Sidang pidana dibagi menjadi beberapa berkas.
Jaksa menolak membuat satu dakwaan raksasa bernama jaringan Purnama. Hadi menghadapi pemalsuan akta serta penyalahgunaan kewenangan. Damar menghadapi sabotase, perdagangan koordinat, pemerasan, dan penghalangan. Bayu menghadapi pemasangan pemicu, penyanderaan, serta pemalsuan wajah.
Saras menghadapi penggunaan token tanpa izin, penahanan Bima dan saksi, pengambilan darah, penyadapan, serta pembuatan video palsu. Marni menghadapi pendanaan, pencucian aset, identitas Sri, dan pengelolaan sistem. Keisha, Aditya, Danu, Gunawan, Ratih, Galih, Santi, serta Harun memiliki berkas sesuai tindakan.
Daftar panjang itu tidak berarti semua dihukum sama.
Hakim membagi ruang dan hari agar saksi tidak duduk berjam-jam mendengar perkara yang bukan miliknya. Korban dapat memberi pernyataan tertulis tanpa bertemu terdakwa. Siaran publik menutup nama anak, pasien, dan sebelas proyek.
Jaksa membuat tabel tindakan, bukti, akibat, serta pembelaan. Nama yang sama dapat muncul pada beberapa baris, tetapi tidak ada kolom dalang tunggal. Tabel itu membantu pengadilan melihat pertemuan keputusan tanpa melebur niat.
Maira hanya hadir ketika akta, video palsu, data studio, serta penahanan Bima memerlukan keterangannya. Ia tidak menjadi saksi universal jaringan.
Hadi mengaku bersalah atas pengesahan akta dan penyalahgunaan sertifikat. Pengadilan mempertimbangkan ancaman pada anak, kerja sama, serta fakta ia tetap bertindak setelah mengetahui pelanggaran. Ia kehilangan kewenangan profesi dan menghadapi hukuman yang belum dibacakan.
Kantor profesi membentuk tim untuk memeriksa akta lain yang ia sahkan. Klien tidak otomatis kehilangan dokumen hanya karena nama Hadi muncul. Setiap akta diberi verifikasi baru tanpa biaya.
Anak Hadi mendapat perlindungan serta hak tidak tampil di sidang. Hadi meminta maaf kepada Maira melalui pengacaranya. Maira menerima surat sebagai bukti penyesalan, tidak menjanjikan pengampunan.
Aditya mengakui alat wajah, pembobolan, pencurian paket, serta akses kartu. Bukti menunjukkan ia tidak memasang pemicu kapal. Informasinya membantu mematikan mesin, tetapi keluarga Gina dan orang yang wajahnya dicetak tetap mendapat hak menuntut.
Desain detektor yang ia serahkan diuji pihak independen. Alat tidak sempurna dan dapat salah menandai orang dengan bekas operasi. Karena itu detektor hanya menjadi peringatan, bukan dasar menolak layanan atau menangkap seseorang.
Aditya menyetujui semua cetakan wajah dimusnahkan setelah masa bukti, kecuali hash teknis. Ia tidak memiliki hak menyimpan portofolio dari tubuh yang dicuri.
Keisha mengaku memasang pembaca, mengambil liontin memakai wajah Gendis, dan membantu kartu Maira. Ia memberi bukti terhadap Damar setelah berbalik. Hakim menolak menyebutnya hanya korban pemerasan karena ia menerima uang serta merekrut pekerja.
Danu mengakui menjual data Maira, menyewakan ruang bawah, memotret liontin, dan menyembunyikan inventaris. Ia menyangkal mengetahui Proyek Janda. Log mendukung ia tidak memiliki token, tetapi keputusannya menyediakan bahan penting.
Studio menuntut pengembalian uang sewa tersembunyi dan biaya keamanan. Danu menawarkan saham perusahaan pribadinya. Maira meminta aset dinilai dahulu; ia tidak ingin kembali terikat usaha Danu sebagai bentuk ganti rugi.
Pengadilan membekukan hasil penjualan data dan mengizinkan pegawai studio mengajukan kerugian sendiri. Mereka bukan hanya bagian kerugian Maira.
Gunawan mengaku mengambil barang keluarga duka untuk uang. Dua puluh tujuh keluarga diberi jalur pengembalian. Perusahaan Teduh Akhir ditempatkan di bawah pengelola baru.
Santi mengakui menekan batal dan menandatangani laporan tidak lengkap karena tekanan Damar. Rekaman menempatkannya sebagai pelaksana yang takut, bukan perancang. Harun bertanggung jawab atas token serta karantina tanpa jalur darurat; bukti belum menunjukkan ia mengetahui pemicu.
Galih mengakui menutup perbedaan koordinat demi harga saham, menyetujui kontrak tanpa membaca, serta mengabaikan staf palsu. Pelapis wajah membuktikan beberapa akses bukan tubuhnya. Itu membebaskannya dari tindakan tertentu, bukan kelalaian dan penutupan yang ia lakukan sendiri.
Ratih menghadapi penggunaan identitas Gita, pemindahan Bima, penyembunyian Aira, dan akses token. Perlindungan pasien yang ia berikan dipertimbangkan bersama kontrol yang ia pertahankan.
Marni terus menyebut dana sebagai restitusi. Auditor menunjukkan hanya sebagian kecil sampai kepada pasien. Sidik serta server menghubungkannya pada persetujuan Damar. Ia menyangkal mengetahui bahan bakar, dan jaksa tidak menambahkan tuduhan pembunuhan tanpa bukti langsung.
Tujuh persen dana yang benar-benar membayar obat tetap dicatat sebagai manfaat. Pasien tidak harus mengembalikan obat atau merasa bersalah menerima. Manfaat tersebut tidak memberi Marni kepemilikan atas identitas mereka.
Identitas Sri dipulihkan sebagai orang yang meninggal, bukan pemegang dana hidup. Keluarga Sri diberi pilihan menerima abu serta catatan tanpa mewarisi otomatis kewajiban Nawasena.
Damar membantah berniat membakar kapal. Pesan tunda menjadi pembelaannya. Jaksa menunjukkan ia lebih dulu menjual koordinat, membeli komponen, dan memilih titik pemicu. Perintah tunda setelah patroli mendekat tidak menghapus risiko yang ia bangun.
Bayu memakai hak diam pada awal sidang, lalu mengakui memasang alat tetapi mengatakan tujuan hanya membakar peti. Ahli menjelaskan api pada kapal berpenumpang dapat diperkirakan. Niat terhadap arsip tidak membuat tubuh di dekatnya tak terlihat.
Arif memberi pernyataan tentang penyanderaan melalui video dan tidak melihat Bayu di ruang sidang. Bayu mengakui mengikat, tetapi membantah hendak membakar Arif. Jeriken serta siaran menjadi bukti ancaman yang wajar ditakuti.
Proses identitas Bayu berjalan paralel. Ia tidak diberi nama belakang dari orang mati. Pencarian keluarga belum cocok, sehingga dokumen sementara menulis Bayu dengan nomor pengadilan.
Saras menyerahkan log token yang menunjukkan ia membuka kanal barat. Ia juga mengakui menahan Bima atas dalih perlindungan. Penyelamatan saksi dihitung sebagai tindakan yang membantu, bukan izin memegang hidupnya sesudahnya.
Nadia tidak bersaksi pada cabang keputusan Narto. Malik memaparkan bahwa Narto mencoba membagi kapal dan kemudian gagal mengamankan saksi serta menutup perkara. Catatan kehormatannya diperbaiki agar tidak disebut pengubah koordinat, tetapi kegagalannya tetap tercantum.
Nadia mendengar dari bangku publik. Ia tidak mendapat ayah pahlawan atau ayah penjahat. Ia mendapat catatan manusia yang melakukan satu hal benar dan satu hal salah pada malam berbeda.
Bima mengaku atas penggunaan identitas Maira, penahanan informasi, dan alat wajah Bram. Jaksa tidak menuduhnya meledakkan kapal setelah log mengarah Bayu serta Damar. Ia tetap menghadapi akibat karena rencana rahasianya memberi akses dan menunda penyelidikan.
Pengacara Bima meminta upaya menyelamatkan pasien dipertimbangkan. Jaksa setuju menulisnya, lalu menunjukkan ia memakai pekerja yang tidak tahu risiko dan menyimpan orang dalam jalur rahasia. Tindakan baik tidak harus dihapus agar metode salah dinilai.
Rendra bersaksi bahwa Bima tidak menghubunginya setelah bebas dan bahwa dirinya menyembunyikan transponder. Saudara tidak saling membersihkan catatan. Kesaksian keduanya cocok pada ledakan dan berbeda pada alasan sesudahnya.
Hakim menetapkan jadwal putusan terpisah. Media tidak diperbolehkan menulis bahwa satu orang telah dihukum atas seluruh jaringan sebelum amar dibacakan.
Di akhir hari, kustodian mengumumkan dana Nawasena, saham beku, properti klinik, serta hasil penyitaan cukup untuk memulai restitusi. Jumlahnya besar, tetapi kepemilikan belum sederhana.
Sebelas korban dan dua puluh satu anak rumah transit diminta ikut merancang proses. Tidak satu pun harus memaafkan agar menerima hak.
Lembaga bantuan mengusulkan formulir sederhana, tetapi beberapa korban tidak dapat membaca bahasa hukum. Mereka menyediakan penjelasan lisan, penerjemah, dan waktu membawa pulang draf. Tidak ada batas tujuh hari yang memaksa keputusan.
Maira menawarkan tim konservasi untuk arsip terbakar. Ia tidak duduk dalam komite hukuman. Pekerjaannya memulihkan bukti, bukan menentukan siapa layak menerima uang.