Fauzan berangkat keesokan paginya, sebelum matahari sepenuhnya naik. Komar mengantarnya sampai gerbang, menepuk punggungnya, dan berkata, "Salam buat Ibu. Aku doain dari sini." Burhan, yang berdiri agak jauh dengan tangan di saku, hanya mengangguk kaku, tapi sebelum Fauzan pergi ia menyelipkan sesuatu ke tas Fauzan — sekantong kecil kurma, yang membuat Fauzan terkejut dan tak sempat berterima kasih sebelum bus menjemputnya.
Perjalanan ke kota memakan setengah hari. Dari kota, ia harus naik angkutan lagi ke kecamatan, lalu turun dan berjalan ke rumah sakit kecil yang ia kenal namanya dari surat Maryam. Sepanjang jalan, jendela bus memutar pemandangan yang perlahan berubah: dari hijau pegunungan menjadi sawah, lalu kota yang ramai, lalu jalan yang menurun menuju pesisir, dan akhirnya bau yang ia kenali sejak ia masih kecil — bau laut, bau ikan asin yang dijemur, bau lumpur tambak. Bau rumah.
Dadanya sesak oleh kerinduan dan kecemasan yang bercampur jadi satu. Hampir setahun ia tidak menghirup udara ini. Hampir setahun sejak ayahnya mengantarnya ke gerbang dengan sepasang sandal jepit dan sebuah nazar yang bukan miliknya.
Rumah sakit kecamatan itu bangunan tua bercat hijau pudar, dengan koridor yang panjang dan berbau obat dan keringat. Fauzan bertanya pada perawat, lalu berjalan menyusuri lorong, hatinya berdebar makin keras di setiap langkah, sampai ia menemukan ruangan dengan beberapa ranjang berderet, dipisahkan tirai-tirai tipis. Dan di salah satu ranjang itu, di dekat jendela, ia melihat sosok yang membuat seluruh tubuhnya membeku.
Ibunya.
Tapi bukan ibu yang ia ingat. Ibu yang ia ingat adalah perempuan yang sibuk, yang tangannya selalu bergerak — mencuci, menanak nasi, menjemur ikan, menjahit baju yang robek. Ibu yang ada di ranjang itu kurus sampai tulang pipinya menonjol, kulitnya pucat keabuan, dan di hidungnya terpasang selang oksigen yang tersambung ke tabung di samping ranjang. Dadanya naik turun dengan susah payah, setiap napas adalah pekerjaan yang harus diperjuangkan.
Maryam duduk di kursi di samping ranjang, kepalanya bersandar ke dinding, tertidur karena kelelahan. Ia terbangun saat mendengar langkah, dan ketika ia melihat Fauzan berdiri di pintu, matanya membelalak, dan ia bangkit begitu cepat sampai kursinya hampir terguling.
"Fauzan," bisiknya, dan langsung memeluk adiknya, tubuhnya berguncang. "Kamu pulang. Kamu beneran pulang."
Fauzan memeluk kakaknya, tapi matanya tertuju ke ranjang, ke sosok ibunya yang rapuh, dan ia merasa lututnya melemah. Maryam melepaskan pelukannya, menyeka mata, lalu menariknya pelan ke samping ranjang. "Bu," katanya lembut, membungkuk ke arah ibunya. "Bu, lihat siapa yang datang. Fauzan, Bu. Fauzan pulang."
Mata ibunya, yang tadi terpejam, terbuka pelan. Butuh waktu beberapa detik baginya untuk fokus, untuk mengenali, dan ketika ia mengenali, sesuatu yang luar biasa terjadi di wajahnya yang lelah itu: sebuah cahaya, sebuah senyum yang melawan seluruh kepayahan tubuhnya, naik dari suatu tempat yang lebih dalam dari penyakit.
"Le..." Suaranya hampir tak terdengar, teredam selang oksigen. "Fauzan..."
Fauzan jatuh berlutut di samping ranjang, meraih tangan ibunya — tangan yang dulu begitu kuat, kini begitu ringan dan dingin, tinggal kulit membungkus tulang — dan menempelkannya ke pipinya. Air matanya jatuh membasahi punggung tangan ibunya. Ia tidak bisa bicara. Setahun penuh ia menahan, berbohong lewat telepon, menulis surat-surat yang ceria, dan kini, dengan tangan ibunya di pipinya, seluruh tahanan itu jebol.
"Ibu," isaknya. "Maaf, Bu. Maaf Fauzan baru bisa pulang. Maaf."
"Sssh," kata ibunya, dan dengan susah payah ia menggerakkan jari-jarinya, membelai kepala Fauzan, gerakan kecil yang membutuhkan seluruh tenaganya. "Kamu di sini. Itu cukup. Ibu seneng banget, Le. Ibu seneng banget kamu di sini."
Di luar jendela, langit pesisir mulai jingga oleh senja, dan camar-camar terbang pulang ke sarang. Fauzan berlutut di samping ibunya, memegang tangannya, dan untuk pertama kali sejak ia diantar ke gerbang pondok, ia tahu dengan pasti, tanpa keraguan sedikit pun, kenapa ia melakukan semua yang ia lakukan. Bukan untuk nazar. Bukan untuk ayat. Untuk tangan yang membelai kepalanya ini. Untuk napas yang ia perjuangkan agar terus berbunyi. Untuk perempuan yang, bahkan dalam sakitnya, lebih mengkhawatirkan kebahagiaan anaknya daripada penyakitnya sendiri.