Sore harinya, dengan keberanian yang ia kumpulkan sepotong demi sepotong, Fauzan berjalan menuju ndalem. Kakinya berat di jalan setapak yang sama yang dulu ia susuri dengan ketakutan akan dipulangkan. Kali ini ketakutannya berbeda: ia takut ditolak sekali lagi, dan kalau Kiai pun menolaknya, ia tidak tahu lagi harus ke mana selain ke pagar dapur di tengah malam.
Nyai, istri Kiai, yang membukakan pintu. Perempuan tua berkerudung sederhana itu memandangnya sebentar, lalu seakan membaca sesuatu di wajah Fauzan, ia tidak banyak bertanya. "Masuk, Le. Abah ada di dalam."
Kiai duduk di ruang tengah yang sederhana, di atas tikar pandan, dengan sebuah mushaf terbuka di pangkuannya dan kacamata baca bertengger di hidungnya. Ia tampak lebih tua dari yang Fauzan ingat, atau mungkin Fauzan baru memperhatikannya sekarang: rambut yang memutih di pelipis, tangan yang sedikit gemetar saat membalik halaman, batuk kecil yang sesekali lolos dari dadanya. Sosok yang dulu terasa setinggi gunung kini tampak seperti seorang lelaki tua yang lelah.
"Duduk, Fauzan," kata Kiai, menutup mushafnya pelan. "Ada apa kok sore-sore ke sini?"
Fauzan duduk bersila di tikar, kepalanya menunduk. Ia sudah berlatih kata-katanya, tapi begitu ia membuka mulut, semua latihan itu hancur, dan yang keluar hanyalah kebenaran yang mentah.
"Ibu saya di rumah sakit, Kiai," katanya. "Parunya makin parah. Kakak saya bilang berat. Saya... saya mau pulang. Saya udah minta izin sama Pak Munir, tapi katanya harus lewat prosedur, harus nunggu, harus surat resmi. Dan saya nggak tahu Ibu masih punya waktu berapa lama buat nunggu prosedur. Saya..." Suaranya tercekat. "Saya hampir kabur tadi malam, Kiai. Lewat pagar dapur. Komar yang nahan saya."
Ia mengakui semuanya, bahkan niat kaburnya, karena ia terlalu lelah untuk menyembunyikan apa pun lagi. Ia menunggu kemarahan, teguran, ceramah tentang kesabaran. Tapi yang ia dengar hanyalah keheningan, dan ketika ia memberanikan diri mengangkat wajah, ia melihat Kiai memandangnya dengan sesuatu yang sama sekali tidak ia duga: bukan kemarahan, bukan kekecewaan, melainkan kelelahan yang penuh pengertian, kelelahan seorang yang sudah lama mengenal jenis penderitaan ini.
Kiai menarik napas panjang, yang berakhir dengan batuk kecil yang ia tahan dengan punggung tangan. "Kamu tahu, Nak," katanya pelan, "aturan itu dibuat oleh orang-orang yang sayang sama pondok ini, sama santri-santrinya. Pak Munir bukan orang kejam. Dia cuma menjaga pagar supaya pondok tidak kacau. Itu tugasnya, dan dia menjalankannya dengan baik."
Fauzan menunduk lagi. Ia tahu ini awal dari penolakan.
"Tapi," lanjut Kiai, dan kata itu membuat Fauzan kembali mengangkat wajahnya, "pagar dibuat untuk menjaga, bukan untuk memenjarakan orang dari ibunya yang sakit. Ada saat aturan harus melangkah mundur supaya kemanusiaan bisa lewat. Dan itu, Nak, yang Pak Munir tidak punya wewenang untuk memutuskan. Tapi aku punya."
Fauzan menahan napas.
"Kamu boleh pulang," kata Kiai. "Tiga hari. Cukup untuk menjenguk ibumu, menemani dia, lalu kembali. Aku yang akan bicara dengan Pak Munir, jadi kamu tidak perlu takut dianggap kabur. Ini izin resmi dari aku langsung."
Sesuatu di dada Fauzan, yang sudah berhari-hari terkunci rapat, terbuka, dan ia harus menggigit bibir agar tidak menangis di hadapan Kiai. "Terima kasih, Kiai," bisiknya. "Terima kasih."
Kiai mengangkat tangan, menepis terima kasih itu seperti menepis sesuatu yang tidak perlu. Lalu ia bangkit pelan, dengan susah payah, lututnya berbunyi, dan masuk ke kamar dalam. Ketika ia kembali, ia membawa sesuatu di tangannya: lipatan beberapa lembar uang, lusuh tapi cukup banyak.
"Ini," katanya, mengulurkannya kepada Fauzan. "Buat ongkos. Dan sedikit buat ibumu."
Fauzan menatap uang itu, lalu menatap Kiai, lalu menggeleng. "Nggak usah, Kiai. Saya... saya ada uang sendiri. Saya kerja di koperasi."
"Aku tahu kamu kerja," kata Kiai, dan ada senyum tipis di sudut bibirnya yang renta. "Aku tahu betul kamu kerja. Tapi uang kamu untuk ibumu. Ini dariku, untuk ongkos. Terima saja, Nak. Orang tua yang memberi tidak suka ditolak."
Fauzan menerima uang itu dengan kedua tangan, kepalanya tertunduk dalam, dan ia merasakan sesuatu bergeser di dalam pandangannya tentang dunia. Selama ini ia mengira Kiai adalah sosok di puncak nazar yang menjebaknya, orang yang kepadanya budi harus dibayar dengan tiga puluh juz, hakim yang menentukan apakah ayahnya pantas dihormati. Tapi yang duduk di hadapannya bukan hakim. Yang duduk di hadapannya adalah seorang lelaki tua yang batuk-batuk, yang lututnya berbunyi saat berdiri, yang mengeluarkan uangnya sendiri untuk seorang anak yang ibunya sakit, yang mengerti penderitaan bukan dari kitab melainkan dari hidup. Seorang ayah yang lain. Seorang manusia yang juga rapuh.
"Pulanglah," kata Kiai lembut. "Temui ibumu. Dan kalau kamu di sana, doakan dia, tapi jangan lupa berbahagia bisa di sampingnya. Karena itu, Nak, juga ibadah."