Acaranya digelar di aula pondok yang sama tempat dulu Fauzan menyetor ujian dengan tangan gemetar dan kepala berkabut. Tapi kali ini tak ada kabut di kepalanya, dan tangannya tenang.
Ini bukan khataman tiga puluh juz. Tak ada panggung megah, tak ada tenda besar, tak ada undangan ribuan orang dan rebana dari kota seperti acara-acara khataman akbar yang kadang Fauzan dengar di pesantren-pesantren besar. Yang dirayakan hari itu sederhana: Fauzan menuntaskan, dengan utuh dan jujur, beberapa juz yang telah ia hafal bertahun-tahun—juz tiga puluh yang lengkap, juz satu, dan beberapa juz lain yang ia setor satu per satu dengan kesabaran tukang sol yang menjahit sol selangkah demi selangkah. Sebuah capaian yang membumi, jauh dari angka mustahil yang dulu menggantung di lehernya, tapi sepenuhnya nyata, sepenuhnya miliknya, tanpa keajaiban dan tanpa kepura-puraan.
Gus Hakim, putra Kiai yang kini memimpin pondok, datang dan duduk di depan. Wajahnya, yang dulu kaku dan canggung di posisi baru setelah ayahnya wafat, kini lebih tenang dan matang. Ustaz Romli yang rambutnya kini hampir seluruhnya putih duduk di sampingnya, dan Ustaz Farid—yang dulu paling skeptis pada Fauzan, yang dulu menegurnya keras soal hafalan yang mandek—juga hadir, dengan ekspresi yang sulit dibaca tapi tak lagi sinis.
Dan di barisan tamu, di kursi paling depan yang sengaja disediakan, duduk keluarganya.
Ibu hadir. Itu yang membuat dada Fauzan penuh hingga hampir tak muat. Perempuan yang dulu terbaring kurus di ranjang rumah sakit, yang dulu suaranya hanya bisa ia dengar lemah di latar telepon, kini duduk tegak di kursi itu, mengenakan kerudung putih terbaiknya, dengan pipi yang sudah berisi kembali dan mata yang berbinar. Ia masih harus menjaga kesehatan, masih tak boleh terlalu lelah, tapi ia hidup, ia sehat, dan ia ada di sini—menyaksikan anaknya. Di sampingnya Pak Sahal duduk dengan baju koko yang ia simpan untuk acara penting, tangannya yang gemetar diletakkan di pangkuan, matanya tak pernah lepas dari anaknya. Maryam di sebelahnya, tersenyum sambil sesekali mengusap mata. Dan di pojok, Burhan datang khusus, duduk dengan dagu yang tak lagi terangkat sombong melainkan tegak oleh rasa bangga pada sahabatnya.
Fauzan menyetor di hadapan tim asatidz untuk terakhir kali dalam rangkaian itu, membaca penutup hafalannya dengan suara yang jernih dan mantap. Tak ada lagi tergagap. Tak ada lagi anak lima belas tahun yang malu karena salah membaca surat yang seharusnya dihafal anak SD. Yang membaca di depan aula itu adalah seorang pemuda yang telah menempuh jalan panjang dan berliku, yang telah jatuh berkali-kali dan bangkit berkali-kali, yang setiap ayatnya dibayar dengan keringat, air mata, dan malam-malam tanpa tidur.
Ketika ia menutup mushaf dan mencium tangan para ustaz satu per satu, aula itu sunyi sejenak, lalu pecah oleh ucapan syukur yang lirih dari para hadirin. Gus Hakim bangkit dan memeluk Fauzan, dan di telinga pemuda itu ia berbisik, "Bapak saya akan bangga. Beliau selalu bilang, yang penting bukan banyaknya, tapi tlatennya. Sampean sudah membuktikan kata-kata beliau."
Fauzan turun dari depan aula dan langsung menuju kursi keluarganya. Ia bersimpuh di hadapan Ibu, mencium tangannya yang kini hangat dan tak lagi sedingin di rumah sakit dulu. Ibu membelai kepalanya, persis seperti dulu di tepi ranjang, dan berkata dengan suara yang masih lembut tapi tak lagi lemah, "Le, masih ingat omongan Ibu dulu? Ibu ndak minta kamu jadi hebat. Ibu cuma minta kamu jadi orang yang ndak kehilangan dirimu." Ia menatap wajah anaknya lama, seolah membaca seluruh perjalanan yang terukir di sana. "Dan kamu ndak hilang, Le. Kamu malah ketemu dirimu sendiri. Itu yang Ibu syukuri. Bukan ini," ia menyentuh mushaf di tangan Fauzan, "tapi ini," dan ia menyentuh dada anaknya.
Janji di tepi ranjang dulu—janji yang dibuat seorang anak ketakutan kepada ibunya yang sekarat—akhirnya tergenapkan, bukan dengan angka tiga puluh, melainkan dengan kehadiran. Ibu yang dulu mungkin tak akan sempat menyaksikan apa pun kini duduk di sini, sehat, dan melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Pak Sahal tak banyak berkata. Ia hanya menggenggam tangan anaknya erat-erat dengan kedua tangannya yang gemetar, dan air mata mengalir di pipinya yang berkerut tanpa ia hapus. Fauzan tahu apa yang ada di balik diamnya. Lelaki itu telah menempuh jalan yang sama panjangnya—dari nazar yang lahir dari rasa malu dan keputusasaan, melewati penyesalan bertahun-tahun, sampai ke kursi depan aula ini di mana ia menyaksikan bahwa persembahannya yang dulu canggung dan berat itu, pada akhirnya, telah menjadi sesuatu yang indah.
Teh manis dan jajan pasar dihidangkan setelahnya. Tak ada kemegahan, hanya kehangatan. Dan di tengah keramaian kecil itu, Fauzan berdiri sejenak, memandang keluarga dan sahabat dan guru-gurunya yang berkumpul, dan merasakan sesuatu yang dulu ia kira mustahil ia rasakan di tempat ini: ia di rumah.