Rendra menerjang Maira dan menarik tubuhnya ke lantai saat lidah api menjilat celah pintu. Hawa panas menyapu wajah mereka. Ia menahan kepala Maira di bawah lengannya, lalu menyeretnya menjauh dari karpet yang mulai menghitam.
'Tetap rendah,' katanya dengan suara serak. 'Jangan lepaskan handukmu.'
Maira mengangguk, meski matanya perih dan dadanya terasa disesaki pasir. Api di balik pintu menggeram seperti sesuatu yang telah lama menunggu untuk kembali ke kamar itu. Kursi yang tadi dipakai Rendra menghantam gagang kini terbakar pada salah satu kakinya.
Rendra merangkak menuju panel kayu di samping lemari. Ia meraba sambungan yang tertutup lapisan cat, kemudian membungkus tangan dengan ujung handuk dan memukulnya memakai kaki kursi yang tersisa. Pukulan pertama hanya meninggalkan retakan. Pukulan kedua membuka celah selebar dua jari.
'Ada ruang di belakangnya,' ujar Maira.
'Bantu aku tarik.'
Mereka mencengkeram tepi panel. Cat mengelupas, paku tua menjerit, lalu papan itu terlepas dan jatuh menimpa lantai. Lubang sempit terbuka ke lorong servis. Namun sebelum masuk, Maira melihat titik merah kecil di balik pecahan kayu.
Sebuah kamera tersembunyi mengarah tepat ke tempat tidur bayi.
'Rendra, tunggu.'
'Kita tidak punya waktu.'
'Kamera ini merekam orang yang mengurung kita.'
Maira meraih perangkat itu. Kabelnya telah dipotong, tetapi slot kartu memorinya masih terisi. Dengan kuku gemetar, ia menekan kartu kecil itu hingga terlepas, kemudian memasukkannya ke saku kemeja. Rendra mendorong tas berisi register dan gelang ke dalam lorong terlebih dahulu.
'Kau masuk sekarang.'
'Bagaimana denganmu?'
'Aku tepat di belakangmu.'
Maira menyusup ke lubang. Bahunya bergesekan dengan pipa, sementara asap mengejarnya dari kamar. Di belakang, terdengar Rendra mengumpat. Ia menoleh dan melihat ujung lengan kemeja pria itu tersambar api.
'Rendra!'
Rendra menepuk api dengan handuk, tetapi bahunya membentur bingkai logam. Tubuhnya tertahan setengah jalan. Maira meraih pergelangan tangannya dengan kedua tangan.
'Dorong dengan kakimu!'
'Pergi dulu, Maira.'
'Aku tidak akan meninggalkanmu di kamar itu.'
Ia menarik sekuat tenaga. Rendra akhirnya lolos ketika bingkai logam patah dan jatuh bersama percikan api. Mereka merangkak menyusuri lorong gelap sampai menemukan kisi-kisi yang menghadap ruang penyimpanan linen. Rendra menendangnya tiga kali. Kisi itu terlepas, dan keduanya jatuh di antara tumpukan seprai berdebu.
Alarm baru meraung ketika mereka mencapai tangga darurat.
Petugas hotel berlari naik bersama alat pemadam. Rendra membawa Maira turun dengan satu tangan melindungi punggungnya, meski telapak tangannya sendiri berdarah dan bahu kirinya sulit digerakkan. Di halaman belakang, paramedis memaksa mereka duduk. Selimut darurat menutupi pundak Maira, tetapi tubuhnya masih menggigil.
Seorang paramedis membersihkan jelaga dari pipinya dan memasang tabung oksigen kecil. Maira baru menyadari lututnya lecet, sementara bagian samping tasnya mengerut terkena panas. Ia membuka ritsleting dengan panik. Register di dalam masih utuh, tetapi salah satu gelang bayi menghitam pada ujung kainnya. Rendra menutup kembali tas itu dan meminta seorang petugas memotret kondisinya agar rantai bukti tidak mudah dipersoalkan.
'Orang itu ingin semua yang ada di kamar hilang untuk kedua kalinya,' bisik Maira.
'Dan sekarang dia tahu kita membawanya keluar,' jawab Rendra. 'Mulai malam ini, jangan bergerak tanpa memberitahuku.'
'Itu perintah CEO atau ancaman?'
'Janji bahwa aku tidak akan memberinya kesempatan ketiga.'
Seorang polisi mendekati Galih dan menyebut dugaan awal korsleting. Maira langsung berdiri.
Kepala keamanan melapor bahwa seluruh petugas lantai empat menerima pesan internal atas nama Rendra agar memeriksa pintu bongkar muat beberapa menit sebelum api muncul. Rendra menunjukkan ponselnya dan menyangkal pernah mengirim perintah itu. Seseorang bukan hanya mengenal sistem hotel, melainkan juga dapat memakai kewenangannya.
'Pintu dikunci dari luar, detektor tidak bekerja, dan kamera koridor dimatikan. Itu bukan korsleting biasa.'
Galih menatap tas di pangkuannya. 'Apa yang kalian bawa dari kamar itu?'
Rendra melangkah di antara mereka. 'Bukti milik penyelidikan internal. Tidak ada yang menyentuhnya sebelum pengacara dan polisi forensik hadir.'
'Kau membuat keluarga kita tampak bersalah.'
'Seseorang baru saja mencoba membakar dua orang hidup-hidup. Penampilan keluarga bukan urusanku malam ini.'
Selena datang dengan ponsel menempel di telinga. Ia mengatur agar media dialihkan ke lobi depan, lalu menatap Maira dengan wajah pucat. 'Wartawan sudah tahu kau berada di dalam. Mereka juga tahu kamar itu berkaitan dengan akta nikah.'
Maira memeluk tasnya lebih erat. Orang yang menyalakan api bukan hanya tahu apa yang mereka cari. Orang itu juga tahu bagaimana menjadikan kematian mereka sebagai berita yang masuk akal.
Setelah pemeriksaan singkat, Rendra membawa Maira kembali ke rumah Menteng. Laras masih beristirahat di bawah pengawasan dokter. Galih memilih tinggal di hotel, sedangkan Selena pergi menghadapi wartawan. Untuk pertama kalinya sejak surat wasiat dibacakan, rumah besar itu terasa nyaris kosong.
Di ruang kerja, Maira membuka kotak pertolongan pertama. 'Duduk.'
'Lukamu sendiri belum diperiksa.'
'Lukaku hanya goresan.'
'Dan tanganku hanya darah,' balas Rendra, tetapi ia menurut.
Maira membersihkan telapak tangannya. Jari mereka sesekali bersentuhan, menimbulkan kesadaran yang terlalu tajam di antara bau antiseptik dan asap yang melekat pada pakaian. Saat perban melingkari telapak Rendra, pria itu tidak mengalihkan pandangan darinya.
'Kau kembali menarikku,' katanya pelan. 'Padahal aku menyuruhmu pergi.'
'Aku memercayai orang yang sedang menyelamatkanku.'
'Hanya itu?'
Maira mengangkat wajah. Jarak mereka tinggal beberapa sentimeter. Ketegangan yang sejak awal dipenuhi kecurigaan berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya karena tidak memiliki nama. Rendra menahan napas, seakan menunggu izin yang tidak sanggup ia minta.
Layar laptop di meja menyala saat kartu memori yang dimasukkan Maira terbaca. Nama folder Bima muncul pada sudut layar.
Maira mundur lebih dahulu.
'Kita harus melihat rekamannya.'
Rendra menutup sesuatu di wajahnya, lalu mengangguk. Rekaman pertama hanya memperlihatkan kamar kosong. Tanggalnya dua tahun lalu, malam yang sama dengan tanggal pada akta nikah. Beberapa menit kemudian, Bima memasuki kamar bersama seorang perempuan berkerudung tipis. Notaris Hadi tampak berdiri di dekat meja, membelakangi kamera.
Suara perempuan itu nyaris berbisik saat mengucapkan persetujuan. 'Saya.'
Bima tidak tampak tertipu. Ia justru menoleh tepat ke arah kamera tersembunyi.
'Kalau sesuatu terjadi padaku, tunjukkan wajahmu kepada kamera,' katanya.
Perempuan itu ragu, lalu mengangkat kedua tangan untuk membuka kerudung. Maira mencengkeram tepi meja. Rendra memperbesar gambar, tetapi berkas video tersendat tepat ketika dagu dan bibir perempuan itu terlihat.
Bayangan wajah yang menyerupai Maira muncul selama sepersekian detik.
Gambar tersendat tepat sebelum seluruh wajahnya terbuka.