. Tidak ada yang akan mengikatmu, mengunci pintumu, atau memaksamu menjawab apa pun. Bila kau ingin pergi, pergilah lewat Cemoro Kembar, dan tak ada seorang pun di negeri ini yang akan menahanmu. Cukup katakan ‘tidak’.”
“Tidak untuk apa, Baginda?”
“Untuk apa yang akan ditanyakan kepadamu.” Brawijaya mengelus janggutnya. “Pertanyaan itu akan diajukan pada malam Purnama Biru, dua puluh Mei. Purnama Biru terbit di langit negeri ini dan tidak mengikuti hitungan bulan di dunia luar, jadi jangan kau samakan dengan bulan yang kau lihat di gunungmu.”
Dua puluh Mei. Sebelas malam lagi. Indri menghitungnya di jari dengan cepat, di balik lipatan kain. Sebelas malam, dan di antara malam-malam itu Retno, Ragil, Tika, Gilang, dan yang lain masih berada di tempat yang ia tak tahu di mana.
“Ada satu hal lagi yang harus kau tahu.” Suara raja itu merendah. “Hanya jawaban ‘ya’ yang menutup jalan pulang. Itulah artinya terpilih. Yang berkata ‘ya’ tidak bisa kembali.”
Jadi itu maksud kalimat Arjuna di mimpinya, pikir Indri. Jangan datang bila ragu. Ia merasa lututnya lemas, tetapi kali ini ia tidak jatuh.
“Dan teman saya yang ditahan?” tanya Indri. Kata-katanya keluar lebih cepat dari rencana. “Pemuda dari rombongan saya. Apa yang akan terjadi padanya?”
“Hukum negeri ini akan ditegakkan. Sidangnya besok pagi, di ruangan ini.” Brawijaya tidak membuang pandang. “Kau boleh hadir.”
Indri berpikir sebentar. “Kalau begitu saya tinggal, Baginda. Sampai teman-teman saya jelas nasibnya. Saya tidak akan menjawab apa-apa sebelum itu.”
Ada senyum tipis di sudut bibir raja. Mungkin lega, mungkin sedih. “Cukup adil. Kebanyakan orang yang masuk ke ruangan ini langsung ingin menjawab, supaya urusannya selesai. Kau malah menunda.”
“Saya cuma tidak suka memutuskan sesuatu sambil perut kosong, Baginda,” jawab Indri jujur. “Dan sambil nggak tahu teman saya masih hidup atau tidak.”
Beberapa pembesar di sisi ruangan bergerak resah. Brawijaya justru mengangkat satu alis.
Ia mengalihkan pandang ke putranya. “Arjuna.”
“Ya, Ayahanda.”
“Kau tidak akan menyentuhnya tanpa izinnya. Tidak untuk menolong, tidak untuk menuntun, bahkan tidak untuk menahan ia jatuh. Bertanyalah dulu. Bila ia berkata tidak, itu tidak.”
Arjuna terdiam sesaat. Rahangnya mengeras sedikit. “Aku mengerti, Ayahanda.”
Indri menunduk, menyembunyikan wajahnya. Semalam, pikirnya, ia ditarik dan didekap berkali-kali tanpa sempat berkata apa-apa. Ia tidak tahu apakah harus lega atau justru marah karena yang melarang adalah ayah laki-laki itu, bukan laki-laki itu sendiri.
“Tinggallah, Arjuna. Ada yang harus kita bicarakan. Nyai Laras, antar tamuku kembali.”
Indri dan Laras keluar menyusuri lorong panjang yang diterangi lampu minyak berbentuk kelopak. Dinding batu di kiri dan kanan dingin, sunyi, dan terlalu bersih. Indri baru hendak bertanya sesuatu kepada Laras ketika langkah mereka berhenti serentak.
Laras mendadak berhenti dan membungkuk dalam-dalam, lebih dalam daripada saat bertemu Arjuna.
Di salah satu tiang, seorang pria berdiri bersandar santai seperti orang yang menunggu bus. Rambutnya sebahu dan terselip bunga putih. Di tangan kirinya ada seruling bambu. Ia tersenyum seperti sudah lama mengenal Indri.
“Indri Arkadewi,” katanya, ringan. “Akhirnya kau sampai juga.”