Pagi terakhir sebelum Fauzan harus kembali ke pondok, Ibu sadar penuh untuk pertama kalinya sejak ia tiba. Dokter berkata kondisinya sedikit membaik dengan oksigen dan obat, meski jalan menuju sembuh masih sangat panjang dan masih ada tindakan medis besar yang menunggu di depan. Tapi pagi itu, Ibu bisa duduk bersandar di bantal, matanya jernih, dan ketika ia melihat Fauzan, ia menepuk tepi ranjang, memintanya duduk dekat.
Fauzan duduk, dan Ibu meraih tangannya dengan kedua tangannya yang ringan. Selang oksigen masih di hidungnya, tapi suaranya lebih kuat dari sebelumnya, meski masih harus diatur di antara napas.
"Le," katanya. "Ibu denger dari Maryam. Soal kamu... soal kamu kerja."
Fauzan membeku. Ia menatap Maryam yang berdiri di pintu, dan Maryam menunduk, wajahnya menyiratkan bahwa ia tidak tahan menyimpan rahasia itu dari ibunya. Fauzan menelan kepanikan. Ia takut Ibu akan kecewa, akan merasa bersalah, akan menyalahkan dirinya sendiri.
Tapi Ibu tidak melakukan satu pun dari itu. Ia hanya menatap Fauzan dengan mata yang basah dan penuh, dan membelai punggung tangan anaknya dengan ibu jarinya.
"Ibu nggak akan bilang jangan," kata Ibu pelan. "Karena Ibu tahu, kalau Ibu jadi kamu, Ibu juga akan lakuin hal yang sama. Cinta itu nggak nanya boleh atau nggak boleh. Cinta cuma nyari jalan." Ia berhenti, menarik napas yang berbunyi halus. "Tapi Ibu mau kamu denger satu hal. Baik-baik. Karena ini mungkin yang paling penting yang Ibu pengin kamu inget."
Fauzan mengangguk, tak berani bicara.
"Ibu nggak minta kamu jadi orang hebat, Le. Ibu nggak peduli kamu khatam tiga puluh juz atau nggak. Ibu nggak peduli kamu jadi ustaz, jadi kiai, jadi orang penting. Itu semua urusan nanti, urusan dunia." Ia mengeratkan genggamannya, selemah genggaman itu. "Yang Ibu pengin cuma satu. Ibu pengin kamu nggak kehilangan diri kamu sendiri. Ngerti maksud Ibu?"
Fauzan menggeleng pelan. Ia tidak mengerti, belum.
"Banyak orang," kata Ibu, "yang dikejar-kejar sama beban, terus jadi orang yang beda. Jadi keras. Jadi pahit. Jadi orang yang lupa kenapa dia berjuang, sampai yang tinggal cuma perjuangannya doang, kosong di dalamnya. Ibu takut itu kejadian sama kamu, Le. Kamu masih kecil, tapi kamu udah nanggung beban orang dewasa. Bapakmu, Ibu, Mbakmu, nazar itu, pondok itu, semua numpuk di pundakmu." Suaranya bergetar. "Ibu takut kamu menang ngalahin semua itu, tapi kalah sama diri kamu sendiri. Kamu khatam, kamu sukses, kamu nyelametin kita semua — tapi kamu jadi orang yang Ibu nggak kenal lagi. Itu yang Ibu takutin. Bukan kamu gagal. Tapi kamu kehilangan diri."
Fauzan menunduk, dan air matanya menetes ke selimut tipis di pangkuan ibunya. Ia memahaminya sekarang. Ia teringat dirinya yang membentak Ustaz Farid, dirinya yang meledak di kamar tujuh, dirinya yang nyaris kabur lewat pagar, dirinya yang berbohong pada hampir semua orang sampai ia tak lagi bisa membedakan kebenaran dari kebohongannya sendiri. Ia merasakan dirinya mulai mengeras, mulai pahit, dan ibunya melihatnya, ibunya yang sekarat melihatnya dengan jelas dari ranjang rumah sakit ini.
"Janji, Le," kata Ibu. "Janji sama Ibu. Apa pun yang terjadi. Mau kamu khatam atau nggak, mau kita selamat atau nggak, mau Ibu sembuh atau nggak — kamu janji nggak akan kehilangan diri kamu sendiri. Kamu tetap jadi Fauzan yang baik hati, yang lembut, anak Ibu. Janji?"
"Janji, Bu," bisik Fauzan, dan kali ini janji itu berbeda dari semua janji yang pernah ia ucapkan. Bukan janji kepada nazar, bukan janji kepada pondok, bukan kebohongan demi cinta. Ini janji yang akan ia simpan sebagai kompas, janji yang akan ia bawa ke setiap persimpangan dalam sisa hidupnya.
Ibu tersenyum, senyum yang melawan seluruh kelelahan tubuhnya, dan menarik kepala Fauzan ke dadanya, membelai rambutnya seperti ketika ia masih kecil. "Anak Ibu," bisiknya. "Anak Ibu yang baik. Pergilah, balik ke pondok. Belajar yang bener. Tapi jangan lupa jadi orang. Itu lebih penting dari semua hafalan di dunia."
Dan Fauzan, dalam pelukan ibunya yang ringan dan sakit, untuk pertama kali sejak ia diantar ke gerbang, merasa beban di pundaknya berubah bentuk. Beban itu tidak hilang. Tapi kini ia tahu untuk apa ia memikulnya, dan dengan mengetahui itu, beban yang sama terasa berbeda di pundaknya — masih berat, tapi tidak lagi asing, tidak lagi memaksa, melainkan beban yang ia pilih untuk dipikul demi sesuatu yang ia mengerti.