Indri masih mematung di bawah lengkung gerbang kedua ketika daun pintunya bergeser terbuka. Tidak ada engsel berderit, tidak ada penjaga yang menariknya. Pintu itu seperti sudah tahu siapa yang datang.
“Kenapa diam? Kakimu keram lagi?” tanya Arjuna.
“Lututku memang masih sakit, Mas Juna. Tapi bukan itu.” Indri menunjuk ke dalam. “Aku takut kalau melangkah masuk, aku bangun di tenda, dan Tika bilang aku ngorok semalaman.”
Arjuna tertawa pendek. “Kalau begitu melangkahlah. Kita lihat apakah kau akan bangun.”
Indri menarik napas, lalu melangkah. Batu lantai halaman dalam terasa dingin, dan ia tidak bangun di tenda. Halaman itu lebih luas dari lapangan kampusnya. Tiang-tiang kayu jati setinggi pohon kelapa berdiri berjajar menopang atap bersusun, dan di setiap ujung bubungan bertengger patung burung dari kuningan yang berkilat disiram matahari. Tak ada satu pun suara motor, klakson, atau musik dari pengeras suara. Hanya gemerisik kain dan sesekali denting logam. Di kiri dan kanan jalan, para dayang berbaris dengan kepala menunduk, kain mereka berwarna hijau lumut dan cokelat tanah. Dua orang melangkah maju dari barisan. Yang pertama perempuan bertubuh ramping, usianya tampak tiga puluhan, wajahnya tenang tetapi matanya bergerak ke sana kemari. Yang kedua laki-laki tegap berkumis tipis dengan keris terselip di pinggang, dan debu jalan masih menempel di ujung kainnya.
“Selamat datang kembali, Pangeran,” kata si perempuan. “Hamba Laras. Baginda menitahkan hamba melayani tamu Pangeran.”
“Tamu,” ulang Indri pelan. Ia lega mendengar kata itu, bukan kata lain.
“Den Ayu.” Laras menunduk dalam-dalam ke arahnya.
“Den Ayu? Aku?” Indri menoleh ke belakang, memastikan tak ada orang lain. “Panggil Indri aja, Mbak.”
“Hamba tidak berani, Den Ayu.”
Hanya itu jawabannya. Indri baru hendak membujuk ketika bisik-bisik menyusup dari barisan dayang. Suaranya halus seperti desir daun, tetapi satu kata terdengar jelas berulang-ulang. Titisan. Itu dia titisannya. Ia berpura-pura sibuk membetulkan jepit rambut.
Laki-laki berkeris itu memberi hormat kepada Arjuna. “Pangeran, hamba Rangga Wesi, senapati penjaga istana. Hamba mendahului iring-iringan dengan kuda cepat untuk melapor. Tamu tak diundang yang kami tangkap semalam di tepi Ranu Tompe sedang dibawa lewat gerbang belakang, dan menurut perintah—”
“Nanti, Rangga,” potong Arjuna. Nadanya rendah tetapi tak memberi ruang untuk dibantah.
Rangga Wesi menutup mulut. Sorot matanya sekilas berpindah ke Indri, lalu kembali ke tanah.
Indri menahan napas. Ranu Tompe, pikirnya. Nama danau itu tak mungkin salah ia dengar. Tamu tak diundang. Ditangkap semalam. Kalimat itu berputar-putar di kepalanya seperti lagu yang tak bisa dihentikan.
“Mas Juna, yang tadi itu—”
“Aku harus menghadap Ayahanda,” kata Arjuna cepat, seolah tak mendengar. “Laras akan mengantarmu ke paviliun. Mandilah, makanlah, istirahat. Nanti kujemput.” Ia ragu sesaat. “Pakai saja bajuku itu dulu. Di atas sini dingin.”
Kemeja yang tersampir di bahu Indri memang masih hangat. Ia menarik kerahnya lebih rapat.
“Mas Juna,” panggilnya sekali lagi.
Arjuna berhenti, tetapi tidak menoleh sepenuhnya. “Aku janji akan menjelaskan semuanya, Ndri. Sedikit demi sedikit. Jangan semuanya sekaligus, nanti kepalamu pecah.”
“Kepalaku sudah pecah dari semalam.”
“Kalau begitu, tambah sedikit lagi tidak akan terasa.” Senyumnya muncul tipis, tetapi tidak sampai ke mata. Ia berbalik pergi dengan langkah lebar. Rangga Wesi menyusul di belakangnya sambil melirik sekali lagi ke arah gerbang belakang.
Indri memandangi punggung keduanya. Orang yang sedang tenang tidak berjalan secepat itu, pikirnya.
***
Paviliun Kemuning berdiri di ujung selasar panjang yang tiangnya diukir bunga. Lantainya kayu jati yang berkilat, tirainya kain tipis yang bergoyang meski tak ada angin, dan di sudut ruangan ada kendi tanah liat berisi air hangat beraroma daun pandan. Laras membuka peti kecil dan mengeluarkan kain bersih, sisir, serta sebakul buah yang kulitnya belum pernah Indri lihat.
“Silakan, Den Ayu. Kalau ada yang kurang, hamba berada di luar pintu.” Laras meraih buntalan kain di sisi dipan, yaitu pakaian Indri yang kotor dan sobek, yang tadi dibungkus penjual gerai. “Ini akan hamba cucikan.”
“Eh, sebentar!” Indri menahan buntalan itu dan merogoh saku celana lapangannya. Jarinya menyentuh sesuatu yang tebal dan kasar. Sarung tangan Zaki. Ia hampir lupa benda itu masih ada. Ia menggenggamnya sebentar, lalu menyelipkannya di balik ikat pinggang kebaya. “Sisanya silakan, Mbak. Makasih.”
Laras mengangguk dan membawa buntalan itu keluar. Ia tidak menanyakan apa pun tentang sarung tangan itu.
“Mbak Laras, sebentar.” Indri duduk di tepi dipan yang empuk sekali. “Aku boleh nanya sesuatu?”
“Hamba hanya dayang, Den Ayu. Belum tentu hamba tahu.”
“Ini bukan soal rahasia negara, kok. Cuma soal itu.” Indri menunjuk jendela besar di sisi kiri ruangan, yang daunnya terbuka lebar.
Di luar, putih menghampar sejauh mata memandang. Bukan kabut yang tadi menelan mereka di jalan, melainkan sesuatu yang lebih luas dan lebih tenang: gumpalan-gumpalan putih bergulung pelan seperti permukaan lautan yang membeku. Di kejauhan, puncak-puncak gunung mencuat seperti pulau kecil. Matahari menyinari semuanya dari atas.
Indri bangkit dan berjalan ke jendela dengan kaki yang tak terlalu yakin. Ia sempat tersandung ujung tikar. Gubrak! Untung hanya lututnya yang kembali nyeri, tidak ada yang pecah.
“Awan,” bisiknya. “Itu awan. Kita ada di atasnya.”
“Sejak hamba kecil memang begitu, Den Ayu,” jawab Laras dari belakang.
Jadi kabut yang disibak Arjuna tadi bukan sekadar kabut. Mereka sudah naik jauh melewati lapisan itu tanpa Indri sadar, dan istana ini berdiri di atasnya. Negeri di atas awan, pikirnya. Kalau ini sebuah film, judulnya sudah pas. Hanya saja, dalam film, tokoh utamanya tak pernah sepucat ini karena kurang tidur.
Ia memandangi lautan putih itu cukup lama. Lalu kalimat Rangga Wesi datang lagi: Ranu Tompe, ditangkap semalam, tamu tak diundang. Indri berbalik.
“Mbak Laras, tadi aku dengar sedikit. Ada orang dari dunia luar yang ditangkap di Ranu Tompe. Laki-laki, kan?”
Laras tak menjawab. Tangannya merapikan lipatan kain yang sudah rapi.
“Anak muda, pakai jaket gunung warna gelap,” lanjut Indri. Suaranya mulai ikut pelan. “Alisnya tebal, rambutnya agak gondrong. Matanya tajam, kayak elang. Kalau dia bicara, orang biasanya langsung diam dan dengerin.”
“Den Ayu—”
“Namanya Zaki. Kak Zaki. Dia ketua kami.” Indri melangkah mendekat. “Dia di sini, kan?”
Laras menunduk lebih dalam. Dari jarak sedekat itu Indri melihat jari-jari si dayang saling meremas, putih di buku-bukunya. Bibirnya terbuka, tertutup lagi, lalu terbuka sekali lagi tanpa suara.
“Hamba hanya dayang, Den Ayu,” bisiknya akhirnya. “Hamba tidak berani menjawab.”
“Itu bukan jawaban.”
“Itu satu-satunya yang boleh hamba berikan.”
Hening. Di luar jendela, awan bergulung tanpa suara. Indri menggigit bibir, hendak mendesak sekali lagi, ketika dari ujung selasar terdengar langkah yang cepat dan berat. Laras ikut mendengarnya. Wajahnya berubah lega, dan itu justru membuat Indri semakin curiga.
Langkah itu makin dekat, dan ia tahu siapa pemiliknya.