Usulan saham Bima dibahas tanpa Bima memimpin rapat.
Kustodian mengundang wakil pekerja hotel, kreditur, korban AS, sebelas proyek, Aira, dan Maira. Rendra hadir sebagai pemegang saham lama sekaligus pihak yang aksesnya pernah dipakai. Ia menyatakan konflik sebelum bicara.
Bima mengusulkan seluruh delapan belas persen masuk dana korban. Aira menolak bila dana itu membuat korban bergantung pada keuntungan hotel yang pernah menyimpan Unit Utara.
Wakil sebelas proyek juga menolak satu pemberian besar disebut cukup. Nilai saham dapat turun, sementara biaya pemulihan muncul sekarang. Mereka meminta aset sitaan cair dipakai lebih dulu dan saham menjadi cadangan jangka panjang.
Pengacara Bima menyatakan ia tidak keberatan kehilangan hak suara. Kustodian mengingatkan saham juga menjamin kredit perusahaan. Pengalihan tanpa persetujuan kreditur dapat memicu penjualan paksa dan menguntungkan pembeli baru.
Rapat memakai penilai independen yang tidak pernah bekerja untuk Adiprana atau Nawasena. Laporan skenario dibagikan sebelum keputusan, bukan hanya angka yang dipilih direksi.
'Kami tidak boleh menerima ganti rugi hanya kalau kamar laku,' katanya.
Wakil pekerja menambahkan bahwa memindahkan saham tanpa rencana dapat mengancam gaji ribuan orang yang tidak ikut jaringan. Kreditur meminta kepastian utang. Korban Pagi ingin uang tunai untuk mempertahankan toko, bukan hak suara.
Auditor menawarkan bentuk campuran. Enam persen saham ditempatkan dalam perwalian independen dengan dividen bagi pemulihan jangka panjang. Aset Nawasena yang jelas hasil kejahatan dijual untuk ganti rugi tunai. Properti klinik diubah menjadi pusat dokumen dan kesehatan di bawah yayasan korban, bukan Adiprana.
Perwalian tidak memiliki satu wali. Lima kursi terdiri dari wakil korban, pekerja, ahli hukum, ahli kesehatan, dan anggota publik. Tidak satu kursi dapat menyetujui pemindahan data atau saham sendiri.
Masa jabatan dibatasi. Keluarga korban tidak mewarisi kursi otomatis, dan direksi hotel tidak berhak menunjuk pengganti. Catatan rapat terbuka setelah nama pribadi disamarkan.
Dividen tidak dibagikan berdasarkan seberapa dramatis seseorang bersaksi. Biaya dokumen dasar ditanggung bagi semua korban; bantuan tambahan dinilai kebutuhan, bukan kedekatan dengan tokoh utama.
Sisa saham Bima tetap beku sampai putusan pidananya. Ia tidak dapat memakai usulan derma untuk mempertahankan kendali atau meringankan hukuman otomatis.
Maira menolak kursi tetap di perwalian. Ia bersedia memberi masukan tentang arsip selama satu tahun, dengan honor terbuka, lalu menyerahkan kepada konservator lain.
Beberapa peserta meminta ia tetap karena percaya kepadanya. Maira menjawab kepercayaan tidak seharusnya membangun jabatan tanpa akhir. Sistem lama lahir dari orang yang dianggap paling tahu lalu tidak pernah menyerahkan kunci.
Ia mengusulkan dua konservator muda dari luar Jakarta dan pelatihan bagi korban yang ingin mengelola salinan sendiri. Keahliannya dibagikan, bukan dijadikan alasan semua dokumen kembali ke studio.
Honor Maira dibayar dari anggaran profesional dan diumumkan. Ia tidak menerima persentase dana atau saham.
'Saya tidak ingin status korban berubah menjadi jabatan seumur hidup,' katanya.
Aira memilih menjadi peserta program identitas, bukan pemegang veto. Ia ingin belajar administrasi dan membantu orang membaca akta, tetapi harus melalui seleksi seperti pekerja lain.
Sebelas korban memberikan pilihan berbeda. Tujuh menerima kombinasi tunai serta layanan. Dua hanya ingin dokumen dipulihkan. Satu menolak kontak lebih lanjut setelah blok aset selesai. Pagi meminta saham kecil dijual, bukan ditahan.
Kustodian menyesuaikan tanpa memaksa satu paket. Dana bersama dipakai hanya untuk infrastruktur yang disetujui, sementara ganti rugi pribadi mengikuti kebutuhan.
Rendra mengusulkan audit seluruh data tamu dan menghapus akses pendiri yang dibuat Laras. Direksi menyetujui masa transisi enam bulan. Setelah itu, Rendra akan mundur sebagai CEO dan mengikuti pemilihan baru bila ingin kembali.
Laras menolak pada rapat pertama karena takut perusahaan kehilangan arah. Rendra mengatakan arah keluarga selama ini menciptakan kamar tersembunyi, token, dan keputusan tanpa catatan. Ia tidak meminta ibunya setuju agar audit berjalan.
Direksi membentuk komite pencalonan tanpa anggota keluarga Adiprana. Rendra menyerahkan hak memilih anggota, tetapi tetap bertanggung jawab memberi data selama transisi.
Pegawai meminta jaminan tidak ada sistem wajah baru dipasang sebagai reaksi. Audit keamanan akan memakai kartu serta pemeriksaan manusia yang dapat ditantang, bukan pemindaian seluruh tamu.
'Mengapa tidak mundur sekarang?' tanya wakil pekerja.
'Karena kontrak, gaji, dan peralihan sistem perlu penanggung jawab. Tetapi saya tidak boleh memilih penerus sendiri.'
Komite independen diberi hak menghentikannya bila ia menghalangi audit. Laras kehilangan token pendiri permanen. Galih tidak lagi menjadi sekretaris direksi.
Unit Utara dibongkar sebagai ruang tersembunyi. Sebagian kamar dipertahankan menjadi bukti sampai sidang selesai. Setelah itu, pekerja hotel mengusulkan pusat kesehatan umum dengan pintu yang tercatat dan audit pasien.
Dokter Rafi membantu merancang alur tas serta obat setelah bebas dari dugaan keterlibatan. Kelalaiannya memeriksa segel tetap masuk evaluasi, tetapi pengalaman tersebut dipakai memperbaiki prosedur.
Pasien lama diminta persetujuan sebelum kamar mereka dijadikan pameran sejarah. Sebagian menolak wajah atau nama ditampilkan. Pusat memilih memamerkan sistem pintu dan dokumen kosong, bukan kehidupan pribadi.
Nama pusat dipilih melalui pemungutan terbuka. Usulan sementara adalah Ruang Pulih, tanpa nama pendiri.
Maira mendukung tetapi tidak memberi nama Lestari pada tempat tersebut. Aira juga tidak ingin nama Bima. Pusat akan dipilih melalui usulan pengguna.
Setelah rapat, Rendra bertanya apakah Maira masih ingin makan malam yang pernah tertunda. Ia mengajukan tanpa mobil perusahaan atau ruang privat hotel.
'Kedai dekat studio,' kata Maira. 'Pukul tujuh. Aku datang sendiri.'
'Baik.'
Mereka makan nasi hangat dan berbicara tentang pekerjaan sebelum seluruh perkara. Rendra bercerita pernah ingin menjadi arsitek, tetapi masuk perusahaan setelah ayahnya sakit. Maira menceritakan mengapa ia menyukai kertas dengan bekas perbaikan terlihat.
Rendra mengaku dahulu menganggap meninggalkan perusahaan berarti mengkhianati Bima. Setelah Bima hidup kembali, ia sadar jabatan tidak pernah menjadi satu-satunya cara menjaga saudara. Maira mendengarkan tanpa menawarkan jawaban apakah ia harus kembali mencalonkan diri.
Maira bercerita Danu pernah memakai rencana pernikahan untuk mendorong penjualan studio. Ia tidak membandingkan Rendra dengan Danu, tetapi menjelaskan mengapa hadiah atau bantuan besar membuatnya waspada.
'Kalau aku menawarkan sesuatu yang terasa seperti kewajiban, bilang,' kata Rendra.
'Aku akan bilang. Dan kau boleh bertanya, bukan menebak.'
'Restorasi yang baik tidak berpura-pura benda tak pernah rusak,' katanya.
'Apakah itu berlaku untuk orang?'
'Orang bukan benda yang kukerjakan.'
Rendra tertawa kecil. Ia tidak meminta perumpamaan menjadi jawaban tentang mereka.
Saat pulang, mereka berjalan bersama sampai depan studio. Rendra bertanya apakah boleh menggenggam tangannya. Maira menjawab boleh. Tidak ada kamera yang mereka ketahui, tetapi bila ada, sentuhan itu tetap tidak memberi siapa pun hak atas aset.
Di dalam studio, surat resmi menunggu. Catatan sipil telah menyelesaikan koreksi permanen. Nama Bima tidak lagi muncul pada status Maira.
Kolom pasangan kosong, sebagaimana ia pilih.