Keesokan harinya, saat Pak Sahal pulang sebentar untuk mandi dan mengganti baju, dan Ibu sedang diperiksa dokter di balik tirai, Maryam menarik Fauzan keluar dari ruangan, ke koridor rumah sakit yang sepi di ujungnya, dekat jendela yang menghadap halaman belakang berumput liar.
"Fauzan," katanya, dan suaranya rendah, hati-hati, seperti seseorang yang akan membuka sesuatu yang sudah lama ia simpan. "Aku mau tanya kamu sesuatu. Dan aku mau kamu jujur. Tolong, ya. Jujur sama Mbak."
Fauzan merasakan firasat buruk merayap di tengkuknya. "Tanya apa, Mbak?"
Maryam menatapnya lama, dan di mata kakaknya itu Fauzan melihat sesuatu yang membuatnya tahu ia tidak akan bisa berkelit: Maryam sudah tahu. Mungkin belum tahu detailnya, tapi sudah tahu cukup.
"Uang itu," kata Maryam. "Uang yang kamu kirim. Yang lewat saudaranya Pak Kasdi itu. Yang jumlahnya... jumlahnya banyak, Fauzan. Lebih banyak dari yang masuk akal." Ia menelan ludah. "Beasiswa pondok itu kan nutup biaya kamu di sana. Makan, asrama, semuanya. Beasiswa nggak ngasih kamu uang tunai buat dikirim pulang. Aku nggak bodoh, Le. Aku udah lama mikirin ini. Dari mana kamu dapat uang sebanyak itu?"
Fauzan membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Kebohongan yang biasa ia siapkan — beasiswa, bantuan dari pondok, sumbangan — semuanya terasa murahan di hadapan tatapan kakaknya. Maryam sudah menjaga keluarga ini sendirian terlalu lama untuk dibodohi.
"Aku takut, Le," lanjut Maryam sebelum Fauzan sempat menjawab, dan suaranya bergetar. "Aku takut kamu... kamu ngapain di sana. Aku takut kamu utang sama rentenir. Aku takut kamu ngambil yang bukan hakmu. Tiap malam aku mikir, dari mana adikku yang masih lima belas tahun dapat uang sebanyak ini, dan tiap malam aku nggak bisa tidur mikirin yang macam-macam. Tolong, Le. Kalau kamu sayang sama Mbak, jujurlah."
Dan di koridor rumah sakit yang sepi itu, di hadapan ketakutan kakaknya yang begitu nyata, Fauzan tidak bisa lagi berbohong. Beban rahasia yang ia pikul sendirian selama berbulan-bulan tiba-tiba terasa terlalu berat untuk ditahan satu detik lagi.
"Aku kerja, Mbak," katanya pelan. "Aku menyol sepatu. Di pasar dekat pondok dulu, sembunyi-sembunyi. Sekarang udah resmi, di koperasi pondok. Kiai ngizinin. Uang yang aku kirim itu dari situ. Dari tanganku, Mbak. Bukan utang, bukan curian. Aku kerja, sama kayak Bapak."
Maryam menatapnya, dan untuk beberapa saat ia tidak bisa berkata apa-apa. Lalu wajahnya, yang tadi tegang oleh ketakutan, perlahan runtuh menjadi sesuatu yang lain — bukan kelegaan, melainkan kepedihan yang lebih dalam. Air matanya jatuh, satu, lalu deras, dan ia menutup mulutnya dengan tangan agar tidak terisak keras di koridor rumah sakit.
"Kamu kerja?" bisiknya di antara isak. "Kamu menyol sepatu? Di pondok? Sambil ngapalin Qur'an? Kamu... ya Allah, Fauzan. Kamu masih lima belas tahun."
"Aku nggak apa-apa, Mbak," kata Fauzan cepat, panik melihat kakaknya menangis. "Beneran. Aku kuat. Aku bisa bagi waktu—"
"Itu yang bikin aku nangis, bodoh!" Maryam meraih kedua bahu Fauzan, mengguncangnya pelan, air matanya membasahi pipinya. "Bukan karena kamu nggak kuat. Karena kamu nggak seharusnya kuat! Kamu masih bocah, Le. Harusnya kamu cuma mikirin ngaji, mikirin pelajaran, kayak anak-anak lain. Bukan mikirin biaya rumah sakit, bukan menyol sepatu sampai tanganmu melepuh, bukan nanggung keluarga ini di pundakmu yang masih sekecil ini."
Ia menarik Fauzan ke dalam pelukan, dan kali ini Fauzan tidak menahannya. Ia membenamkan wajahnya di bahu kakaknya, dan untuk pertama kali ada seseorang selain Komar yang tahu beban penuh yang ia pikul, dan rasanya seperti meletakkan sesuatu yang terlalu lama ia gendong sendirian.
"Ini salah Mbak," bisik Maryam di rambutnya. "Mbak yang nulis surat itu, ngabarin Ibu sakit, ngabarin biaya. Mbak pikir kamu cuma akan sedih, akan doain. Mbak nggak nyangka kamu malah... ya Allah. Mbak yang naruh beban ini di pundakmu. Mbak yang harusnya jaga kamu, malah kamu yang jaga kita semua."
"Bukan salah Mbak," kata Fauzan, suaranya teredam di bahu kakaknya. "Bukan salah siapa-siapa. Kita cuma... kita cuma miskin, Mbak. Itu aja. Kita miskin, dan kita saling jaga semampu kita."
Maryam melepaskan pelukannya, menyeka wajah Fauzan dan wajahnya sendiri dengan ujung kerudung. "Janji sama Mbak," katanya. "Kamu nggak akan korbanin diri kamu sampai hancur. Boleh kamu bantu, tapi jangan sampai kamu kehilangan diri kamu sendiri. Ibu nggak akan rela, Le. Ibu nggak akan pernah rela napasnya disambung dengan masa depanmu yang hancur."
Fauzan mengangguk, meski di dalam hatinya ia tahu bahwa garis antara membantu dan menghancurkan diri tidak pernah sejelas yang dikira orang. Tapi untuk saat ini, di koridor itu, dengan rahasianya akhirnya terbagi, ia merasa sedikit lebih ringan. Tidak lagi sendirian. Itu sudah cukup untuk hari ini.