Pagi itu hujan gerimis turun tipis, membasahi halaman pondok dan membuat lantai gerbang licin. Fauzan, yang sekarang menjadi salah satu santri senior yang dipercaya membantu mengurus penerimaan santri baru, sedang berjalan melintasi halaman ketika ia melihatnya.
Seorang anak laki-laki berdiri di dekat gerbang, sendirian, dengan sebuah tas kumal di kakinya. Di sampingnya seorang lelaki paruh baya—ayahnya, jelas—sedang berbicara dengan pengurus pendaftaran, mengurus berkas dan administrasi. Tapi yang menarik perhatian Fauzan bukan si ayah. Yang menarik perhatiannya adalah anak itu.
Anak itu mungkin empat belas, lima belas tahun. Tubuhnya kurus, kulitnya gelap terbakar matahari—anak pesisir atau anak pekerja kasar, Fauzan menebak dari pakaiannya yang lusuh dan sandal jepitnya yang sudah tipis. Tapi bukan kemiskinannya yang membuat Fauzan berhenti melangkah. Yang membuatnya berhenti adalah tatapan anak itu.
Mata itu menatap gerbang pondok dengan campuran yang Fauzan kenal seperti mengenal bayangannya sendiri di cermin: dendam dan ketakutan. Dendam pada seseorang—mungkin ayahnya, mungkin nasib—yang menyeretnya ke tempat ini tanpa ia minta. Ketakutan pada apa yang menantinya di balik gerbang, pada dunia asing yang akan menelannya. Rahang anak itu mengeras menahan amarah, tapi matanya basah menahan tangis. Ia berdiri kaku, menolak menatap ayahnya, tangannya mengepal di sisi tubuh.
Fauzan tahu persis apa yang sedang dirasakan anak itu. Ia tahu karena ia pernah menjadi anak itu, berdiri di gerbang yang sama bertahun-tahun lalu, dengan amarah yang sama membara di dada dan air mata yang sama ditahan mati-matian, sambil mendengar ayahnya berkata tentang warisan yang tak bisa dicuri maling. Ia tahu perasaan ditinggal, perasaan dijual, perasaan menanggung janji yang bukan ia ucapkan.
Si ayah selesai mengurus berkas. Ia berbalik pada anaknya, dan terjadi perpisahan canggung yang sama—lelaki itu tak tahu cara mengucapkan kata-kata yang tepat, anak itu menolak menatapnya, keduanya terjebak dalam jarak yang diciptakan oleh hal-hal yang tak terkatakan. Si ayah menepuk bahu anaknya kaku, berkata sesuatu yang tak terdengar Fauzan, lalu berbalik dan berjalan menjauh dengan langkah berat seorang lelaki yang baru saja meninggalkan hal paling berharga yang ia miliki, meyakinkan dirinya bahwa ini demi kebaikan, meski hatinya sendiri ragu.
Dan anak itu berdiri sendiri. Ditinggalkan. Tas kumal di kaki, gerimis membasahi kepalanya, mata menatap kepergian ayahnya dengan campuran ingin memanggil pulang dan ingin tak pernah melihatnya lagi.
Fauzan teringat malam pertamanya. Teringat betapa ia menangis pelan menahan rindu, betapa ia merasa sendirian di dunia yang asing dan dingin. Dan teringat bagaimana, di tengah keterpurukan itu, seorang anak miskin berwajah ceria bernama Komar menghampirinya, menawarkan separuh kerupuk dan tawa bodoh, dan dengan kebaikan kecil yang sederhana itu menahannya agar tidak jatuh ke jurang keputusasaan di malam pertama yang menentukan.
Banyak tangan yang dulu menahannya. Komar di malam pertama. Kang Soleh dengan metode tangannya. Kiai yang mengangkat bebannya. Burhan yang akhirnya menjadi sahabat. Ibu dengan kompasnya. Ayahnya yang akhirnya berdamai. Ia tidak pernah benar-benar jatuh karena selalu ada tangan yang menahannya di saat ia paling rapuh.
Sekarang giliran tangannya.
Fauzan berjalan mendekati anak itu, pelan, agar tidak mengagetkannya. Ia tidak berkata-kata tentang hafalan, tentang aturan, tentang betapa beruntungnya anak itu bisa mondok. Semua kata itu hanya akan terasa seperti pembenaran kosong, seperti yang dulu ia rasakan. Ia hanya berkata, dengan suara hangat dan tanpa nada menggurui sedikit pun, "Sini, Le. Kamu pasti capek dan basah. Ayo masuk dulu, ada teh hangat di dapur santri. Nanti tasnya Kang bantu bawa."
Anak itu menoleh, kaget, menatap Fauzan dengan curiga—siapa orang asing ini, kenapa baik padaku. Tapi Fauzan tidak memaksa. Ia hanya tersenyum, mengambil tas kumal itu dari kaki si anak, dan mulai berjalan ke arah dapur, memberi anak itu pilihan untuk mengikuti atau tidak.
Dan anak itu, setelah ragu sejenak, mengikuti.
Di dapur santri yang hangat oleh uap masakan, Fauzan menuangkan teh manis ke gelas blirik dan mendorongnya ke depan anak itu. Ia duduk di seberangnya, tidak menginterogasi, tidak menasihati, hanya menemani. Setelah beberapa saat hening, sambil anak itu menyeruput tehnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar oleh dingin dan oleh tangis yang ditahan, Fauzan berkata pelan, hanya cukup keras untuk didengar anak itu seorang:
"Kang dulu juga gini, Le. Diantar Bapak Kang ke gerbang itu, ditinggal, marah setengah mati. Kang kira ini penjara." Ia tersenyum kecil. "Butuh waktu lama buat Kang ngerti bahwa ini bukan penjara. Tapi Kang ngerti, akhirnya. Dan kamu juga bakal ngerti. Ndak sekarang. Ndak besok. Tapi nanti. Sekarang minum dulu tehnya. Habis itu Kang anterin ke kamarmu."
Anak itu menatapnya, dan untuk pertama kali sejak berdiri di gerbang, ada sesuatu yang melunak di matanya—bukan kepercayaan penuh, belum, tapi secercah kemungkinan bahwa mungkin ia tidak sepenuhnya sendirian di tempat asing ini. Secercah yang sama yang dulu menyala di mata Fauzan ketika Komar menawarkan kerupuk.
Fauzan melihat percik kecil itu, dan dadanya hangat. Lingkaran kebaikan berputar penuh. Yang dulu ditahan agar tidak jatuh, kini menahan yang lain. Dan dalam menahan anak ini, ia menyadari, ia membayar kembali semua tangan yang dulu menahannya—Komar, Kang Soleh, Kiai, semuanya—dengan satu-satunya mata uang yang tak pernah habis: kebaikan yang diteruskan.