Kesempatan itu datang dalam bentuk yang paling biasa: izin keluar untuk membeli kitab. Ustaz Romli menyuruh para santri baru membeli sebuah buku panduan tahsin di toko kitab di pasar kecamatan, dan karena jumlahnya banyak, mereka diizinkan keluar berombongan dengan satu santri senior sebagai pendamping. Fauzan ikut, berjalan kaki menuruni jalan desa sepanjang dua kilometer menuju keramaian.
Pasar kecamatan itu sederhana tapi hidup. Deretan kios seng, los basah tempat ikan dan sayur, bau gorengan dan kopi tubruk, suara tawar-menawar yang bersahutan. Bagi Fauzan, pasar ini terasa seperti pulang. Bukan pulang ke kampungnya, tapi pulang ke dunia yang ia mengerti, dunia angka dan barang, jauh dari huruf-huruf hijaiah yang membuatnya merasa bodoh. Di sini ia tahu cara membaca segalanya: harga, kualitas barang, mana pedagang yang jujur dan mana yang melebihkan timbangan.
Setelah membeli kitab, rombongan diberi waktu setengah jam untuk istirahat dan jajan sebelum kembali. Fauzan berjalan sendiri menyusuri los, dan langkahnya berhenti di depan sebuah kios kecil di pojok. Di depan kios itu tergantung sepatu-sepatu bekas yang dipajang, sandal, tas kulit. Dan di sudut, di atas sebuah dingklik kayu, duduk seorang lelaki tua menatap sebuah sepatu pantofel dengan dahi berkerut, memegang jarum jahit sol dan benang lilin, persis seperti yang sering Fauzan lihat ayahnya lakukan.
Lelaki tua itu mengeluh pelan, melepas kacamatanya, mengucek mata. Tangannya gemetar saat mencoba memasukkan benang ke lubang jarum besar. Sekali, dua kali, gagal. Sol sepatu pantofel itu menganga lepas dari badannya, dan benang yang ia coba masukkan tidak juga masuk.
Fauzan berdiri menonton, dan tanpa sadar, kakinya melangkah mendekat. "Pak," katanya, "itu kalau jahit sol begitu, jarumnya kurang melengkung. Susah masuk dari sisi dalam."
Lelaki tua itu mendongak, menatap anak bersarung di depannya dengan heran. "Kamu tahu dari mana?"
"Bapak saya tukang sol, Pak. Dari kecil saya bantu." Fauzan menunjuk benang lilin di tangan lelaki itu. "Boleh saya coba?"
Lelaki tua itu ragu sejenak, lalu menyerahkan sepatu dan jarumnya. Fauzan jongkok di samping kios, memegang sepatu itu dengan cara yang ia kenal seperti memegang tangan sendiri. Ia memeriksa solnya, meraba jahitan lama yang sudah putus, lalu, dengan gerakan yang dipelajari selama bertahun-tahun di emperan, ia mulai menjahit. Jarum melengkung masuk dari sisi yang tepat, benang lilin ditarik kencang, simpul dikunci. Tangannya bekerja sendiri, hampir tanpa berpikir. Dalam beberapa menit, sol yang tadi menganga itu sudah merapat lagi ke badan sepatu, rapi, kuat.
Lelaki tua itu menerimanya kembali, memeriksa, menarik-narik solnya. Tidak lepas. Ia menatap Fauzan dengan kagum yang tidak ditutupi. "Masya Allah. Tanganmu ini tangan tukang beneran, Nak. Saya ini sudah tua, mata sudah rabun. Dulu saya pedagang sepatu bekas saja, nggak bisa benerin. Sekarang banyak yang minta dibenerin tapi saya nggak sanggup. Pelanggan kabur ke tukang lain."
Fauzan tidak menjawab. Ia hanya memandang tangannya sendiri, yang baru saja, untuk pertama kalinya sejak masuk pondok, melakukan sesuatu yang ia kuasai sepenuhnya. Ada kepuasan kecil yang menghangat di dadanya, kepuasan yang tidak pernah ia dapat di halaqah.
"Begini," kata lelaki tua itu, namanya belakangan Fauzan tahu Pak Kasdi. "Saya butuh orang yang bisa benerin. Kalau kamu mau, sekali-sekali mampir, benerin yang masuk, saya bagi hasilnya. Sepatu yang dibenerin bisa dijual lebih mahal, yang reparasi pelanggan saya kasih ongkos, kamu dapat bagian. Lumayan buat jajan."
Kata-kata itu menggantung di udara seperti umpan yang menggoda. Fauzan tahu betul apa artinya. Santri dilarang keluar bebas. Dilarang bekerja. Yang ia lakukan barusan saja sudah di luar izin, ia hanya boleh jajan, bukan jongkok menjahit sepatu orang. Kalau ia menerima tawaran ini, ia harus keluar diam-diam, harus berbohong soal keberadaannya, harus mempertaruhkan kursinya yang sudah goyah.
Tapi di kepalanya berkelebat wajah ibunya yang sesak napas, dan kalimat di surat Maryam tentang biaya periksa paru-paru yang tidak ada. Tangannya yang tadi menjahit sol terasa seperti satu-satunya jawaban nyata di dunia yang penuh dengan kewajiban yang tidak bisa ia penuhi.
"Saya santri, Pak," kata Fauzan pelan. "Kami nggak boleh keluar sembarangan."
Pak Kasdi mengangguk paham, tidak memaksa. "Ya sudah, nggak apa-apa. Tapi kalau suatu saat kamu bisa, kios saya selalu di sini." Ia mengeluarkan selembar uang dari kotak kayunya, menyodorkannya ke Fauzan. "Ini, upah benerin sepatu tadi. Bukan sedekah. Kamu kerja, kamu dibayar. Ambil."
Fauzan menatap uang itu. Sepuluh ribu rupiah. Lecek, tapi nyata. Lebih nyata dari semua ayat yang ia coba hafal. Ia menerimanya dengan tangan yang sedikit gemetar, lalu pamit, bergabung kembali dengan rombongan yang sudah berkumpul.
Sepanjang jalan pulang menanjak ke pondok, uang sepuluh ribu itu terasa berat di sakunya, seberat sebuah keputusan yang belum ia ambil tapi sudah tahu akan ia ambil. Ia menyimpan rahasia pertamanya: bahwa di pasar bawah sana, ada satu kios yang menunggunya, ada satu jalan keluar yang terbuka, ada satu cara untuk mengirim napas pada ibunya, asalkan ia berani melanggar.