Maira membaca kalimat terakhir itu untuk ketiga kalinya, tetapi susunan katanya tetap terasa mustahil.
Kalau namamu sudah menjadi nama istriku, berarti mereka menemukan saudaramu lebih dulu.
'Saudara siapa?' suaranya nyaris tidak terdengar. 'Aku anak tunggal.'
Rendra berdiri di sisi meja, satu tangan menahan tepi surat agar kertas tua itu tidak kembali menggulung. Cahaya lampu baca membentuk bayangan tajam di wajahnya.
'Itu yang dikatakan ibumu kepadamu?'
'Itu yang tercatat di semua dokumen keluarga. Itu juga hidup yang kujalani selama tiga puluh tahun.' Maira menatapnya. 'Jangan bicara seolah kau lebih mengenal Ibu daripada aku.'
'Aku hanya membaca apa yang ditulis Bima.'
Nama lelaki yang sudah dinyatakan meninggal itu membuat ruangan terasa lebih dingin. Maira menarik napas, lalu melanjutkan surat di bawah kalimat yang telah menghentikannya.
Jika aku gagal kembali, cari cincin safir. Batu birunya bukan lambang cinta dan perkawinan ini bukan permainan. Cincin itu membawamu ke kamar 408. Jangan biarkan Galih membuka kamar itu lebih dahulu. Jangan percaya wajah yang tampak sama sebelum kau memeriksa apa yang membedakannya.
Maira berhenti. 'Cincin apa?'
Rendra membalik amplop tebal yang tadi menyimpan surat. Ia meraba lapisan dalamnya, lalu menemukan sobekan kecil pada jahitan kertas. Ketika lapisan itu dibuka dengan pisau konservasi milik Maira, sebuah cincin jatuh ke meja.
Safir biru tua di tengahnya memantulkan cahaya seperti mata yang baru terbuka.
Maira tidak menyentuhnya. 'Ini disimpan dua tahun di dalam amplop?'
'Segelnya asli,' kata Rendra. 'Tak ada yang membuka sebelum kita.'
Sebagai konservator dokumen, Maira telah memeriksa serat, perekat, dan pola retak lilin pada amplop itu sendiri. Ia tahu Rendra benar. Pengetahuan tersebut tidak membuat keberadaan cincin terasa lebih masuk akal.
Di bagian dalam lingkaran logam terukir angka 408.
'Kamar itu termasuk dalam warisan yang tercatat atas namaku,' ujar Maira. 'Mengapa Bima harus meninggalkan cincin kalau aksesnya sudah diberikan lewat akta?'
'Mungkin hak legal dan cara masuknya adalah dua hal berbeda.'
'Atau seseorang ingin kita pergi ke sana.'
Rendra mengambil cincin dengan saputangan, lalu memasukkannya ke kantong bukti. 'Untuk sekali ini, kita setuju.'
Pintu perpustakaan terbuka tanpa ketukan. Galih masuk bersama penasihat hukum keluarga. Wajahnya merah, dasinya longgar, dan selembar salinan akta perkawinan terlipat di tangannya.
'Bagus. Kalian masih sempat bermain penyelidik ketika nama keluarga ini sedang dihancurkan.'
Rendra menutup surat dengan map pelindung. 'Keluar dan ketuk pintu.'
'Aku direktur keuangan perusahaan yang delapan belas persen sahamnya diserahkan kepada perempuan asing. Aku tidak perlu mengetuk untuk menghentikan penipuan.'
Maira berdiri. 'Saya tidak membuat akta itu.'
'Tetapi kau tinggal di rumah ini, memakai perlindungan kami, dan menuntut kamar milik Bima.'
'Saya tidak pernah menuntut kamar apa pun.'
Galih membanting salinan akta ke meja. 'Tanda tangan Bima terverifikasi. Itu justru membuat posisimu lebih buruk. Kalau dia benar-benar menikah, seseorang harus hadir sebagai istrinya. Kau mengaku tidak pernah bertemu dengannya, jadi hanya ada dua kemungkinan: kau berbohong atau kau bagian dari pemalsuan identitas.'
'Dan karena verifikasi belum tuntas, kau tidak punya dasar menuduhnya,' kata Rendra.
'Aku punya kewajiban melindungi perusahaan. Besok pagi aku akan mengajukan pembatalan akta dan melapor ke polisi.'
Rendra melangkah di antara Galih dan Maira. 'Kalau kau melapor, sampaikan seluruh fakta. Termasuk bahwa akta itu masuk ke arsip keluarga melalui bagian keuangan yang berada di bawah wewenangmu.'
Galih terdiam sepersekian detik.
Maira menangkapnya. 'Anda tahu akta itu sebelum pembacaan warisan?'
'Aku menerima ribuan dokumen.'
'Namun yang satu ini mengalihkan delapan belas persen saham.'
'Jangan mencoba memeriksaku seperti naskah tua.'
'Kertas tua biasanya lebih jujur daripada orang.'
Rahang Galih mengeras. Ia menunjuk Maira tanpa menyentuhnya. 'Perempuan ini akan membawa polisi, wartawan, dan perebutan saham ke pintu rumah kita. Kalau kau terus membelanya, Rendra, dewan akan menganggapmu terlibat.'
'Biarkan dewan bertanya langsung kepadaku.'
'Karena seorang asing?'
Rendra menatap pamannya dingin. 'Karena sampai saat ini, satu-satunya orang yang tidak mendapat keuntungan dari akta itu adalah Maira. Hidupnya diawasi, nama ibunya diseret, dan mantan tunangannya mulai mendekati rumah ini. Jika dia pelaku, rencananya sangat buruk.'
Penyebutan Danu membuat Maira menahan reaksi. Luka pengkhianatan lelaki itu masih terlalu baru untuk dipakai Galih sebagai senjata, terutama saat Galih mencari alasan untuk menyebut Maira pembohong.
Ponsel penasihat hukum berbunyi. Hampir bersamaan, ponsel Rendra, Galih, dan Maira ikut bergetar. Notifikasi memenuhi layar.
Selena muncul di ambang pintu beberapa detik kemudian. Direktur PR itu masih mengenakan pakaian kantor, tetapi riasannya telah luntur di bawah mata.
'Rekaman catatan sipil bocor,' katanya.
Galih meraih ponselnya. 'Rekaman apa?'
'Video pencatatan perkawinan Bima.'
Ruangan membeku.
Selena menaruh tablet di meja dan memutar video yang sudah menyebar. Gambar buram memperlihatkan ruangan kecil dengan dinding krem. Penanda tanggal di sudut layar menunjukkan dua hari sebelum ledakan kapal. Bima berdiri di depan meja petugas, mengenakan kemeja putih tanpa jas.
Di sampingnya ada seorang perempuan berkerudung pucat.
Tinggi tubuhnya sama dengan Maira. Bahunya sempit dengan kemiringan yang sama. Bahkan cara ia menyatukan kedua tangan di depan perut menyerupai kebiasaan Maira saat gugup.
'Ini rekayasa,' kata Maira, meskipun tenggorokannya mengering.
'Timku sedang memeriksa sumber unggahan,' ujar Selena. Matanya tidak lepas dari Bima di layar. 'Akun pertama dibuat pagi ini. Dalam sebelas menit, video sudah dikirim ke enam redaksi.'
Suara rekaman buruk, tetapi nama Bima terdengar ketika petugas meminta konfirmasi. Kemudian nama Maira Savitri dibacakan. Perempuan berkerudung itu mengangguk.
Galih menoleh tajam. 'Masih mau bilang kau tidak pernah bertemu Bima?'
'Perempuan itu bukan aku.'
'Dia memakai namamu, wajahmu, dan gerakanmu.'
'Wajahnya belum terlihat,' Rendra menyela.
Video bergetar seolah perekamnya disembunyikan di balik benda lain. Bima menandatangani lembar di meja. Perempuan itu menerima pena dan menulis dengan tangan kanan.
Maira mendekat.
'Aku menulis dengan tangan kanan,' katanya.
'Separuh dunia juga begitu,' balas Galih.
'Tahan videonya saat pena menyentuh kertas,' kata Maira kepada Selena. 'Aku ingin melihat sudut pergelangannya.'
Selena melakukannya. Gambar pecah ketika diperbesar, tetapi perempuan itu memutar pena dengan gerakan kecil sebelum menulis. Gerakan yang sama dilakukan Maira setiap kali memeriksa aliran tinta.
Rendra menatap Maira, bukan layar. 'Mungkinkah ibumu pernah merekam kebiasaanmu?'
'Tidak untuk diberikan kepada orang asing.'
'Kalau surat Bima benar, mungkin orang itu bukan orang asing.'
Kata saudaramu kembali menghantam Maira.
Di layar, prosesi berlanjut. Petugas menggeser dokumen ke samping dan meminta pasangan menunjukkan cincin. Bima mengangkat tangannya. Perempuan itu sempat menyentuh kerudung, lalu menoleh ke arah kamera tersembunyi seolah baru menyadari dirinya direkam.
'Perbesar,' perintah Galih.
Selena menjalankan video dalam kecepatan paling lambat.
Perempuan itu mengangkat tangan kanannya ke wajah. Safir biru berkilau di jarinya. Jemarinya menarik tepi kerudung ke atas.
Tepat ketika dagunya mulai terlihat, pantulan cahaya menelan seluruh wajahnya.