Ketika Fauzan pulang ke kampung kali ini, ia menemukan ayahnya tidak di rumah melainkan di emperan pasar, di tempat yang sama tempat Pak Sahal menggelar lapaknya selama puluhan tahun—sepetak lantai semen di bawah atap seng pasar kecamatan, di samping penjual sayur, di seberang los daging.
Pak Sahal masih menyol sepatu, meski tangannya kini sering gemetar dan ordernya sudah jarang. Ia melakukannya, kata Maryam, lebih karena tak tahu mau berbuat apa lagi daripada karena butuh uang—usaha sepatu pondok yang Fauzan rintis sudah cukup mengirim ke rumah, dan Ibu yang sehat sudah bisa masak dan berjualan kue kecil-kecilan. Tapi Pak Sahal tetap datang ke emperan itu tiap pagi, menggelar tikar, menata kotak alatnya, dan menunggu pelanggan yang makin sedikit. Bagi seorang lelaki yang seluruh harga dirinya terikat pada tangannya, berhenti bekerja sama dengan mati pelan-pelan.
Fauzan duduk di sampingnya di emperan itu, di lantai semen yang dingin, dan tanpa banyak bicara ia mengambil sepasang sepatu dari tumpukan order dan mulai mengerjakannya. Pak Sahal melirik tangan anaknya yang bergerak cekatan—mengelem, menjahit, mengetuk paku kecil dengan irama yang ia kenal seperti detak jantungnya sendiri—dan sesuatu di wajah tua itu melembut.
"Tanganmu sudah lebih bagus dari tanganku, Le," kata Pak Sahal pelan. "Dulu kamu malas. Lebih suka main daripada belajar nyol. Sekarang..." Ia tak menyelesaikan kalimatnya.
Mereka bekerja berdampingan dalam diam sebentar, dua tukang sol, ayah dan anak, di emperan pasar yang ramai oleh suara tawar-menawar dan bau ikan asin. Lalu Fauzan, sambil tetap menatap sepatu di tangannya, akhirnya mengucapkan hal yang sudah lama ia pendam.
"Pak," katanya. "Soal nazar itu."
Pak Sahal berhenti mengetuk. Tangannya yang gemetar menggantung di udara.
"Dulu Fauzan benci, Pak," Fauzan melanjutkan, suaranya tenang, tanpa amarah yang dulu menggumpal di dadanya. "Fauzan kira Bapak jual masa depan Fauzan buat bayar utang budi yang bukan urusan Fauzan. Fauzan kira Bapak ndak mikirin Fauzan, cuma mikirin malu Bapak sendiri ke Kiai."
Wajah Pak Sahal mengeras, lalu runtuh, lalu mengeras lagi—seorang lelaki tua yang berusaha menahan sesuatu yang terlalu besar. "Le—"
"Tunggu, Pak. Dengerin dulu." Fauzan meletakkan sepatu dan paku, menoleh menatap ayahnya. "Fauzan sudah ngerti sekarang. Sudah lama ngerti. Bapak dulu ndak punya apa-apa buat dipersembahkan ke Kiai yang nolong Bapak pas hampir bangkrut. Bapak ndak punya uang, ndak punya tanah, ndak punya nama. Yang Bapak punya cuma satu: anak. Dan Bapak persembahkan yang paling Bapak sayang, hal paling berharga yang Bapak punya, dengan cara satu-satunya yang Bapak tahu—nazar."
Mata Pak Sahal sudah basah sekarang, dan ia tak lagi berusaha menyembunyikannya. "Bapak ndak tahu caranya, Le," suaranya serak. "Bapak orang bodoh. Cuma tamat SD kayak kamu. Bapak pikir... kalau anak Bapak jadi penghafal Qur'an, itu jadi sesuatu yang ndak bisa diambil siapa-siapa. Ndak bisa dicuri maling, ndak bisa kebakaran, ndak bisa kena rob laut. Bapak mau ngasih kamu sesuatu yang lebih dari yang Bapak punya. Tapi caranya... caranya Bapak salah. Bapak malah mberatin kamu. Bapak nyesel, Le. Tiap hari Bapak nyesel."
Fauzan menggeleng pelan. "Bapak ndak salah," katanya. Dan untuk pertama kali, ia benar-benar mempercayai kata-katanya sendiri. "Caranya memang berat. Tapi niatnya cinta, Pak. Fauzan baru ngerti itu setelah Fauzan sendiri ngajar anak-anak di langgar. Fauzan baru ngerti gimana rasanya pengin ngasih sesuatu yang baik ke orang yang kamu sayang, tapi yang kamu punya cuma tangan kosong sama niat."
Ia meraih tangan ayahnya yang gemetar, tangan yang kasar dan berbintik usia, tangan yang puluhan tahun menyol sepatu orang lain demi sepiring nasi keluarganya. "Nazar itu bukan utang yang harus Fauzan lunasin dengan angka, Pak. Bukan tiga puluh juz atau gagal. Nazar itu cara Bapak mewariskan satu-satunya yang Bapak punya. Dan Fauzan terima. Fauzan terima warisan itu. Bukan karena dipaksa lagi. Karena Fauzan mau."
Pak Sahal menangis tanpa suara, bahunya yang tua berguncang, dan Fauzan memeluknya di emperan pasar itu, di antara bau ikan asin dan suara tawar-menawar, tak peduli pada orang-orang yang lewat. Tikar lapak mereka, kotak alat, sepatu setengah jadi—semua menjadi saksi runtuhnya tembok terakhir di antara seorang ayah miskin dan anak yang dulu ia kira telah ia khianati.
Ketika tangis itu reda, mereka kembali bekerja berdampingan, tak banyak bicara lagi karena memang tak perlu. Dua tukang sol di satu emperan. Yang satu menua dan tangannya gemetar, yang satu muda dan tangannya kuat. Dan di antara mereka, akhirnya, hanya ada kedamaian—kedamaian yang lahir bukan dari kemenangan siapa pun, melainkan dari saling memahami beban yang dipikul masing-masing dengan cinta yang canggung dan tak sempurna.