Aira memasuki ruang sidang dengan akta kelahiran baru di tangannya.
Ia tidak duduk sebagai pengganti Maira. Pengacaranya meminta pengadilan mengakui bahwa upacara serta hubungan dengan Bima memang terjadi, tetapi pencatatannya memakai identitas salah dan tidak dapat diperbaiki hanya dengan mengganti nama pada kolom.
Kirana menyerahkan foto upacara dengan wajah tamu disamarkan. Foto membuktikan Aira hadir, tetapi tidak membuktikan semua persyaratan hukum. Saksi upacara mengira namanya Maira karena Bima serta Ratih memperkenalkan demikian.
Aira meminta putusan menulis bahwa ia menggunakan identitas Maira, bukan bahwa dirinya sebenarnya Maira. Perbedaan tersebut penting bagi dua akta kelahiran dan semua transaksi berikutnya.
Hakim menegaskan sidang tidak menentukan apakah cinta mereka asli. Pengadilan menilai persetujuan, dokumen, dan akibat hukum. Perasaan tidak dapat memperbaiki identitas, tetapi kesalahan identitas juga tidak memberi negara hak menyatakan perasaan tidak pernah ada.
Bima hadir melalui sambungan aman. Ia mengatakan keduanya mengucapkan janji dan hidup sebagai pasangan, tetapi Aira tidak mengetahui sejak awal semua cara Hadi menyatukan datanya dengan Maira. Aira mengaku tahu nama Maira dipakai ketika akta selesai dan memilih diam karena takut kehilangan perlindungan.
'Saya mencintai Bima,' katanya. 'Saya juga ikut mempertahankan dokumen yang melukai saudari saya. Dua hal itu tidak saling menghapus.'
Hakim menanyakan apa yang ia minta sekarang.
'Akui bahwa saya adalah orang yang hadir dalam upacara, lalu batalkan pencatatan palsunya. Jangan menikahkan saya hari ini hanya karena saya pernah ingin menikah.'
Bima menyetujui. Pengacaranya mencatat bahwa persetujuan saat ini tidak dapat menggantikan persyaratan yang tidak terpenuhi dulu.
Pengadilan menyatakan hubungan faktual Aira dan Bima dapat dipertimbangkan untuk ganti rugi serta pembagian barang yang benar-benar mereka bangun bersama. Namun tidak ada akta perkawinan baru. Bila kelak memilih menikah, keduanya harus memulai proses dari awal setelah status pidana memungkinkan.
Barang bersama mereka hanya satu rekening rumah tangga, beberapa perabot, dan biaya rumah Purnama. Rekening dibuka atas nama Maira, sehingga saldonya dibekukan. Audit menunjukkan sebagian besar uang berasal Bima dan digunakan Aira untuk kebutuhan bersama.
Maira melepaskan klaim atas saldo setelah memastikan tidak ada uang studio atau pajaknya masuk. Pelepasan itu bukan pengakuan perkawinan. Pengadilan memindahkan rekening ke kustodian Aira dengan catatan asal.
Perabot diserahkan kepada Aira karena ia yang tinggal serta memilihnya. Bima tidak meminta pengembalian. Aset perusahaan dan saham tetap di luar pembagian barang pribadi.
Cincin dalam kustodian dikembalikan kepada Aira sebagai benda miliknya. Ia tidak memasangnya. Ia menyimpan dalam kotak dan mengatakan keputusan tentang cincin tidak dibuat di depan hakim.
Saham delapan belas persen juga tidak otomatis berpindah kepadanya. Wasiat tidak berlaku karena Bima hidup, sedangkan pemberian melalui pasangan palsu dibatalkan. Saham tetap dibekukan atas nama Bima sampai tata kelola dan restitusi ditentukan.
Aira meminta ganti rugi atas penghapusan identitas, pemakaian namanya sebagai pasien, serta kehilangan penghasilan selama berpindah. Ia tidak meminta saham sebagai bukti cinta.
Kirana membagi kerugian menjadi biaya langsung, kehilangan kesempatan kerja, serta pemulihan jangka panjang. Ia tidak menaksir hubungan saudari dalam rupiah. Aira dapat meminta terapi, pendidikan, dan bantuan dokumen tanpa membuktikan dirinya menderita dengan cara tertentu.
Purnama pernah membayar pengobatan Aira. Auditor mengurangi hanya biaya yang benar-benar diterima dan tidak berasal pekerjaan paksa. Marni tidak boleh menyebut seluruh anggaran jaringan sebagai manfaat untuk meniadakan ganti rugi.
Pengadilan memberi keputusan sementara agar Aira mendapat akses kesehatan dan pelatihan sekarang, tidak menunggu semua terdakwa dijatuhi hukuman.
Kirana menyerahkan perhitungan terpisah. Biaya medis dan dokumen dapat dihitung. Kehilangan masa hidup tidak dapat disamakan dengan harga saham, tetapi pengadilan dapat membentuk dana pemulihan.
Ratih memberi keterangan tentang membesarkan Aira tanpa akta. Ia mengakui menggunakan token A, menolak tes DNA, dan menyembunyikan Gita. Pengacaranya meminta kontribusi pada perlindungan Aira dipertimbangkan.
Ratih membawa buku pengeluaran sejak Aira kecil. Ada biaya sekolah informal, obat, serta makanan. Ada pula pembayaran penjaga, pemindahan, dan identitas palsu yang tidak diminta Aira. Auditor memberi warna berbeda agar kontrol tidak dihitung sebagai hadiah.
Ketika Ratih mulai menjelaskan bahwa semua dilakukan karena cinta, hakim menghentikan dan meminta perbuatan konkret. Cinta boleh menjadi konteks, bukan kategori akuntansi.
Aira mengatakan ingin tetap dapat menghubungi Ratih setelah perkara, tetapi tidak tinggal bersamanya. Keputusan pribadi itu tidak mengubah putusan atau hukuman.
'Perlindungan yang membuat saya tidak dapat pergi bukan hadiah penuh,' kata Aira. 'Tetapi saya juga tidak mengatakan Ratih tidak pernah menolong saya.'
Hakim memisahkan biaya perawatan sah dari kontrol identitas. Ratih dapat menunjukkan pengeluaran, tetapi tidak mengubahnya menjadi utang seumur hidup.
Setelah sidang, Aira menemui Bima melalui kaca. Ia menyampaikan putusan tanpa meminta pendapat apakah mereka masih pasangan.
Bima sudah menerima salinan dari pengacara, tetapi membiarkan Aira menjelaskan bagian yang penting baginya. Ia tidak menyebut putusan sebagai kegagalan kisah cinta mereka.
'Aku menyesal hari yang kuanggap pernikahanmu ternyata membuatmu memakai nama orang lain,' katanya.
'Aku juga memilih bertahan setelah tahu,' jawab Aira. 'Jangan ambil bagian salahku untuk membuat maafmu lebih besar.'
Bima mengangguk. Mereka tidak saling menyentuh kaca.
'Aku akan tinggal dengan namaku, mencari pekerjaan, dan mengenal Maira tanpa perjanjianmu,' katanya.
'Aku mengerti.'
'Aku akan membaca suratmu. Itu bukan janji menjawab.'
'Aku mengerti.'
Bima mengatakan ia akan menerima tuntutan atas penggunaan identitas dan penghalangan. Ia belum memutus apakah mengaku bersalah pada seluruh tuduhan karena beberapa bagian ledakan bukan tindakannya. Aira tidak memintanya mengakui hal yang tidak dilakukan demi terlihat menyesal.
Di luar, Maira menunggu bukan karena diwajibkan hadir, tetapi karena Aira meminta ditemani pulang. Mereka naik kendaraan lembaga korban, bukan mobil Adiprana.
'Aku tidak menikah,' kata Aira pelan.
'Aku juga tidak.'
Aira tertawa satu kali, terdengar lelah. 'Kita akhirnya punya status yang sama tanpa memakai satu nama.'
Maira tersenyum, tetapi tidak memaksa momen menjadi pemulihan sempurna. Mereka makan siang di kedai sederhana dan membicarakan kamar sewa Aira.
Sore hari, Bima mengajukan usulan kepada kustodian: delapan belas persen saham ditempatkan dalam dana ganti rugi bagi korban AS dan proyek janda, bukan diberikan kepada Aira atau kembali sepenuhnya kepadanya.
Pengacaranya menjelaskan usulan tidak boleh menjadi syarat pengakuan bersalah atau pengurangan hukuman. Bima menandatangani bahwa korban berhak menolak bentuk saham dan memilih ganti rugi lain.
Rendra menerima salinan sebagai pengurus sementara, tetapi tidak membawanya ke rapat keluarga tertutup. Kustodian menjadwalkan konsultasi dengan pekerja dan korban. Saham menyangkut perusahaan hidup, bukan hanya penyesalan satu pewaris.
Usulan itu tidak langsung diterima. Aira, Maira, sebelas korban, pekerja perusahaan, dan kreditur harus didengar. Bima tidak dapat kembali menentukan bentuk perlindungan sendiri hanya karena kali ini ia menyebut korban.