Membaca akhirnya mulai lancar setelah berminggu-minggu Fauzan memaksa diri. Setiap selesai subuh, sebelum yang lain bangun, ia duduk di teras dengan buku tahsin dari pasar, mengeja huruf demi huruf, melatih lidahnya membedakan bunyi yang mirip. Komar sering menemaninya, menyimak, membetulkan. Pelan-pelan, huruf-huruf yang dulu berenang itu mulai diam di tempatnya, mulai punya bunyi yang tetap. Untuk pertama kali, Fauzan bisa membaca satu surat pendek tanpa tersandung. Ustaz Romli mengangguk puas saat ia menyetor bacaan An-Naas dengan lancar, dan anggukan itu memberi Fauzan kehangatan kecil yang aneh, kehangatan dari diterima.
Tapi membaca lancar dan menghafal adalah dua dunia yang berbeda. Saat Ustaz Romli menyuruhnya mulai menghafal, Fauzan kembali menabrak tembok. Ia bisa membaca An-Naas, tapi begitu mushaf ditutup, ayatnya kabur, tertukar, hilang. Surat berikutnya, Al-Falaq, dihafal pagi, lupa sore. Ia mengulang puluhan kali, mulutnya pegal, tapi ayat itu seperti air yang ia coba genggam, lolos dari sela jari. Anak-anak lain bisa menghafal setengah halaman dalam sehari. Ia tidak bisa menahan tiga ayat semalam.
Frustrasi itu memuncak suatu sore. Fauzan duduk di perpustakaan pondok, ruangan kecil berbau buku tua, memandangi mushaf yang seolah mengejeknya. Ia memukul pelan keningnya sendiri dengan telapak tangan, putus asa. Mungkin ayahnya salah. Mungkin ia memang anak yang otaknya cuma muat untuk ukuran sepatu, bukan untuk ayat suci.
"Dipukul juga nggak masuk, Le. Kepala bukan paku."
Fauzan menoleh. Seorang santri senior, bertubuh kurus dengan janggut tipis dan sarung kotak-kotak pudar, sedang menata buku di rak. Namanya Kang Soleh, penjaga perpustakaan, santri yang sudah bertahun-tahun di pondok dan terkenal sabar tapi nyentrik. Ia mendekat, menarik kursi, duduk di hadapan Fauzan.
"Kamu yang anak tukang sepatu itu, ya?" Kang Soleh tersenyum. "Kabarnya kamu susah nempel hafalannya."
Fauzan menunduk, malu. "Sudah saya ulang berkali-kali, Kang. Tetap lupa."
"Kamu ngafalinnya gimana? Dibaca terus sampai nempel?"
"Iya. Dibaca, diulang, dibaca lagi."
Kang Soleh menggeleng. "Itu cara orang yang otaknya tipe denger. Otakmu bukan tipe itu. Coba saya tebak. Kamu kalau disuruh inget ukuran sepatu orang dari lihat kakinya saja, bisa, kan?"
Fauzan mengangkat wajah, heran. "Bisa, Kang."
"Kamu kalau lihat jalan sekali, besoknya masih inget belokannya?"
"Inget."
"Nah." Kang Soleh menepuk meja. "Otakmu itu tipe yang nyimpen lewat gambar dan tangan, bukan lewat kuping. Makanya disuruh ngafalin pakai diulang-ulang doang nggak nempel. Coba cara lain." Ia mengambil selembar kertas bekas dan sebuah pulpen, menyodorkannya. "Tulis ayat yang mau kamu hafal. Tangan kanan nulis, mata baca, mulut ucap, kuping denger. Empat-empatnya jalan bareng. Otak yang kayak otakmu nempel lewat tangan."
Fauzan ragu, tapi menurut. Ia menulis ayat pertama Al-Falaq, pelan-pelan, sambil melafalkannya. Lalu ayat kedua. Lalu ketiga. Tangannya yang terbiasa bekerja terasa nyaman memegang pulpen, dan anehnya, saat ia menulis, ayat itu seolah turun lewat lengannya dan tertanam.
"Sudah?" tanya Kang Soleh. "Sekarang tutup kertasnya. Bayangin kamu nulis lagi di udara."
Fauzan menutup mata, dan jari telunjuknya bergerak pelan di atas meja, menulis ayat yang tadi ia tulis. Dan ayat itu datang. Bukan dari suara di kepalanya, tapi dari gerakan tangannya, dari bentuk huruf yang ia rasakan. Ia membuka mata, terkejut. Ia hafal. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar hafal, dan ayat itu tidak lolos seperti air.
Kang Soleh tersenyum lebar. "Tuh, kan. Tiap orang punya pintunya sendiri ke kepalanya. Yang penting kamu nemu pintumu." Ia bersandar. "Dan satu lagi. Ayat itu jangan cuma kamu hafal bunyinya. Kaitkan ke sesuatu yang kamu kenal. Al-Falaq itu artinya minta lindung dari kejahatan yang datang. Kamu pernah takut sama sesuatu yang kamu nggak bisa lihat? Gelap, misalnya?"
Fauzan teringat malam-malam di kampung saat rob naik dalam gelap, saat ia kecil takut air diam-diam masuk ke rumah. "Pernah, Kang."
"Nah. Pasang ayat ini di rasa takut itu. Biar ayatnya bukan cuma di mulut, tapi nyangkut di hatimu. Hafalan yang cuma di mulut gampang lepas. Hafalan yang nyangkut di hati, susah hilangnya."
Fauzan terdiam, mencerna. Ada sesuatu yang baru saja bergeser di dalam dirinya. Untuk pertama kali sejak masuk pondok, menghafal tidak terasa mustahil. Terasa sulit, tetap berat, tapi mungkin. Dan kemungkinan, sekecil apa pun, adalah hal yang sudah lama tidak ia rasakan.
Malam itu ia menghafal dengan cara baru: menulis, mengaitkan, merasakan. Ia menyelesaikan Al-Falaq dan menahannya sampai pagi. Saat menyetorkannya pada Ustaz Romli keesokan harinya tanpa salah, ia melihat sang ustaz mengangguk dengan senyum yang berbeda, senyum yang seperti melihat sebuah pintu yang akhirnya terbuka.
Tapi di tengah secercah harapan itu, Fauzan tidak lupa pada hal lain. Setiap ayat yang ia hafal butuh waktu. Dan waktu adalah barang yang sedang ia rebutkan dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang menunggunya di pasar bawah sana, sesuatu yang berbentuk wajah ibunya. Harapan baru ini, ia tahu, hanya membuat pilihannya makin sulit. Karena sekarang ia tahu ia bisa menghafal, asalkan ia punya waktu. Dan justru waktu itulah yang akan ia curi.