Ada perubahan yang sulit dijelaskan terjadi pada hafalan Fauzan setelah malam hujan itu. Bukan karena tiba-tiba ia menjadi pintar, atau ayat-ayat mendadak gampang. Yang berubah adalah sesuatu di dalam dadanya. Selama berbulan-bulan, setiap kali ia membuka mushaf, ada simpul kecemasan yang menjerat — cemas soal ibunya, cemas soal uang, cemas soal kursinya yang goyah, cemas soal kebohongan yang harus ia jaga. Simpul itu membuat ayat-ayat tergelincir dari ingatannya seperti pasir dari genggaman.
Sekarang, dengan koperasi yang tertata, dengan rahasia yang sudah terbagi pada Maryam dan Kiai, dengan Burhan yang berubah dari pengancam jadi teman, simpul itu mengendur. Untuk pertama kali Fauzan bisa duduk di hadapan mushaf tanpa setengah pikirannya melayang ke pasar dan rumah sakit. Dan ketika pikirannya tenang, ternyata ayat-ayat itu mau tinggal.
Metode Kang Soleh kini benar-benar bekerja. Fauzan menyalin surat demi surat dengan tangannya, mengaitkan tiap ayat pada hal yang nyata — surat tentang waktu ia ingat sebagai jam istirahat yang ia curi untuk menyol, surat tentang orang yang mendustakan agama ia ingat sebagai mereka yang menghardik anak yatim, dan ia teringat Burhan, anak yang merasa diabaikan ayahnya. Ayat-ayat itu berhenti jadi deretan bunyi asing yang harus ia hafal mati-matian, dan mulai jadi sesuatu yang bersangkut-paut dengan hidupnya sendiri.
Yang lebih mengejutkan, Burhan ikut menyimaknya. Suatu malam, setelah belajar, Burhan mendekat dan berkata kaku, "Sini, aku simak. Aku hafal juz tiga puluh dari kelas lima. Biar nggak salah-salah kamu."
Maka jadilah pemandangan yang dulu mustahil: Burhan, si anak juragan yang dulu menertawakan Fauzan diam-diam, kini duduk bersila menghadapnya, memegang mushaf, dan menyimak Fauzan menyetor. Setiap kali Fauzan tersendat, Burhan tidak menyindir — ia hanya menunggu, atau memberi potongan kata pertama ayat berikutnya sebagai pancingan. Dan ketika Fauzan lancar satu surat penuh, Burhan mengangguk pelan, sebuah anggukan yang lebih berharga daripada pujian siapa pun.
"Kamu sebenarnya nggak bodoh, Zan," kata Burhan suatu kali, setelah Fauzan menyelesaikan surat yang panjang tanpa salah. "Kamu cuma nggak punya waktu kayak kami. Kami tinggal ngafalin. Kamu ngafalin sambil mikirin makan keluarga."
Kalimat itu, dari mulut Burhan, terasa seperti pembebasan kecil. Sepanjang hidupnya Fauzan diberi tahu, dengan kata atau dengan tatapan, bahwa ia tertinggal karena ia kurang — kurang cerdas, kurang rajin, kurang berbakat. Baru sekarang ada yang menyebut alasan sebenarnya: ia tertinggal bukan karena lemah, tapi karena pundaknya menanggung sesuatu yang tidak ditanggung anak-anak lain.
Setoran demi setoran mengalir. Ustaz Romli, yang biasanya menerima setoran Fauzan dengan kesabaran yang dipaksakan, mulai mengangkat alis. An-Naba lancar. An-Nazi'at lancar. 'Abasa, yang dulu membuat Fauzan tersendat di belasan tempat, kini mengalir dari ujung ke ujung dengan hanya satu-dua koreksi.
"Fauzan," kata Ustaz Romli suatu pagi, menutup mushaf di pangkuannya, "kamu ini kenapa? Sebulan lalu kamu masih nyangkut di surat yang sama tiap minggu. Sekarang kamu maju kayak kereta."
Fauzan menunduk, malu. "Hatinya agak tenang sekarang, Ustaz."
Ustaz Romli menatapnya lama. Ustaz ini sudah mengajar belasan tahun, sudah mengantar puluhan santri jadi hafiz, dan ia tahu — meski jarang mengatakannya — bahwa yang menghambat hafalan paling sering bukan kepala, melainkan hati yang penuh. Ia melihat anak di hadapannya ini, anak titipan nazar yang dulu ia kira tak akan sanggup, dan untuk pertama kali ia membiarkan dirinya berharap.
"Tenangkan terus hatimu, Le," kata Ustaz Romli akhirnya, dan ada kelembutan di suaranya yang biasanya tegas. "Juz tiga puluh ini tinggal sedikit lagi. An-Naba sampai An-Naas tinggal beberapa surat. Kalau ritmemu kayak gini terus, dua-tiga pekan lagi kamu khatam juz tiga puluh."
Khatam. Kata itu membuat dada Fauzan berdesir. Selama ini target tiga puluh juz terasa seperti gunung yang puncaknya tertutup awan, mustahil dilihat apalagi didaki. Tapi satu juz — juz yang paling dasar, yang ia mulai dari nol dengan tergagap membaca An-Naas di hari pertama — kini benar-benar di ujung jari.
Malam itu, Fauzan menyalin ayat-ayat terakhir yang belum ia hafal dengan tangan yang sedikit gemetar, bukan karena cemas, tapi karena haru. Burhan menyimak dari seberang, dan Komar yang sudah mengantuk pun memaksakan diri terjaga untuk menemani. Untuk pertama kali sejak gerbang itu, menghafal tidak terasa seperti rantai. Ia terasa seperti sesuatu yang Fauzan kerjakan, perlahan, dengan tangannya sendiri, menuju puncak kecil yang akhirnya bisa ia lihat. Tapi di kejauhan, bayangan tagihan rumah sakit yang belum datang masih menggantung, sabar menunggu gilirannya menghancurkan ketenangan yang baru ia temukan.