Selena memundurkan rekaman dan memutarnya lagi. Perempuan berkerudung itu mengangkat tangan, safir memantulkan cahaya, lalu wajahnya lenyap di balik kilau putih.
Sekali lagi.
Hasilnya tetap sama.
'Pantulannya terlalu tepat,' kata Maira. 'Seseorang menaruh sumber cahaya menghadap kamera.'
'Berarti perempuan itu tahu sedang direkam,' ujar Rendra.
'Atau orang yang merekam sengaja melindungi wajahnya,' Selena menimpali.
Maira meminta video diputar dari awal tanpa suara. Ia memaksa dirinya mengabaikan kemiripan tubuh perempuan itu dan memperhatikan hal-hal yang tidak bergerak: tepi meja, pola dinding, lipatan tirai, pantulan pada bingkai kaca. Pekerjaannya mengajarinya bahwa dokumen bukan hanya kata-kata. Noda, jarak, dan benda yang dianggap tidak penting sering menyimpan pengakuan.
Saat Bima berpindah untuk menandatangani akta, bahunya menutupi kamera selama dua detik. Di sela gerak itu, tampak angka kuningan pada pantulan jendela.
'Berhenti.'
Selena menahan gambar.
Maira menunjuk tiga bentuk terbalik di kaca. 'Empat, nol, delapan.'
Rendra mendekat. 'Kamar 408.'
'Prosesi ini dilakukan di sana,' kata Maira. 'Bukan di kantor catatan sipil.'
Selena memperbesar bagian lain. Pada sudut meja ada cap portabel milik petugas dan map administrasi. 'Pencatatan privat. Bima bisa membayar petugas datang ke hotel.'
Galih mendengus. 'Atau video ini dibuat setelah dia hilang untuk mendukung akta palsu.'
Rendra mengambil kantong berisi cincin. 'Kita periksa kamarnya.'
'Kamar itu disegel atas perintah keluarga,' kata Galih.
'Hak aksesnya tercantum dalam akta Maira.'
'Akta yang sedang kugugat.'
'Belum dibatalkan.'
Galih menatapnya dengan kemarahan terbuka, tetapi Rendra sudah meminta kendaraan dan tim keamanan menunggu di depan. Ia tidak memberi Galih waktu untuk memanggil rapat atau memindahkan apa pun.
Perjalanan ke hotel utama Adiprana memakan waktu tiga puluh menit. Maira duduk di sebelah Rendra sambil memegang salinan surat Bima. Satu kalimat tentang saudara terus berulang di pikirannya.
'Kalau Ibu melahirkan anak lain, aku pasti tahu,' katanya.
Rendra menatap jalan di balik kaca. 'Tidak semua rahasia keluarga dibuat oleh orang tua.'
'Kau sedang membela ibuku?'
'Aku sedang mengingatkan bahwa seseorang mungkin memaksanya diam.'
'Siapa? Keluargamu?'
Rendra tidak menjawab segera. 'Itu yang harus kita cari.'
Hotel Adiprana berdiri di pusat kota, tetapi kamar 408 tidak berada di menara baru. Letaknya di sayap lama yang dahulu menjadi tempat tinggal keluarga pendiri sebelum bangunan diperluas. Koridor lantai empat kosong. Kain penutup menutupi furnitur, dan debu berkumpul di tepi karpet.
Segel lilin pada pintu 408 masih utuh. Maira memotretnya, mencatat waktu, lalu memeriksa tepi kertas penyegel.
'Segel ini dipasang dua tahun lalu,' katanya. 'Namun ada lapisan perekat baru di bagian bawah. Pernah dilepas dan ditempel kembali.'
Rendra memberi isyarat agar petugas keamanan memeriksa koridor. 'Bisa diketahui kapan?'
'Tanpa laboratorium, tidak.'
Ia menyerahkan cincin safir kepada Maira. Ketika didekatkan pada lubang kunci, Maira melihat celah sempit di bawah dudukan batu. Ia menekan safir itu. Sebuah bilah logam kecil keluar dari lingkaran cincin seperti kunci lipat.
'Bima menyembunyikan kunci di dalam cincin,' katanya.
Kunci tersebut memutar mekanisme pintu, tetapi Rendra menahan tangan Maira sebelum ia membukanya.
'Aku masuk lebih dulu.'
'Namaku yang tercatat sebagai pemegang hak kamar.'
'Dan Bima memperingatkan seseorang sudah menemukan saudaramu. Itu cukup untuk membuatku berjalan di depan.'
Maira ingin membantah, tetapi teringat kamera mati, surat tersembunyi, dan Galih yang terlalu cepat mengancam polisi. Ia membiarkan Rendra mendorong pintu.
Kamar 408 tidak menyerupai kamar hotel.
Wallpaper biru pucat dihiasi bintang-bintang kecil. Dua bekas persegi panjang pada lantai menunjukkan tempat ranjang bayi pernah berdiri. Lemari pendek menempel pada dinding, dan sebuah kursi goyang tertutup kain putih berada di dekat jendela. Bau debu bercampur samar dengan sesuatu yang hangus.
'Kenapa keluarga hotel menyimpan ruang bayi di sini?' tanya Maira.
Rendra mengangkat kain dari kursi. 'Aku tidak pernah melihat ruangan ini. Laras melarang kami masuk ke sayap lama sejak kecil.'
Di dinding ada foto yang sudah dilepas. Hanya bentuk bingkai lebih terang dan satu paku berkarat yang tersisa.
Maira membuka lemari. Laci pertama kosong. Laci kedua macet karena kayunya memuai. Ketika ia menarik lebih keras, bagian depan laci terlepas dan memperlihatkan rongga di belakangnya.
Dua gelang kelahiran terbaring di sana.
Plastiknya menguning dan sebagian permukaannya meleleh. Gelang pertama masih dapat dibaca: Bayi Perempuan 1, Lestari Savitri. Pada gelang kedua, angka 2 bertahan di antara noda hitam.
Lutut Maira melemah. Rendra menangkap sikunya.
'Nama ibumu?'
Maira mengangguk tanpa suara.
Di bawah kedua gelang ada register tipis dengan tepian hangus. Ia mengangkatnya menggunakan saputangan, lalu membuka halaman yang ditandai pita biru. Tinta pada separuh halaman telah pudar, tetapi dua baris masih jelas.
Lestari Savitri. Persalinan darurat. Bayi perempuan pertama lahir pukul 03.17. Bayi perempuan kedua lahir pukul 03.24.
'Tidak mungkin,' bisik Maira. 'Tanggal ini tanggal lahirku.'
Rendra membaca kolom berikutnya. Bagian nama fasilitas terbakar, tetapi catatan pemindahan menyebut kamar 408. Tanda tangan saksi di bawahnya telah disobek.
Maira menekan ujung jarinya ke bibir. Kenangan tentang Lestari muncul tanpa urutan: ibunya yang selalu menghindari foto rumah sakit, penolakannya membicarakan keluarga lama, dan kalimat yang sering diucapkan saat Maira kecil bahwa mereka hanya punya satu sama lain.
'Bayi kedua dibawa ke mana?'
'Halaman lanjutannya hilang,' kata Rendra.
Dari koridor terdengar bunyi logam jatuh.
Rendra segera berdiri dan menuju pintu. Gagangnya tidak bergerak.
'Kita dikunci,' katanya.
Ia memukul pintu dengan bahu, lalu memanggil petugas keamanan melalui ponsel. Tidak ada sinyal. Maira memeriksa jendela, tetapi bingkainya dipaku dan lantai empat terlalu tinggi untuk dilompati.
Bau hangus mendadak menguat.
Garis asap tipis menyusup dari bawah pintu.
Rendra mengambil kursi dan menghantamkannya ke gagang. Kayu kursi pecah, tetapi mekanisme kunci tetap bertahan. Asap berubah dari abu-abu menjadi hitam dan mulai memenuhi bagian bawah ruangan.
'Kamar mandi,' kata Rendra. 'Basahi handuk.'
Maira memasukkan register dan gelang ke dalam tasnya, lalu berlari ke kamar mandi lama. Keran sempat memuntahkan air berwarna cokelat sebelum jernih. Ia membasahi dua handuk dan menyerahkan satu kepada Rendra.
Suara alarm tidak terdengar.
'Mereka mematikan detektor di sayap ini,' kata Maira.
Rendra menutup hidung dengan handuk, lalu memeriksa panel kayu di samping lemari. 'Bangunan lama pasti punya jalur servis.'
Asap turun semakin tebal. Maira berlutut agar dapat bernapas. Di luar, sesuatu pecah, disusul deru yang tumbuh cepat.
'Rendra.'
Cahaya jingga muncul pada celah pintu.
Ia berbalik tepat ketika lidah api menyambar masuk dari bawah. Rendra menerjang Maira dan menarik tubuhnya ke lantai.