Hujan turun deras sore itu, mengurung kamar tujuh dan menggagalkan jadwal bersih-bersih halaman, sehingga para penghuninya terpaksa diam di dalam. Komar tidur memeluk bantal, dua santri lain main dam-daman dengan tutup botol di lantai, dan Fauzan duduk di sudut menyalin ayat ke buku tulisnya, metode Kang Soleh yang sudah jadi kebiasaan. Burhan berbaring memunggungi semuanya, menghadap tembok.
Lama-lama yang main dam-daman dipanggil piket dapur, dan Komar dibangunkan untuk ikut menemani, sehingga tinggal Fauzan dan Burhan di kamar yang mendadak sunyi, hanya diisi suara hujan yang menggebuk genting.
"Zan," suara Burhan terdengar dari arah tembok, pelan, hampir tenggelam dalam derai air. "Kamu nggak benci sama bapakmu?"
Fauzan berhenti menulis. Pertanyaan itu mengejutkannya bukan karena isinya, tapi karena yang bertanya adalah Burhan, yang selama berbulan-bulan hanya tahu cara menyindir, bukan bertanya. "Pernah," jawab Fauzan jujur. "Dulu. Pas diantar sampai gerbang dan baru tahu aku ditinggal buat menghafal yang bukan janjiku. Aku benci setengah mati."
"Terus sekarang?"
"Sekarang... nggak tahu. Capek bencinya. Lagian Bapakku bukan orang jahat. Dia cuma miskin dan nggak punya apa-apa lain buat dikasih ke Tuhan selain aku." Fauzan meletakkan pulpennya. "Kenapa nanya, Han?"
Burhan diam lama. Hujan mengisi jeda itu. Lalu ia berbalik, menatap langit-langit, dan tangannya yang biasa terlipat sombong kini hanya tergeletak di samping tubuhnya, lemas.
"Bapakku kaya, Zan," katanya. "Punya tiga toko bangunan. Mobilnya dua. Tiap orang di kampungku hormat sama dia." Ia menelan ludah. "Tapi dia nggak pernah sekali pun datang ke pondok ini. Dari aku masuk, dua tahun lalu, yang nganter sopir. Yang besuk sopir. Yang kirim uang lewat transfer, nggak pernah ada pesan, cuma angka masuk ke rekening pengurus."
Fauzan mendengarkan, tidak memotong.
"Aku dikirim ke sini bukan karena dia pengin aku jadi hafiz," lanjut Burhan, dan suaranya mulai bergetar di ujung-ujungnya, ditahan keras-keras. "Aku dikirim karena ibuku meninggal pas aku kelas enam, dan bapakku nggak tahu mau diapain anak laki-laki yang cuma bikin repot. Pondok itu... tempat penitipan, Zan. Biar dia bisa ngurus tokonya tanpa ada aku di rumah yang ngingetin dia sama ibuku."
Kata-kata itu keluar seperti nanah dari luka lama yang akhirnya dipencet. Fauzan tiba-tiba mengerti semuanya — kesombongan Burhan, kerajinannya menghafal sampai cemerlang, sindiran-sindirannya yang tajam. Semua itu bukan karena Burhan merasa lebih tinggi. Itu cara seorang anak yang merasa dibuang berteriak bahwa ia masih ada, masih berharga, masih layak dilihat. Ia menghafal segemilang itu bukan untuk Tuhan, bukan untuk ayahnya, tapi supaya suatu hari ada yang menoleh padanya dan berkata: kamu hebat, Nak, ayah bangga.
Kata yang tak pernah ia dengar.
"Aku iri sama kamu, tahu nggak," kata Burhan, dan kali ini ada yang lolos, satu garis basah di pelipisnya yang ia hapus cepat dengan punggung tangan. "Bapakmu miskin, tapi dia nganter kamu sendiri sampai gerbang. Dia mikirin kamu sampai bela-belain bernazar. Bapakku punya segalanya, tapi nggak pernah sekalipun mikirin aku selama satu detik."
Fauzan tidak tahu harus berkata apa. Ia teringat ayahnya yang reyot, yang mengantarnya dengan sandal jepit dan satu tas, yang matanya berkaca-kaca di gerbang meski mencoba terlihat tegar. Selama ini ia mengira beban paling berat di dunia adalah membawa nazar yang bukan miliknya. Tapi sore itu ia sadar ada beban yang lebih berat: tidak dibebani sama sekali, karena tidak dianggap cukup penting untuk dibebani.
"Han," kata Fauzan akhirnya, pelan, "luka kita beda bentuknya. Tapi sumbernya sama. Bapak. Sama-sama soal bapak dan apa yang dia kasih atau nggak kasih ke kita."
Burhan menoleh ke arahnya, matanya merah. Untuk pertama kali sejak mereka sekamar, tidak ada tembok di antara mereka, tidak ada persaingan, tidak ada sindiran. Hanya dua anak lima belas tahun yang sama-sama dikirim jauh dari rumah membawa luka yang mereka kira hanya milik mereka sendiri.
"Maaf ya," kata Burhan, suaranya hampir tak terdengar. "Dulu aku mau ngelaporin kamu. Soal pasar itu."
Fauzan tersenyum kecil. "Udah lewat. Lagian kamu nggak jadi, kan?"
"Nggak jadi."
"Ya sudah."
Hujan masih turun di luar, tapi di dalam kamar tujuh, sesuatu yang lama membeku akhirnya mencair. Mereka tidak berpelukan, tidak berjabat tangan dramatis — anak laki-laki tidak begitu. Burhan hanya berbalik lagi menghadap tembok, dan Fauzan kembali ke buku tulisnya. Tapi keduanya tahu, dengan cara yang tak perlu diucapkan, bahwa malam itu mereka berhenti jadi lawan dan mulai jadi teman.